Catatan harian si pengembara dalam samsara

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Jati Diri

Puluhan tahun mencari jati diri,
Dikira sudah bertemu,
Ternyata masih terus berproses,
Pada dasarnya, apakah inti dari kehidupan?
Apa yang dicari oleh insan manusia?
Apa yang dibutuhkan oleh tiap makhluk hidup?
Bagaimana dengan dirimu sendiri?
Seperti menapaki jalanan semu,
Seperti mendaki gunung tak berbentuk,
Seperti menggenggam angin dalam badai,
Seperti berlayar tanpa perahu,
dan seperti berdiri di atas daratan yang tidak nampak.
Mereka melihat kamu sebagai sosok yang kuat,
Mereka melihat kamu sebagai figur yang matang,
Mereka melihat kamu sebagai tokoh yang bersahaja,
Mereka melihat kamu sebagai idola sepanjang masa.
Hidup tanpa kesalahan,
Hidup tanpa kekurangan,
Hidup tanpa cacad,
Hidup yang begitu sempurna,
Hidup suci.
Sekarang saatnya memikirkan kembali apa yang salah dan benar,
Sekarang saatnya merenungkan kembali apa yang telah dipilih untuk masa depan,
Sekarang saatnya berhenti dan diam,
Sekarang saatnya menapak tilas semua yang telah dilewati,
Sekarang saatnya ! Sekarang !
Bogor, 31.07.2017
Carya

I Wanna Be With You

I try but I can’t seem to get myself to think of anything but you
Your breath on my face your warm gentle kiss I taste the truth
I taste the truth
We know what I came here for so I won’t ask for more
I wanna be with you 
If only for a night to be the one whose in your arms who holds you tight
I wanna be with you
There’s nothing more to say 
There’s nothing else I want more than to feel this way
I wanna be with you
So I’ll hold you tonight like I would if you were mine to hold forever more
And I’ll savor each touch that I wanted so much to feel before, to feel before
How beautiful it is just to be like this
Oh baby, I can’t fight this feeling anymore
It drives me crazy when I try to
So call my name, take my hand, make my wish baby, your command
~Mandy Moore~
Dari sore jantung Teeny berdebar-debar. Sakit. Ngilu.  Teeny mencoba pergi keluar mencari hiburan. Ia mencoba pergi bersenang-senang. Ia berusaha membunuh waktu agar dapat melupakan debaran di jantungnya itu. Ia berusaha fokus dengan ucapan orang-orang di sekelilingnya. Ternyata? gagal!
Teeny berusaha menerima kenyataan. Puluhan tahun sudah berlalu. Bukan tanpa usaha. Ia terus berusaha, berusaha, dan berusaha! Namun ternyata? Ia masih belum dapat move on. Sekarang, Teeny berada di persimpangan jalan. Ia sedang berjalan lurus, namun hatinya ingin berbalik arah dan mencari jalan yang lain.
Teeny kecil sangat menyayangi Sky. Hubungan mereka sangat dekat secara batin. Teeny dan Sky jarang berbincang-bincang. Hanya dengan tatapan mata, Teeny tahu apa yang ada di dalam benak Sky. Demikian juga Sky. Ia sangat mengenal Teeny luar dalam. Tanpa kata-kata!
Usia mereka terpaut cukup jauh. Teeny sangat mengagumi Sky. Apapun yang dikerjakan oleh Sky, ia selalu menirunya. Bagi Teeny, tidak ada orang sebaik Sky. Bagi Teeny, tidak ada orang sehebat Sky. Sky selalu menjadi yang terbaik untuk Teeny. Apapun akan dilakukan Teeny agar dapat menyerupai Sky.
Pernah terjadi perpisahan. Teeny menjadi  sangat tidak berdaya. Ia  kehilangan nyawa. Ia kehilangan sukma. Ia seperti manusia robot yang berjalan tanpa pikiran dan perasaan. Begitu kehilangannya sampai Teeny tidak mampu lagi berdiri di atas kakinya sendiri. Bagaikan layang-layang putus tali, begitulah Teeny saat itu.
Setahun kemudian Sky kembali. Seperti matahari yang muncul kembali setelah awan menutupinya setengah hari. Cahayanya begitu terang, silau dan siapapun tak mampu lagi memisahkan cahaya matahari itu dengan kehidupan Teeny. Sempurna rasanya!
Seperti kata Hyang Buddha. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Akhirnya kembali Teeny harus berpisah dengan Sky. Bukan karena Sky meninggalkan Teeny seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Namun sekarang Teeny lah yang pergi meninggalkan Sky, karena Sky membuatnya kecewa, Sky membuatnya menangis. Sky kali ini gagal memahaminya.
Dua puluh tahun sudah berlalu. Teeny berjumpa kembali dengan Sky setelah beberapa tahun ini mereka sama sekali tidak lagi saling bertanya kabar. Kerinduan Teeny pada Sky, kerinduan Sky pada Teeny, ternyata tidak ada seorangpun yang dapat memisahkannya. Tidak ada seorangpun yang dapat memahaminya. Tidak ada seorangpun!!!
Mereka saling bercanda. Mereka saling berbincang, Mereka saling mendekatkan diri. Mereka jalan bersama. Mereka makan malam bersama. Semua orang menjauh. Tidak ada yang berani mengganggu. Tidak ada yang berani menyentuh. Tidak ada yang berani. Hanya mereka berdua: Teeny dan Sky.
Sudah hampir dua minggu Teeny balik ke kota asalnya. Ternyata kerinduannya pada Sky semakin lama semakin dalam. Teeny tidak lagi tidur dengan nyenyak. Teeny tidak lagi berpikir dengan jernih. Teeny tidak lagi fokus pada semua yang dikerjakannya. Yang ingin Teeny lakukan adalah, terbang menemui Sky dan selamanya selalu di samping Sky.
Sky hadir dalam mimpi Teeny setiap malam. Dalam mimpi, Teeny selalu pergi ke tempat yang sama dan mencari Sky. Ia hanya memandang Sky dari kejauhan. Ia hanya melihat Sky dari kejauhan. Ia menginginkan Sky namun ia tidak pernah mengungkapkannya kepada siapapun. Tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan Sky. Tidak ada. Dan tidak akan pernah ada. 
Malam ini, Teeny merindukan Sky. Malam ini, Teeny ingin bersama  Sky. Malam ini, Teeny ingin menemui Sky. Hari ini Teeny sadar, mengapa ada orang yang tidak dapat move on. Hari ini Teeny sadar, mengapa ada istilah CLBK. Hari ini Teeny sadar, cinta yang tulus tidak dapat digantikan oleh harta duniawi. Hari ini Teeny sadar, hatinya selalu mengikuti Sky kemanapun ia pergi.
Teeny menangis  dalam hati. Teeny menjerit dalam hati. Teeny  berteriak dalam hati: “Aku tahu kamu selalu ada untuk aku. Aku tahu kamu selalu baik padaku. Aku merasakan kamu begitu sangat memperhatikan aku. Maafkan aku…. walaupun aku terus mencoba untuk selalu ada di samping kamu…. aku terus mencoba untuk selalu mendampingi kamu, namun ternyata kamu tidak dapat menggantikan dia yang telah lama ada dalam hidupku. Ia terlalu lama berdiam dalam hatiku. Aku tahu aku sangat egois. Aku tahu aku sangat licik. Aku tidak merelakan kamu berjalan dengan orang lain tapi aku sendiri tidak berusaha untuk melupakan dia.”
Sky seperti rumah bagi Teeny. Sky seperti pelabuhan bagi Teeny. Sky seperti keluarga bagi Teeny.  Hanya Sky yang memahami Teeny. Hanya Sky yang mengisi kehidupan Teeny. Hanya Sky yang  selalu ada dalam hari-hari Teeny. Hanya Sky. 
Inilah yang membuat hati Teeny sakit. Inilah yang membuat hati Teeny ngilu. Bukan Sky yang ada di sampingnya. Bukan sky yang selalu menemaninya. Bukan. Sky tidak pernah lagi ada di samping Teeny.
Bogor, 10.07.2017
Carya

 

Dua Kaki Dua Perahu

Lewi berjalan sendirian di jalan yang panjang. Ia menuju dermaga. Tujuannya menuju pulau bahagia di seberang sana. Sudah beberapa tahun ia menapakinya dan belum sampai juga. Lewi lelah. Lewi ingin berhenti. Tapi …. Lewi tetap berjalan.
Setelah beberapa tahun berjalan, suatu hari Lewi bertemu seorang pengembara. Orangnya baik hati, ramah, dan menyenangkan. Hatinya lembut dan selalu memperhatikan Lewi. Pengembara itu dapat mengambil hati Lewi. Pengembara tersebut sangat mendukung Lewi. Kapan saja, ia selalu ada untuk Lewi. Akhirnya Lewi memutuskan untuk berjalan bersamanya.
Akhirnya Lewi sangat bergantung pada orang tersebut. Lewi tidak lagi mandiri. Lewi tidak lagi mampu melakukan apapun sendirian. Lewi selalu menjadikan orang tersebut sandaran. Lewi tidak sadar bahwa kehidupannya sudah berubah, ia berubah.
Beberapa tahun kemudian mereka sampai ke dermaga. Lewi ingin menaiki perahu pengembara tersebut. Lewi sangat berharap pengembara itu pergi membawanya ke pulau bahagia. Pikiran Lewi sudah melayang-layang. Pikiran Lewi sudah penuh dengan cita-cita di masa depan. Lewi sudah yakin bahwa ia akan bersama pengembara tersebut.
Apa daya, karma baiknya belum berbuah. Orang tersebut menolak Lewi. Orang itu tidak sanggup membawa Lewi. Orang tersebut tidak mampu mengurus Lewi. Orang tersebut memilih berjalan sendiri dan meninggalkan Lewi.
Hancur hati Lewi. Dermaga sudah dicapainya. Pulau bahagia sudah di depan mata. Perjalanan menuju pulau seberang hanya tinggal hitungan jari. Ia butuh perahu untuk menyeberang. Ia butuh sampan untuk melintas. Ia butuh rakit untuk melewati air.
Kala resah itu, muncul tukang perahu yang menawarkan bantuannya untuk menyeberang jalan. Lewi tertarik. Namun hatinya telah tertambat pada pengembara tersebut. Dan tampaknya pengembara tersebut tidak sanggup juga untuk melepaskan Lewi. Lewi bingung. Lewi gelisah. Lewi harus memutuskan.
Akhirnya ia menaiki perahu yang ditawarkan orang tersebut. Sebelah kakinya tetap menggantung pada perahu si pengembara. Mereka masih berjalan beriringan. Mereka masih berjalan bersamaan. Mereka masih mencoba untuk saling menarik walaupun perahunya sudah berbeda.
Bertahun-tahun seperti itu, akhirnya arus kehidupan semakin kuat. Lewi tidak sanggup lagi. Ia harus memilih salah satu. Tidak mungkin kakinya ada di dua perahu. Ia bisa terjungkir. Ia bisa terjatuh. Ia bisa mati.
Dengan berat hati, ia melepaskan kakinya yang sebelah. Tubuhnya telah bersama tukang perahu. Lebih mudah bagi Lewi untuk mengangkat kakinya daripada memindahkan seluruh tubuhnya. Hatinya tersayat. Hatinya teriris. Lepas sudah, kebahagiaan sempurna yang dimilikinya.
Lewi berlayar sendiri. Tukang perahu membawanya menuju pantai bahagia. Tukang perahu pun tidak pernah meninggalkan Lewi terseret arus kehidupan. Ia selalu ada untuk Lewi. Ia setia pada Lewi. Ia melakukan apapun untuk Lewi. Lama-lama Lewi iba. Lewi berusaha membalas kebaikan tukang perahu dengan sisa kasih yang dimilikinya.
Lewi berusaha melupakan si pengembara. Lewi berusaha tidak membandingkan si pengembara. Lewi berusaha menyingkirkan pengembara dalam hidupnya. Lewi mencoba untuk menikmati perjalanan bersama tukang perahu.
Kesetiaan tukang perahu sungguh besar. Pengorbanan tukang perahu sungguh luar biasa. Perlindungan dari tukang perahu sungguh tidak terbalas. Lewi akhirnya merasa menjadi orang yang paling beruntung. Ia sekarang sadar. Ia harus membalasnya.
Di saat Lewi sudah mantap, di saat Lewi sudah tenang, di saat Lewi sudah memutuskan, tiba-tiba si pengembara muncul di hadapannya. Ia mengajak Lewi memasuki kapalnya. Kerinduan Lewi muncul. Kerinduan Lewi bangkit. Kerinduan Lewi berkembang. Lewi mulai siap beranjak berdiri, hatinya ingin meninggalkan kapal yang sekarang dinaikinya.
Lewi berdiri. Lewi melangkah. Lewi mulai menjejakkan kakinya di perahu pengembara. Badannya meninggalkan tukang perahu. Lewi berjalan masuk. Sudah beberapa jam mereka berbincang-bincang. Semakin lama semakin dalam perasaannya terseret. Semakin lama semakin terasa betapa dalamnya kerinduan mereka. Semakin lama semakin berasa bahwa mereka saling melekat satu sama lain.
Kerinduan-kerinduan yang sekian lama terpendam, getarannya begitu kuat. Tiada satupun yang bisa menjauhkan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengganggunya. Tiada seorangpun yang dapat menggantikannya. Tak ada tandingannya, tidak ada yang dapat mengalahkannya.
Hubungan ini begitu kuat. Hubungan ini begitu kencang. Hubungan ini begitu solid. Begitu menyatu, begitu tidak memaksa, begitu santai, mengalir alami, membuat siapapun yang di dekatnya bergejolak karena cemburu.
Sebetulnya, Lewi sedang beristirahat di suatu pulau. Bukan sehari dua hari. Sudah tahunan ia beristirahat di pulau ini. Tukang perahu tetap menemaninya. Ia tidak pernah meninggalkan Lewi. Ia tidak mencari pengganti. Ia tidak berusaha membuang Lewi dan mencari penumpang baru. Ia tetap setia untuk Lewi. Inilah yang membuat hati Lewi trenyuh. Lewi merasa bersalah.
Sebetulnya Lewi sedang menanti pengembara di pulau ini. Sebetulnya Lewi selalu merindukan pengembara tersebut. Sebetulnya Lewi ingin  selalu bersama pengembara tersebut. Sebetulnya Lewi tidak pernah meninggalkan pengembara itu. Sebetulnya… sebetulnya… dan sebetulnya… Lewi hanya pada pengembara.
Ketika Lewi sadar bahwa ia sudah memasuki kehidupan pengembara yang selalu dinanti-nantinya, Lewi tertunduk. Sinar mata tukang perahu yang penuh kasih muncul. Senyum tukang perahu ada di mana-mana. Lewi mulai menangis. Lewi berlinang air mata. Lewi terisak sangat kencang. Lewi tidak tega meninggalkan tukang perahu sendirian.
Kata Lewi, “Dulu kamu meninggalkan aku. Sekarang aku yang harus meninggalkan kamu. Aku tidak rela. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Tapi aku harus pergi.” Hati Lewi terluka.
Kasihnya tukang perahu mengalahkan kasih si pengembara. Kasihnya tukang perahu melebihi kasih si pengembara. Kasihnya tukang perahu menyembuhkan hati Lewi yang berdarah. Kasihnya tukang perahu membuat luluh hati Lewi. Kasihnya tukang perahu, membuat Lewi jatuh berlutut. Tidak sanggup meninggalkannya di sana seorang diri.
Lewi kembali ke tukang perahu. Lewi membalikkan badan. Lewi tertunduk, hatinya pedih. Ia harus meninggalkan si pengembara. Namun hatinya akan lebih pedih lagi bila ia meninggalkan si tukang perahu yang setia menemaninya sampai hari ini.
Bogor, 29.06.2017
Carya

 

Speechless

Kamu,
Yang pernah hadir dalam hidupku,
Yang pernah hadir saat ku kecil,
Yang pernah mengisi masa remajaku,
Yang pernah menuntun masa awal menuju kedewasaanku.
Kamu,
Yang pernah menangis bersama,
Yang pernah tertawa bersama,
Yang selalu menghibur saat ku bersedih,
Yang menemani saat ku tertawa,
Yang mendorong saat ku tak berdaya,
Yang selalu ada di sampingku setiap waktu.
Hari ini aku muncul di hadapanmu,
Hati ini berdebar mengingat kebaikanmu,
Hati ini berguncang mengingat keperdulianmu,
Hati ini bergetar mengingat kasihmu yang begitu tulus.
Aku masih di sini,
Aku tetap di sini,
Aku akan selalu di sini,
Menunggumu walau tubuh ini sudah tidak dapat diajak bersama lagi.
Bunga ini,
Tidak pernah layu,
Tidak pernah pudar kecantikannya,
Tidak pernah hilang direnggut oleh siapapun juga.
Bunga ini,
Selalu tumbuh dan berkembang,
Mekar setiap saat,
tiada seorang pun yang dapat menggantikannya.
Terima kasih,
Untuk selalu mendampingiku siang dan malam,
Terima kasih,
Untuk selalu menjadi sandaran di saat aku terjatuh dan merana,
Terima kasih,
Untuk selalu menjadi penyejuk di kala jiwa ini meronta dan menjerit,
Terima kasih,
Untuk selalu menjadi penawar kesedihan di kala jiwa ini terdesak ke ujung kehidupan.
Kamu,
Kamu selalu menjadi yang terindah dalam hidupku.
Kamu,
Kamu selalu menjadi yang termanis dalam perjalanan pengembaraanku.
Kamu,
Kamu selalu menjadi yang terlarang dan terbuka untuk hati yang selalu merindukanmu.
Hari ini,
Aku tidak mampu lagi berkata-kata,
Hari ini,
Aku diam sejuta makna.
Hari ini,
Aku #speechless
Semoga kamu selalu berbahagia,
Semoga aku terus mengingat semua kebaikanmu,
Semoga aku terus mengingat kasih sayang yang terus mengalir untuk diriku,
Semoga aku tidak pernah kehilangan cinta kasih dari hatimu.
Bandung, 28.06.2017
Carya

Rindu Pulang

“Saat sendiri
Kurasa sepi
Teringat masa lalu yang dulu
Masa yang indah bersamamu
Sekian lama
Kau kutinggalkan
Sekian lama berpisah
Kuingin segera bertemu
Kota kecilku
Kota kelahiranku
Kurindu kepadamu
Kuingin pulang ke rumah
Bersama lagi
Sampai akhir hayatku”
~ Laika ~
Akhirnya gua pulang juga…. wkwkwkwks
(Memory 21-29 Juni 2017)
Bandung, 26.06.2017
Carya

Cemburu

Hmmm…
Kamu bilang kamu gak suka lihat dia punya teman chat yang baru?
Kamu bilang kamu gak suka lihat dia jalan bareng dia?
Kamu bilang kamu gak percaya kalau dia gak akan berpindah hati?
Kamu bilang kamu gak yakin kalau dia tetap bakal di samping kamu?
Kamu bilang kamu begini… 
Kamu bilang kamu begitu…
panjang lebar cerita, dinasehati juga gak mau denger….

Sekarang gua ngerti…
Kamu cemburu !
Kamu takut kehilangan dia,
Kamu takut gak ada yang merhatiin kamu lagi,
Kamu takut gak ada yang sayang kamu lagi,
Kamu takut menerima kenyataan bahwa akan ada yang berubah di hari esok,
Kamu takut kamu ditinggalin sendiri,
Kamu bilang kamu gak cinta,
Kamu bilang kamu gak sayang,
Tapi kenapa kamu gak mau lihat dia berbagi cintanya?
Kamu … egois kah?
Kamu sendiri boleh jalan ama orang lain,
Kenapa dia gak boleh jalan ama orang lain?
Kamu … kamu kenapa?
Kamu…. kamu beneran gak sayang dia?
Kamu… kamu yakin, kamu gak sayang dia?
wkwkwkwkwks….
Ternyata…. cemburu dan iri hati,
jika tidak segera disadari dan dikikis,
akan bertumbuh menjadi kemarahan…
menjadi kebencian, ketidakrelaan yang semakin mendalam….

So….walaupun sulit untuk menerima kenyataan….
belajarlah untuk tetap berlapang dada 
Semoga saya dapat mengikis lobha, dosa, moha
Semoga selalu mengigat tekad awal saya..
Semoga tidak ada hilanglah semua kebodohan batin ini

Bandung, 26.06.2017
Carya

Surat Rindu

Bandung, 23 Juni 2017
Akhirnya pulang juga ke kampung halaman. Sehari nunggu jadi sebulan, sebulan lewat jadi setahun, setahun berlalu jadi bertahun-tahun. Sekarang udah pulang, jadi ingat masa kecil… masa remaja…. masa waktu kuliah. Tapi kayanya yang gua ingat cuma waktu SD doang. Aneh ya… padahal dulu-dulu gak ingat jaman SD ngapain aja. Yang berkesan cuma waktu SMP doang. Tapi sekarang, semua muncul sendiri…. 🙂
Jalannya udah berubah. Suasana kotanya udah ganti. Udaranya lebih panas. Kendaraannya jadi banyak banget. Bangunannya udah tinggi-tinggi. Becak udah hilang juga. Toko-toko tua udah lenyap. Muncul mall baru-baru. Hmmm… gak kenal lagi, tapi  tetap sayang sama kota ini. Kota yang penuh dengan berjuta kenangan. Kota yang mengantar gua menuju masa dewasa.
Udah 19 tahun gua ninggalin kota tua ini. Air mata, senyum, tangis, ketawa, semuanya ada di sini. Hmmm…. gua jadi ingat waktu malam minggu nongkrong di lapangan badminton. Gak tahu kenal darimana ya, kok gua bisa sampai di sana. Aneh hahaha, tapi benar-benar ketemu orang-orang galau di sana.
Ada dokter hewan, ada tukang parkir, ada gua, dan gua lupa ada siapa lagi. Kurang kerjaan waktu itu… tapi rasanya nyaman banget karena ketemu teman-teman yang galau juga. Ada yang mikirin hidup, ada yang mikirin pacar, ada yang mikirin masa depan. Main gitar, main gapleh, kadang main kartu remi. Haaa….. 🙂 Pada kemana mereka semua sekarang ya???
Balik lagi ke jaman SD-SMP… kenapa gua bisa ada di lampu merah lagi nyeberang jalan ya pake baju seragam? Terus ketemu ama frater Paulus. Lagi naik sepeda terus berdiri di samping gua. Padahal rumah gua kan jauh bukan di sana. Haaa….. bingung dari mana asalnya dan kemana ujungnya. Yang keingat cuma waktu itu aja.
Terus waktu datang ke kelenteng sore jam 2-3 an gitu. Ada suhu yang murah senyum, lagi duduk di tempat jual hio. Gua liat beliau, beliau liat gua terus senyum. Itu kelas berapa ya? Kelas 2 kali ya? SMP. Kesan yang begitu mendalam hari itu, sampai gua memutuskan jadi umat Buddha. Haaaa…. padahal gua udah les agama 2x di gereja.
Muncul lagi waktu gua jalan ke dalam, kayanya mau ke rumah si encek pinjam Ko Ping Ho deh. Ada suhu gua lagi berdiri di tengah pintu, tangannya di pinggang. Gua ingat banget mukanya yang menyeramkan. Hahahaha…. Beliau lihat gua, gua cuma nengok doang gak mau nyapa. Malas… jutek mukanya. Haaaa… sekarang gua jadi muridnya.
Gua ingat waktu nongkrong di pintu toko ungu. Cuma lihat lu lagi motong sayur, keren banget cowok bisa masak. Cepat banget pisaunya. Tajam kali ya. Sejak kenal lu, gua gak pernah lagi nongkrong di kelenteng. Sejak kenal lu, gua lebih suka nongkrong di toko aja. Dari pagi sampai malam gua di situ. Cuma mau lihat lu motong sayur. Cuma mau lihat lu masak mie. Haaa… dan gua selalu cari-cari alasan buat bisa ngobrol ama lu.
Akhirnya, pikiran monyet ini kembali ke masa lalu. Udara dingin di kota Bandung, membuat pikiran gua terbang terus. Gua ijin ke suhu sampai tanggal 29 di sini. Mungkin suhu gua juga bingung, biasanya gua datang pagi pulang malam. Kali ini, di bulan Lebaran gua stay 8 hari.
Iya, tiba-tiba gua kangen ama masa lalu. Gua kangen ama masa kecil. Gua kangen ama masa remaja. Gua kangen sama masa kuliah. Gua kangen orang-orang yang pernah muncul di masa kecil gua. Gua kangen mereka yang pernah bareng nakal di masa remaja gua. Gua kangen orang-orang yang sering galau bareng waktu jaman kuliah. 
Barangkali lirik lagu ini, yang bisa mewakili Surat Rindu gua pada masa lalu.
“Oh angin
Kabar apa yang kau bawa dari dia?
Oh angin
Sampaikan saja salamku pada dia
Jangan katakan hatiku rindu siang dan malam
Jangan katakan aku cemburu di malam ini
Oh angin
Lagu apa yang kau bawa dari dia?
Oh angin..
Nyanyikan laguku ini pada dia
Jangan senandungkan kata cinta kepada dia
Kabarkan saja aku tak mau menunggu lagi
Biar biar biar dia bukan milik aku lagi
Biar biar biar dia tak cinta padaku lagi
Biar dia pergi
Biar kusendiri
Aku pun tak cinta lagi di malam ini”
~ Rinto Harahap : Oh Angin ~
dan akhirnya semua orang akan berpisah dengan dirinya sendiri.
Nait.
Carya, 23.06.2017