Catatan harian si pengembara dalam samsara

Pengembara

Bilamana seseorang mendapat teman yang bijaksana dan bekerja sama dengannya, maka hidup baik, tenang, gembira dan dapat mengatasi semua mara bahaya..

Bilamana seseorang mendapat teman yang bijaksana dan bekerja sama dengannya, maka ia bagaikan meninggalkan kerajaan yang ditaklukkannya; ia dapat hidup sendiri seperti gajah yang mengembara dengan bebasnya dalam hutan.

Lebih baik hidup menyendiri daripada berteman dengan si dungu. Hiduplah menyendiri tanpa berbuat jahat dengan penuh ketenangan, bagaikan gajah yang mengembara dengan bebasnya dalam hutan.

Yamaka Vagga I 328-330

Sepertinya perjalanan ini akan membosankan, lalu melelahkan, dan terakhir menyebalkan. Pikiran ini yang terus muncul sehingga ada rasa malas untuk berangkat. Tapi… tetap harus berangkat. Gak ada pilihan lain. Hmm… andai ada pilihan lain…. gua mau tidur aja 10 hari, gak usah jalan-jalan, gak usah sembahyang, gak usah kemana-mana. Yang pasti gak usah keluar pintu.
Dalam perjalanan yang ternyata mengesankan ini, gua belajar banyak. Gua bersyukur dan berterima kasih karena ternyata gua telah hidup bareng-bareng dengan seorang bodhisattva. Selama ini semangat, jiwa besar, kerendahan hati, kedisiplinan, kemurahan hatinya… tidak tampak. Bukan karena beliau yang tidak terlihat, namun karena kekotoran batin dan kebodohan batin gua yang tebal sampai akhirnya tidak pernah menemukan kelebihannya. Dan bersyukur sekarang gua merasakannya.
Beliau adalah sukong gua, Dharmasagaro Mahasthavira. Terharu juga saat orang-orang meninggikan beliau, sampai-sampai gua menitikkan air mata saat menonton DVD film ultahnya dua tahun berturut-turut. Gua melihat sinar mukanya yang berseri-seri. Gua menangis, gua sedih… hmm, tepatnya sedih kali ya… ternyata selama ini gua gak pernah memandang beliau. Orang lain di seberang lautan begitu memuja beliau, tapi gua.. gua cuek-cuek aja. Haiz….. seperti anak durhaka ya. Hiks…
Jujur aja perasaan gua ngaduk-ngaduk terus. Antara sedih, senang, bangga, terharu, menyesal.. semua jadi satu. Dan.. gua mana pernah tahu, kalau akhirnya gua ada di samping beliau. ^_^ Enam tahun lebih gua di sini. Dari mulai diomelin, diajarin, dinasehatin, hiks…. dan gua sekarang benar-benar berterima kasih karena ada jodoh untuk berada di samping beliau.
Gak ada yang bisa gua katakan lagi.. yang pasti, gua terharu… dan speechless akhirnya.
Well, sebelum gua akhiri. Gua tulis sedikit di Monkey Mind gua tgl 6 Oktober 2016:
“Kekotoran batin yang tebal,
Membuat hal baik menjadi buruk,
Mengubah kebenaran menjadi kebohongan,
Menciptakan surga menjadi neraka,
Menyalahkan orang hebat menjadi rendah.

Kekotoran batin yang tebal,
Membuat mata jasmani tidak dapat melihat kebaikan makhluk lain,
Membuat cinta kasih menjadi kebencian,
Membuat keindahan menjadi keburukan.

Sudah saatnya kita merendahkan hati,
Sudah saatnya kita menekuk lutut dan memohon ajaran,
Sudah saatnya kita berlapang dada untuk melihat kesalahan diri sendiri,
dan tidak lagi mengukur kesalahan orang lain.

Karena ternyata, sumber masalah adalah diri sendiri.
Bukan dari saudara, teman, orang tua, atau tetangga.”

Semoga kalian tidak mengikuti kesalahan gua ya, tidak pernah melihat kebaikan orang lain, selalu melihat keburukan orang lain, dan akhirnya tidak sadar bahwa kekotoran batin yang tebal ini benar-benar menutup mata batin dan tidak mampu lagi melihat kebaikan dari seorang guru.
Mari kita berubah, mari kita menjadi manusia baru. Semoga kita selalu bertemu dengan para guru bijaksan dan ajaran yang mengarahkan kita pada pembebasan sejati.
Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
Bogor, 11.10.2016
Carya

Cinta ? Hmmm

Sore ini waktu jalan pulang, ada lagu ini di radio:
Mencintai kamu,
bisa2 membunuh diriku
bikin patah hati trus langsung dicuekkin
mencintai kamu, sama saja menggantung leherku
bikin sakit hati trus langsung ditinggalin
balikkin2 hati gue kayak dulu lagi
elo harus tanggung jawab kalau gue nanti2 mati
balikkin2 kehidupanku yang seperti dulu lagi
balikkin2 kebebasanku yang seperti dulu lagi
~Slank~
Dulu sering banget aku denger lagu ini. Lucu… keren, kreatif tepatnya. Tapi hari ini, teks lagu yang dinyanyikan bener-bener indah buat ku. Hmmm…
Beberapa bulan ini, ada beberapa mommy yang datang dan cerita tentang rumah tangganya yang sedang dalam proses perceraian. What???
Yeah, meskipun anak sudah pada besar, pernikahan sudah 10 tahun an, keuangan lebih lancar dibandingkan waktu baru nikah, tetap aja perceraian menjadi pilihan. Alasannya sudah gak cocok, gak bisa disatukan kembali, beda pendapat, udah gak mau lagi mengalah, mau sampai kapan aku mengalah, gak ada kebebasan, gak dipercaya, baik percuma yang penting perduli ama anak istri… dan segudang alasan lainnya, intinya : Putus !!! Cerai !!!
Hmm…. aku juga pernah tanya, dulu nikah pacaran atau dijodohkan? Katanya dijodohkan terus pacaran. Ada yang bilang, pacaran dulu terus pilih yang sudah berumur supaya lebih bisa memahami karena mantan adalah orang yang sedikit sakit, hobi bunuh diri kalau dimintai putus, jadi ada harapan calon suami akan lebih dewasa. Kenyataannya? Setelah menikah dunia berubah semua, tidak lagi semanis dulu.
Iya.. pernikahan pada intinya adalah pernikahan dua budaya yang berbeda. Bukan dua pribadi yang sekedar menyatu lalu mempunyai anak. No… not as that simple. Akhirnya banyak pasangan memilih berpisah karena akhirnya mereka menganggap kebebasan adalah nomor satu, diri sendiri adalah nomor satu, keadilan dan kebersamaan adalah nomor satu. Betul ibu, ibu ! Betul…. masalahnya adalah, anda sudah menjadi ibu…. anda punya tanggung juga sebagai ibu, gak boleh membiarkan anak serba dengan bapaknya.
Kesimpulan? Ibu-ibu emang suka baper, susah diomongin. Cape deeehhh….
Terserah deh kalau mau cerai, yang penting dan pasti… aku gak pernah dukung orang yang mau bercerai. Sama seperti berlayar di tengah samudra… maju terus pantang mundur walaupun harus kandas di tengah samudra. 
Hidup diri sendiri…. wkwkwkwks….. emang nya lagu… bisa minta dibalikin masa lalu? hehehe… Jadi apa tuh cinta???? Yang pasti bikin kita ada di dunia sekarang ini yaaahh….. xixixixi
Salam….
Carya, 27.09.2016

It Hurt

Dear Ibu,
Terlambat 9 hari pengumpulan blok 4 saya.
Saya pikir, karena waktu yang kurang untuk merenung. Ternyata memang sulit sekali untuk menulis di blok ini.
Seperti sedang menyayat diri sendiri dengan pisau-pisau yang tajam di tempat luka yang sudah lama mengering.🙂
Thanks a lot Ibu.
Bukan karena tidak mau membuang nanahnya.
Bukan karena tidak mau menjadi orang sehat.
Bukan karena tidak mau menerima kenyataan.
Bukan karena tidak mau melepaskannya.
Bukan tidak mau mengisi hati dengan cinta.
Bukan … semua bukan…
Itu karena terlalu sakit untuk dikorek kembali.
Carya. 22.08.2016

 

Menjadi Ketua Pelaksana Pravaraja Sangha Mahayana Indonesia 2016 kali ini sungguh luar biasa. Setelah 7x diadakan di Samatha Meditation Center, kali ini dengan berat hati saya memutuskan untuk memindahkan tempat ke Vihara Vajrabodhi Bogor. Alasannya karena sudah memasuki bulan bakti, hampir semua anggota sangha sibuk di vihara masing-masing mempersiapkan acara Ullambana. Well… saya berharap dari awal semoga para peserta tidak menjadi kecil hati dan tetap bersemangat melakukan pelatihan diri sebagai calon samana.
Setiap hari pembimbing berganti-ganti. Tidak ada yang benar-benar full standby selama 2 minggu kecuali 2 orang sramaneri dari Vihara Lalitavistara, Shi Chuan Cai dan Shi Chuan Xin. Bersyukur lah masih ada para ibu-ibu umat Vihara Vajrabodhi yang selalu setia membantu panitia dan tim sukses di dapur dari mulai belanja sayur, antar ke vihara, motong sayur, beli bumbu, cuci sayur, cuci beras, sampai memasaknya menjadi masakanan yang lezat. Semua jasa kebajikan ini tentunya akan terus saya ingat.
Marah merupakan salah satu cara untuk melampiaskan kekecewaan, kegalauan, kekesalan, dan kesedihan. Tapi menurut saya, marah adalah satu satu cara untuk menyadarkan seseorang atas kesalahannya. Tentunya hati dibuat netral, hanya bicara saja yang agak keras dan tinggi. Itu yang sulit untuk dilakukan oleh siapapun. Marah dengan cinta kasih istilahnya atau marah dengan wisdom itu bagian tersulit dari kehidupan awam manusia biasa seperti saya. Dan itu sudah terjadi di beberapa sesi terutama saat melakukan ritual yang berkaitan dengan para buddha, bodhisattva, atau  makhluk lain. “Grrrrr…… Grrrr….. Grrrrr…. ” Semoga peserta yang pernah kena semprot memaapkan aku ya…. terutama sis Yulia dan bro Ervin. Sisanya, rasanya seh gue gak pernah marah deh sama kalian.😀
Buat saya pribadi, awal acara ini sungguh hal yang membuat galau suasana hati. Rasanya seperti kerja sendiri walaupun didampingi beberapa orang anggota sangha. Hahaha… soale tiap tahun dari pravaraja 1 sampai 7, aku hanya sebagai penggembira yang bener-bener suka ninggalin panitia lain kalau mereka lagi pada sibuk… pertama karena emang ada urusan di bawah (atas itu Puncak) dan kedua, karena mau melempengkan punggung dan tidur lamaan dikit. Xixixixixi…. dan tahun ini… oh la la, mereka yang semua pergi meninggalkan aku secara fisik tapi tetap mendukung aku secara moral. Hmmm… Hmmm… dan aku harus berjuang sendirian rasanya. Hiks.. Sekarang karma itu ada, karma itu nyata… tahun-tahun berikutnya gak boleh ninggalin orang lain supaya kalo jadi ketua gak ditinggalin lagi🙂
2 minggu ini, saya melihat wajah para peserta begitu damainya, begitu tenangnya, begitu kuat powernya. Hati saya jadi tersentuh… “Beginilah seorang samana melatih dirinya, dari mulai bangun tidur, menurunkan kakinya, memakai jubahnya, berjalan, duduk, berdiri, berbaring, juga makan minum… semuanya penuh dengan kesadaran”. Itu yang saya ucapkan di waktu makan siang, begitu melihat mereka makan dengan damainya… berasa sedang membahas Diamond Sutra… semua tidak dalam kata-kata, semuanya dalam tindakan.. semuanya terlihat nyata. Dan itu semua yang dialami di meja makan. Ramai tapi hening, Hening tapi ramai. Dan saya terharu… sungguh terharu. Maka saya katakan berkali-kali, latihan adalah milik kalian masing-masing, bukan milik saya, bukan milik guru, bukan milik orang tua, bukan milik orang lain. Latihan adalah latihan.
2 minggu sudah berlalu, dan semua sudah pulang ke rumah masing-masing. Tiap orang membawa kenangan indah dan pahit selama pravaraja, kegalauan masa depan, juga penyesalan di masa lalu. Well…  semua sudah berlalu, seperti prinsip Xing Tang: selalu jalan ke depan, tidak pernah jalan mundur dan tidak pernah menyesali apa yang sudah dilakukan. Semoga cita-cita kalian tercapai, dan yang harus terus ditekadkan: selamanya tidak akan mundur di jalan Kebuddhaan sampai mencapai kebuddhaan. Semoga niat luhur kalian tercapai dan jangan pernah putus di tengah jalan, ya… seperti menjadi Xing Tang di tempat makan, selalu maju ke depan tidak menoleh ke belakang😀
Di blog ini, saya sangat berterima kasih kepada seluruh panitia : B. Neng Xiu, B. Chuan Cung, B. Chuan Jing, B. Chuan Guang,  B. Xian Jie, B. Xian Xiang, Sr. Chuan He, Sr. Chuan Xie, Sr. Chuan Cai, Sr. Chuan Xin; dan sesepuh + pengurus Sangha Mahayana Indonesia:  B. Dharmasagaro, B. Kusalasasana, B. Andhanavira, B. Matra Maitri, B. Kusala Passa, B. Bhadra Pala, B. Gunasasana, Sr. Neng Rui, Sr. Neng Du, seluruh anggota sangha di Vihara Lalitavistara, Cilincing ; tim sukses di dapur VVB dan seluruh donatur baik melalui uang, barang, tenaga, atau dukungan, terutama untuk VVB. Tanpa kalian kami belum tentu berhasil seperti ini. Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada para peserta Sramanera, Sramaneri, Silasikha: Aleks, Benny, Chandra, Ervin, Erwin, Fendi,  Handoko, Irvan, Ricky, Riswan, Wiliem, Yanto, Yusak, Ahui, Julia, Loora, Lie Soni, Rieka Lim, Mei Fang, Ng Sai Ngo, Ng Susi, Nani, Ruby, Ye Liang, dan Susan. Berkat kesungguhan hati kalian, nama saya jadi terbawa harum….😀😀😀
Special Thanks untuk B. Matra Maitri: Gue gak pernah ninggalin elo. Ya, I can see and feel it. Thanks untuk Suhu Xue Liang yang sudah menyempatkan diri datang ke VVB walaupun harusnya gak di tempat :p
Thanks untuk Suhu Aan, Suhu Long Shan yang mau menjadi Acharya.
Thanks untuk Suhu Xian Bing yang sudah datang untuk pencukuran rambut walaupun sibuk banget.
Akhirnya, Terima kasih untuk semua makhluk, baik yang nampak maupun tidak tampak, semuanya turut mendukung kesuksesan Pravaraja SMI 2016 di VVB, Bogor. Banyak hal yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata, cukup tahu dan GAN EN. Itu saja.
Tadyata Om Gate-Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
VVB, Bogor,
18.08.2016
Carya

 

 

Be Present

Selamat malam teman-teman,

Banyak diantara kita yang duduk berdampingan atau berdiri bersebelahan, bahkan tidur bersisian… ternyata hanya hadir secara fisik tidak hadir secara psikologis. Sekarang saya paham, apa maknanya be present, apa manfaatnya be present, dan bagaimana perasaan yang muncul saat ada seseorang yang benar-benar hadir untuk kita… bukan hanya sekedar fisik, namun juga secara psikologis.

Barangkali kita pernah menyepelekan hal ini. Bagi orang dewasa, berbincang dengan anak kecil atau orang-orang yang dianggap kecil sama seperti menyita waktu. Kepala mengangguk-angguk namun tatapan mata sibuk pada layar ponsel. Saat si pembicara tersenyum… kita pun turut tersenyum.. hanya sekedar meng’copy’ bukan menikmati. Bila si pembicara boleh bertanya dan diijinkan bertanya, bolehkah diulang apa yang telah saya ucapkan baru saja? Saya yakin 90% bahwa si pendengar akan malu hati karena ia tidak menyimak sepenuhnya.

Well… bagi seorang anak, kehadiran orang dewasa yang terdekat dengan dia adalah sangat berharga. Tidak ada barang apapun atau harta apapun yang melebihi waktu yang sangat berharga ini. Perasaan bahagia akan terus hadir sepanjang hari… apalagi bila dibarengi kontak mata. Quality time itu benar-benar nyata… benar-benar ada bila dipraktekkan.

Anda sebagai orang dewasa pun saya yakin masih memiliki kebutuhan ini. Perhatian dan kehadiran dari bos kita, dari anak, dari pasangan, dari sahabat… dari siapapun yang kita telah prioritaskan.. dibarengi dengan tatap mata, tentunya akan membuat hidup kita bahagia.

Marilah kita mengubah sikap kita.. agar lebih bijaksana menggunakan waktu… be present untuk siapapun yang dekat dengan kita, supaya satu menit pun akan terasa jauh lebih bermakna daripada 24 jam berlalu tapi tiada makna.

Be happy🙂
Thanks for the presence of you tonight, shifu.

Carya 02.08.2016

Little Pole

Little Pole adalah seekor anak beruang kecil yang bulu-bulunya sangat halus dan berwarna sangat putih. Saking putihnya, ia dianggap  cute, polos dan tidak berdosa. Little Pole jarang tersenyum dan jarang berbincang-bincang. Ekspresi mukanya datar. Secara fisik, badannya tidak terlalu gemuk, sedang-sedang saja.  Di kelas, Little Pole lebih banyak berdiam diri dan memperhatikan gerak-gerik si guru dan teman-temannya. Untuk Little Pole diam adalah emas.🙂
Kemarin adalah hari terakhir Little Pole pergi ke sekolah. Mereka sudah lulus. Sertifikat pun sudah dibagikan. Little Pole pulang dengan hati yang tidak jelas… tidak gembira, tidak sedih, tidak semangat, tidak semua. Little Pole sendiri juga heran. Ia tidak seperti teman-temannya: ada yang bahagia, ada yang menangis, ada juga yang bersemangat. Little Pole bingung terhadap perasaannya sendiri. Bagi Little Pole, semuanya memang harus berjalan sesuai proses.
Kemarin sebelum Exit, sesudah ibu guru memberikan box kupu-kupunya tanda metamorfosis Little Pole dan kenang-kenangan Trust the Process, Litle Pole mengucapkan sebuah doa. “Semoga semua yang hadir dalam ruangan itu dapat menjadi pelita bagi siapapun tanpa membedakan agama, ras, suku bangsa, usia, gender, budaya dan pendidikan.”  Menurut Little Pole hati itu sangat penting karena hati akan  menyatukan fisik mereka setelah semua berpencar. Kemudian Little Pole  menaruh pelitanya di tempat yang paling safe menurutnya, yaitu di antara  pelita ibu guru dan temannya yang tertua. Xixixixi… coz Little Pole tidak mau sendirian. Little Pole kemudian pergi bersama teman-temannya.
Pagi ini Little Pole terbangun karena mimpinya. Dalam mimpi, temannya si Belalai mengatakan entah kepada siapa… suaranya lantang dan tegas: “Pole dengan jelas bilang bahwa mulai hari ini Pole sudah tidak mau lagi dengan orang itu. Bahkan Pole mengatakan bantalnya kotor dan sangat tidak menyenangkan untuk Pole. Pole bener-bener sudah tidak mau lagi dengan orang itu”. Little Pole langsung terbangun dan membuka matanya. Sayup-sayup terdengar suara azan. Hmm.. masih pagi. Dan tiba-tiba air mata Little Pole mengalir dengan deras. Pole menangis. 
Dalam mimpi, Little Pole pergi ke rumah tua yang banyak kenangan. Sudah lama Little Pole tidak masuk ke rumah tua itu. Hari itu Little Pole berpikir, di sana tidak ada seorang pun di sana. OOoowww… Ternyata ramai sekali. Little Pole  masuk ditemani kawan yang lain. Little Pole lapar dan ingin makan. Saat belok ke kanan, Little Pole melihat banyak sekali orang berdiri di depan pintu kantor itu. Little Pole berjalan terburu-buru. Ia berjalan lurus  tanpa melihat ke kanan-kiri, depan-belakang. Begitu Little Pole tersadar bahwa ia baru saja melewati patung yang berdiri di sebelah kanan di dekat tiang, langsung Little Pole membalikkan badan. Itu bukan patung!!! Itu adalah orang yang selalu bersinar di dalam hidupnya. Orang itu sedang  tersenyum sambil memandang Little Pole. Ia adalah Big Pole. Little Pole bertatapan mata dengan Big Pole. Dalam dan teduh. Sadar, Little Pole langsung menyapa Big Pole, maap aku tidak melihat kamu. Big Pole menjawab sambil tersenyum, “Sebesar ini masih gak kelihatan juga?” Tatapan matanya membuat Pole merasa hangat. Ini sosok yang selalu menghidupi Pole setiap hari setelah Pole merasa ditinggalkan mama.. Little Pole tersenyum dan membalikkan badan. Ia tahu, tatapan mata itu masih mengikuti di belakang punggungnya.
Big Pole lah yang membangunkan Little Pole pagi ini. Big Pole yang sudah membuat mata little Pole menangis. Big Pole yang sudah membuat hidup Little Pole bercahaya, datang dalam mimpinya tadi pagi. Selama kuliah kemarin, Little Pole sudah menyingkirkan Big Pole dalam hidupnya. Little Pole memilih Dark Bear sebagai secondary person nya. Semalam Little Pole sadar, Dark Bear juga terlalu sempurna untuk Little Pole. Ia tidak sanggup berjalan bersama Dark Bear. Bahkan berjalan di belakang Dark Bear pun Little Pole tidak sanggup. Itu yang membuat Little Pole terbangun dan menangis tersedu-sedu. Little Pole merindukan Big Pole nya yang sudah hilang. Sebenarnya Big Pole tidak hilang. Ia selalu ada untuk Little Pole. Hanya saja Little Pole menjauhi Big Pole karena Little Pole menganggap banyak anak lain yang lebih membutuhkan sosok Big Pole dibandingkan dirinya.😦
Little Pole tahu, ia sudah menaruh Big Pole di atas langit sana, sebagai bintang yang paling besar. Ia dianggap selalu bersinar untuk Little Pole terutama  saat Little Pole  merasa sendirian di malam hari. Akhirnya Little Pole sadar, mengapa sewaktu interview kemarin ia sempat mengatakan karena ingin mengatakan kepada ibu guru, bahwa ia takut sekali melihat sorot mata ibu guru sampai di tiga bulan pertama. Bahkan saat mengatakan hal tersebut, hatinya tercekat.. Little Pole merasa ingin menangis. Little Pole menahan tangis dengan tersenyum dan mengatakan, mungkin sinar mata itu terlalu teduh untuk dirinya. Ya… terlalu teduh meskipun ibu guru bilang misterius🙂 Ternyata, sinar mata itu mengingatkan Little Pole pada Big Pole nya, yang selalu melindungi, menjaga, dan memandangi Little Pole bila ia sedang gundah. dan Little Pole tidak sanggup memiliki sorot mata itu selamanya.😦
Big Pole seperti mama untuk Little Pole. Ia menjaga, merawat, mengasihi, mencintai, melindungi,  dan mencerahkan. Dan yang paling penting, Big Pole selalu hadir untuk Little Pole di manapun Little Pole berada. Bahkan dalam mimpi pun,Big Pole selalu menemani Little Pole.
Little Pole pun benyanyi pagi ini tentang Fairy Tales:
“In the misty morning when I saw your smiling face,
You only looked at me and I was yours,
But when I turned around you were nowhere to be seen
You had walked away and closed the door.
When will I see your again
When will the sky start to rain
When will I know that you’re mine
Did I ever meet you in the sunshine
And when we were apart a thousand years away
Did I ever hold you in the moon light
Did we make every minute last another day
On a cold December night I gave my heart to you
And by summer you were gone
Now as days grow old and the stars start to dim
All I have are memories and this song
When will I see you again
When will the sky start to rain
When will the star start to shine
When will I know that you’re mine
In that misty morning when i saw your smiling face….”
Lagu ini dipersembahkan Little Pole untuk Big Pole nya yang ada di atas langit sana, yang selalu menjadi bintang untuk Little Pole. Terus bersinar  untuk Little Pole meskipun ia sangat sulit digapai dan hanya bisa dipandang dari dalam jendela kamar Little Pole ketika ia merasa sendirian dan butuh pelindung. 
Selamat pagi dunia….. Selamat pagi Anak-anak se-dunia.
Selamat hari Anak…. 23.07.2016
Big hug untuk seluruh anak di dunia….🙂🙂🙂
Semoga kebahagiaan menjadi milik kita semua.
Carya. 24.07.2016

Tata

Gadis itu terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit Siloam daerah Semanggi. Begitu aku menampakkan diri, ia langsung duduk di atas ranjangnya. Tersenyum. Matanya kuning sekali, beda dengan mata manusia sehat. Badannya sangat kurus. Aku tanya, apakah ia sudah makan. Ia jawab, sudah makan dan bisa makan. Aku datang karena gadis ini ingin bertemu dengan bhante atau suhu. Kebetulan aku baru beres isi di Dhammasukkha. Sehabis makan siang, naik mobillah kami ber-5 ke sini. Dia pikir aku suhu “….”. Aku jawab bukan. Dia masih tidak mengenaliku.
Aku memanfaatkan keyakinannya yang kuat kepada Triratna. Dengan mantra dan sutra yang dilantunkan, aku meminta si gadis untuk memperteguh keyakinan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Mengingat terus kebajikan-kebajikan yang pernah dilakukannya di masa lalu. Pertahankan kebahagiaan dari perasaan-perasaan yang muncul setelah berbuat baik. Jangan hadirkan pikiran gelisah, khawatir, dan cemas. Belajar untuk melepas… karena apapun yang berkondisi semuanya tidak kekal. Si gadis yang bernama Tata itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Dari tatapan matanya saya tahu kalau ia adalah gadis yang tegar dan pantang menyerah. Sosok yang membuat orang yang melihatnya ingin bangkit dari penderitaan. Kuat, sangat kuat. Bahkan mungkin mengalahkan kita semua yang masih sehat saat ini.
Akhirnya Tata ingat siapa aku setelah aku berbicara panjang lebar. “Suhu Xian Xing ya… ” Aku tersenyum.. Iya, ini aku datang setelah dari Dhammasukkha. Tata… you have to be strong. Aku baru akan meninggalkan ruangan saat tersadar bahwa perutnya sangat buncit. Amituofo, semoga karma-karma buruk di masa lalu nya segera lunas. Semoga batinnya memperoleh kesabaran dan ketabahan. Semoga keyakinannya pada Triratna semakin menguat. Hanya doa-doa itulah yang aku ucapkan di dalam hati. Itu semua terjadi di tanggal 24 April 2016 siang hari.
Sabtu kemarin, 5 Mei 2016 aku mendapat SMS dari ibu vihara. “Suhu, apakah sudah tahu? Tata sudah tidak lagi merasakan penderitaannya. Ia telah meninggal dunia kamis kemarin. Terima kasih atas bimbingan suhu kepada Tata”. Aku hanya sanggup membalas dengan satu kalimat, semoga keluarga Tata tabah. Terima kasih untuk semuanya. Itulah akhir perjalanan hidup seorang manusia di usia 30 an. Seorang yang enerjik, meninggalkan seorang anak balita dan suami yang sangat muda di usianya. Ia telah pergi menuju kehidupan yang lain, yang lebih sesuai dengan jodoh dan karmanya.
Selamat jalan, Tata… selamat melalui proses-proses kehidupan berikutnya sampai mencapai pantai bahagia. Semoga keyakinanmu pada Triratna tidak pernah luntur di manapun kau dilahirkan. Semoga karma-karma baikmu membuahkan kebaikan yang akan menjadi penyebab karma baik di kehidupan berikutnya. Terima kasih sudah mau membantu aku mengumpulkan akar-akar kebajikan untuk diriku sendiri. Semoga kita semua dapat menolong semua makhluk hidup tanpa batas, semoga kita semua dapat mencapai kebuddhaan.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Carya
Bogor 9 Mei 2016