Catatan harian si pengembara dalam samsara

Candi Muara Jambi

Akhirnya kemarin siang setelah sembahyang dan makan siang, gua mau juga diajak pergi ke Candi Muara Jambi. Sebetulnya kalo ada pilihan, gua lebih seneng diam di dalam kamar aja, sendirian, sambil nunggu waktu jam 19. Tapi karena gua liat muka yang ngajak kayanya niat banget, ya OK lah gua pergi. Sebetulnya agak sedikit malas, selain panas banget, juga rasanya cape banget. Pengen tidur panjang. Tapi ya sudahlah, mungkin ada pembelajaran yang lain hari ini.
Kemarin di Damri Bogor-Jakarta, gua ketemu ama ibu yang kerja di Dep. Kehutanan. Keren banget si ibu tahu percis semua jenis hewan padahal dia bukan peneliti hewan. Berhubung kerjaan si ibu berkaitan dengan ekosistem, mau gak mau dia juga ikut kenal ama hewan-hewan yang tinggal di hutan. Seru banget waktu cerita dikejar komodo rame-rame terus pontang-panting cari pohon bercabang untuk menghindari serangan komodo. Wah pokoknya, jiwa petualang kudu ada deh dalam diri si ibu. 😀
Di Candi, gua lihat musium dulu. Biasa lah kepo juga lihat kanan kiri, tanya ini-itu, sampai akhirnya gua jalan menuju candi. Ternyata bangunan candinya banyak banget. Hahahaha…. dan gua lihat ukirannya, halus banget. Keren banget beneran. Apalagi denger cerita tour guide kalau candi ini dulunya kemungkinan besar adalah universitas buddhis terbesar ke dua setelah Nalanda India. Rasanya, jadi kangen balik lagi ke India.
Muncul satu pertanyaan kepo kepada tour guide saat menuruni jembatan kayu, apa ada penampakan-penampakan di sini. Tahu-tahu tangan gua ditarik kencang banget ke belakang. Sakiiitt!!! Eh di kaki jembatan, ada anak ular hitam lari ke bawah jembatan. “Sudah suhu, jangan dibicarakan lagi!” “Siap, Pak!” Akhirnya diam-diam kita pergi melanjutkan perjalanan dan percakapan berpindah dari satu candi ke candi yang lain namun hati dan pikiran gua masih melekat pada anak ular hitam itu.
Sekarang gua udah di Bogor, tapi pikiran gua masih setengah di Candi Muara Jambi. Ternyata gua lama di sana, sekitar 2 jam. Itu pun gua merasa cuma lihat sebentar doang, belum selesai. Gua kapan-kapan balik lagi, buat baca semua tulisan di dalam musium dan melihat ukiran-ukiran arca lebih jelas. Rasanya ada sesuatu yang menarik hati gua untuk balik lagi ke sana.
Pulang dari Candi, begitu buka FB, muncul foto Guru Dagpo… ooowww sudah lama sekali ya aku meninggalkan beliau. Sekarang sudah tampak tua namun tetap masih sama tatapan mata dan senyumnya itu. Muncul rasa kangen, pada beliau, pada ajaran, pada Mahayana, pada ajaran luhur, pada bodhicitta, pada guru-guru besar, pada kehidupan masa lalu. Hmmmm…… sekarang bertemu pun, ternyata jodohnya sesaat.
Bogor, 04.05.2017
Carya
Tahun ini aku dipilih Ketum, Waketum, dan Sekjen SMI jadi ketua pelaksana Waisak SMI 2017. Hiks…. makin hari makin dipikir bebanku berasa makin berat. Aku udah gak sanggup lagi. Rasanya pengen banget mengundurkan diri terus kabur pergi ke bulan, balik lagi nanti pas liburan sekolah supaya langsung refreshing.  Huhuhu… Tapi itu adalah sesuatu yang gak mungkin banget terjadi karena semua orang nunjuk aku dan mereka bilang, cuma kamu doang yang belum kebagian. Apaaaannnn tuuuhh?? Ini kan bukan piala bergilir… hiks hiks hiks…
Semakin dekat hari semakin aku sering marah-marah, ngomel-ngomel ama panitia juga yang sebagian besar orang Mahasi. Pertama, karena aku lagi stres ngomong di atas panggung di depan anggota sangha yang begitu banyak. Huhuhuhuhuhu…. Kedua, kepikiran terus ama alasan pertama. Ketiga, makan tidur kerja pun jadi gak enak gara-gara mikirin nomor satu. Beneran sumpah, aku gak mau banget naik panggung ngomong di atas podium. Kalau disuruh kerja apa juga aku bisa kerjain dah. Tapi yang satu ini ????? Hiiikkkkkssssss…. mati enggan hidup pun enggan.
Aku menyiapkan hati setiap hari 24 jam. Tapi tetap gak siap juga. Panitia kupercayakan pada tiap koor sie dan wakil ketua. Aku yakin seh mereka bisa kerja semua karena semua pengurus emang udah bisa kerja di vihara masing-masing. Cuma dalam hal ini,  aku cuma takut ama diri aku sendiri, aku cuma khawatir ama diri aku sendiri. Boooo… ngomong itu sesuatu yang menakutkan buat aku. Karena aku sering ngomong kecepatan, kedua karena kecepatan jadi ngomongnya gak jelas. Parno banget dah. Jadi menyiapkan hati, pikiran, dan lidah biar sinkron itu bener-bener butuh waktu banyak.
Bersyukur panitia semuanya kerja dengan baik di hari H walaupun aku sempat ngomel-ngomel sama beberapa orang. Mereka jadi tempat sampah aku seh sebetulnya. Hihihi… maapken aku ya… yang tahu kelemahanku kan cuma aku sendiri. Kalian gak ada yang tahu dan gak akan percaya kalau aku kasih tahu. Tapi ini benar-benar realita, ku gak sanggup ngomong pelan di depan umum.
Pas naik panggung, haiz… aku berusaha terus untuk menyeimbangkan otak dan lidah serta mata dan pikiran. Entah dah apa kata orang, aku berusaha semaksimal mungkin supaya bisa ngomong selambat dan sejelas mungkin dengan intonasi wajar. Hihihi… aku berjuang mati-matian. AC ruangan yang dingin pun terasa panas di atas panggung. Kalimat-kalimat yang harusnya pendek itu berasa jadi panjang banget. Haizzzzz…. sampai kapan bacaan ini selesai tah… rasanya gak habis-habis. Hihihihi…
Kulihat dari atas, suhu senyum, wasekjen senyum, sekjen juga senyum…. wah, lega rasanya. Berasa kaya ketemu keluarga, berasa seperti gak sedang dihukum, berasa cuma jadi EO doang. Beban seperti hilang begitu saja melihat mereka menertawakan aku wkwkwkwks, aku jadi merasa nyaman, gak tegang lagi, rasanya ini gak jadi acara formal walaupun ada orang Dirjen Bimas Buddha, suasana jadi seperti informal di mana kita bisa bercanda-canda sendiri. Hihihiiiii… terima kasih buat suhu-suhu semuanya.
Hari ini aku senang banget, karena beberapa suhu bilang acaranya sukses dan banyak umat juga bilang begitu. Aku senang karena panitia tetap kerja keras dan tahan omelan aku (aku kalau ngomel itu dahsyat terus gak liat tempat, orang, dan situasi wkwkwkwk.. bener-bener dari hati yang paling dalam aku minta maaf banget ama panitia). Maapken aku yang masih manusia biasa.
Selesai acara, aku cari suhu buat mengucapkan terima kasih. Kesempatan ini membuat aku sadar diri bahwa aku masih jauh dari sempurna dan mesti belajar banyak hal. Aku gak cermat, aku gak teliti, aku masih kurang tulus membantu orang, aku masih gak profesional dalam mengerjakan banyak hal. Banyak hal yang aku abaikan seperti briefing singkat dengan penerima tamu dan donatur, jubah yang akan dipakai, rundown acara dalam bentuk email… dan banyak lagi. Aku malas urus detail begitu tapi justru yang detail itu yang penting karena bisa bikin acara besar jadi sempurna. Aku lalai dalam hal ini. Thanks suhu sekali lagi.
Aku kemudian cari sukong karena kehadiran beliau membuat aku berasa jadi dewasa. Aku bukan anak kecil lagi. Aku kudu berjuang, berusaha, dan memperbaiki diri. Kehadiran beliau membuat aku jadi mikir panjang dan gak sensi lagi karena seperti satu dorongan, satu dukungan, satu motivasi biar aku lebih berjuang lagi. Ini baru awal !
Aku kemudian cari semua acarya, ada 3. Terima kasih karena sudah maksa aku jadi ketua pelaksana. Gak ada paksaan tersebut, aku yakin gak ada pengalaman di hari ini. Gak ada emosi-emosi muncak di hari ini, gak ada usaha untuk menyelaraskan antara mata-mulut-dan pikiran serta hati. Aku tetap seperti anak kecebong yang pernah berusaha untuk jadi seekor katak. Wkwkwkwks.. benar-benar terima kasih suhu-suhu!
Yang terakhir aku terimakasih untuk pantia, donatur, volunteer, dan hadirin sekalian. Tanpa kalian, aku gak terima sanjungan. Tanpa kalian, aku gak dapat karpet merah. Tanpa kalian, aku bukan siapa-siapa. Kita adalah team. Kesuksesan aku berarti kesuksesan team, kesuksesan semua, kesuksesan bersama. We are one.. we are family!!
Tema Waisak SMI tahun ini: “Dengan semangat Waisak kita tingkatkan toleransi dan kerukunan demi tercapainya perdamaian”. Semoga di tahun mendatang seluruh panitia bekerja lebih baik lagi. Terima kasih untuk dukunga, bantuan, dan kehadiran Anda semua.
“Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia
Sungguh sulit kehidupan manusia,
Sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar,
Begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.”
Semoga kita semua dapat memanfaatkan tubuh manusia di kelahiran sekarang ini dengan sebaik-baiknya. Semoga kita selamanya berada di jalan bodhisattva.
Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
Amituofo.
Terima kasih untuk seluruh Pengurus dan anggota Sangha Mahayana Indonesia, dan anggota sangha sekalian. Terima kasih untuk kehadiran Pak Caliyadi dan Pak Suwanto juga.

Jakarta, 01.05.2017
Grand Mercure Hotel, Kemayoran
Carya

7th ~ The Last

1st
Gua berasa kaya landak yang lagi main sendiri terus ngegelinding ke sana-kemari, begitu buka mata … lho kok gua ada di rumah orang. Terus yang punya rumah, matanya lagi liatin gua terus. Jelas dong duri-duri gua sedikit berdiri. Gua merasa asing, merasa terganggu, terusik, tapi masalahnya … gua yang masuk rumah dia duluan bukan dia yang masuk ke rumah gua. Wkwkwkwkwks…..
2nd
Apaan seh ini, kok gua disuruh buat PR segala…. cape bener. Rasanya kaya lagi ngiris bekas luka di tangan yang kering di atasnya doang sementara bawahnya masih basah pake ujung pisau yang sangat tajam Huuuuhhhhh !!! Ngilu, nyeri, tapi terus aja gua iris. Duh gustiiiiii ……
Gak bisa protes tapi pengen protes. Dan tahu-tahu gua terkesiap…. mana darahnya? hilang? Kok bisa? *takjub sesaat* Ketemulah gua ama ikan paus yang dironce. Wkwkwkwks….. Ujung talinya disimpul mati. Si landak akhirnya menidurkan duri-durinya. Belum merasa nyaman tapi paling tidak yang punya rumah gak lagi menyakiti meskipun tetep aja kudu nulis PD lagi 😀 😀 😀 😀
3rd
Akhirnya kudu balik ke alam. Cuma diri sendiri yang bisa nolong. Harapan tinggal harapan. Keinginan tinggal keinginan. Kenyataannya? Gua gak mampu. Hiks… dan biarlah dari alam kembali alam, karena memang sudah jalinannya seperti itu…. karena sudah prosesnya seperti itu…. karena sudah siklusnya seperti itu. “Waiting for Godot”. Hmmmm….. pelangi harusnya 7 warna kan???? kenapa kudu maksain pelangi 3 warna? wkwkwkwks….. Terimalah kenyataan, jangan berusaha untuk mengubahnya kalau emang tidak mampu dan tidak akan pernah mampu. 😀
4th
Gunungnya jauh tapi dekat. Dekat tapi jauh. Dia gak akan meledak, cuma dikhawatirkan meledak. Yang merasa khawatir adalah gua. Yang merasa takut ya gua juga. Yang stres masih gua juga. Hadeeuuhhhh dan balik lagi ke PR-PR tiap hari. Si landak jadi kecil hati.
5th
Wooooowwww…. banyak banget yaaaahhhh batunya. Rame… warna-warni, berserakan di mana-mana, bentuknya beragam, ada yang di atas dan ada yang tenggelam, dan gua ada di sana juga jadi bintang yang bening, tembus dipandang mata… apa aja yang diterima bisa dipantulkan lagi…. antara ada dan tiada, antara milikku dan bukan, antara isi dan hampa…. menuju pada cahaya yang tiada batas, menuju cahaya yang terang benderang, menuju cahaya yang penuh harapan. Dan gua mengantar satu per satu menuju pada hakikat sejatinya. 
6th
Idiih kok jadi gantungan seh? Hmmm…. ya sudahlah… monggo yang mau menggantungkan sesuatu, jangan sungkan. Gua relain tali-tali gua buat kalian. Meskipun awalnya merasa aneh ya tiba-tiba kok banyak baju digantung, tapi pikir-pikir lagi… namanya juga gantungan…. masa kosong gak ada yang digantung. wkwkwkwk…. teganya yang bikin soal. :p
7th
Si landak akhirnya jadi manusia juga. Kepalanya botak, punya dua mata merah tapi gak nakutin, punya hidung satu merah juga, punya mulut tersenyum, dan punya dua kuping besar yang warnanya merah juga. Badannya kuning semua. Tangan dan kakinya lagi gerak, ada kukunya. Happy. Fun. Cute. Duri-durinya hilang. Gak ada curiga lagi sama orang lain. Wkwkwkwks…. Siap jalan !
Ada 3 hal yang  gak disukai si landak: 1. liat air mata, 2. ditanya how are you? dan 3. disuruh mikir. Wkwkwkwks….. Awalnya kalau ditanya how are you? Jawabannya pasti biasa aja. Sekali waktu, yang punya rumah bilang: ‘saya tahu jawaban kamu selalu biasa aja’. Ting!!!!!! Kaya dipukul genta kepala si landak. Wkwkwkwks… sampai kamar dia mikir dah. 
Yang kedua,  ditanya sesuatu yang udah lewat… terus kan malas mikir, malas merasa juga, dan udah lewat juga lah ngapain diingat-ingat… jadi selalu spontan aja jawab yang gampang dan biasanya gak akan ditanya lagi: ‘gak tahu’. Pake muka serius, dan bahu dinaikin dikit. Sekali waktu yang punya rumah langsung respon: “Mikir!” Ting!!!!!! Kedua kalinya kepala si landak serasa dipukul genta. Wkwkwkwks… jadi mikir lagi dah. Padahal biasanya orang udah malas nanya lagi.
Well…. Sudah saatnya terbang dan mengucapkan selamat tinggal kepada si pemilik rumah yang telah mengubah si landak jadi manusia. 😀
well…. Sudah saatnya mengucapkan terima kasih kepada si pemilik rumah yang telah menyediakan ‘makanan’ dan ‘minuman’ walaupun tak pernah disentuh ( Apakah itu???? 😀 😀 😀 ) dan berjalan melangkah ke masa depan

Well… Sudah saatnya jatuh-bangun, jatuh-bangun, dan jatuh untuk terbang tinggi di udara menjadi burung elang yang perkasa.
Hari ini the last day, the 7th, penghujung di satu minggu… sisanya untuk ‘istirahat’ wkwkwkwks.. 
” 心有喜念,就是福 “ ~ “Hati yang gembira adalah keberuntungan”.
Thanks for your ears
Thanks for your tears
Thanks for your smile
Thanks for your hugs
Thanks for your support
Thanks for the breakfast 
Thanks for the homeworks
Thanks for the praises
Thanks for the surprise (let me come late 😀 )
Thanks for the bright stone
Thanks for being there dan here
Thanks for all 
Be happy Ms. Lily…. 🙂
Be healthy,
and Be here and there always. 🙂
Bogor, 25.04.2017
Carya 21:21:38
 

 

Dulu batin ini terpencar
Tercerai berai
Tidak pernah utuh
Goyang
Tidak kokoh

Pernah ada satu masa batin ini terasa utuh
Kuat
Tenang
Damai
Seperti batu karang

Beberapa waktu lalu batin ini kembali terurai
Mengecil
Buyar
Bingung
Kacau
Hilang ingatan
Tidak ada jejak
Tidak jelas
Tidak dapat diharapkan
Saat ini membesar,
Menguat
Solid
Kokoh
Tidak mudah goyah
Tidak mustahil
Bening
Semoga pencerahan kecil ini, menjadi penyebab pencerahan yang lebih besar
Semoga semua makhluk tercerahkan
Bogor, 17.04.2017
Carya 21:17:43
Seminggu ini gua lebih suka nulis “Hmmmmmm”, sebagai arti dari speechless wkwkwks.  Bisa juga gelap, buntu, gak tahu lagi mesti ngomong apa, ya pokoknya gitu dah, ya gitu d. Diawali dari kata-kata seorang teman yang suka mengatakan dengan kencang ke gua: ‘gak nyambung”. Hmmmmm….. nah kan udh keluar lagi  hihihihi 🙂  menandakan gua lagi speechless tapi otak jalan terus.
Iya, pertama denger kayanya gatal neh mulut pengen membela diri. Tapi ya sudahlah. Kedua kali dengar, gua bilang ama diri sendiri: sabar sabar sabar. Ketiga kali dengar, gua bener-bener speechless dan hmmmmm gak tahu mesti komen apa, yang intinya pokoke gitulah, terserah lu mau ngomong apa, EGP, sebetulnya masih ada kesal seh, sedih, kecewa juga  🙂
Hmmmm….. mewakiliki perasaan marah awalnya, kesal, sebel, berontak, pengen balas, benci. Tapi sekarang hmmmm itu memiliki makna yang dalam. Damai, gak ribut sama orang, tenang, menerima, pasrah, tabah, kuat, mengalir aja, gaya bebas, yang penting lu seneng, hahaha ya gitu d pokoknya.
Saat denger pertama dan kedua kali, gua jadi ingat sama cerita-cerita ortu yang suka dibentak ama anaknya. Hmmmm…. begini kali rasanya. Mungkin lebih daripada ini. Gua jadi ingat emak bapak gua. Dulu gua suka bentak-bentak mereka. Terus lihat mereka diam, gua masih juga gak merasa bersalah. Sekarang gua denger langsung ada anak muda maki gua begitu beberapa kali. Hmmmm… gua jadi bisa merasakan penderitaan para emak dan bapak di dunia. Gua jadi malu, menyesal tepatnya.
Gua bener-bener mohon maap kepada para emak dan bapak semua ya… gua janji akan jadi orang sabar, gak balas jahat dengan jahat, tetap baik ama orang jahat. Semoga mereka, para generasi muda tercerahkan ya emak dan bapak. Semoga terjadi…. Tetap be happy ya…. 🙂  🙂  🙂
Bogor, 17.04.2017
Carya 21:10:48

Traveller in Samsara

I’m one of the travellers in samsara.
I have walked through many lives
Some of them wasn’t good, 
They were dark,
They were frightening.

I waited for the shining light for so long.
Noone cared about it
Noone cared about you
Noone cared about me
Noone cared about others

I had to find it by myself!
Bogor
Carya. 12.04.2017

 

Gua ingat banget peribahasa yang satu ini, gua gak mau kaya keledai selalu jatuh di lubang yang sama. Gua manusia, gua punya otak, gua punya pikiran, jadi kalau sampai jatuh di satu lubang, ya sudahlah… rasain aja sakitnya. Terus kalo udah bangkit masih jatuh juga di lubang yang sama…. hmmmm, mungkin karena gua kurang hati-hati, mungkin karena gua gampang percaya, mungkin karena gua tertipu, mungkin karena gua dibodohi. Gua bertekad dong, jangan sampai jatuh untuk ketiga kalinya. Dengan demikian gua belajar dari pengalaman, sakit itu gak enak.
Seumpama gua masih jatuh juga di lubang yang sama, berkali-kali… bukan ke-3, malah empat, lima, enam… dan seterusnya? Kalau menurut gua itu namanya bukan bodoh, tapi emang sengaja merelakan dirinya untuk dibodohi orang lain. Kalau sudah begitu, ya belajarlah dengan lapang dada, belajarlah untuk ikhlas, belajarlah untuk nerimo. Jangan menyalahkan diri sendiri juga tidak menyalahkan orang lain. Anggap emang kita lagi beramal. Anggap emang kita lagi berbuat baik. Anggap emang kita lagi belajar bijaksana di kehidupan. Dengan demikian, gak sakit lagi tokh 🙂 🙂 🙂
Bogor, 12.04.2017
Carya