Catatan harian si pengembara dalam samsara

Author Archive

RIP Akiu Juan 10.02.1956-28.09.2017

Tinggi, kurus, hitam. Dan yang selalu kuingat sampai hari ini adalah rambutnya yang panjang tergerai kemudian diikat. Meski baru bertemu beberapa kali, ciri itu selalu aku ingat sampai hari ini. Maka ketika di grup keluarga ada berita ada orang meninggal dunia dengan foto di KTP yang tidak kukenal, maka aku pun juga tidak perduli. Tokh sudah biasa ada orang meninggal dengan keluarga yang entah di mana kemudian disebarkan via medsos  …… 😦
Aku tidak pernah menduga kalau foto yang tidak ku’download’ itu adalah KTP Akiu. Malam setelah acara retreat berakhir, menjelang jam tidur, aku buka HP ku. Kubuka dan kubaca kiriman berita dari adikku. Dan ….. nyawaku seperti terbang seperempat.
Sesaat kemudian aku tersadar. Seperti inikah rasanya kehilangan? Seperti inikah reaksi tubuh ketika jiwa bergetar karena nyawa hilang seperempat? Beginikah batin makhluk di dunia ini? Seperti inikah penderitaan para makhluk yang tidak berjuang mencapai pembebasan sempurna?
Hilang berarti tidak  terlihat lagi.
Hilang berarti tidak  bertemu lagi.
Hilang berarti lenyap.
Hilang berarti tidak tampak.
Hilang berarti tidak ada.
Aku ingat akiu pernah datang dan tinggal bersama kami di rumah kakek. Cimindi. Sepertinya tidak lama. Aku cuma ingat kalau saat itu akiu dan mama sedang berbicara berdua sambil berdiri di toko, kemudian seingatku mama bicara banyak dan agak kesal. Kemudian akiu pun pulang Solo. Saat itu aku belum 8 tahun. Dan itu pertemuan pertamaku. 
ketika aku naik kelas 2 atau 3, kemudian aku main ke Solo saat liburan sekolah. Yang kuingat adalah kami menjenguk akiu di rumah itu. Akiu berdiri menyambut kami. Namun sepertinya tangan akiu sedang memegang gitar. Kemudian aku tidak ingat lagi. Itu adalah pertemuan kami yang kedua.
Setelah itu hanya dongeng-dongeng sedikit tentang akiu dari mama. Aku juga tidak tahu seperti apa sosok akiu ku yang bungsu ini. Aku juga tidak tahu seperti apa kehidupannya sekarang setelah aku dewasa. Aku juga tidak tahu dengan siapa sekarang ia tinggal.
Kalau pertemuan itu dapat dihitung dengan tangan, lalu mengapa aku merasa kehilangan? Kalau pertemuan itu tidak kurang dari lima kali, lalu mengapa aku  turut meratap dan berduka?  Kalau pertemuan itu terjadi di masa kecilku yang tidak banyak ingat, mengapa aku turut bersedih dan menderita? Kalau dalam setiap pertemuan itu tidak ada kata-kata obrolan, mengapa aku merasa memilikinya?
Sebetulnya karena mama. Karena mama melihat kehidupan akiu begitu susah dengan main band. Karena ekonomi akiu begitu jauh dari sederhana karena bermain musik. Karena akiu tidak punya apa-apa karena memilih hidup dengan  musik. 
Karena akiu senang bermain musik. Karena akiu senang main band. Karena akiu memilih hobi nya. Karena akiu hidup dengan musik.
Karena itu…… mama juga melarang aku main gitar. Karena itu mama melarang aku hidup dengan musik. Karena itu mama juga melarang aku menjadi pemusik. Karena itu mama melarang aku menjadi seperti akiu.
Karena itu…. mama sering memarahi aku bila sudah memegang gitar berjam-jam. Karena itu mama sering menegur aku bila sudah bermain gitar berjam-jam. Karena itu mama berusaha mati-matian agar aku tidak bersama gitarku. Karena itu mama berjuang sekuat tenaga untuk memisahkan aku dengan gitar kesayanganku. 
Dan hidup tanpa musik…
Seperti makan nasi tanpa garam.
Dan hidup tanpa musik,
Seperti malam gelap tanpa bintang.
Dan hidup tanpa musik,
Seperti siang hari tanpa matahari.
Dan hidup tanpa musik,
Sepi, gelap, hampa.
Maka, pertemuan yang sangat singkat tersebut, selalu ada dalam ingatanku. Aku tidak boleh seperti akiu. Aku tidak boleh mengikuti akiu. Aku harus mencari jalan yang lain. Dan karena itu… sosok akiu, figur akiu melekat dalam batinku. Walau pertemuan hanya sesaat, namun musik mendekatkan aku dan akiu.
Akiu….
Thanks for being my inspirations
Thanks for being my songs
Thanks for being my clouds
Thanks for being sunshines
I can’t see you for the last time,
But I’ll bring your name in my prayer every day
May you rest in peace.
Thanks for being my uncle in this life
Thanks akiu untuk komunikasi kita yang singkat tahun lalu di group keluarga. Doa-doamu selalu menginspirasiku untuk selalu kembali kepada Sang Maha Esa. I’ll miss you badly. We’ll miss you badly. 
Love you…
May you be reborn in the happier life.
Bogor, 09.10.2017
Carya
09:43:07
Advertisements

Listen 22 !!!

There goes my only possession
There goes my everything
I hear footstep slowly walking
As they gently walk across a lonely floor,
And a voice is softly saying,
Darling, this will be good-bye for ever more.
There goes my reason for living,
There goes the one of my dreams,
There goes my only possession,
There goes my everything.

As my memory turns back the pages,
I can see the happy years we had before,
Now the love that kept this old heart beating,
Has been shattered by closing of the door.

Tiba-tiba inget lagu jadul ini: There goes my everything. Pas nemu di yutobe, lengkap dengan syairnya. Ya sudah dicontek saja sama syairnya. Hihihihihihihi….. 🙂
Hmmmm…. sebetulnya lagu ini jadi mengingatkan gua pada jaman kuliah listening comprehension. Lupa semester berapa waktu itu. Tiba-tiba muncul pengumuman kalo dosen yang ngajar itu tetangga rumah plus anak dari sobat emak gua, plus enci dari teman SMP gua. Jadiiiii…. gua kudu giat belajar dan jangan sampai dapat nilai jelek supaya gak lapor ke emak gua. Plus lainnya lagi adalah gua gak boleh bolos wkwkwkwks soalna papa gua ama ibu dosen suka ngobrol. Rumah gua nomor 2, rumah ibu dosen nomor 3. Nomor 4 itu guru Matematika waktu SMA, tapi gak ngajar gua seh untungnya… wkwkwkwk.
Buat gua belajar bahasa itu susah banget. pake mata aja susah apalagi yang cuma pake kuping. Hiks… kayanya otak dengan panca indera susah bener koneknya. Nah, waktu masuk kuliah listening comprehension itu absen gua no 22. Ibu tiap ngajar pasti pake lagu-lagu jadul. Asal ibu sebut: “Twenty two…” semua syaraf gua jadi tegang, jantung jadi berdebar, mulut jadi terkunci, muka jadi panas. Wkwkwkwks…. takut gak bisa jawab padahal pertanyaannya belum diajukan. Wkwkwkwks…..
Awalnya sebel ngapain pake lagu-lagu babeh gua. Kita semua kan di lab bahasa, cuma bisa denger pake headset aja tanpa lihat gerakan bibir yang ngomong. Asal udah denger lagu 1x ibu pasti manggil mahasiswa, “nomor absennya” lalu pertanyaannya. Hiks… tegang banget. Tapi ternyata gua baru sadar bahwa lagu-lagu lama itu Inggrisnya gampang didengar dan maknanya gampang dicerna. Akhirnya gua ketagihan deh sama kuliah si ibu. Cuma lupa, 1 semester kah dengan ibu? Ataukah 2 semester????
Ibu kalo ketemu di deket rumah, papasan atau nongkrong di depan rumah, mau senyum ama gua dan kadang suka nyapa duluan sebelum disapa. Tapi kalau ketemu di kampus…. haiz… pura-pura gak kenal. Atau gak kelihatan kali ya? Hadeeeuuuhhh…. awalnya serem jadi muridnya dia. Tapi ternyata dia orangnya baik banget dan ramah banget. Gua jadi suka pengen caper kalo ketemu si cici. Hihihi….
Apa kabarnya si cici plus ibu dosen gua itu ya? Ibu Connie namnya. Lupa nulisnya. Karena dia yang ngajar, gua jadi mencintai pelajaran listening. Hihihihi… Gua jadi menyukai old songs juga. Gua jadi terinspirasi untuk listen more and more.
Semoga ibu sehat-sehat di manapun ibu berada walaupun sudah gak jadi dosen lagi.
Miss you….. 🙂
Bogor, 04.09.2017
Carya

 

Gamers

Banyak orang dewasa kecanduan game online deh selain anak-anak dan remaja. Kenapa ya bisa begitu??? Hmmm…. gua kayanya jadi pengen research. Ada beberapa pertanyaan yang muncul di kepala gua… neh:
1. Apakah gamers kesepian?
2. Apakah gamers sedang tidak ada kerjaan?
3. Apakah gamers merasa jenuh dan perlu refreshing?
4. Apakah gamers sedang mencari ilham?
5. Apakah orang di sekeliling gamers tidak membuat nyaman? menyebalkan?
6. Apakah gamers sedang ingin sendirian?
7. Apakah gamers tipe introvert?
8. Apakah gamers merasa nyaman dengan orang-orang di dunia maya?
Aku lihat bahwa banyak gamers memperhatikan kebutuhan gamers lain di dunia maya. Para gamers saling share apa saja yang dibutuhkan gamers lain. Para gamers saling menjaga komunitasnya agar jangan sampai ada yang leave out. Para gamers saling menyapa ketika pagi hari dan mengucapkan salam perpisahan ketika malam tiba. Para gamers saling menyukai satu sama lain dan kehilangan bila salah satu gamer tiba-tiba tidak aktif. Para gamers saling merindukan satu sama lain bila tidak saling berbincang di saat-saat tertentu. Hmmmm…
Para gamers saling menjaga. Para gamers saling mendengarkan. Para gamers saling bercanda. Para gamers saling melindungi. Para gamers saling curhat. Para gamers akhirnya lebih nyaman dengan teman di dunia maya daripada di dunia nyata. Padahal, ngetik pake jempol jauh tidak efisien dibandingkan berbicara langsung. Padahal, ketawa menggunakan emot lebih tidak menyentuh dibandingkan ketawa nyata terbahak-bahak. Namun…. tetap para gamers tenggelam dan sibuk dengan dunianya. Setiap jam hanya untuk membuka game kesayangannya dan mencari sahabat-sahabat di dunia mayanya.
Ada yang salah dengan keluarga gamers. Ada yang tidak selaras dengan keluarga para gamers. Ada yang tidak benar dengan relasi para gamers di dunia nyata. Namun, siapa yang mau perduli? Siapa yang kepo-kepo memperbaikinya? Hmmm kurasa penderitaan para gamers sendiri pun tidak diketahui oleh mereka sendiri. Wkwkwkwks….
Well…. paling tidak dalam dunia game, ada hukum karma. Siapa yang banyak memberi, maka dia akan banyak menerima. Siapa yang sedikit memberi, maka ia akan sedikit menerima. Siapa yang yang setuju??? Silakan direnungkan… xixixixixixi 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Bogor, 04.09.2017
Carya
19:55:17

Jati Diri

Puluhan tahun mencari jati diri,
Dikira sudah bertemu,
Ternyata masih terus berproses,
Pada dasarnya, apakah inti dari kehidupan?
Apa yang dicari oleh insan manusia?
Apa yang dibutuhkan oleh tiap makhluk hidup?
Bagaimana dengan dirimu sendiri?
Seperti menapaki jalanan semu,
Seperti mendaki gunung tak berbentuk,
Seperti menggenggam angin dalam badai,
Seperti berlayar tanpa perahu,
dan seperti berdiri di atas daratan yang tidak nampak.
Mereka melihat kamu sebagai sosok yang kuat,
Mereka melihat kamu sebagai figur yang matang,
Mereka melihat kamu sebagai tokoh yang bersahaja,
Mereka melihat kamu sebagai idola sepanjang masa.
Hidup tanpa kesalahan,
Hidup tanpa kekurangan,
Hidup tanpa cacad,
Hidup yang begitu sempurna,
Hidup suci.
Sekarang saatnya memikirkan kembali apa yang salah dan benar,
Sekarang saatnya merenungkan kembali apa yang telah dipilih untuk masa depan,
Sekarang saatnya berhenti dan diam,
Sekarang saatnya menapak tilas semua yang telah dilewati,
Sekarang saatnya ! Sekarang !
Bogor, 31.07.2017
Carya

I Wanna Be With You

I try but I can’t seem to get myself to think of anything but you
Your breath on my face your warm gentle kiss I taste the truth
I taste the truth
We know what I came here for so I won’t ask for more
I wanna be with you 
If only for a night to be the one whose in your arms who holds you tight
I wanna be with you
There’s nothing more to say 
There’s nothing else I want more than to feel this way
I wanna be with you
So I’ll hold you tonight like I would if you were mine to hold forever more
And I’ll savor each touch that I wanted so much to feel before, to feel before
How beautiful it is just to be like this
Oh baby, I can’t fight this feeling anymore
It drives me crazy when I try to
So call my name, take my hand, make my wish baby, your command
~Mandy Moore~
Dari sore jantung Teeny berdebar-debar. Sakit. Ngilu.  Teeny mencoba pergi keluar mencari hiburan. Ia mencoba pergi bersenang-senang. Ia berusaha membunuh waktu agar dapat melupakan debaran di jantungnya itu. Ia berusaha fokus dengan ucapan orang-orang di sekelilingnya. Ternyata? gagal!
Teeny berusaha menerima kenyataan. Puluhan tahun sudah berlalu. Bukan tanpa usaha. Ia terus berusaha, berusaha, dan berusaha! Namun ternyata? Ia masih belum dapat move on. Sekarang, Teeny berada di persimpangan jalan. Ia sedang berjalan lurus, namun hatinya ingin berbalik arah dan mencari jalan yang lain.
Teeny kecil sangat menyayangi Sky. Hubungan mereka sangat dekat secara batin. Teeny dan Sky jarang berbincang-bincang. Hanya dengan tatapan mata, Teeny tahu apa yang ada di dalam benak Sky. Demikian juga Sky. Ia sangat mengenal Teeny luar dalam. Tanpa kata-kata!
Usia mereka terpaut cukup jauh. Teeny sangat mengagumi Sky. Apapun yang dikerjakan oleh Sky, ia selalu menirunya. Bagi Teeny, tidak ada orang sebaik Sky. Bagi Teeny, tidak ada orang sehebat Sky. Sky selalu menjadi yang terbaik untuk Teeny. Apapun akan dilakukan Teeny agar dapat menyerupai Sky.
Pernah terjadi perpisahan. Teeny menjadi  sangat tidak berdaya. Ia  kehilangan nyawa. Ia kehilangan sukma. Ia seperti manusia robot yang berjalan tanpa pikiran dan perasaan. Begitu kehilangannya sampai Teeny tidak mampu lagi berdiri di atas kakinya sendiri. Bagaikan layang-layang putus tali, begitulah Teeny saat itu.
Setahun kemudian Sky kembali. Seperti matahari yang muncul kembali setelah awan menutupinya setengah hari. Cahayanya begitu terang, silau dan siapapun tak mampu lagi memisahkan cahaya matahari itu dengan kehidupan Teeny. Sempurna rasanya!
Seperti kata Hyang Buddha. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Akhirnya kembali Teeny harus berpisah dengan Sky. Bukan karena Sky meninggalkan Teeny seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Namun sekarang Teeny lah yang pergi meninggalkan Sky, karena Sky membuatnya kecewa, Sky membuatnya menangis. Sky kali ini gagal memahaminya.
Dua puluh tahun sudah berlalu. Teeny berjumpa kembali dengan Sky setelah beberapa tahun ini mereka sama sekali tidak lagi saling bertanya kabar. Kerinduan Teeny pada Sky, kerinduan Sky pada Teeny, ternyata tidak ada seorangpun yang dapat memisahkannya. Tidak ada seorangpun yang dapat memahaminya. Tidak ada seorangpun!!!
Mereka saling bercanda. Mereka saling berbincang, Mereka saling mendekatkan diri. Mereka jalan bersama. Mereka makan malam bersama. Semua orang menjauh. Tidak ada yang berani mengganggu. Tidak ada yang berani menyentuh. Tidak ada yang berani. Hanya mereka berdua: Teeny dan Sky.
Sudah hampir dua minggu Teeny balik ke kota asalnya. Ternyata kerinduannya pada Sky semakin lama semakin dalam. Teeny tidak lagi tidur dengan nyenyak. Teeny tidak lagi berpikir dengan jernih. Teeny tidak lagi fokus pada semua yang dikerjakannya. Yang ingin Teeny lakukan adalah, terbang menemui Sky dan selamanya selalu di samping Sky.
Sky hadir dalam mimpi Teeny setiap malam. Dalam mimpi, Teeny selalu pergi ke tempat yang sama dan mencari Sky. Ia hanya memandang Sky dari kejauhan. Ia hanya melihat Sky dari kejauhan. Ia menginginkan Sky namun ia tidak pernah mengungkapkannya kepada siapapun. Tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan Sky. Tidak ada. Dan tidak akan pernah ada. 
Malam ini, Teeny merindukan Sky. Malam ini, Teeny ingin bersama  Sky. Malam ini, Teeny ingin menemui Sky. Hari ini Teeny sadar, mengapa ada orang yang tidak dapat move on. Hari ini Teeny sadar, mengapa ada istilah CLBK. Hari ini Teeny sadar, cinta yang tulus tidak dapat digantikan oleh harta duniawi. Hari ini Teeny sadar, hatinya selalu mengikuti Sky kemanapun ia pergi.
Teeny menangis  dalam hati. Teeny menjerit dalam hati. Teeny  berteriak dalam hati: “Aku tahu kamu selalu ada untuk aku. Aku tahu kamu selalu baik padaku. Aku merasakan kamu begitu sangat memperhatikan aku. Maafkan aku…. walaupun aku terus mencoba untuk selalu ada di samping kamu…. aku terus mencoba untuk selalu mendampingi kamu, namun ternyata kamu tidak dapat menggantikan dia yang telah lama ada dalam hidupku. Ia terlalu lama berdiam dalam hatiku. Aku tahu aku sangat egois. Aku tahu aku sangat licik. Aku tidak merelakan kamu berjalan dengan orang lain tapi aku sendiri tidak berusaha untuk melupakan dia.”
Sky seperti rumah bagi Teeny. Sky seperti pelabuhan bagi Teeny. Sky seperti keluarga bagi Teeny.  Hanya Sky yang memahami Teeny. Hanya Sky yang mengisi kehidupan Teeny. Hanya Sky yang  selalu ada dalam hari-hari Teeny. Hanya Sky. 
Inilah yang membuat hati Teeny sakit. Inilah yang membuat hati Teeny ngilu. Bukan Sky yang ada di sampingnya. Bukan sky yang selalu menemaninya. Bukan. Sky tidak pernah lagi ada di samping Teeny.
Bogor, 10.07.2017
Carya

 

Dua Kaki Dua Perahu

Lewi berjalan sendirian di jalan yang panjang. Ia menuju dermaga. Tujuannya menuju pulau bahagia di seberang sana. Sudah beberapa tahun ia menapakinya dan belum sampai juga. Lewi lelah. Lewi ingin berhenti. Tapi …. Lewi tetap berjalan.
Setelah beberapa tahun berjalan, suatu hari Lewi bertemu seorang pengembara. Orangnya baik hati, ramah, dan menyenangkan. Hatinya lembut dan selalu memperhatikan Lewi. Pengembara itu dapat mengambil hati Lewi. Pengembara tersebut sangat mendukung Lewi. Kapan saja, ia selalu ada untuk Lewi. Akhirnya Lewi memutuskan untuk berjalan bersamanya.
Akhirnya Lewi sangat bergantung pada orang tersebut. Lewi tidak lagi mandiri. Lewi tidak lagi mampu melakukan apapun sendirian. Lewi selalu menjadikan orang tersebut sandaran. Lewi tidak sadar bahwa kehidupannya sudah berubah, ia berubah.
Beberapa tahun kemudian mereka sampai ke dermaga. Lewi ingin menaiki perahu pengembara tersebut. Lewi sangat berharap pengembara itu pergi membawanya ke pulau bahagia. Pikiran Lewi sudah melayang-layang. Pikiran Lewi sudah penuh dengan cita-cita di masa depan. Lewi sudah yakin bahwa ia akan bersama pengembara tersebut.
Apa daya, karma baiknya belum berbuah. Orang tersebut menolak Lewi. Orang itu tidak sanggup membawa Lewi. Orang tersebut tidak mampu mengurus Lewi. Orang tersebut memilih berjalan sendiri dan meninggalkan Lewi.
Hancur hati Lewi. Dermaga sudah dicapainya. Pulau bahagia sudah di depan mata. Perjalanan menuju pulau seberang hanya tinggal hitungan jari. Ia butuh perahu untuk menyeberang. Ia butuh sampan untuk melintas. Ia butuh rakit untuk melewati air.
Kala resah itu, muncul tukang perahu yang menawarkan bantuannya untuk menyeberang jalan. Lewi tertarik. Namun hatinya telah tertambat pada pengembara tersebut. Dan tampaknya pengembara tersebut tidak sanggup juga untuk melepaskan Lewi. Lewi bingung. Lewi gelisah. Lewi harus memutuskan.
Akhirnya ia menaiki perahu yang ditawarkan orang tersebut. Sebelah kakinya tetap menggantung pada perahu si pengembara. Mereka masih berjalan beriringan. Mereka masih berjalan bersamaan. Mereka masih mencoba untuk saling menarik walaupun perahunya sudah berbeda.
Bertahun-tahun seperti itu, akhirnya arus kehidupan semakin kuat. Lewi tidak sanggup lagi. Ia harus memilih salah satu. Tidak mungkin kakinya ada di dua perahu. Ia bisa terjungkir. Ia bisa terjatuh. Ia bisa mati.
Dengan berat hati, ia melepaskan kakinya yang sebelah. Tubuhnya telah bersama tukang perahu. Lebih mudah bagi Lewi untuk mengangkat kakinya daripada memindahkan seluruh tubuhnya. Hatinya tersayat. Hatinya teriris. Lepas sudah, kebahagiaan sempurna yang dimilikinya.
Lewi berlayar sendiri. Tukang perahu membawanya menuju pantai bahagia. Tukang perahu pun tidak pernah meninggalkan Lewi terseret arus kehidupan. Ia selalu ada untuk Lewi. Ia setia pada Lewi. Ia melakukan apapun untuk Lewi. Lama-lama Lewi iba. Lewi berusaha membalas kebaikan tukang perahu dengan sisa kasih yang dimilikinya.
Lewi berusaha melupakan si pengembara. Lewi berusaha tidak membandingkan si pengembara. Lewi berusaha menyingkirkan pengembara dalam hidupnya. Lewi mencoba untuk menikmati perjalanan bersama tukang perahu.
Kesetiaan tukang perahu sungguh besar. Pengorbanan tukang perahu sungguh luar biasa. Perlindungan dari tukang perahu sungguh tidak terbalas. Lewi akhirnya merasa menjadi orang yang paling beruntung. Ia sekarang sadar. Ia harus membalasnya.
Di saat Lewi sudah mantap, di saat Lewi sudah tenang, di saat Lewi sudah memutuskan, tiba-tiba si pengembara muncul di hadapannya. Ia mengajak Lewi memasuki kapalnya. Kerinduan Lewi muncul. Kerinduan Lewi bangkit. Kerinduan Lewi berkembang. Lewi mulai siap beranjak berdiri, hatinya ingin meninggalkan kapal yang sekarang dinaikinya.
Lewi berdiri. Lewi melangkah. Lewi mulai menjejakkan kakinya di perahu pengembara. Badannya meninggalkan tukang perahu. Lewi berjalan masuk. Sudah beberapa jam mereka berbincang-bincang. Semakin lama semakin dalam perasaannya terseret. Semakin lama semakin terasa betapa dalamnya kerinduan mereka. Semakin lama semakin berasa bahwa mereka saling melekat satu sama lain.
Kerinduan-kerinduan yang sekian lama terpendam, getarannya begitu kuat. Tiada satupun yang bisa menjauhkan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengganggunya. Tiada seorangpun yang dapat menggantikannya. Tak ada tandingannya, tidak ada yang dapat mengalahkannya.
Hubungan ini begitu kuat. Hubungan ini begitu kencang. Hubungan ini begitu solid. Begitu menyatu, begitu tidak memaksa, begitu santai, mengalir alami, membuat siapapun yang di dekatnya bergejolak karena cemburu.
Sebetulnya, Lewi sedang beristirahat di suatu pulau. Bukan sehari dua hari. Sudah tahunan ia beristirahat di pulau ini. Tukang perahu tetap menemaninya. Ia tidak pernah meninggalkan Lewi. Ia tidak mencari pengganti. Ia tidak berusaha membuang Lewi dan mencari penumpang baru. Ia tetap setia untuk Lewi. Inilah yang membuat hati Lewi trenyuh. Lewi merasa bersalah.
Sebetulnya Lewi sedang menanti pengembara di pulau ini. Sebetulnya Lewi selalu merindukan pengembara tersebut. Sebetulnya Lewi ingin  selalu bersama pengembara tersebut. Sebetulnya Lewi tidak pernah meninggalkan pengembara itu. Sebetulnya… sebetulnya… dan sebetulnya… Lewi hanya pada pengembara.
Ketika Lewi sadar bahwa ia sudah memasuki kehidupan pengembara yang selalu dinanti-nantinya, Lewi tertunduk. Sinar mata tukang perahu yang penuh kasih muncul. Senyum tukang perahu ada di mana-mana. Lewi mulai menangis. Lewi berlinang air mata. Lewi terisak sangat kencang. Lewi tidak tega meninggalkan tukang perahu sendirian.
Kata Lewi, “Dulu kamu meninggalkan aku. Sekarang aku yang harus meninggalkan kamu. Aku tidak rela. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Tapi aku harus pergi.” Hati Lewi terluka.
Kasihnya tukang perahu mengalahkan kasih si pengembara. Kasihnya tukang perahu melebihi kasih si pengembara. Kasihnya tukang perahu menyembuhkan hati Lewi yang berdarah. Kasihnya tukang perahu membuat luluh hati Lewi. Kasihnya tukang perahu, membuat Lewi jatuh berlutut. Tidak sanggup meninggalkannya di sana seorang diri.
Lewi kembali ke tukang perahu. Lewi membalikkan badan. Lewi tertunduk, hatinya pedih. Ia harus meninggalkan si pengembara. Namun hatinya akan lebih pedih lagi bila ia meninggalkan si tukang perahu yang setia menemaninya sampai hari ini.
Bogor, 29.06.2017
Carya

 

Speechless

Kamu,
Yang pernah hadir dalam hidupku,
Yang pernah hadir saat ku kecil,
Yang pernah mengisi masa remajaku,
Yang pernah menuntun masa awal menuju kedewasaanku.
Kamu,
Yang pernah menangis bersama,
Yang pernah tertawa bersama,
Yang selalu menghibur saat ku bersedih,
Yang menemani saat ku tertawa,
Yang mendorong saat ku tak berdaya,
Yang selalu ada di sampingku setiap waktu.
Hari ini aku muncul di hadapanmu,
Hati ini berdebar mengingat kebaikanmu,
Hati ini berguncang mengingat keperdulianmu,
Hati ini bergetar mengingat kasihmu yang begitu tulus.
Aku masih di sini,
Aku tetap di sini,
Aku akan selalu di sini,
Menunggumu walau tubuh ini sudah tidak dapat diajak bersama lagi.
Bunga ini,
Tidak pernah layu,
Tidak pernah pudar kecantikannya,
Tidak pernah hilang direnggut oleh siapapun juga.
Bunga ini,
Selalu tumbuh dan berkembang,
Mekar setiap saat,
tiada seorang pun yang dapat menggantikannya.
Terima kasih,
Untuk selalu mendampingiku siang dan malam,
Terima kasih,
Untuk selalu menjadi sandaran di saat aku terjatuh dan merana,
Terima kasih,
Untuk selalu menjadi penyejuk di kala jiwa ini meronta dan menjerit,
Terima kasih,
Untuk selalu menjadi penawar kesedihan di kala jiwa ini terdesak ke ujung kehidupan.
Kamu,
Kamu selalu menjadi yang terindah dalam hidupku.
Kamu,
Kamu selalu menjadi yang termanis dalam perjalanan pengembaraanku.
Kamu,
Kamu selalu menjadi yang terlarang dan terbuka untuk hati yang selalu merindukanmu.
Hari ini,
Aku tidak mampu lagi berkata-kata,
Hari ini,
Aku diam sejuta makna.
Hari ini,
Aku #speechless
Semoga kamu selalu berbahagia,
Semoga aku terus mengingat semua kebaikanmu,
Semoga aku terus mengingat kasih sayang yang terus mengalir untuk diriku,
Semoga aku tidak pernah kehilangan cinta kasih dari hatimu.
Bandung, 28.06.2017
Carya