Catatan harian si pengembara dalam samsara

Pengembara

Bilamana seseorang mendapat teman yang bijaksana dan bekerja sama dengannya, maka hidup baik, tenang, gembira dan dapat mengatasi semua mara bahaya..

Bilamana seseorang mendapat teman yang bijaksana dan bekerja sama dengannya, maka ia bagaikan meninggalkan kerajaan yang ditaklukkannya; ia dapat hidup sendiri seperti gajah yang mengembara dengan bebasnya dalam hutan.

Lebih baik hidup menyendiri daripada berteman dengan si dungu. Hiduplah menyendiri tanpa berbuat jahat dengan penuh ketenangan, bagaikan gajah yang mengembara dengan bebasnya dalam hutan.

Yamaka Vagga I 328-330

Dulu batin ini terpencar
Tercerai berai
Tidak pernah utuh
Goyang
Tidak kokoh

Pernah ada satu masa batin ini terasa utuh
Kuat
Tenang
Damai
Seperti batu karang

Beberapa waktu lalu batin ini kembali terurai
Mengecil
Buyar
Bingung
Kacau
Hilang ingatan
Tidak ada jejak
Tidak jelas
Tidak dapat diharapkan
Saat ini membesar,
Menguat
Solid
Kokoh
Tidak mudah goyah
Tidak mustahil
Bening
Semoga pencerahan kecil ini, menjadi penyebab pencerahan yang lebih besar
Semoga semua makhluk tercerahkan
Bogor, 17.04.2017
Carya 21:17:43
Seminggu ini gua lebih suka nulis “Hmmmmmm”, sebagai arti dari speechless wkwkwks.  Bisa juga gelap, buntu, gak tahu lagi mesti ngomong apa, ya pokoknya gitu dah, ya gitu d. Diawali dari kata-kata seorang teman yang suka mengatakan dengan kencang ke gua: ‘gak nyambung”. Hmmmmm….. nah kan udh keluar lagi  hihihihi 🙂  menandakan gua lagi speechless tapi otak jalan terus.
Iya, pertama denger kayanya gatal neh mulut pengen membela diri. Tapi ya sudahlah. Kedua kali dengar, gua bilang ama diri sendiri: sabar sabar sabar. Ketiga kali dengar, gua bener-bener speechless dan hmmmmm gak tahu mesti komen apa, yang intinya pokoke gitulah, terserah lu mau ngomong apa, EGP, sebetulnya masih ada kesal seh, sedih, kecewa juga  🙂
Hmmmm….. mewakiliki perasaan marah awalnya, kesal, sebel, berontak, pengen balas, benci. Tapi sekarang hmmmm itu memiliki makna yang dalam. Damai, gak ribut sama orang, tenang, menerima, pasrah, tabah, kuat, mengalir aja, gaya bebas, yang penting lu seneng, hahaha ya gitu d pokoknya.
Saat denger pertama dan kedua kali, gua jadi ingat sama cerita-cerita ortu yang suka dibentak ama anaknya. Hmmmm…. begini kali rasanya. Mungkin lebih daripada ini. Gua jadi ingat emak bapak gua. Dulu gua suka bentak-bentak mereka. Terus lihat mereka diam, gua masih juga gak merasa bersalah. Sekarang gua denger langsung ada anak muda maki gua begitu beberapa kali. Hmmmm… gua jadi bisa merasakan penderitaan para emak dan bapak di dunia. Gua jadi malu, menyesal tepatnya.
Gua bener-bener mohon maap kepada para emak dan bapak semua ya… gua janji akan jadi orang sabar, gak balas jahat dengan jahat, tetap baik ama orang jahat. Semoga mereka, para generasi muda tercerahkan ya emak dan bapak. Semoga terjadi…. Tetap be happy ya…. 🙂  🙂  🙂
Bogor, 17.04.2017
Carya 21:10:48

Traveller in Samsara

I’m one of the travellers in samsara.
I have walked through many lives
Some of them wasn’t good, 
They were dark,
They were frightening.

I waited for the shining light for so long.
Noone cared about it
Noone cared about you
Noone cared about me
Noone cared about others

I had to find it by myself!
Bogor
Carya. 12.04.2017

 

Gua ingat banget peribahasa yang satu ini, gua gak mau kaya keledai selalu jatuh di lubang yang sama. Gua manusia, gua punya otak, gua punya pikiran, jadi kalau sampai jatuh di satu lubang, ya sudahlah… rasain aja sakitnya. Terus kalo udah bangkit masih jatuh juga di lubang yang sama…. hmmmm, mungkin karena gua kurang hati-hati, mungkin karena gua gampang percaya, mungkin karena gua tertipu, mungkin karena gua dibodohi. Gua bertekad dong, jangan sampai jatuh untuk ketiga kalinya. Dengan demikian gua belajar dari pengalaman, sakit itu gak enak.
Seumpama gua masih jatuh juga di lubang yang sama, berkali-kali… bukan ke-3, malah empat, lima, enam… dan seterusnya? Kalau menurut gua itu namanya bukan bodoh, tapi emang sengaja merelakan dirinya untuk dibodohi orang lain. Kalau sudah begitu, ya belajarlah dengan lapang dada, belajarlah untuk ikhlas, belajarlah untuk nerimo. Jangan menyalahkan diri sendiri juga tidak menyalahkan orang lain. Anggap emang kita lagi beramal. Anggap emang kita lagi berbuat baik. Anggap emang kita lagi belajar bijaksana di kehidupan. Dengan demikian, gak sakit lagi tokh 🙂 🙂 🙂
Bogor, 12.04.2017
Carya

Theo

Berat bener ya rasanya diidolakan seseorang ya. Terang-terangan lagi ngomongnya. Ooohhh noooo…. pengen rasanya kabur ke hutan dan gak keluar lagi. Pengen rasanya segera pulang dan gak datang lagi ke tempat ini. Gua bukan dewa. Gua bukan orang sempurna. Gua bukan orang hebat. Gua bukan orang pintar. Gua adalah gua dengan segala kekurangan gua. Gua hanya berbagi apa aja yang gua punya supaya orang-orang gak jatuh di lubang kelam. Gua hanya berbagi dengan siapa aja tentang corak dunia yang begitu riuh dan penuh dengan banyak warna sehingga kita sendiri yang harus berhati-hati memilih jalannya. Gua hanya berbagi dengan siapa saja tentang ide-ide gila dan hayalan-hayalan yang gak akan gua realisasikan karena terlalu butuh tenaga dan waktu.
Please be yourself ! You’re almost perfect, you’re pretty awesome. 
Bogor. 11.04.2017
Carya. 21:36:18
Membuat perjalanan kehidupan di atas pasir dari kecil sampai hari ini menurutku cukup sulit karena piihan batu yang ada dalam box tidak begitu banyak variasi. Tidak ada yang berbeda, tidak ada yang unik, tidak ada yang special. Saya suka sesuatu yang berbeda sendiri. Saya suka sesuatu yang tidak ada duanya apalagi tiga, empat, lima. Saya suka sesuatu yang menjadi khas saya sendiri. Dan gak ada batu aneh-aneh itu di box. 
Di awali dari masa kecil dengan “COURAGE” di tengah-tengah dasar laut. Sama seperti kehidupan saya berawal dari sana. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa gentar, apapun dihajar, apapun diterjang, apapun dihadang. Tidak takut dengan makian, tidak takut dengan teriakan, tidak takut dengan kejahatan, tidak takut dengan kehidupan masa nanti. Rasanya semua takut pada saya. Rasanya semua berada di bawah kaki saya. Bahkan anjing, kucing, dan hewan-hewan lainnya seperti tunduk pada saya.
Saya jadi ingat, saya dulu begitu lebay, merasa hebat dan luar biasa. Berani untuk memastikan bahwa dengan menatap mata hewan, mereka akan tunduk pada saya. Saya merasa semua dewa mendengarkan saya. Saya juga merasa, saya tahu semua isi hati orang dan tahu apa yang mereka sedang pikirkan dan rasakan. Hmmm….
Saya jadi ingat ketika melihat anjing atau kucing liar di jalanan, saya akan sengaja menatap mata mereka lama-lama, seperti memasang telepati. Dalam hati saya mengatakan bahwa kamu harus pergi. Jadi menurut saya, mengusir makhluk lain atau orang lain itu cukup dengan melihat matanya. Maka semua akan sesuatu dengan keinginan kita. Dan saya sekarang bingung, kenapa sekarang gak se PD waktu itu ya?
Saya merasa batu “COURAGE’ mewakili kepribadian saya di masa kecil. Saya begitu pemberani, bahkan melawan orang-orang jahat pun saya merasa berani. Saya tidak tahu mengapa merasa berani itu begitu kuat dalam diri saya. Bahkan sampai jalan-jalan di atas genteng pun tidak takut.
Perjalanan remaja saya seperti masuk ¾ ke dalam pasir. Saya memilih jalan yang berputar, lebih dangkal, lebih mudah dilalui, meskipun lebih jauh. Saya tidak memilih jalur yang terjang, menerjang gunung yang tinggi menjulang. Rasanya capai sekali dan saya tahu, saya pasti tidak akan dapat mendakinya. Saya memilih jalan yang landau meskipun tokh akhirnya terperosok dalam sekali.
Hidup seperti bayangan bulan di air. Tidak ada tujuan. Tidak ada kepastian. Tidak ada masa depan. Tidak ada harapan. Bersyukur sekali masih bisa bernafas walaupun sulit. Dan pilihan saat itu adalah buru-buru pergi meninggalkan kehidupan ini. Saya sudah tidak tahan lagi, saya sudah tidak kuat lagi, saya sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan saat itu. Rasanya seperti gelap, suram, berduka. Masa itu selalu menjadi masa depresi yang terparah yang dalam hidup saya walaupun uang, makanan, pakaian, pendidikan semua tercukupi. Ada ketidakpuasan yang dibarengi keputusasaan.
Saya merasa sendirian. Saya merasa tidak ada seorang pun yang memahami. Saya merasa dalam kabut tebal, tidak ada seorangpun yang nampak dan mau bersama saya. Saya merasa tidak ada seorangpun yang mau perduli dan mendengarkan saya. Saya merasa membutuhkan sesuatu namun tidak ada satupun yang memahami apa yang saya mau. Saya terpuruk sendirian, dalam, gelap, dan membosankan.
Saya sekarang ada dipertengahan perjalanan. Menjadi  bintang laut yang bening. Apapun yang disekitar saya dapat melihat dalam saya dengan jelas. Dan apapun yang terlihat dari luar memantul kembali ke luar. Saya merasa bening. Saya merasa menyala. Saya merasa bersinar. Saya merasa terang ke setiap penjuru. Saya merasa seperti pelita bagi siapapun yang berada dalam kegelapan.
Bintang laut ini ada di tempat yang datar, tenang, tegak berdiri, dan menghadap ke ujung kehidupan. Meskipun sendirian, ia tidak seperti kerang di masa remaja yang penuh dengan kegelapan. Ia sendirian namun humble dan noble. Elegant seperti yang dikatakan. Hmmm…. Ya, seperti itulah. Saya menikmatinya sekali.
Antara masa remaja dan sekarang ini hanya diwakili oleh satu kerang yang besar. Tidak ada apa-apa. Tidak ada gelombang. Tidak ada peristiwa penting lagi. Kalaupun ada, itu memang corak dunia yang penuh dengan suka dan duka namun tidak ada yang istimewa lagi. Semuanya memang harus terjadi dan aku menyadarinya.
Ada empat orang teman di masa kecil saya. Ternyata mereka adalah kedua adik saya dan orang tua saya. Mereka berkelompok, dan saya sendirian di luar mereka. Saya berbeda dengan mereka. Saya tidak sama dengan mereka. Saya tidak seperti mereka. Ini yang membuat saya begitu stres di masa remaja saya. Saya bukan mereka dan mereka tidak memahami saya sama sekali.
Cara berpikir saya dan mereka tidak sama. Saya tidak lagi memandang kehidupan seperti mencari harta duniawi, saya melihat ada sesuatu yang lebih berharga dalam kehidupan ini. Seperti mencari keadilan, mengorbankan kepentingan diri sendiri, sabar, tidak lagi membenci, merangkul semua orang, tidak mendendam, memaapkan, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tidak melukai diri sendiri dan orang lain, tidak bermusuhan. Menerima orang lain apa adanya. Semua adalah teman, semua adalah sahabat. Tidak ada musuh di sini. Namun harapan adalah harapan, tidak sesuai dengan kenyataan menjadikan saya kecewa sekali.
Saya ingin semua orang di dunia ini dalam perdamaian. Saya ingin semua orang hidup rukun. Saya ingin semua orang menjadi saudara. Saya ingin semua orang menjadi pelindung bagi yang lemah, dan selalu membawa kabar gembira bagi orang lain.
Ketika batu-batu ditaruh, dan jumlahnya banyak sekali, saya merasa senang sekali walaupun sedikit merasa crowded bahwa ternyata saya tidak sendirian menuju pada lubang kematian.
Lubang kematian masih jauh namun juga tidak terlalu dekat. Ia berwarna gelap bukan berarti menakutkan lagi seperti waktu pertama dulu. Ia menjadi satu kepastian di mana setiap orang memang harus melaluinya. Saya juga sedang berjalan ke arah sana.
Saya ada di samping batu yang membutuhkan saya. Saya melihat batu-batu itu sedang menuju ke tujuan yang sama dengan saya meskipun ada yang menjalaninya dengan lapang, namun ada beberapa ia tampak menolak kenyataan, melarikan diri, putus asa, depresi, dan sama seperti apa yang saya alami di masa lalu. Saya melihat ada beberapa seperti saya di masa lalu. Ini membuat saya bertahan berdiri di sana meskipun saya sudah merasa tidak nyaman lagi dengan banyaknya batu-batu di samping kanan kiri depan belakang saya.
Cahaya itu semakin kuat dan kuat. Ada di pojok kehidupan, menjelang pada akhir kehidupan dan awal kematian. Ia sepertinya tidak pernah padam, ia terus bersinar, ia terus ada di sana. Ia terus menerangi seluruh alam semesta. Saya sedang menuju cahaya tersebut. Ia ada di sana untuk saya. Ia ada di sana untuk menerangi jalan saya. Saya tidak tahu, apakah orang lain melihat cahaya tersebut? Saya tidak tahu, apakah orang lain membutuhkan cahaya tersebut?
Bagi saya, cahaya itu seperti penyelamat kehidupan. Cahaya itu seperti akan membawa saya pada satu kekekalan. Saya merasa cahaya itu seperti sedang menunggu saya. Saya merasa cahaya itu akan ikut saya kemanapun saya pergi. Dan akhirnya, saya tahu cahaya itu tidak akan pernah meninggalkan saya di manapun saya berada. Dana suatu saat, saya akan menyatu dengan cahaya tersebut. Namun entah kapan. Tapi pasti, masa itu akan tiba!
Saya sekarang ada di tempat saya. Bergerak perlahan-lahan, bukan untuk menuju akhir perjalanan dengan sia-sia. Namun untuk membantu mereka yang sedang tenggelam dan tidak ingin bangkit lagi. Saya berada di sini untuk menolong mereka yang sedang terpuruk dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Saya hanya menunggu di sini, mendoakan mereka agar segera bangkit. Dan saya berharap, saya tidak pernah meninggalkan mereka. Saya tidak akan berusaha menarik mereka juga keluar dari lubangnya, namun saya tetap akan ada di permukaan, menunggu mereka berjuang naik, dan memastikan bahwa mereka akan naik walaupun saya harus menunggu hingga ratusan ribu tahun di sini. Agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian, mereka tidak ditinggalkan, dan mereka tidak kesepian.
Begitu melihat cahaya di ujung kehidupan sudah muncul, saya sadar bahwa gerakan saya semakin lama semakin cepat, semakin mantap, dan semakin alami. Saya merasa bahwa begitu banyak orang yang tidak dapat lagi saya hitung berapa jumlahnya yang semuanya mengarah pada ujung kehidupan. Saya takut waktunya sudah mau selesai. Saya takut mereka tertinggal dan ditinggalkan. Saya takut mereka akhirnya terdampar di kehidupan yang lain, yang sama sekali tidak saya kenal.
Dan kekuatannya begitu dahsyat, kekuatannya begitu super. Kekuatannya begitu luar biasa. Dan saya ada di antara tarikan kekuatan kehidupan itu. Saya tidak lagi takut. Saya tidak lagi gentar. Saya tidak lagi sendirian. Cahaya itu telah muncul untuk saya. Saya yakin, saya akan terus menuju cahaya itu dan bersinar bersama menyinari semua orang yang sedang dalam perjalanan menuju akhir kehidupannya.
Dan setiap kali kulihat tetes air mata di pelupuk mata seseorang yang telah mendengarkan aku, aku merasa kebingungan sendiri. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Apa yang sedang mereka rasakan? Apa yang sedang mereka ingin lakukan? Saya hanya bercerita tentang diri saya, keinginan saya, hayalan saya, dan semua yang tidak real yang muncul dalam benak dan perasaan terdalam saya. Apa yang membuat kalian begitu terharu? Akhirnya saya jadi kasihan kepada mereka yang menangis karena saya. Saya jadi tidak tahu apa yang harus saya lakukan.
Terima kasih untuk semua pujian itu, saya sudah terlalu sering menerimanya dan merasa tidak layak untuk menerimanya. Terima kasih untuk semua sanjungan tersebut dan saya merasa saya adalah orang biasa yang tidak ada kelebihannya. Terima kasih untuk menjadi pendengar selama ini. Terima kasih. Saya terhibur.
Cahaya putih di ujung kehidupan itu adalah nilai-nilai keyakinan dalam diri saya. Nilai-nilai kejujuran yang ada dalam diri saya. Nilai-nilai kebajikan yang ada dalam diri saya. Nilai-nilai toleransi, jiwa besar untuk menolong orang lain, rela berkorban, dan tetap semangat menjalani kehidupan. Cahaya putih di ujung kehidupan itu adalah sesuatu yang masih jauh dari jangkauanku. Namun aku sedang menuju pada cahaya itu.
Carya, 04.04.2017
Bogor, 20.46.00
Sesuatu yang berdiri tegak di belakang sana, meskipun jauh namun memberikan kenyamanan. Ia memberikan kedamaian. Ia menjaga dan selalu ada di sana untukku. Ia seperti seorang pengawal untukku.
Sesuatu yang di sana, apapun nama yang diberikan untuknya seperti mother of earth seperti pelindung yang selalu bersiap untuk melindungi aku dari segala mara bahaya dan bencana. Ia seperti perisai yang rela sakit ketika ada orang menyerangku. Ia rela terluka ketika ada orang menyakitiku. Ia rela hancur asal aku selamat.
Mereka ada di sana. Mereka tegak disana. Mereka tidak tergoyahkan. Mereka tidak tergantikan. Mereka tidak hancur karena waktu. Mereka adalah hartaku yang berharga. Mereka tidak pernah meninggalkan aku dan mereka tidak akan pernah membiarkan aku sendirian. Mereka terus menemaniku.
Gunung itu begitu berbahaya. Meskipun indah, itu hanya untuk dipandang mata. Ia tidak sesedap yang dibayangkan bila kita mendakinya. Ia memakan orang. Ia memakan semuanya. Ia memakan apapun yang ingin dimakannya.
Ia tidak bersahabat seperti yang kita bayangkan. Ia tidak akan pernah menjadi sahabat kita, sampai kapanpun. Dan ia selalu membuat gejolak hati semua orang, entah itu cinta ataupun benci. Karena ia seperti malaikan pencabut nyawa dengan segala macam senjata dan perisai bajanya.
Carya, 26.03.2017. 22:52:43