Catatan harian si pengembara dalam samsara

Pengembara

Bilamana seseorang mendapat teman yang bijaksana dan bekerja sama dengannya, maka hidup baik, tenang, gembira dan dapat mengatasi semua mara bahaya..

Bilamana seseorang mendapat teman yang bijaksana dan bekerja sama dengannya, maka ia bagaikan meninggalkan kerajaan yang ditaklukkannya; ia dapat hidup sendiri seperti gajah yang mengembara dengan bebasnya dalam hutan.

Lebih baik hidup menyendiri daripada berteman dengan si dungu. Hiduplah menyendiri tanpa berbuat jahat dengan penuh ketenangan, bagaikan gajah yang mengembara dengan bebasnya dalam hutan.

Yamaka Vagga I 328-330

MARAH

Marah adalah….
ketika segala sesuatu tidak sesuai dengan yang aku bayangkan.
Marah adalah….
ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak aku sukai.
Marah adalah…
ketika seseorang menyenggol batas-batas kebebasanku.
Marah adalah….
ketika suasana hati sedang tidak baik tiba-tiba dikejutkan oleh ketukan pintu yang sangat kencang.
Marah adalah…
ketika melihat seseorang melakukan hal-hal yang merugikan aku.
Marah adalah…
ketika urusan pribadiku mulai diusik-usik.
Marah adalah…
ketika orang itu mengecewakan aku.
Marah adalah…
ketika kata-katanya menyakiti hati ku.
Marah adalah…
ketika seseorang mengkritik aku sementara kelakuannya sendiri lebih parah dari aku.
Marah adalah…
ketika aku dilarang melakukan hal-hal yang sangat aku sukai.
Marah adalah…
ketika ia menuduh aku yang tidak-tidak.
Marah adalah…
ketika kesadaran hilang, pikiran dan perasaan tidak lagi selaras, kemudian badan bergetar dan mata melotot…
Bogor, 12.01.2017
Carya

 

 

Gua jadi makin anti ama cewek-cewek ribet. Hahaha…. Yang suka main perasaan, gak pake logika. Nuduh suami sembarang, negatif thinking, sampai ke kepo gak ada duanya. Perasaan gua jadi cewe gak seribet gitu deh. Hmmm…. kenapa seh kok banyak yang kaya gitu. Gak habis pikir gua …
Menurut gua, jadi cewek tuh kudu extra sabar, extra berkorban, extra melepas, extra mencintai. Kalau gak ada extra nya, ntar lu jadi stres sendiri, kecewa sendiri, BT sendiri, uring-uringan sendiri. Terus kalo udah susah sendiri, yang lu lakuin pasti marah-marah gak jelas, sampai akhirnya nuntut mau pisah segala. Haiz… hal ini neh yang paling gua suka. Apalagi kalau udah main teriak-teriak kaya anak kecil. Itu juga seh penyebab gua gak mau nikah. Gua gak mau ribet, gua mau rempong. 🙂
Beberapa ibu rumah tangga yang pernah gua temuin, yang nuntut cerai sama suaminya, selalu menganggap suaminya salah, sudah selingkuh, main cewek, dan gak percaya ama suaminya. Katanya udah cukup hati mereka disakiti. Udah cukup kesabarannya. Udah gak mau cape lagi. Udah gak mau menderita lagi. Ditambah lagi cewe sekarang emang ngetrend dan lebih suka bebas sendiri dibanding jadi ibu rumah tangga. Maka pilihannya adalah mendingan jadi janda daripada nikah tapi tersakiti. Hihihihihihi…
Akhirnya hai kaum cewek yang merasa tersakiti, sebelum bercerai neh, sebelum suami kalian bener-bener niat ninggalin kalian, sebelum nasi menjadi bubur, coba gua tanya ama lu orang. Sudah kah kalian menjalankan kewajiban sebagai istri dengan baik? Kalau belum… ya buruan jalanin lah. Ngapain nuntut suami kudu gini, kudu gitu. Bingung dah gua kalau begitu. Egois banget ya yang merasa jadi cewek. Benerkan yang gua bilang? Suami macam-macam itu urusan suami, tugas kalian jalankan kewajiban sebagai istri dengan baik. Jangan balas dendam sama suami. Gak ada habisnya dong…. cape deh akhirnya.
Cowok gak akan ninggalin istri tuanya kalau istri tuanya sudah menjadi istri yang baik: suara gak cempreng teriak-teriak gak jelas, gak ngomong yang negatif melulu, mau mendengarkan, bisa diajak kerja sama dan tukar pikiran, mendukung apapun yang dilakukan suami. Saat suami jatuh, dia tetap di samping suaminya untuk menjadi motivator, saat suaminya bangkit, melesat ke udara dia pun ikut belajar terbang bersama suaminya. Itu tugas istri: kudu bisa jadi wakil komandan, jadi kondektor, jadi wakil presiden. Bukan sekedar jadi emak anak-anak doang atau jadi babu doang. Ok????  
Well…. sebelum gua akhiri, kesabaran itu gak ada batasnya ya. Apalagi kesabaran dalam pernikahan, kudu benar-benar gak ada batasnya. Saling melengkapi, menerima kekurangan pasangan. Pernikahan bukan akhir perjalanan, melainkan awal perjalanan. Sesekali ada badai, wajarlah. Itu jadi ujian, apakah kalian mampu mempertahankan rumah tangga sampai nafas berakhir. Mencintai itu artinya menerima dia dengan segala ketidaksempurnaannya. Maka pernikahan adalah gabungan dua ketidaksempurnaan agar utuh menjadi sempurna. Hai cewek… semoga tersadarkan dan tercerahkan ya…
Bogor, 12.01.2017
Carya

Happy New year 2017

Hari ini sebetulnya udh masuk minggu ke dua di tahun 2017, tapi buat aku sendiri ini adalah minggu pertama isi lagi dharmadesana di tahun 2017 setelah libur tahun baru seminggu lebih, hehehe. Hari ini aku isi di Vihara Dharmasukkha Pluit. Temanya aku ambil dari Master Hsing Yun Fo Guang Shan tentang Three Goodness. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, agak aneh menurut aku: Tiga Kebaikan? Tiga Kebajikan? Tiga hal baik? Terserah dah… yang penting artinya seperti itu.
Intinya adalah kita sebagai umat Buddha khususnya dan sebagai seorang manusia yang bertambah usia pada umumnya harus bertindak yang baik atau bermanfaat, berpikir yang baik atau bermanfaat, dan berucap yang baik atau bermanfaat. Jadi di awal tahun ini kita harus bertekad untuk semakin baik dalam tingkah laku, ucapan, dan pikiran. Dharmadesana hari ini hanya untuk mengingatkan hal-hal yang mungkin telah dilupakan karena kesibukan kita. Dharmadesana hari ini hanya untuk menjadi pengingat mengenai hal-hal yang telah diabaikan mengingat kita semua sudah terlalu sering mendengarkan dharma. Dharmadesana hari ini hanya sebagai motivasi bahwa kita harus semakin baik setiap hari. Bahkan setiap saat, setiap momen.. ini semua untuk meningkatkan kualitas diri dan kesadaran kita.
Tidak lagi mengabaikan kebaikan lewat ucapan, pikiran, dan perbuatan walaupun sedikit dan tidak mengabaikan kejahatan lewat ucapan, pikiran dan perbuatan walaupun hanya sedikit sekali. Mengapa? karena semuanya ada hukum timbal balik. Bila banyak melakukan kejahatan, maka tahun 2017 ini semakin buruk dibanding tahun lalu. Bila banyak melakukan kebaikan, maka tahun 2017 ini akan semakin baik dibanding tahun lalu. So…. Happy New Year 2017. Mari berubah !!!
Be Happy 🙂
Carya
08.01.2017

 

 

Sepertinya perjalanan ini akan membosankan, lalu melelahkan, dan terakhir menyebalkan. Pikiran ini yang terus muncul sehingga ada rasa malas untuk berangkat. Tapi… tetap harus berangkat. Gak ada pilihan lain. Hmm… andai ada pilihan lain…. gua mau tidur aja 10 hari, gak usah jalan-jalan, gak usah sembahyang, gak usah kemana-mana. Yang pasti gak usah keluar pintu.
Dalam perjalanan yang ternyata mengesankan ini, gua belajar banyak. Gua bersyukur dan berterima kasih karena ternyata gua telah hidup bareng-bareng dengan seorang bodhisattva. Selama ini semangat, jiwa besar, kerendahan hati, kedisiplinan, kemurahan hatinya… tidak tampak. Bukan karena beliau yang tidak terlihat, namun karena kekotoran batin dan kebodohan batin gua yang tebal sampai akhirnya tidak pernah menemukan kelebihannya. Dan bersyukur sekarang gua merasakannya.
Beliau adalah sukong gua, Dharmasagaro Mahasthavira. Terharu juga saat orang-orang meninggikan beliau, sampai-sampai gua menitikkan air mata saat menonton DVD film ultahnya dua tahun berturut-turut. Gua melihat sinar mukanya yang berseri-seri. Gua menangis, gua sedih… hmm, tepatnya sedih kali ya… ternyata selama ini gua gak pernah memandang beliau. Orang lain di seberang lautan begitu memuja beliau, tapi gua.. gua cuek-cuek aja. Haiz….. seperti anak durhaka ya. Hiks…
Jujur aja perasaan gua ngaduk-ngaduk terus. Antara sedih, senang, bangga, terharu, menyesal.. semua jadi satu. Dan.. gua mana pernah tahu, kalau akhirnya gua ada di samping beliau. ^_^ Enam tahun lebih gua di sini. Dari mulai diomelin, diajarin, dinasehatin, hiks…. dan gua sekarang benar-benar berterima kasih karena ada jodoh untuk berada di samping beliau.
Gak ada yang bisa gua katakan lagi.. yang pasti, gua terharu… dan speechless akhirnya.
Well, sebelum gua akhiri. Gua tulis sedikit di Monkey Mind gua tgl 6 Oktober 2016:
“Kekotoran batin yang tebal,
Membuat hal baik menjadi buruk,
Mengubah kebenaran menjadi kebohongan,
Menciptakan surga menjadi neraka,
Menyalahkan orang hebat menjadi rendah.

Kekotoran batin yang tebal,
Membuat mata jasmani tidak dapat melihat kebaikan makhluk lain,
Membuat cinta kasih menjadi kebencian,
Membuat keindahan menjadi keburukan.

Sudah saatnya kita merendahkan hati,
Sudah saatnya kita menekuk lutut dan memohon ajaran,
Sudah saatnya kita berlapang dada untuk melihat kesalahan diri sendiri,
dan tidak lagi mengukur kesalahan orang lain.

Karena ternyata, sumber masalah adalah diri sendiri.
Bukan dari saudara, teman, orang tua, atau tetangga.”

Semoga kalian tidak mengikuti kesalahan gua ya, tidak pernah melihat kebaikan orang lain, selalu melihat keburukan orang lain, dan akhirnya tidak sadar bahwa kekotoran batin yang tebal ini benar-benar menutup mata batin dan tidak mampu lagi melihat kebaikan dari seorang guru.
Mari kita berubah, mari kita menjadi manusia baru. Semoga kita selalu bertemu dengan para guru bijaksan dan ajaran yang mengarahkan kita pada pembebasan sejati.
Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
Bogor, 11.10.2016
Carya

Cinta ? Hmmm

Sore ini waktu jalan pulang, ada lagu ini di radio:
Mencintai kamu,
bisa2 membunuh diriku
bikin patah hati trus langsung dicuekkin
mencintai kamu, sama saja menggantung leherku
bikin sakit hati trus langsung ditinggalin
balikkin2 hati gue kayak dulu lagi
elo harus tanggung jawab kalau gue nanti2 mati
balikkin2 kehidupanku yang seperti dulu lagi
balikkin2 kebebasanku yang seperti dulu lagi
~Slank~
Dulu sering banget aku denger lagu ini. Lucu… keren, kreatif tepatnya. Tapi hari ini, teks lagu yang dinyanyikan bener-bener indah buat ku. Hmmm…
Beberapa bulan ini, ada beberapa mommy yang datang dan cerita tentang rumah tangganya yang sedang dalam proses perceraian. What???
Yeah, meskipun anak sudah pada besar, pernikahan sudah 10 tahun an, keuangan lebih lancar dibandingkan waktu baru nikah, tetap aja perceraian menjadi pilihan. Alasannya sudah gak cocok, gak bisa disatukan kembali, beda pendapat, udah gak mau lagi mengalah, mau sampai kapan aku mengalah, gak ada kebebasan, gak dipercaya, baik percuma yang penting perduli ama anak istri… dan segudang alasan lainnya, intinya : Putus !!! Cerai !!!
Hmm…. aku juga pernah tanya, dulu nikah pacaran atau dijodohkan? Katanya dijodohkan terus pacaran. Ada yang bilang, pacaran dulu terus pilih yang sudah berumur supaya lebih bisa memahami karena mantan adalah orang yang sedikit sakit, hobi bunuh diri kalau dimintai putus, jadi ada harapan calon suami akan lebih dewasa. Kenyataannya? Setelah menikah dunia berubah semua, tidak lagi semanis dulu.
Iya.. pernikahan pada intinya adalah pernikahan dua budaya yang berbeda. Bukan dua pribadi yang sekedar menyatu lalu mempunyai anak. No… not as that simple. Akhirnya banyak pasangan memilih berpisah karena akhirnya mereka menganggap kebebasan adalah nomor satu, diri sendiri adalah nomor satu, keadilan dan kebersamaan adalah nomor satu. Betul ibu, ibu ! Betul…. masalahnya adalah, anda sudah menjadi ibu…. anda punya tanggung juga sebagai ibu, gak boleh membiarkan anak serba dengan bapaknya.
Kesimpulan? Ibu-ibu emang suka baper, susah diomongin. Cape deeehhh….
Terserah deh kalau mau cerai, yang penting dan pasti… aku gak pernah dukung orang yang mau bercerai. Sama seperti berlayar di tengah samudra… maju terus pantang mundur walaupun harus kandas di tengah samudra. 
Hidup diri sendiri…. wkwkwkwks….. emang nya lagu… bisa minta dibalikin masa lalu? hehehe… Jadi apa tuh cinta???? Yang pasti bikin kita ada di dunia sekarang ini yaaahh….. xixixixi
Salam….
Carya, 27.09.2016

It Hurt

Dear Ibu,
Terlambat 9 hari pengumpulan blok 4 saya.
Saya pikir, karena waktu yang kurang untuk merenung. Ternyata memang sulit sekali untuk menulis di blok ini.
Seperti sedang menyayat diri sendiri dengan pisau-pisau yang tajam di tempat luka yang sudah lama mengering. 🙂
Thanks a lot Ibu.
Bukan karena tidak mau membuang nanahnya.
Bukan karena tidak mau menjadi orang sehat.
Bukan karena tidak mau menerima kenyataan.
Bukan karena tidak mau melepaskannya.
Bukan tidak mau mengisi hati dengan cinta.
Bukan … semua bukan…
Itu karena terlalu sakit untuk dikorek kembali.
Carya. 22.08.2016

 

Menjadi Ketua Pelaksana Pravaraja Sangha Mahayana Indonesia 2016 kali ini sungguh luar biasa. Setelah 7x diadakan di Samatha Meditation Center, kali ini dengan berat hati saya memutuskan untuk memindahkan tempat ke Vihara Vajrabodhi Bogor. Alasannya karena sudah memasuki bulan bakti, hampir semua anggota sangha sibuk di vihara masing-masing mempersiapkan acara Ullambana. Well… saya berharap dari awal semoga para peserta tidak menjadi kecil hati dan tetap bersemangat melakukan pelatihan diri sebagai calon samana.
Setiap hari pembimbing berganti-ganti. Tidak ada yang benar-benar full standby selama 2 minggu kecuali 2 orang sramaneri dari Vihara Lalitavistara, Shi Chuan Cai dan Shi Chuan Xin. Bersyukur lah masih ada para ibu-ibu umat Vihara Vajrabodhi yang selalu setia membantu panitia dan tim sukses di dapur dari mulai belanja sayur, antar ke vihara, motong sayur, beli bumbu, cuci sayur, cuci beras, sampai memasaknya menjadi masakanan yang lezat. Semua jasa kebajikan ini tentunya akan terus saya ingat.
Marah merupakan salah satu cara untuk melampiaskan kekecewaan, kegalauan, kekesalan, dan kesedihan. Tapi menurut saya, marah adalah satu satu cara untuk menyadarkan seseorang atas kesalahannya. Tentunya hati dibuat netral, hanya bicara saja yang agak keras dan tinggi. Itu yang sulit untuk dilakukan oleh siapapun. Marah dengan cinta kasih istilahnya atau marah dengan wisdom itu bagian tersulit dari kehidupan awam manusia biasa seperti saya. Dan itu sudah terjadi di beberapa sesi terutama saat melakukan ritual yang berkaitan dengan para buddha, bodhisattva, atau  makhluk lain. “Grrrrr…… Grrrr….. Grrrrr…. ” Semoga peserta yang pernah kena semprot memaapkan aku ya…. terutama sis Yulia dan bro Ervin. Sisanya, rasanya seh gue gak pernah marah deh sama kalian. 😀
Buat saya pribadi, awal acara ini sungguh hal yang membuat galau suasana hati. Rasanya seperti kerja sendiri walaupun didampingi beberapa orang anggota sangha. Hahaha… soale tiap tahun dari pravaraja 1 sampai 7, aku hanya sebagai penggembira yang bener-bener suka ninggalin panitia lain kalau mereka lagi pada sibuk… pertama karena emang ada urusan di bawah (atas itu Puncak) dan kedua, karena mau melempengkan punggung dan tidur lamaan dikit. Xixixixixi…. dan tahun ini… oh la la, mereka yang semua pergi meninggalkan aku secara fisik tapi tetap mendukung aku secara moral. Hmmm… Hmmm… dan aku harus berjuang sendirian rasanya. Hiks.. Sekarang karma itu ada, karma itu nyata… tahun-tahun berikutnya gak boleh ninggalin orang lain supaya kalo jadi ketua gak ditinggalin lagi 🙂
2 minggu ini, saya melihat wajah para peserta begitu damainya, begitu tenangnya, begitu kuat powernya. Hati saya jadi tersentuh… “Beginilah seorang samana melatih dirinya, dari mulai bangun tidur, menurunkan kakinya, memakai jubahnya, berjalan, duduk, berdiri, berbaring, juga makan minum… semuanya penuh dengan kesadaran”. Itu yang saya ucapkan di waktu makan siang, begitu melihat mereka makan dengan damainya… berasa sedang membahas Diamond Sutra… semua tidak dalam kata-kata, semuanya dalam tindakan.. semuanya terlihat nyata. Dan itu semua yang dialami di meja makan. Ramai tapi hening, Hening tapi ramai. Dan saya terharu… sungguh terharu. Maka saya katakan berkali-kali, latihan adalah milik kalian masing-masing, bukan milik saya, bukan milik guru, bukan milik orang tua, bukan milik orang lain. Latihan adalah latihan.
2 minggu sudah berlalu, dan semua sudah pulang ke rumah masing-masing. Tiap orang membawa kenangan indah dan pahit selama pravaraja, kegalauan masa depan, juga penyesalan di masa lalu. Well…  semua sudah berlalu, seperti prinsip Xing Tang: selalu jalan ke depan, tidak pernah jalan mundur dan tidak pernah menyesali apa yang sudah dilakukan. Semoga cita-cita kalian tercapai, dan yang harus terus ditekadkan: selamanya tidak akan mundur di jalan Kebuddhaan sampai mencapai kebuddhaan. Semoga niat luhur kalian tercapai dan jangan pernah putus di tengah jalan, ya… seperti menjadi Xing Tang di tempat makan, selalu maju ke depan tidak menoleh ke belakang 😀
Di blog ini, saya sangat berterima kasih kepada seluruh panitia : B. Neng Xiu, B. Chuan Cung, B. Chuan Jing, B. Chuan Guang,  B. Xian Jie, B. Xian Xiang, Sr. Chuan He, Sr. Chuan Xie, Sr. Chuan Cai, Sr. Chuan Xin; dan sesepuh + pengurus Sangha Mahayana Indonesia:  B. Dharmasagaro, B. Kusalasasana, B. Andhanavira, B. Matra Maitri, B. Kusala Passa, B. Bhadra Pala, B. Gunasasana, Sr. Neng Rui, Sr. Neng Du, seluruh anggota sangha di Vihara Lalitavistara, Cilincing ; tim sukses di dapur VVB dan seluruh donatur baik melalui uang, barang, tenaga, atau dukungan, terutama untuk VVB. Tanpa kalian kami belum tentu berhasil seperti ini. Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada para peserta Sramanera, Sramaneri, Silasikha: Aleks, Benny, Chandra, Ervin, Erwin, Fendi,  Handoko, Irvan, Ricky, Riswan, Wiliem, Yanto, Yusak, Ahui, Julia, Loora, Lie Soni, Rieka Lim, Mei Fang, Ng Sai Ngo, Ng Susi, Nani, Ruby, Ye Liang, dan Susan. Berkat kesungguhan hati kalian, nama saya jadi terbawa harum…. 😀 😀 😀
Special Thanks untuk B. Matra Maitri: Gue gak pernah ninggalin elo. Ya, I can see and feel it. Thanks untuk Suhu Xue Liang yang sudah menyempatkan diri datang ke VVB walaupun harusnya gak di tempat :p
Thanks untuk Suhu Aan, Suhu Long Shan yang mau menjadi Acharya.
Thanks untuk Suhu Xian Bing yang sudah datang untuk pencukuran rambut walaupun sibuk banget.
Akhirnya, Terima kasih untuk semua makhluk, baik yang nampak maupun tidak tampak, semuanya turut mendukung kesuksesan Pravaraja SMI 2016 di VVB, Bogor. Banyak hal yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata, cukup tahu dan GAN EN. Itu saja.
Tadyata Om Gate-Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
VVB, Bogor,
18.08.2016
Carya