Catatan harian si pengembara dalam samsara

Rindu Pulang

“Saat sendiri
Kurasa sepi
Teringat masa lalu yang dulu
Masa yang indah bersamamu
Sekian lama
Kau kutinggalkan
Sekian lama berpisah
Kuingin segera bertemu
Kota kecilku
Kota kelahiranku
Kurindu kepadamu
Kuingin pulang ke rumah
Bersama lagi
Sampai akhir hayatku”
~ Laika ~
Akhirnya gua pulang juga…. wkwkwkwks
(Memory 21-29 Juni 2017)
Bandung, 26.06.2017
Carya
Advertisements
Hmmm…
Kamu bilang kamu gak suka lihat dia punya teman chat yang baru?
Kamu bilang kamu gak suka lihat dia jalan bareng dia?
Kamu bilang kamu gak percaya kalau dia gak akan berpindah hati?
Kamu bilang kamu gak yakin kalau dia tetap bakal di samping kamu?
Kamu bilang kamu begini… 
Kamu bilang kamu begitu…
panjang lebar cerita, dinasehati juga gak mau denger….

Sekarang gua ngerti…
Kamu cemburu !
Kamu takut kehilangan dia,
Kamu takut gak ada yang merhatiin kamu lagi,
Kamu takut gak ada yang sayang kamu lagi,
Kamu takut menerima kenyataan bahwa akan ada yang berubah di hari esok,
Kamu takut kamu ditinggalin sendiri,
Kamu bilang kamu gak cinta,
Kamu bilang kamu gak sayang,
Tapi kenapa kamu gak mau lihat dia berbagi cintanya?
Kamu … egois kah?
Kamu sendiri boleh jalan ama orang lain,
Kenapa dia gak boleh jalan ama orang lain?
Kamu … kamu kenapa?
Kamu…. kamu beneran gak sayang dia?
Kamu… kamu yakin, kamu gak sayang dia?
wkwkwkwkwks….
Ternyata…. cemburu dan iri hati,
jika tidak segera disadari dan dikikis,
akan bertumbuh menjadi kemarahan…
menjadi kebencian, ketidakrelaan yang semakin mendalam….

So….walaupun sulit untuk menerima kenyataan….
belajarlah untuk tetap berlapang dada 
Semoga saya dapat mengikis lobha, dosa, moha
Semoga selalu mengigat tekad awal saya..
Semoga tidak ada hilanglah semua kebodohan batin ini

Bandung, 26.06.2017
Carya

Surat Rindu

Bandung, 23 Juni 2017
Akhirnya pulang juga ke kampung halaman. Sehari nunggu jadi sebulan, sebulan lewat jadi setahun, setahun berlalu jadi bertahun-tahun. Sekarang udah pulang, jadi ingat masa kecil… masa remaja…. masa waktu kuliah. Tapi kayanya yang gua ingat cuma waktu SD doang. Aneh ya… padahal dulu-dulu gak ingat jaman SD ngapain aja. Yang berkesan cuma waktu SMP doang. Tapi sekarang, semua muncul sendiri…. 🙂
Jalannya udah berubah. Suasana kotanya udah ganti. Udaranya lebih panas. Kendaraannya jadi banyak banget. Bangunannya udah tinggi-tinggi. Becak udah hilang juga. Toko-toko tua udah lenyap. Muncul mall baru-baru. Hmmm… gak kenal lagi, tapi  tetap sayang sama kota ini. Kota yang penuh dengan berjuta kenangan. Kota yang mengantar gua menuju masa dewasa.
Udah 19 tahun gua ninggalin kota tua ini. Air mata, senyum, tangis, ketawa, semuanya ada di sini. Hmmm…. gua jadi ingat waktu malam minggu nongkrong di lapangan badminton. Gak tahu kenal darimana ya, kok gua bisa sampai di sana. Aneh hahaha, tapi benar-benar ketemu orang-orang galau di sana.
Ada dokter hewan, ada tukang parkir, ada gua, dan gua lupa ada siapa lagi. Kurang kerjaan waktu itu… tapi rasanya nyaman banget karena ketemu teman-teman yang galau juga. Ada yang mikirin hidup, ada yang mikirin pacar, ada yang mikirin masa depan. Main gitar, main gapleh, kadang main kartu remi. Haaa….. 🙂 Pada kemana mereka semua sekarang ya???
Balik lagi ke jaman SD-SMP… kenapa gua bisa ada di lampu merah lagi nyeberang jalan ya pake baju seragam? Terus ketemu ama frater Paulus. Lagi naik sepeda terus berdiri di samping gua. Padahal rumah gua kan jauh bukan di sana. Haaa….. bingung dari mana asalnya dan kemana ujungnya. Yang keingat cuma waktu itu aja.
Terus waktu datang ke kelenteng sore jam 2-3 an gitu. Ada suhu yang murah senyum, lagi duduk di tempat jual hio. Gua liat beliau, beliau liat gua terus senyum. Itu kelas berapa ya? Kelas 2 kali ya? SMP. Kesan yang begitu mendalam hari itu, sampai gua memutuskan jadi umat Buddha. Haaaa…. padahal gua udah les agama 2x di gereja.
Muncul lagi waktu gua jalan ke dalam, kayanya mau ke rumah si encek pinjam Ko Ping Ho deh. Ada suhu gua lagi berdiri di tengah pintu, tangannya di pinggang. Gua ingat banget mukanya yang menyeramkan. Hahahaha…. Beliau lihat gua, gua cuma nengok doang gak mau nyapa. Malas… jutek mukanya. Haaaa… sekarang gua jadi muridnya.
Gua ingat waktu nongkrong di pintu toko ungu. Cuma lihat lu lagi motong sayur, keren banget cowok bisa masak. Cepat banget pisaunya. Tajam kali ya. Sejak kenal lu, gua gak pernah lagi nongkrong di kelenteng. Sejak kenal lu, gua lebih suka nongkrong di toko aja. Dari pagi sampai malam gua di situ. Cuma mau lihat lu motong sayur. Cuma mau lihat lu masak mie. Haaa… dan gua selalu cari-cari alasan buat bisa ngobrol ama lu.
Akhirnya, pikiran monyet ini kembali ke masa lalu. Udara dingin di kota Bandung, membuat pikiran gua terbang terus. Gua ijin ke suhu sampai tanggal 29 di sini. Mungkin suhu gua juga bingung, biasanya gua datang pagi pulang malam. Kali ini, di bulan Lebaran gua stay 8 hari.
Iya, tiba-tiba gua kangen ama masa lalu. Gua kangen ama masa kecil. Gua kangen ama masa remaja. Gua kangen sama masa kuliah. Gua kangen orang-orang yang pernah muncul di masa kecil gua. Gua kangen mereka yang pernah bareng nakal di masa remaja gua. Gua kangen orang-orang yang sering galau bareng waktu jaman kuliah. 
Barangkali lirik lagu ini, yang bisa mewakili Surat Rindu gua pada masa lalu.
“Oh angin
Kabar apa yang kau bawa dari dia?
Oh angin
Sampaikan saja salamku pada dia
Jangan katakan hatiku rindu siang dan malam
Jangan katakan aku cemburu di malam ini
Oh angin
Lagu apa yang kau bawa dari dia?
Oh angin..
Nyanyikan laguku ini pada dia
Jangan senandungkan kata cinta kepada dia
Kabarkan saja aku tak mau menunggu lagi
Biar biar biar dia bukan milik aku lagi
Biar biar biar dia tak cinta padaku lagi
Biar dia pergi
Biar kusendiri
Aku pun tak cinta lagi di malam ini”
~ Rinto Harahap : Oh Angin ~
dan akhirnya semua orang akan berpisah dengan dirinya sendiri.
Nait.
Carya, 23.06.2017
18 Juni 2017,
60 sudah usia beliau,
Berarti aku mengenal beliau sudah hampir 30 tahun 
Dari aku masih duduk di bangku SMP, 
Sekarang sudah sama-sama jadi manusia dewasa. Ha… 🙂
Satu keberuntungan kalau hari ini aku bisa membantu menyukseskan acara Dharma Talk beliau. Rasanya seperti mimpi karena dunia sangha itu seperti yang sulit diraih. Rasanya jauh. Adanya di langit tingkat paling atas sementara aku ada di belahan bumi di tingkat yang paling bawah. Dan hari ini, aku menjadi salah satu tim sukses acara… hmmm karma baik ya… dan aku memilikinya, seperti sedang mengukir tulisan di awan namun hasilnya tercoret di dinding. Nyata!
Waktu itu Minggu, 9 Agustus 1998. Ketika aku bersama beberapa sahabat mengantar suhu pulang ke Cilincing. Di perjalanan yang jauh itu, karena Bandung-Jakarta harus lewat Cianjur belum ada tol, suhu cuma bilang: “Lu baik-baik belajar. Dia benar-benar sabar. Gak pernah gua lihat dia begitu sabarnya. Nunggu di jemur, di depan pagar sampai mukanya kaya kepiting rebus, merah banget. Biasanya marah kalau dijemur begitu. Ini suruh tunggu di depan pagar, lama hampir 2 jam gak dikasih masuk demi masukin lu”. Huhuhuhu……
Suhu, barangkali suhu juga lupa dengan kalimat-kalimat yang meluncur malam itu. Tapi buat aku, tidak… Hal ini yang selalu membuat aku selalu kembali walaupun ingin terbang tinggi jauh melayang, walaupun kadang aku sudah terbang tinggi dan jauh. Aku kembali. Aku pulang. Karena aku tahu, dia selalu ada buatku, dia selalu ada di belakangku, dia selalu ada menjaga aku.
Suhu,
Terima kasih untuk menjadi penyemangatku,
Terima kasih untuk menjadi pendukungku,
Terima kasih untuk menjadi pembaca cerita untukku,
Terima kasih untuk menjadi sumber inspirasiku,
Senyummu, menjadi penguat mereka yang sedang berduka,
Sapaanmu, menjadi obat bagi mereka yang sedang kehilangan arah.
Perjalanan 33 tahun, sungguh tidak mudah dilalui…
Dan kalian telah melewatinya.
Saya bersujud….sedalam-dalamnya, 
Semoga suhu berdua selalu berada di jalan Bodhisattva,
Tidak mudah berdiri di titik hari ini,
Kalian telah melewatinya.
Kerikil, batu yang tajam, sudah dilewati,
Entah jalan ke depan….
Semoga suhu berdua, selalu saling mengasuh, 
Saling menjaga, Saling mengasah…
Tiada kebahagiaan lain dalam diri aku,
Selain membuat mimpi-mimpi kalian menjadi nyata.
Sujud dan namaskara untuk suhu berdua.
Be happy 
Bogor, 18 Juni 2017
Carya

14, 26 hingga 45 ke 46

1,
2,
5,
10,
12,
13,
14,
18,
23,
25,
32,
proses yang terus berjalan.
Bukan untuk dinikmati.
 
Ini bicara perjuangan.
Seperti mendaki gunung yang tinggi.
Semakin lama semakin terjal dan sulit dijangkau.
Dan hasil akhir,
ditentukan oleh kegigihan dalam usaha.
Bogor, 15.06.2017
Carya
Dua manusia robot.
Satu duduk bersila,
Warnanya merah menyala,
Kaku,
Diam, tak banyak bicara
Simbol keberanian.
Satu lagi duduk bersantai,
Warnanya hijau.
Simbol kejenakaan,
Lembut seperti bayi.
Si hijau berusaha menyapa si merah,
Si hijau berusaha menggapai si merah,
Si hijau berusaha mendekati si merah,
Si hijau berusaha memahami si merah.
Sampai satu titik, 
Si hijau merasa lelah,
Si hijau merasa salah,
Si hijau merasa capai,
Si hijau merasa tidak berguna.
Si hijau berhenti,
Mundur beberapa langkah,
Dan tidak mampu maju melangkah lagi.
Si hijau hanya berharap,
Si merah menjadi manusia bernyawa,
Si merah menjadi manusia sejati,
Si merah menjadi manusia benaran.
Setahun berlalu,
Si hijau semakin lincah,
Si hijau semakin dewasa,
Si hijau semakin berkembang,
Si hijau semakin bijaksana.
Si merah juga,
Ia menjadi nyata,
Ia menjadi mudah diraih,
Ia menjadi mudah disentuh,
Ia menjadi mudah diganggam.
Dua manusia robot,
Dua-duanya duduk bersantai,
Ada suara di antara mereka,
Meski hening, 
Namun ikatannya sangat kuat.
Seperti duri dan tangkai mawar,
Cantik.
Bila tidak hati-hati, 
Akan tertusuk durinya.
Bogor, 15.06.2017
Carya
Saya bukan orang baik tapi saya bukan orang jahat.
Saya hanya tidak baik, cenderung kurang baik.
Seumpama ada dua pilihan di persimpangan jalan menuju kanan dan kiri,
Kanan menuju kebaikan,
Kiri menuju kejahatan,
Saya sudah berada di kanan,
Menuju ke arah kebaikan yang sempurna,
Saya bukan menuju arah kiri,
Dan tidak menuju arah kiri,
Hanya saja dalam jalan menuju ke kanan tersebut,
Banyak sekali godaan untuk diam di tempat,
Banyak sekali keinginan untuk melangkah berbalik arah,

Jalan melangkah maju sering kali terasa berat,
Dan tetap pilihan saya adalah jalan di kanan,
Jalan menuju kebaikan,
Yang entah kapan menjadi sempurna.
Semoga kita semua selamat sampai tujuan.
Bogor, 15.06.2017
Carya