Catatan harian si pengembara dalam samsara

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Selamat Jalan, Bhante Attapiyo Don Lado 09.03.2018

Tidak banyak orang yang mengetahui cerita kita dengan jelas di masa lalu. Yang pasti hanya kita berdua. Dan mungkin temanmu itu, Seto. Aku sendiri Sudah berusaha tutup mulut, tapi tidak disangka hidupmu begitu singkat. Hari ini hari kremasimu, hari semua unsur terurai kembali ke alamnya. Aku mengenangmu.
Yang kuingat adalah percakapan kita di ruang perpustakaan Pusdiklat Bodhidharma, Bandungan. Yang kuingat adalah kita membahas riwayat hidup dari Master Hsuan Hua. Yang kuingat adalah ceritaku tentang tekad beliau. Bila saatnya tiba nanti, biarkan sisa abunya dicampur dengan adonan yang debut selezat mungkin. Karena beliau bertekad, semoga makhluk yang berjodoh dengan tubuhnya, dapat merealisasi Jalan.
Yang kuingat adalah masalah menjadi seorang samana yang harus giat belajar. Sebelum karma baik itu terjadi, alangkah indahnya bila ia dapat melanjutkan studinya. Dijawabnya dengan cepat, ya saya mau suhu. Dan kurespon, pilihlah jurusan yang dapat membantumu mempelajari dharma seperti bahasa Inggris atau mandarin. Dijawabnya lagi, aku mau kaya suhu. Sisa percakapan lainnya, aku sudah tidak ingat. Maap.
Whaaattt??? Belajar Shakespeare? Belajar prose? Belajar Bahasa jaman Victorian? Hmmm apakah tidal sebaiknya mengambil Bahasa Inggris dan bukan Sastra Inggris? Gak suhu… saya mau seperti suhu. Well, gak akan jenuh? Gak,,,, hmmm Ok lah kalo begitu.
Ada lagi pertemuan 3 pasang mata dengan ayah dan ibumu. Di ruang tempat minum teh. Sangat menyenangkan bertemu dengan ibumu yang ramah. Begitu merelakan anaknya menjadi seorang samana suatu saat. Demikian pula dengan ayahmu, tidak keberatan.
Mulailah kuliahmu di Sastra Inggris. Tiap semester laporan IPK masuk via SMS. Nilainya bagus-bagus. Hahahaha…. keren sekali ini anak. Sampai 3-4 semester berlanjut, tiba-tiba no rekeningmu hilang. SMS mu, suhu, mulai sekarang transfernya ke rekeningnya Seto, temanku. Masih timbul keraguan, yakin tuh orang bisa dipercaya? Bisa suhu. Dia sahabat baikku. OK lah kalau begitu…. dan seperti itulah aku berkenalan dengan orang yang namanya Seto. Arnhanto Damarseto. Seperti nama Arahat. Semoga orangnya secantik namanya.
Tiba kelulusan, ia mengundangku aku untuk mengikuti wisuda. Aku menolak. Lebih baik ayah ibu mu yang mendampingi mu saat wisuda. Aku cukup senang melihatmu lulus dari jauh. Setelah itu, muncul lagi SMS mu yang mengatakan akan pulling kampung untuk mengabdi sebagai guru Bahasa Inggris. Keren sekali ya….
Waktu berjalan begitu cepat. Tahu-tahu muncul fotomu di Fb sudah memakai jubah. Kemudian aku memberikan salam. Ada pertemuan singkat di mana rasa haru menyergap relung hatiku. Ia sudah menjadi Bhante. Ia sudah berhasil menapaki Sang Jalan. Ia sudah berhasil melangkah menghampiri cita-citanya.
2 Bukunya diberikan kepadaku. Kulihat disampul, tertanda tangan.. ada nama beliau. Katanya, Suhu… buku ini sudah disiapkan untuk suhu… maap baru bisa kasih sekarang. Iya… terima kasih Bhante… Terima kasih untuk masih mengingatku. Beliau bilang, aku tidak berubah. Hahaha… terima kasih sekali lagi. Terima kasih.
Hari ini… jazadmu kembali terurai menjadi 4 unsur. Seto kirim foto… “Dia sudah pergi”. Dan begitulah beliau pergi.
Selamat jalan Bhante Attapiyo. Waktu pertemuan kita tidak lama… namun sangat memberi makna. Aku belajar banyak dari perjalanan hidupmu… “Singkat namun bermakna”. Semoga tekadku yang meluntur ini… dapat kembali seperi dahulu kala… Ketika kita pertama kali bertemu… dalam idealis-idealis anak muda, yang tidak pernah ada takutnya menghadapi tantangan dan masa depan.
Terima kasih telah hadir mengisi perjalanan hidupku.
Semoga di mana pun Anda terlahir, selalu memberi makna bagi makhluk lain. Demkianlah seorang bodhisattva, selalu melangkah  di Jalan kebuddhaan.
Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
Bogor, 14.03.2018
Carya
Advertisements

Dharmayatra India Sangha Mahayana Indonesia 10-21 Januari 2018

Campur aduk semua rasa di tempat ini. Bertemu kembali dengan guru agung, Buddha Shakyamuni yang tiada duanya. Kubersujud, kuberlutut, ku memuja nama Mu… berlindung sepenuh nya, mengakui semua kesalahan. Mengakui semua kegelisahan, kebencian, kegalauan hati yang selama ini menjadi beban dalam hati. Air matapun mengalir, masih adalah pintu maap untukku?

Berulang kelahiran aku mencari kebenaran, aku mencari jalan menuju cahaya abadi. Berulang kelahiran aku gagal dan terjerumus. Berulang kali aku memohon pengampunan, berulang kali aku menyatakan penyesalan. Berulang kali aku memohon perlindungan dan berulang kali aku mengucapkan tekad. Kali ini… aku tidak sanggup lagi. Air mata yang mengalir, batin menangis,  aku tidak sanggup lagi.

Jalan ini semakin berat. Jalan ini semakin mendaki. Jalan ini semakin sulit. Jalan ini semakin gelap, tertutup kabut, tertutup kebodohan batin. Cahaya semakin tedup, redup… semakin jauh…. semakin samar. Aku ingin menyerah.

 

Januari 2018

Sepertinya berita duka datang satu per satu. Diawali dari ci Memei, terus Ayya Susilavati, lanjut ke papa Oen… dan ada lagi beberapa orang yang tidak kukenal tapi ada kaitannya dengan orang-orang yang kukenal. Hmmm…. akhir tahun yang diawali dengan kesedihan… akibatnya awal tahun benar-benar menjadi titik balik untuk meningkatkan kesadaran diri, menyadari segala bentuk ketidakkekalan, dan bertekad untuk menjadi lebih baik lagi setiap saat.
Aku jadi ingat supervisi terakhir yang bikin satu mandala. Hmmmm…. feel so bad kalo diingat lagi. Well…. move on, move on !!!
Neh kata Shayne Ward “Stand by Me”:
Nothing’s impossible
Nothing’s unreachable
When I’m weary
You make me stronger
This love is beautiful
So unforgettable
I feel no winter cold
When we’re together
When we’re together
Will you stand by me?
Hold on and never let me go
Will you stand by me?
With you I now I belong
When the story gets told
When day turns into night
I look into your eyes
I see my future now
All the world and its wonder
This love won’t fade away
And through the hardest day
I’ll never question us
You are the reason
My only reason
Will you stand by me?
Hold on and never let me go
Will you stand by me?
With you I know I belong
When the story gets told
Selamat menjalani tahun 2018.
Semoga mereka yang telah meninggal dunia, sesuai dengan kekuatan karma-karma baik yang telah mereka lakukan, dapat menjadi penyebab mereka terlahir kembali di alam bahagia.
“Lewat sudah 2017
Ada berita duka di penghujung tahun,
Ada kabar gembira di awal tahun,
Ada kenangan,
Ada harapan,
Ada masa masa lalu,
ada masa depan,
Ada kerinduan,
Ada kenyataan.
Semoga aku lebih bijaksana menghabiskan sisa hidupku ini,
Semoga bara api ini menjadi sumber inspirasi mencapai pencerahan agung,
Semoga para ayah bunda di tiga masa hidup dalam dharma,
Semoga para guru menjadi sumber ilmu bagi mereka yang haus kebenaran,
Semoga semua makhluk mencapai aspirasi agung,
Semoga harapanku ini menjadi harapan semua makhluk.
Be blessed! 
Bersama kalian, aku semakin kuat, semakin termotivasi.
Be happy 🙂
Bogor, 05.01.2018
Carya

 

BAIK VS TIDAK BAIK

Berkelana aku mencari keadilan di muka bumi ini.
Berjalan ke sana kemari mencari persamaan.
Lelah.
Letih.
Hampa.
Kecewa.
Kaki ini melangkah di tempat.
Batin ini nelangsa menuju akhirat.
Pikiran menerawang.
Entah apa yang harus dimiliki untuk menuju masa depan nanti.
Satu per satu pergi meninggalkan.
Yang tersisa akhirnya hanya bayangan tubuh sendiri.
Hitam.
Gelap.
Pekat.
Bahkan aku sendiripun tidak mengenalinya lagi.
Kemana perginya kamu yang menyebut dirimu sendiri orang baik?
Kemana perginya kamu yang menyebut dirimu sendiri orang bijaksana?
Kemana perginya kamu yang menyebut dirimu sendiri penolong?
Kemana perginya kamu yang menyebut dirimu sendiri orang soleh?
Kamu orang bermartabat!
Kamu orang kaya!
Kamu orang bergengsi!
Kamu orang suci!
Kamu adalah nabi bagi mereka yang bersedia mengikuti aturan main kamu!
Buat aku?
Kamu terlalu jauh untuk dijangkau
Buat aku?
Kamu bagaikan bulan di langit yang tinggi itu
Buat aku?
Kamu bagaikan meteor yang lamaaaaaa banget baru jatuh ke bumi, itu pun hanya datang untuk merusak bumi 
Lalu ketika aku terpuruk,
Bukan kamu yang datang menolong aku.
Ketika aku jatuh,
Bukan kamu yang datang menarik aku.
Ketika aku terbenam,
Bukan kamu yang datang memberi aku nafas kehidupan.
Ketika aku membutuhkan kehadiran kamu,
Bukan…. bukan kamu yang datang mengisi hari-hariku.
Orang-orang yang kamu anggap tidak baik itu yang datang menghilangkan kesepianku
Orang-orang yang kamu anggap tidak baik itu yang datang mengisi hari-hariku.
Orang-orang yang kamu anggap tidak baik itu yang datang memegang erat bahuku
Orang-orang yang kamu anggap tidak baik itu, yang merangkul bahuku, kemudian berkata,
“Aku akan selalu di sampingmu kawan….”
Barangkali jodoh kita berakhir sampai di sini,
Barangkali pertemuan kita harus diakhiri hari ini,
Barangkali pertemanan kita sudah harus selesai begini saja.
Dengan kamu…. ya kamu, orang baik!
Hi kamu yang merasa baik,
Di mana kamu ketika aku butuh kamu?
Hi kamu yang merasa baik,
Di mana kamu saat aku berada dalam masa-masa kelamku?
Hi kamu yang merasa baik,
Di mana kamu saat aku berjalan seorang diri mencari kebenaran?
Hi kamu yang merasa baik….
Mengapa kamu hanya berdiri mematung di tempat menuju kebaikan abadi itu?
Hi kamu yang merasa baik…
Mengapa kamu hanya memandang langit yang tiada batasnya itu?
Hi kamu yang merasa baik…
Tahukah kamu
bahwa kami-kami ini sedang saling berjuang berpegangan tangan,
saling merangkul,
saling mendukung,
saling membantu,
saling menarik
ketika salah satu dari kami tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan menuju cahaya abadi tersebut.
Jakarta, 31 Oktober 2017
Carya

Kecewa

Aku tahu,
Motivasi kita berbeda
Tujuan kita berbeda
Kehidupan kita berbeda
Pola pikir kita berbeda
Masa lalu kita berbeda
Semuanya serba berbeda.

Kalau boleh aku tanya,
Apakah makna cinta bagimu? 
Apakah makna kasih bagimu?
Apakah makna sayang bagimu?
Apakah makna perhatian bagimu?
Apakah makna mendukung bagimu?
Apakah makna kehadiran orang lain bagimu?

Sebegitu dinginnya kah kamu?
Sebegitu dinginnya kah perasaanmu?
Sebegitu dinginnya kah relasimu dengan orang lain?

Aaaahhhh…
Kecewaku tidak tersalurkan
Kecewaku tidak terpahami
Kecewaku tidak berujung pangkal
Kecewaku tiada akhir
Kecewaku sudah hilang.

Kamu… tetap kamu!!!!

Jakarta, 31.10.2017
Carya

Selamat jalan Mbak Catur Wuri Ardini….

Minggu, 15 Oktober 2017 subuh aku terbangun sekitar jam 2 pagi, terus baca grup BK, ada info dari Bruder Pardi kalo mbak Catur meninggal Sabtu menjelang jam 12 malam. Oalah…. hati ini langsung tercekat. Mbak…. kenapa pergi begitu aja? Mbak Catur yang kukenal kah? Apa ada Catur-Catur yang lainnya kah? Tapi sepertinya orang yang kukenal deh.
Aku buka FB, gua cek FB nya. Benar…. ada orang yang ucapin selamat jalan buat mbak Catur. Hmm…. sedih hati ini rasanya. Teman ber haha hihi di FB sudah hilang satu. Teman saling menyapa di FB berkurang satu. Teman yang suka sharing apa juga menghilang satu.
Gak bisa lagi lihat foto Iggi. Gak bisa lagi ngetawain Iggi. Gak bisa lagi komen tentang Iggi. Gak bisa lagi ikuti perkembangan Iggi. Gak bisa lagi titip salam buat Iggi. Ooooh sedih deh rasanya. Semoga Iggi tumbuh jadi anak yang ndut dan lucu sampai besar nanti ya, nak… biar ibumu senang lihat Iggi dari jauh. Biar ibumu bahagia.
Mbak…kita ini sekota lho. Beberapa kali kita janjian ya mau ketemuan. Waktu makan di resto mana tuh… aku bilang, ikkuuuuttt !!!! Ayuk mbak bilang. Waktu ngopi di mana aku juga bilang, ikkkuuutttt…. dijawab, Yuk!!! Sayangnya aku lagi di Jakarta. Kita terus janjian, kapan-kapan ya kita ketemuan. Sampai mbak pergi dari dunia ini, kita masih juga gak ketemu. Hiks…. kehilangan aku mbak… teman yang selalu ceria dan bahagia. Teman yang menyembunyikan kesedihannya seorang diri. Teman yang membuat ceria orang di samping kanan kirinya. Teman yang selalu positif berpikirnya… teman segalanya.
Kita ketemu di kelas apa ya waktu itu, Penil? Terus mbak suka tanya aku tentang tugas-tugas berikutnya. Akhirnya kita lulus juga ya. Terus mbak suka bareng ama Bruder Pardi. Pernah gua lihat mbak kayanya muram banget, nangis. Apakah waktu itu kamu sudah sakit mbak? Hiks… sedih banget ya… kenapa aku gak care dikit sama kamu ya mbak, tanya kondisi kamu sesekali… kenapa mbak jadi kurus sekali dan makin pendek rambutnya? Haiz….. kepo nya aku masih kurang. Maapin aku ya mbak….
Mbak juga sempat beberapa bulan ngilang dari FB. Aku pengen nanya orang tapi gak tahu mau nanya siapa. Tahu-tahu mbak dan Iggi muncul lagi di IG. Kupikir mbak udah malas main FB. Aku udah lama gak lihat foto Iggi. Tahu-tahu Iggi muncul di IG. Aku senang, Aku kasih komen lagi. Aku gak sangka…. mbak jalan selamanya.
Mbak… niat banget lho aku pulang buru-buru ke bogor untuk ketemu mbak yang terakhir kali nya di rumah duka. Niat banget lho aku waktu sore itu. Aku ngebut ngejar waktu jam 5 sore. Supaya keburu ketemu dirimu yang terakhir kalinya. Namun sayang, jalanan cukup macet dan aku sampai bogor jam 6. Alangkah kagetnya aku…. dapat berita dari teman yang lain, kalo mbak sudah dikubur siang tadi. Ooohhh mbak…. 
Aku bilang Tasya… kita bertiga janji mau ketemuan… tapi gak pernah ketemuan. Sekarang ketemunya malah di rumah duka. Tapi ternyata…. di rumah duka pun kita gak pernah ketemu. Sama sekali tidak ada kesempatan kita untuk bertemu walaupun itu yang terakhir kalinya. Akhirnya … aku diam dalam hening. Aku diam dalam doa.
Mbak…. semoga semua perbuatan baikmu di dunia menuntunmu menuju hidup yang bahagia. Semoga engkau dapat melepaskan diri dari segala kemelekatan pada orang-orang yang kau cinta di kelahiran ini. Semoga engkau dapat menemukan cahaya kebahagiaan yang akan menuntunmu menuju hidup yang lebih baik lagi. Selamat jalan mbak…. kamu tidak pernah meninggalkan aku. Kamu selalu hidup dalam hatiku.
I’ll miss you badly mbak Catur…..
May you Rest In Peace.
Bogor, 22.10.2017
Carya

 

RIP Akiu Juan 10.02.1956-28.09.2017

Tinggi, kurus, hitam. Dan yang selalu kuingat sampai hari ini adalah rambutnya yang panjang tergerai kemudian diikat. Meski baru bertemu beberapa kali, ciri itu selalu aku ingat sampai hari ini. Maka ketika di grup keluarga ada berita ada orang meninggal dunia dengan foto di KTP yang tidak kukenal, maka aku pun juga tidak perduli. Tokh sudah biasa ada orang meninggal dengan keluarga yang entah di mana kemudian disebarkan via medsos  …… 😦
Aku tidak pernah menduga kalau foto yang tidak ku’download’ itu adalah KTP Akiu. Malam setelah acara retreat berakhir, menjelang jam tidur, aku buka HP ku. Kubuka dan kubaca kiriman berita dari adikku. Dan ….. nyawaku seperti terbang seperempat.
Sesaat kemudian aku tersadar. Seperti inikah rasanya kehilangan? Seperti inikah reaksi tubuh ketika jiwa bergetar karena nyawa hilang seperempat? Beginikah batin makhluk di dunia ini? Seperti inikah penderitaan para makhluk yang tidak berjuang mencapai pembebasan sempurna?
Hilang berarti tidak  terlihat lagi.
Hilang berarti tidak  bertemu lagi.
Hilang berarti lenyap.
Hilang berarti tidak tampak.
Hilang berarti tidak ada.
Aku ingat akiu pernah datang dan tinggal bersama kami di rumah kakek. Cimindi. Sepertinya tidak lama. Aku cuma ingat kalau saat itu akiu dan mama sedang berbicara berdua sambil berdiri di toko, kemudian seingatku mama bicara banyak dan agak kesal. Kemudian akiu pun pulang Solo. Saat itu aku belum 8 tahun. Dan itu pertemuan pertamaku. 
ketika aku naik kelas 2 atau 3, kemudian aku main ke Solo saat liburan sekolah. Yang kuingat adalah kami menjenguk akiu di rumah itu. Akiu berdiri menyambut kami. Namun sepertinya tangan akiu sedang memegang gitar. Kemudian aku tidak ingat lagi. Itu adalah pertemuan kami yang kedua.
Setelah itu hanya dongeng-dongeng sedikit tentang akiu dari mama. Aku juga tidak tahu seperti apa sosok akiu ku yang bungsu ini. Aku juga tidak tahu seperti apa kehidupannya sekarang setelah aku dewasa. Aku juga tidak tahu dengan siapa sekarang ia tinggal.
Kalau pertemuan itu dapat dihitung dengan tangan, lalu mengapa aku merasa kehilangan? Kalau pertemuan itu tidak kurang dari lima kali, lalu mengapa aku  turut meratap dan berduka?  Kalau pertemuan itu terjadi di masa kecilku yang tidak banyak ingat, mengapa aku turut bersedih dan menderita? Kalau dalam setiap pertemuan itu tidak ada kata-kata obrolan, mengapa aku merasa memilikinya?
Sebetulnya karena mama. Karena mama melihat kehidupan akiu begitu susah dengan main band. Karena ekonomi akiu begitu jauh dari sederhana karena bermain musik. Karena akiu tidak punya apa-apa karena memilih hidup dengan  musik. 
Karena akiu senang bermain musik. Karena akiu senang main band. Karena akiu memilih hobi nya. Karena akiu hidup dengan musik.
Karena itu…… mama juga melarang aku main gitar. Karena itu mama melarang aku hidup dengan musik. Karena itu mama juga melarang aku menjadi pemusik. Karena itu mama melarang aku menjadi seperti akiu.
Karena itu…. mama sering memarahi aku bila sudah memegang gitar berjam-jam. Karena itu mama sering menegur aku bila sudah bermain gitar berjam-jam. Karena itu mama berusaha mati-matian agar aku tidak bersama gitarku. Karena itu mama berjuang sekuat tenaga untuk memisahkan aku dengan gitar kesayanganku. 
Dan hidup tanpa musik…
Seperti makan nasi tanpa garam.
Dan hidup tanpa musik,
Seperti malam gelap tanpa bintang.
Dan hidup tanpa musik,
Seperti siang hari tanpa matahari.
Dan hidup tanpa musik,
Sepi, gelap, hampa.
Maka, pertemuan yang sangat singkat tersebut, selalu ada dalam ingatanku. Aku tidak boleh seperti akiu. Aku tidak boleh mengikuti akiu. Aku harus mencari jalan yang lain. Dan karena itu… sosok akiu, figur akiu melekat dalam batinku. Walau pertemuan hanya sesaat, namun musik mendekatkan aku dan akiu.
Akiu….
Thanks for being my inspirations
Thanks for being my songs
Thanks for being my clouds
Thanks for being sunshines
I can’t see you for the last time,
But I’ll bring your name in my prayer every day
May you rest in peace.
Thanks for being my uncle in this life
Thanks akiu untuk komunikasi kita yang singkat tahun lalu di group keluarga. Doa-doamu selalu menginspirasiku untuk selalu kembali kepada Sang Maha Esa. I’ll miss you badly. We’ll miss you badly. 
Love you…
May you be reborn in the happier life.
Bogor, 09.10.2017
Carya
09:43:07