Catatan harian si pengembara dalam samsara

Author Archive

BAIK VS TIDAK BAIK

Berkelana aku mencari keadilan di muka bumi ini.
Berjalan ke sana kemari mencari persamaan.
Lelah.
Letih.
Hampa.
Kecewa.
Kaki ini melangkah di tempat.
Batin ini nelangsa menuju akhirat.
Pikiran menerawang.
Entah apa yang harus dimiliki untuk menuju masa depan nanti.
Satu per satu pergi meninggalkan.
Yang tersisa akhirnya hanya bayangan tubuh sendiri.
Hitam.
Gelap.
Pekat.
Bahkan aku sendiripun tidak mengenalinya lagi.
Kemana perginya kamu yang menyebut dirimu sendiri orang baik?
Kemana perginya kamu yang menyebut dirimu sendiri orang bijaksana?
Kemana perginya kamu yang menyebut dirimu sendiri penolong?
Kemana perginya kamu yang menyebut dirimu sendiri orang soleh?
Kamu orang bermartabat!
Kamu orang kaya!
Kamu orang bergengsi!
Kamu orang suci!
Kamu adalah nabi bagi mereka yang bersedia mengikuti aturan main kamu!
Buat aku?
Kamu terlalu jauh untuk dijangkau
Buat aku?
Kamu bagaikan bulan di langit yang tinggi itu
Buat aku?
Kamu bagaikan meteor yang lamaaaaaa banget baru jatuh ke bumi, itu pun hanya datang untuk merusak bumi 
Lalu ketika aku terpuruk,
Bukan kamu yang datang menolong aku.
Ketika aku jatuh,
Bukan kamu yang datang menarik aku.
Ketika aku terbenam,
Bukan kamu yang datang memberi aku nafas kehidupan.
Ketika aku membutuhkan kehadiran kamu,
Bukan…. bukan kamu yang datang mengisi hari-hariku.
Orang-orang yang kamu anggap tidak baik itu yang datang menghilangkan kesepianku
Orang-orang yang kamu anggap tidak baik itu yang datang mengisi hari-hariku.
Orang-orang yang kamu anggap tidak baik itu yang datang memegang erat bahuku
Orang-orang yang kamu anggap tidak baik itu, yang merangkul bahuku, kemudian berkata,
“Aku akan selalu di sampingmu kawan….”
Barangkali jodoh kita berakhir sampai di sini,
Barangkali pertemuan kita harus diakhiri hari ini,
Barangkali pertemanan kita sudah harus selesai begini saja.
Dengan kamu…. ya kamu, orang baik!
Hi kamu yang merasa baik,
Di mana kamu ketika aku butuh kamu?
Hi kamu yang merasa baik,
Di mana kamu saat aku berada dalam masa-masa kelamku?
Hi kamu yang merasa baik,
Di mana kamu saat aku berjalan seorang diri mencari kebenaran?
Hi kamu yang merasa baik….
Mengapa kamu hanya berdiri mematung di tempat menuju kebaikan abadi itu?
Hi kamu yang merasa baik…
Mengapa kamu hanya memandang langit yang tiada batasnya itu?
Hi kamu yang merasa baik…
Tahukah kamu
bahwa kami-kami ini sedang saling berjuang berpegangan tangan,
saling merangkul,
saling mendukung,
saling membantu,
saling menarik
ketika salah satu dari kami tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan menuju cahaya abadi tersebut.
Jakarta, 31 Oktober 2017
Carya
Advertisements

Kecewa

Aku tahu,
Motivasi kita berbeda
Tujuan kita berbeda
Kehidupan kita berbeda
Pola pikir kita berbeda
Masa lalu kita berbeda
Semuanya serba berbeda.

Kalau boleh aku tanya,
Apakah makna cinta bagimu? 
Apakah makna kasih bagimu?
Apakah makna sayang bagimu?
Apakah makna perhatian bagimu?
Apakah makna mendukung bagimu?
Apakah makna kehadiran orang lain bagimu?

Sebegitu dinginnya kah kamu?
Sebegitu dinginnya kah perasaanmu?
Sebegitu dinginnya kah relasimu dengan orang lain?

Aaaahhhh…
Kecewaku tidak tersalurkan
Kecewaku tidak terpahami
Kecewaku tidak berujung pangkal
Kecewaku tiada akhir
Kecewaku sudah hilang.

Kamu… tetap kamu!!!!

Jakarta, 31.10.2017
Carya

Selamat jalan Mbak Catur Wuri Ardini….

Minggu, 15 Oktober 2017 subuh aku terbangun sekitar jam 2 pagi, terus baca grup BK, ada info dari Bruder Pardi kalo mbak Catur meninggal Sabtu menjelang jam 12 malam. Oalah…. hati ini langsung tercekat. Mbak…. kenapa pergi begitu aja? Mbak Catur yang kukenal kah? Apa ada Catur-Catur yang lainnya kah? Tapi sepertinya orang yang kukenal deh.
Aku buka FB, gua cek FB nya. Benar…. ada orang yang ucapin selamat jalan buat mbak Catur. Hmm…. sedih hati ini rasanya. Teman ber haha hihi di FB sudah hilang satu. Teman saling menyapa di FB berkurang satu. Teman yang suka sharing apa juga menghilang satu.
Gak bisa lagi lihat foto Iggi. Gak bisa lagi ngetawain Iggi. Gak bisa lagi komen tentang Iggi. Gak bisa lagi ikuti perkembangan Iggi. Gak bisa lagi titip salam buat Iggi. Ooooh sedih deh rasanya. Semoga Iggi tumbuh jadi anak yang ndut dan lucu sampai besar nanti ya, nak… biar ibumu senang lihat Iggi dari jauh. Biar ibumu bahagia.
Mbak…kita ini sekota lho. Beberapa kali kita janjian ya mau ketemuan. Waktu makan di resto mana tuh… aku bilang, ikkuuuuttt !!!! Ayuk mbak bilang. Waktu ngopi di mana aku juga bilang, ikkkuuutttt…. dijawab, Yuk!!! Sayangnya aku lagi di Jakarta. Kita terus janjian, kapan-kapan ya kita ketemuan. Sampai mbak pergi dari dunia ini, kita masih juga gak ketemu. Hiks…. kehilangan aku mbak… teman yang selalu ceria dan bahagia. Teman yang menyembunyikan kesedihannya seorang diri. Teman yang membuat ceria orang di samping kanan kirinya. Teman yang selalu positif berpikirnya… teman segalanya.
Kita ketemu di kelas apa ya waktu itu, Penil? Terus mbak suka tanya aku tentang tugas-tugas berikutnya. Akhirnya kita lulus juga ya. Terus mbak suka bareng ama Bruder Pardi. Pernah gua lihat mbak kayanya muram banget, nangis. Apakah waktu itu kamu sudah sakit mbak? Hiks… sedih banget ya… kenapa aku gak care dikit sama kamu ya mbak, tanya kondisi kamu sesekali… kenapa mbak jadi kurus sekali dan makin pendek rambutnya? Haiz….. kepo nya aku masih kurang. Maapin aku ya mbak….
Mbak juga sempat beberapa bulan ngilang dari FB. Aku pengen nanya orang tapi gak tahu mau nanya siapa. Tahu-tahu mbak dan Iggi muncul lagi di IG. Kupikir mbak udah malas main FB. Aku udah lama gak lihat foto Iggi. Tahu-tahu Iggi muncul di IG. Aku senang, Aku kasih komen lagi. Aku gak sangka…. mbak jalan selamanya.
Mbak… niat banget lho aku pulang buru-buru ke bogor untuk ketemu mbak yang terakhir kali nya di rumah duka. Niat banget lho aku waktu sore itu. Aku ngebut ngejar waktu jam 5 sore. Supaya keburu ketemu dirimu yang terakhir kalinya. Namun sayang, jalanan cukup macet dan aku sampai bogor jam 6. Alangkah kagetnya aku…. dapat berita dari teman yang lain, kalo mbak sudah dikubur siang tadi. Ooohhh mbak…. 
Aku bilang Tasya… kita bertiga janji mau ketemuan… tapi gak pernah ketemuan. Sekarang ketemunya malah di rumah duka. Tapi ternyata…. di rumah duka pun kita gak pernah ketemu. Sama sekali tidak ada kesempatan kita untuk bertemu walaupun itu yang terakhir kalinya. Akhirnya … aku diam dalam hening. Aku diam dalam doa.
Mbak…. semoga semua perbuatan baikmu di dunia menuntunmu menuju hidup yang bahagia. Semoga engkau dapat melepaskan diri dari segala kemelekatan pada orang-orang yang kau cinta di kelahiran ini. Semoga engkau dapat menemukan cahaya kebahagiaan yang akan menuntunmu menuju hidup yang lebih baik lagi. Selamat jalan mbak…. kamu tidak pernah meninggalkan aku. Kamu selalu hidup dalam hatiku.
I’ll miss you badly mbak Catur…..
May you Rest In Peace.
Bogor, 22.10.2017
Carya

 

RIP Akiu Juan 10.02.1956-28.09.2017

Tinggi, kurus, hitam. Dan yang selalu kuingat sampai hari ini adalah rambutnya yang panjang tergerai kemudian diikat. Meski baru bertemu beberapa kali, ciri itu selalu aku ingat sampai hari ini. Maka ketika di grup keluarga ada berita ada orang meninggal dunia dengan foto di KTP yang tidak kukenal, maka aku pun juga tidak perduli. Tokh sudah biasa ada orang meninggal dengan keluarga yang entah di mana kemudian disebarkan via medsos  …… 😦
Aku tidak pernah menduga kalau foto yang tidak ku’download’ itu adalah KTP Akiu. Malam setelah acara retreat berakhir, menjelang jam tidur, aku buka HP ku. Kubuka dan kubaca kiriman berita dari adikku. Dan ….. nyawaku seperti terbang seperempat.
Sesaat kemudian aku tersadar. Seperti inikah rasanya kehilangan? Seperti inikah reaksi tubuh ketika jiwa bergetar karena nyawa hilang seperempat? Beginikah batin makhluk di dunia ini? Seperti inikah penderitaan para makhluk yang tidak berjuang mencapai pembebasan sempurna?
Hilang berarti tidak  terlihat lagi.
Hilang berarti tidak  bertemu lagi.
Hilang berarti lenyap.
Hilang berarti tidak tampak.
Hilang berarti tidak ada.
Aku ingat akiu pernah datang dan tinggal bersama kami di rumah kakek. Cimindi. Sepertinya tidak lama. Aku cuma ingat kalau saat itu akiu dan mama sedang berbicara berdua sambil berdiri di toko, kemudian seingatku mama bicara banyak dan agak kesal. Kemudian akiu pun pulang Solo. Saat itu aku belum 8 tahun. Dan itu pertemuan pertamaku. 
ketika aku naik kelas 2 atau 3, kemudian aku main ke Solo saat liburan sekolah. Yang kuingat adalah kami menjenguk akiu di rumah itu. Akiu berdiri menyambut kami. Namun sepertinya tangan akiu sedang memegang gitar. Kemudian aku tidak ingat lagi. Itu adalah pertemuan kami yang kedua.
Setelah itu hanya dongeng-dongeng sedikit tentang akiu dari mama. Aku juga tidak tahu seperti apa sosok akiu ku yang bungsu ini. Aku juga tidak tahu seperti apa kehidupannya sekarang setelah aku dewasa. Aku juga tidak tahu dengan siapa sekarang ia tinggal.
Kalau pertemuan itu dapat dihitung dengan tangan, lalu mengapa aku merasa kehilangan? Kalau pertemuan itu tidak kurang dari lima kali, lalu mengapa aku  turut meratap dan berduka?  Kalau pertemuan itu terjadi di masa kecilku yang tidak banyak ingat, mengapa aku turut bersedih dan menderita? Kalau dalam setiap pertemuan itu tidak ada kata-kata obrolan, mengapa aku merasa memilikinya?
Sebetulnya karena mama. Karena mama melihat kehidupan akiu begitu susah dengan main band. Karena ekonomi akiu begitu jauh dari sederhana karena bermain musik. Karena akiu tidak punya apa-apa karena memilih hidup dengan  musik. 
Karena akiu senang bermain musik. Karena akiu senang main band. Karena akiu memilih hobi nya. Karena akiu hidup dengan musik.
Karena itu…… mama juga melarang aku main gitar. Karena itu mama melarang aku hidup dengan musik. Karena itu mama juga melarang aku menjadi pemusik. Karena itu mama melarang aku menjadi seperti akiu.
Karena itu…. mama sering memarahi aku bila sudah memegang gitar berjam-jam. Karena itu mama sering menegur aku bila sudah bermain gitar berjam-jam. Karena itu mama berusaha mati-matian agar aku tidak bersama gitarku. Karena itu mama berjuang sekuat tenaga untuk memisahkan aku dengan gitar kesayanganku. 
Dan hidup tanpa musik…
Seperti makan nasi tanpa garam.
Dan hidup tanpa musik,
Seperti malam gelap tanpa bintang.
Dan hidup tanpa musik,
Seperti siang hari tanpa matahari.
Dan hidup tanpa musik,
Sepi, gelap, hampa.
Maka, pertemuan yang sangat singkat tersebut, selalu ada dalam ingatanku. Aku tidak boleh seperti akiu. Aku tidak boleh mengikuti akiu. Aku harus mencari jalan yang lain. Dan karena itu… sosok akiu, figur akiu melekat dalam batinku. Walau pertemuan hanya sesaat, namun musik mendekatkan aku dan akiu.
Akiu….
Thanks for being my inspirations
Thanks for being my songs
Thanks for being my clouds
Thanks for being sunshines
I can’t see you for the last time,
But I’ll bring your name in my prayer every day
May you rest in peace.
Thanks for being my uncle in this life
Thanks akiu untuk komunikasi kita yang singkat tahun lalu di group keluarga. Doa-doamu selalu menginspirasiku untuk selalu kembali kepada Sang Maha Esa. I’ll miss you badly. We’ll miss you badly. 
Love you…
May you be reborn in the happier life.
Bogor, 09.10.2017
Carya
09:43:07

Listen 22 !!!

There goes my only possession
There goes my everything
I hear footstep slowly walking
As they gently walk across a lonely floor,
And a voice is softly saying,
Darling, this will be good-bye for ever more.
There goes my reason for living,
There goes the one of my dreams,
There goes my only possession,
There goes my everything.

As my memory turns back the pages,
I can see the happy years we had before,
Now the love that kept this old heart beating,
Has been shattered by closing of the door.

Tiba-tiba inget lagu jadul ini: There goes my everything. Pas nemu di yutobe, lengkap dengan syairnya. Ya sudah dicontek saja sama syairnya. Hihihihihihihi….. 🙂
Hmmmm…. sebetulnya lagu ini jadi mengingatkan gua pada jaman kuliah listening comprehension. Lupa semester berapa waktu itu. Tiba-tiba muncul pengumuman kalo dosen yang ngajar itu tetangga rumah plus anak dari sobat emak gua, plus enci dari teman SMP gua. Jadiiiii…. gua kudu giat belajar dan jangan sampai dapat nilai jelek supaya gak lapor ke emak gua. Plus lainnya lagi adalah gua gak boleh bolos wkwkwkwks soalna papa gua ama ibu dosen suka ngobrol. Rumah gua nomor 2, rumah ibu dosen nomor 3. Nomor 4 itu guru Matematika waktu SMA, tapi gak ngajar gua seh untungnya… wkwkwkwk.
Buat gua belajar bahasa itu susah banget. pake mata aja susah apalagi yang cuma pake kuping. Hiks… kayanya otak dengan panca indera susah bener koneknya. Nah, waktu masuk kuliah listening comprehension itu absen gua no 22. Ibu tiap ngajar pasti pake lagu-lagu jadul. Asal ibu sebut: “Twenty two…” semua syaraf gua jadi tegang, jantung jadi berdebar, mulut jadi terkunci, muka jadi panas. Wkwkwkwks…. takut gak bisa jawab padahal pertanyaannya belum diajukan. Wkwkwkwks…..
Awalnya sebel ngapain pake lagu-lagu babeh gua. Kita semua kan di lab bahasa, cuma bisa denger pake headset aja tanpa lihat gerakan bibir yang ngomong. Asal udah denger lagu 1x ibu pasti manggil mahasiswa, “nomor absennya” lalu pertanyaannya. Hiks… tegang banget. Tapi ternyata gua baru sadar bahwa lagu-lagu lama itu Inggrisnya gampang didengar dan maknanya gampang dicerna. Akhirnya gua ketagihan deh sama kuliah si ibu. Cuma lupa, 1 semester kah dengan ibu? Ataukah 2 semester????
Ibu kalo ketemu di deket rumah, papasan atau nongkrong di depan rumah, mau senyum ama gua dan kadang suka nyapa duluan sebelum disapa. Tapi kalau ketemu di kampus…. haiz… pura-pura gak kenal. Atau gak kelihatan kali ya? Hadeeeuuuhhh…. awalnya serem jadi muridnya dia. Tapi ternyata dia orangnya baik banget dan ramah banget. Gua jadi suka pengen caper kalo ketemu si cici. Hihihi….
Apa kabarnya si cici plus ibu dosen gua itu ya? Ibu Connie namnya. Lupa nulisnya. Karena dia yang ngajar, gua jadi mencintai pelajaran listening. Hihihihi… Gua jadi menyukai old songs juga. Gua jadi terinspirasi untuk listen more and more.
Semoga ibu sehat-sehat di manapun ibu berada walaupun sudah gak jadi dosen lagi.
Miss you….. 🙂
Bogor, 04.09.2017
Carya

 

Gamers

Banyak orang dewasa kecanduan game online deh selain anak-anak dan remaja. Kenapa ya bisa begitu??? Hmmm…. gua kayanya jadi pengen research. Ada beberapa pertanyaan yang muncul di kepala gua… neh:
1. Apakah gamers kesepian?
2. Apakah gamers sedang tidak ada kerjaan?
3. Apakah gamers merasa jenuh dan perlu refreshing?
4. Apakah gamers sedang mencari ilham?
5. Apakah orang di sekeliling gamers tidak membuat nyaman? menyebalkan?
6. Apakah gamers sedang ingin sendirian?
7. Apakah gamers tipe introvert?
8. Apakah gamers merasa nyaman dengan orang-orang di dunia maya?
Aku lihat bahwa banyak gamers memperhatikan kebutuhan gamers lain di dunia maya. Para gamers saling share apa saja yang dibutuhkan gamers lain. Para gamers saling menjaga komunitasnya agar jangan sampai ada yang leave out. Para gamers saling menyapa ketika pagi hari dan mengucapkan salam perpisahan ketika malam tiba. Para gamers saling menyukai satu sama lain dan kehilangan bila salah satu gamer tiba-tiba tidak aktif. Para gamers saling merindukan satu sama lain bila tidak saling berbincang di saat-saat tertentu. Hmmmm…
Para gamers saling menjaga. Para gamers saling mendengarkan. Para gamers saling bercanda. Para gamers saling melindungi. Para gamers saling curhat. Para gamers akhirnya lebih nyaman dengan teman di dunia maya daripada di dunia nyata. Padahal, ngetik pake jempol jauh tidak efisien dibandingkan berbicara langsung. Padahal, ketawa menggunakan emot lebih tidak menyentuh dibandingkan ketawa nyata terbahak-bahak. Namun…. tetap para gamers tenggelam dan sibuk dengan dunianya. Setiap jam hanya untuk membuka game kesayangannya dan mencari sahabat-sahabat di dunia mayanya.
Ada yang salah dengan keluarga gamers. Ada yang tidak selaras dengan keluarga para gamers. Ada yang tidak benar dengan relasi para gamers di dunia nyata. Namun, siapa yang mau perduli? Siapa yang kepo-kepo memperbaikinya? Hmmm kurasa penderitaan para gamers sendiri pun tidak diketahui oleh mereka sendiri. Wkwkwkwks….
Well…. paling tidak dalam dunia game, ada hukum karma. Siapa yang banyak memberi, maka dia akan banyak menerima. Siapa yang sedikit memberi, maka ia akan sedikit menerima. Siapa yang yang setuju??? Silakan direnungkan… xixixixixixi 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Bogor, 04.09.2017
Carya
19:55:17

Jati Diri

Puluhan tahun mencari jati diri,
Dikira sudah bertemu,
Ternyata masih terus berproses,
Pada dasarnya, apakah inti dari kehidupan?
Apa yang dicari oleh insan manusia?
Apa yang dibutuhkan oleh tiap makhluk hidup?
Bagaimana dengan dirimu sendiri?
Seperti menapaki jalanan semu,
Seperti mendaki gunung tak berbentuk,
Seperti menggenggam angin dalam badai,
Seperti berlayar tanpa perahu,
dan seperti berdiri di atas daratan yang tidak nampak.
Mereka melihat kamu sebagai sosok yang kuat,
Mereka melihat kamu sebagai figur yang matang,
Mereka melihat kamu sebagai tokoh yang bersahaja,
Mereka melihat kamu sebagai idola sepanjang masa.
Hidup tanpa kesalahan,
Hidup tanpa kekurangan,
Hidup tanpa cacad,
Hidup yang begitu sempurna,
Hidup suci.
Sekarang saatnya memikirkan kembali apa yang salah dan benar,
Sekarang saatnya merenungkan kembali apa yang telah dipilih untuk masa depan,
Sekarang saatnya berhenti dan diam,
Sekarang saatnya menapak tilas semua yang telah dilewati,
Sekarang saatnya ! Sekarang !
Bogor, 31.07.2017
Carya