Catatan harian si pengembara dalam samsara

Archive for the ‘Inspiring Articles’ Category

7th ~ The Last

1st
Gua berasa kaya landak yang lagi main sendiri terus ngegelinding ke sana-kemari, begitu buka mata … lho kok gua ada di rumah orang. Terus yang punya rumah, matanya lagi liatin gua terus. Jelas dong duri-duri gua sedikit berdiri. Gua merasa asing, merasa terganggu, terusik, tapi masalahnya … gua yang masuk rumah dia duluan bukan dia yang masuk ke rumah gua. Wkwkwkwkwks…..
2nd
Apaan seh ini, kok gua disuruh buat PR segala…. cape bener. Rasanya kaya lagi ngiris bekas luka di tangan yang kering di atasnya doang sementara bawahnya masih basah pake ujung pisau yang sangat tajam Huuuuhhhhh !!! Ngilu, nyeri, tapi terus aja gua iris. Duh gustiiiiii ……
Gak bisa protes tapi pengen protes. Dan tahu-tahu gua terkesiap…. mana darahnya? hilang? Kok bisa? *takjub sesaat* Ketemulah gua ama ikan paus yang dironce. Wkwkwkwks….. Ujung talinya disimpul mati. Si landak akhirnya menidurkan duri-durinya. Belum merasa nyaman tapi paling tidak yang punya rumah gak lagi menyakiti meskipun tetep aja kudu nulis PD lagi 😀 😀 😀 😀
3rd
Akhirnya kudu balik ke alam. Cuma diri sendiri yang bisa nolong. Harapan tinggal harapan. Keinginan tinggal keinginan. Kenyataannya? Gua gak mampu. Hiks… dan biarlah dari alam kembali alam, karena memang sudah jalinannya seperti itu…. karena sudah prosesnya seperti itu…. karena sudah siklusnya seperti itu. “Waiting for Godot”. Hmmmm….. pelangi harusnya 7 warna kan???? kenapa kudu maksain pelangi 3 warna? wkwkwkwks….. Terimalah kenyataan, jangan berusaha untuk mengubahnya kalau emang tidak mampu dan tidak akan pernah mampu. 😀
4th
Gunungnya jauh tapi dekat. Dekat tapi jauh. Dia gak akan meledak, cuma dikhawatirkan meledak. Yang merasa khawatir adalah gua. Yang merasa takut ya gua juga. Yang stres masih gua juga. Hadeeuuhhhh dan balik lagi ke PR-PR tiap hari. Si landak jadi kecil hati.
5th
Wooooowwww…. banyak banget yaaaahhhh batunya. Rame… warna-warni, berserakan di mana-mana, bentuknya beragam, ada yang di atas dan ada yang tenggelam, dan gua ada di sana juga jadi bintang yang bening, tembus dipandang mata… apa aja yang diterima bisa dipantulkan lagi…. antara ada dan tiada, antara milikku dan bukan, antara isi dan hampa…. menuju pada cahaya yang tiada batas, menuju cahaya yang terang benderang, menuju cahaya yang penuh harapan. Dan gua mengantar satu per satu menuju pada hakikat sejatinya. 
6th
Idiih kok jadi gantungan seh? Hmmm…. ya sudahlah… monggo yang mau menggantungkan sesuatu, jangan sungkan. Gua relain tali-tali gua buat kalian. Meskipun awalnya merasa aneh ya tiba-tiba kok banyak baju digantung, tapi pikir-pikir lagi… namanya juga gantungan…. masa kosong gak ada yang digantung. wkwkwkwk…. teganya yang bikin soal. :p
7th
Si landak akhirnya jadi manusia juga. Kepalanya botak, punya dua mata merah tapi gak nakutin, punya hidung satu merah juga, punya mulut tersenyum, dan punya dua kuping besar yang warnanya merah juga. Badannya kuning semua. Tangan dan kakinya lagi gerak, ada kukunya. Happy. Fun. Cute. Duri-durinya hilang. Gak ada curiga lagi sama orang lain. Wkwkwkwks…. Siap jalan !
Ada 3 hal yang  gak disukai si landak: 1. liat air mata, 2. ditanya how are you? dan 3. disuruh mikir. Wkwkwkwks….. Awalnya kalau ditanya how are you? Jawabannya pasti biasa aja. Sekali waktu, yang punya rumah bilang: ‘saya tahu jawaban kamu selalu biasa aja’. Ting!!!!!! Kaya dipukul genta kepala si landak. Wkwkwkwks… sampai kamar dia mikir dah. 
Yang kedua,  ditanya sesuatu yang udah lewat… terus kan malas mikir, malas merasa juga, dan udah lewat juga lah ngapain diingat-ingat… jadi selalu spontan aja jawab yang gampang dan biasanya gak akan ditanya lagi: ‘gak tahu’. Pake muka serius, dan bahu dinaikin dikit. Sekali waktu yang punya rumah langsung respon: “Mikir!” Ting!!!!!! Kedua kalinya kepala si landak serasa dipukul genta. Wkwkwkwks… jadi mikir lagi dah. Padahal biasanya orang udah malas nanya lagi.
Well…. Sudah saatnya terbang dan mengucapkan selamat tinggal kepada si pemilik rumah yang telah mengubah si landak jadi manusia. 😀
well…. Sudah saatnya mengucapkan terima kasih kepada si pemilik rumah yang telah menyediakan ‘makanan’ dan ‘minuman’ walaupun tak pernah disentuh ( Apakah itu???? 😀 😀 😀 ) dan berjalan melangkah ke masa depan

Well… Sudah saatnya jatuh-bangun, jatuh-bangun, dan jatuh untuk terbang tinggi di udara menjadi burung elang yang perkasa.
Hari ini the last day, the 7th, penghujung di satu minggu… sisanya untuk ‘istirahat’ wkwkwkwks.. 
” 心有喜念,就是福 “ ~ “Hati yang gembira adalah keberuntungan”.
Thanks for your ears
Thanks for your tears
Thanks for your smile
Thanks for your hugs
Thanks for your support
Thanks for the breakfast 
Thanks for the homeworks
Thanks for the praises
Thanks for the surprise (let me come late 😀 )
Thanks for the bright stone
Thanks for being there dan here
Thanks for all 
Be happy Ms. Lily…. 🙂
Be healthy,
and Be here and there always. 🙂
Bogor, 25.04.2017
Carya 21:21:38
 

 

Advertisements

Jemuran Baju

Horraayyy… gua jadi jemuran baju hari ini. Hmmm…. awalnya mau kaya model orang bule, cuma satu kaki tapi cabangnya banyak, kaya buat naro mantel-mantel kalo masuk ruangan di musim dingin. Warnanya hitam. Tapi gua pikir-pikir, bajunya kusut ntar kalo jenisnya kaos. Terus yang digantung pasti terbatas jumlahnya, gak bisa gantung banyak. Sempit banget jadinya ya. Akhirnya gua mantap dah pilih yang besar dan panjang, supaya apa juga bisa dijemur di sana.
Bahan yang gua pilih dari stainless. Diameternya cukup besar. Batangnya gak kurus. Enak dilihatnya. Kuat, kokoh, terus gak gampang goyang ditiup angin. Pasti gak mungkin roboh dan tentunya apa aja bisa digantung di sana termasuk  bantal kalo mau seh. 🙂 Jumlah batang besinya ada 4. Kaki si jemuran gua cor. Atasnya aja  kuat begitu, maka bawahnya gua bikin lebih kuat lagi biar gak roboh. Itu alasannya cor nya kuat banget banget, banget.

Gua taruh baju pertama di besi pertama, agak ke depan. Warnanya hijau muda, kaos olah raga. Hijau ini berarti cerah. Optimis. Penuh harapan. Segar. Hidup. Mandiri. Unik. Bebas dan bertanggung jawab. Kuat gantungannya. Warnanya seperti batang padi yang sedang bertumbuh. Antusias, penuh harapan. Benar-benar dalam proses bertumbuh menjadi lebih matang, lebih dewasa dan suatu saat hasil panennya melimpah. Hijaunya begitu sempurna, begitu penuh, dan sedap dipandang mata.
Berbeda dari warna baju yang lain. Ada tulisan no 1 di belakangnya. Ia selalu menjadi nomor satu dalam keluarga. Ia selalu menjadi yang terbaik dalam keluarga. Ia selalu menjadi nomor satu buat ibunya. Ia selalu menjadi nomor satu dari kecil sampai sekarang. Ia juga menjadi nomor satu untuk si kakek. Kemanapun si kakek pergi, pulangnya selalu ada oleh-oleh buat dia. Lego dari Hong Kong juga cuma buat dia. Untungnya gua boleh pake sama-sama, boleh main bareng-bareng. Untungnya dia gak pelit ama gua. Jahatnya gua suka pake barang-barang dia. Serasa itu barang punya gua semua. Tetap ya, gua jadi rajanya. Hahaha…. yaaa…. malu deh kalo ingat kelakuan gua. Gak salah juga gua dipanggil raja. Wkwkwkwks….. lha salah mereka juga lah kenapa nurut aja ama gua. 😀
Gantungan kedua kaos juga. Lebih soft hijaunya. Gantungannya miring, tidak sebebas yang pertama. Tidak sekokoh yang pertama. Namun ia tetap berkarisma. Ia membuat semua orang damai, tenang, nyaman. Ia menenangkan banyak orang. Ia juga punya harapan, ia punya masa depan. Karakter yang berbeda dengan yang pertama meskipun sama-sama hijau. Karena ia adalah orang kedua, maka ia tidak sekuat orang pertama. Ia tetap menjadi harapan, namun tidak sebanyak hijau yang dimiliki orang pertama. Hijaunya hanya sedikit, namun tetap menjadi bagian penting sehingga membuat kaos menjadi lebih indah dan cerah. Ia tetap menghidupkan suasana keluarga.
Hijau berkelamin lelaki. Hijau yang pertama terang, lincah. Berbeda sendiri. Hijau yang kedua sejuk, adem. Ada harapan yang berbeda dengan yang pertama. Harapan yang kedua adalah menjadi tempat berteduh bagi yang kepanasan, menjadi tempat bernaung di saat hujan badai, menjadi surga bagi mereka yang butuh kebahagiaan. Rileks, santai, gemar menolong, sabar, tapi tetap menjadi diri sendiri, itu menjadi karakter orang ini. Saya juga mengandalkan dia untuk melindungi orang tua, menjadi pendamping si kaos pertama. Walaupun tidak sekokoh yang pertama, namun saya yakin ia dapat diandalkan karena karakternya dapat dipercaya dan bertanggung jawab serta sabar. 
Baju tergantung yang ketiga tangan panjang. Orang yang sudah menjadi sesuatu, sudah siap menutup bukunya dan tidak perlu lagi bekerja keras karena baju yang dikenakan bukan baju untuk bekerja melainkan baju pesta. Ia ada di posisi ketiga, karena ia di sana untuk melindungi dan menjaga baju ke empat yang tergantung bebas di belakangnya meskipun tidak sebebas ke 1 dan 2. Ia di posisi ketiga karena ia di sana untuk dilindungi oleh kedua anak lelakinya dan untuk melindungi istri yang ada dibelakangnya. Ia tergantung kuat di batang stainless tersebut, karena gua harus melindungi dan mejaganya dari angin kencang. Gua tidak boleh membiarkannya jatuh tertiup angin dan akhirnya kotor sehingga disia-siakan siapapun juga.
Baju ke empat, warnanya kuning, bukan hijau, seperti batang padi yang siap untuk dipanen. Saya pikir kuning seperti rapuh, tua, tidak berdaya, lemah, dan harus dilindungi. Seperti itulah baju ini tergantung di batang besi. Ia adalah sosok yang harus selalu dilindungi dan dijaga. Ada tiga baju yang menjadi pelindungnya. Posisinya di besi ketiga. Saya sendiri juga harus melindungi dan menjaganya supaya ia tidak jatuh ke lantai. Ia belum mandiri, ia tidak dewasa, ia tidak dapat diandalkan. Ia seperti anak kecil. 
Ada gantungan baju kecil yang terayun di batang besi yang kokoh ini. Ada untaian yang cukup panjang di mana tergantung kaos kaki, serbet, handuk kecil, sapu tangan, dan apapun yang bisa digantung di sana. Seperti ada satu sistem yang sedang berlangsung. Masing-masing tergantung bebas dan di mana masing-masing memiliki beban dan porsinya.
Tidak merepotkan dan sangat bermanfaat. Tidak mengganggu penglihatan. Tidak membuat iri orang lain. Tidak membuat orang-orang marah lalu memindahkannya jauh-jauh.
Benar-benar ada kehidupan lain dalam kehidupan utama. Semuanya bergantung bebas di jemuran baju. Semuanya menjadi dunia si pemilik jemuran baju. Menyatu dengan jemuran baju. Indah. Semua menjadi bermakna. Tergantung namun masing-masing berjalan sesuai kehidupannya masing-masing.
Tidak ada yang saling mengganggu. Tidak ada yang saling menjatuhkan. Tidak ada yang saling merugikan. Masing-masing memiliki gaya sendiri. Masing-masing memiliki kepribadian sendiri. Masing-masing memiiki daya tahan dan daya juang sendiri. Berbeda, namun tetap bersama, dan bebas menjadi dirinya sendiri. 
Bogor, 11.04.2017
Carya.21:03:05

Alumni St. Aloysius Bandung

Sudah lulus 26 tahun tapi kebanggaan jadi alumni Aloysius semakin kuat. Mungkin karena teman-teman berkumpul kembali dan membuat grup di WA baik grup per kelas maupun per angkatan. Bangga karena pernah jadi bagian dari sekolah favorit di jaman dulu. Senang karena sekarang bisa berkumpul kembali bersama teman-teman.
Gua ingat buku DEWA, Di sini Aku Menjadi Dewasa. Mungkin itulah akhir dari masa remaja, di mana kita sebagai siswa kelas III harus memutuskan langkah berikutnya untuk menuju masa depan. Sudah tidak bisa lagi ber haha hihi, sudah tidak bisa lagi main-main karena pilihan waktu itu kuliah dan di mana serta jurusan apa atau langsung kerja terus nikah. Fiiuuhhh… kalau mengingat masa SMA III itu, kayanya lebih banyak tegangnya daripada enjoy nya.
Hmm.. ingat waktu kelas II SMA. Rambut dipotong pendek ala Demi Moor, tapi di paling belakang sisa ekor yang panjang-panjang-panjang. Sengaja dikuncir, pake karet warna orange, atau hijau terang. Kunciran dimasukan ke dalam balik baju. Kalau di kelas, kepala dijaga sedemikian rupa supaya gak bergerak-gerak. Kalau pun terpaksa harus bergerak, maka satu badan ikutan gerak juga. Hahaha…. kaya robot. Dan kayanya aneh di mata para guru. Satu-satu ketahuan. Kena gunting hahaha. Gue punya kunciran yang paling akhir ketahuan. Itupun sudah aman berbulan-bulan. Semua orang udah cengar cengir. Kalau ada razia rambut di kelas sebelah, bocor sudah kemana-mana. Kunciran di selip ke belakang telinga. Hahaha… tegang tapi seru. Gaya kayanya bisa ngerjain guru.
Hari itu, gua gak ngerti kenapa bisa ketahuan. Waktu itu pelajaran Menggambar sama Pak Prihadi. Pak Pri panggilannya, orangnya kalem banget. Kecil mungil, tapi suaranya bikin jantung kita lemes. Kebapakan banget. Beda ama Pak Ronald yang suaranya sudah menggelegar kemana-mana. Beliau tahu-tahu ada di dekat saya, terus bilang, “Mari ikut saya”. Sampai di kantor beliau, kepsek kita tuh, beliau bilang, coba dikeluarkan. Haha… gua masih menghindar. Terakhir gua keluarkan juga rambut gua, dan digunting sama beliau. Terus beliau ambil solatip, katanya, “Rambut ini dipajang di kaca sini ya, biar saya ingat terus sama kamu si pemilik rambut panjang”. Haddeeuhh… malu. Bapak bilang, kamu ini tampangnya baik banget, di kelas juga diam-diam, gak tahunya begitu ya. Haaaiizzzzz…. udah deh langsung bertobat. Hahaha
Well.. sekarang sudah lewat berpuluh tahun. Ada kerinduan akan masa SMA. Ada memori indah di sana. Bagaimanapun juga, I’m proud of becoming one of the alumn ST. ALOYSIUS Bandung.
Semoga, saya bisa membalas jasa para guru semua. 😀
Terima kasih untuk semua kenangan indah saat SMA.
Semoga semua makhluk hidup bahagia.
Carya.
1 Mei 2016

Live In

Pengalaman tiga hari ini dari tanggal 28 sampai hari ini 30 Oktober 2015 sungguh luar biasa. Tinggal bersama dalam komunitas petani organik di Bina Sarana Bakti Agatho Cisarua Pencak menjadikan pengalaman pertama yang tidak akan terlupakan. Berteman dengan suara jengkerik setiap malam, di tempat tidur sederhana di tengah lådäng. Menjadikan suasana damai tak terperi, yang tidak akan ditemukan di tengah pusat kota walaupun malam hari.

Tanah seluas 16 ha itu seperti surga di dunia. Anak-anak Permai kelas XI tinggal berama orang tua angkat mereka. Mereka bangun pagi, sarapan, pergi ladang, istirahat siang, kembali ke ladang, dan pulang ke rumah. Semua dilakukan bersama-sama dengen teman dan orang tua angkat mereka. Kehangatan, keramahan, dan penerimaan yang totalitas dari para petani membuat suasana sungguh menyenangkan. Rasanya seperti kembali pulang ke rumah, superti pulang ke keluarga masing-masing, seperti pulang ke keabadian.

Senyum tulus yang merekah setiap pagi, sapaan riang yang terdengar dari mulut para petani membuat kami betah tinggal di sana meskipun harus bekerja keras, bercucuran keringat untuk sepiring nasi dan lauk pauk sehari itu. Guru sejati yang tidak diperoleh di pendidikan formal. Guru sesungguhnya yang ada di alam semesta, yang mengajarkan tentang kesabaran, ketulusan, kerinduan, cinta kasih, semangat, konsentrasi, kebijaksanaan, kesederhanaan, penerimaan, kegigihan, keuletan, kesadaran, kekeluargaan, dan lain-lain yang tidak data disebutkan namun saat dirasakan, rasanya begitu hangat. Hangat yang menyelimuti diri yang penuh ketidaktahuan ini.

Air mata menetes melihat ketidakpekaan berubah menjadi kepedulian, kekerasan menjadi kelembutan, kekasaran menjadi cinta kasih, kejengkelan menjadi senyum riang gembira, kedangkalan pengalaman menjadi empati yang luar biasa… semua ada dalam 3 hair ini. Kegalauan yang berbeda dengan kegalauan yang ada di Jakarta. Tinggal bersama keluarga yang bukan keluarga, namun rasanya seperti keluarga. Keakraban yang sulit ditemukan di tempat lain. Tentunya, kita harus menghargai hari ini, kita harus bersyukur untuk hal ini, kita harus berterima kasih untuk semua yang terjadi saat ini.

Hai parents yang memiliki kekayaan duniawi… sesungguhnya anak-anak kalian merindukan kehangatan dalam rumah, merindukan teguran sapaan yang meneduhkan, merindukan kehadiran kalian yang sepenuhnya… tanpa uang, tanpa kemewahan, tanpa atribut duniawi. Mereka sungguh kesepian, mereka sungguh menderita, mereka sungguh menggelepar seperti ikan yang dijauhkan dari air laut.

Hai parents, mari mengubah diri menjadi lebih sederhana baik dalam berpikir, bertindak, maupun berucap. Mari sederhanakan keluarga kita, mari sederhanakan kebutuhan kita, mari sederhanakan rutinitas-rutinitas tidak jelas itu. Bagian terpenting dari hidup adalah menjalin jodoh yang sebaik-baiknya dengan orang-orang terdekat. Dengan keakraban, dengan saling bertegur-sapa, dengan saling melakukan aktifitas bersama-sama, dengan  makan bersama-sama, dengan menderita bersama. Mereka adalah bagian dari kehidupan mereka, bukan bagian dari mainan kehidupan kalian, di mana kalian seperti robot bagi anak-anak sendiri.

Semoga semua orang tua mampu menciptakan suasana kondusif dalam rumah tangga. Mari ciptakan Home Sweet Home bersama-sama sehingga kita semua menjadi pribadi yang sehat baik fisik maupun spiritual.

Bogor.
Carya. 30.10.2015

When the night comes…

Lelah. Hanya satu kata yang dapat mewakili perasaan Tazi saat ini. Lelah yang amat sangat, yang membuatnya ingin pergi dari kehidupan ini. Namun, Tazi tidak tahu tempat mana yang dapat dikunjunginya selain dunia yang penuh dengan keringat dan air mata ini.

Tazi bukan sekali ini mengalami lelah yang amat sangat seperti sekarang ini. Beberapa tahun lalu, ia pun pernah mengalami hal yang sama. Bahkan lebih parah. Ia jenuh, ia muak, dan ia menjadi emosional. Apa yang dilihatnya salah, apa yang dirasanya salah, apa yang dilakukannya juga salah. Aku melihat Tazi juga kasihan, namun aku sendiri pun tak dapat menolongnya karena ia tidak pernah mengungkapkan masalah penatnya itu padaku.

Kejenuhan Tazi dalam kemacetan dan rutinitas ini tentunya juga dialami oleh kita semua. Tidak ada yang dapat mengatasinya selain diri kita sendiri. Namun, kita dapat melakukan kegiatan lain yang bermanfaat untuk mengurangi dan menghilangkan penat itu sendiri seperti melakukan hobi, atau olah raga yang membuat tubuh kita lelah sehingga penat itu berangsur-angsur berkurang.  Tazi, ia membiarkan dirinya hanyut dalam kepenatan dan kejenuhan itu, sampai penat dan jenuh itu mencapai puncak penat dan puncak jenuhnya sendiri. Hahaha…. self therapy mungkin, atau self healing?? Hanya dia yang tahu apa yang harus dilakukannya saat ini 😀

Pagi itu aku mendengar lagu Ebiet dengan seksama. Lagu yang sering kudengar namun tidak pernah kusimak kata per kata. Muncul keinginan untuk membuat sepenggal kalimat dalam lagu ini dikenal banyak orang. Tujuannya hanya satu, agar kita selalu mawas diri dan semangat mengarungi kehidupan ini walaupun jenuh dan penat selalu mengikuti bayangan tubuh ini.

Akhirnya kutulis kata-kata tersebut dalam bentuk pesan yang kubagikan kepada semua orang yang kucintai, yang ada dalam daftar teleponku. Begini yang kutulis:

“Hai guys, slmt pagi

Kembali bekerja setelah liburan panjang tentunya sangat tidak menyenangkan. Kita hrs kembal pd rutinitas yg sering kali membuat kita lupa diri pada pelatihan kesabaran, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Rutinitas membuat kita lelah, jenuh, marah, dan kehilangan makna kehidupan itu sdr.

Barangkali kalimat yang kucomot dr lagu Ebiet ini dpt membuat mata hati kita selalu terjaga. “Aku tak mati dalam hidup, tapi aku hidup dalam hidup”. Aku hidup dalam kreativitas, aku hidup dalam semangat, aku hidup dalam kehidupanku. 😀

Semangat pagi, semangat hari Senin, semangat berutinitas.

Carya, 23.03.2015″

Mohon maap teman-teman yang terpelajar bila penulisan bahasa Indonesia ku sangat parah. Hehehe…. Tiada maksud lain, hanya ingin memotivasi orang lain dan diri sendiri terutama, agar tetap hidup dalam hidup. Aku bukan mayat hidup, aku bukan mumi, aku bukan orang mati. Aku adalah manusia yang hidup dan memiliki semangat. Jia You, all …..

Carya, 24.03.2015

Orang Tua, Kaum Lansia

Orang tua yang kumaksud adalah orang-orang lansia yang menanggung penderitaan tua seperti yang diungkapkan oleh Hyang Buddha. Lahir, tua, sakit, dan mati. Tua dan sakit adalah dua kondisi yang harus dilewati oleh mayoritas orang-orang yang panjang umur. Tidak menyenangkan tentunya, karena sudah tua, sakit pula. Tapi, demikianlah kehidupan…. tidak ada seorangpun yang dapat melarikan diri dari kenyataan hidup ini. Bahkan seorang kaya pun tidak dapat menghindar dari kondisi ini.

Lansia, ada yang dirawat orang lain di panti jompo, ada yang ditelantarkan di rumahnya sendiri, ada yang keliaran di jalan mencari sesuap nasi, ada yang tergelatak di kamar isolasi panti-panti sosial dengan bau-bau yang tidak sedap. Ada juga lansia yang hidup senang, sehat, dengan keluarga yang sangat perduli. Namun kebanyakan, orang tua “mengeluh” anak-anaknya sibuk dan tidak punya waktu untuk mereka. “Mengeluh” bukan berarti mengeluh, karena di balik keluhan terselip rasa bangga dan bahagia anaknya telah menjadi orang sukses. “Mengeluh” di sini sebagai suatu nada getir yang aku tangkap bahwa mereka kesepian, ingin ditemani, ingin diajak bicara, ingin berbagi suka dan duka dengan orang-orang terdekat, namun orang-orang dekat sibuk sendiri. Kalaupun dekat secara fisik, anak-anak sibuk membentak-bentak orang tuanya.

Lansia, sering sekali berbuat aneh: mengatakan hal yang sama berulang-ulang karena pikun, ceroboh saat melakukan sesuatu, berkelahi, memfitnah anak-anaknya atau perawatnya, keras kepala, tidak mau kalah, berdebat, rendah diri, galak, suka menyerang orang, dan sebagai dan sebagainya. Hai anak-anak muda, bersabarlah! Mengapa? Pertama, karena kita belum tua dan kita belum tahu apakah tuanya seperti mereka, melampaui mereka, atau bahkan lebih baik dari mereka. jadi kita harus menahan diri. Kedua, kesabaran menjadi modal untuk melakukan apapun. Sabar dalam satu hal, menjadi sebab kesabaran lain dalam pekerjaan lainnya. Orang sabar disukai banyak orang, bahkan dicintai semua orang. Kalaupun Anda sebagai orang muda mengatakan, saya tidak butuh dicintai banyak orang… itu adalah suatu kesombongan. Suatu saat, Anda akan merindukan hal-hal tersebut terutama dicintai oleh orang lain.

Jadi, tidak ada yang salah dengan kaum lansia. Semuanya adalah proses alam, kembali kepada karma masing-masing. Mari lebih perduli pada orang tua sendiri dan orang lain, karena pelatihan diri adalah milik kita sendiri bukan orang lain. Yang menikmati hasilnya adalah diri sendiri, bukan orang lain. Merawat orang tua dan orang sakit, merupakan ladang kebajikan yang tiada taranya. Jangan sia-siakan orang-orang tua ini. Mari membalas budi kepada semua orang tua dengan merawat kaum lansia.

Carya, 13.05.2015

Trauma = Power

Dear sahabat yang terkasih,

Tidak terasa aku sudah 17 tahun menjadi seorang samana. Selama ini banyak sekali orang yang bertanya, kenapa jadi begini? Keingintahuan yang begitu besar muncul di hati setiap orang yang melihat anak muda tiba-tiba memakai jubah. Aku rasa di agama manapun pertanyaan tersebut akan selalu muncul. Dan aku menangkap, ada keinginan yang kuat dalam diri si penanya untuk membenarkan praduga: “tuh kan bener, pasti karena putus cinta.” atau “tuh kan bener, frustrasi dengan kehidupan. Padahal dunia tidak selebar daun kelor”.

Sahabat, menjadi seorang samana mungkin saja disebabkan karena frustrasi dan awalnya berusaha  melarikan diri dari kenyataan hidup. Tetapi, keinginan yang kuat untuk keluar dari penderitaan tersebut dan  keinginan yang kuat untuk tidak mau lagi mengulangi penderitaan yang sama, akan menjadi penyebab seseorang semakin tekun melatih diri dan mendalami jalan spiritual. Menjadi seorang samana di usia muda bukan hal aneh, walaupun cukup banyak anak muda yang kemudian menanggalkan jubah karena terpincut kecantikan duniawi dan akhirnya meninggalkan kehidupan spritual. Banyak faktor yang menentukan apakah memang jalinan jodoh seseorang di jalan spiritual akan bertahan lama atau tidau.

Sahabat, aku yakin Anda pun punya trauma, punya sakit hati, punya kekecewaan mendalam, punya penderitaan yang tiada penawarnya. Jangan sesali masa lalu, jangan terikat pada dongeng-dongeng indah masa lalu, atau harapan-harapan yang tidak jelas yang akhirnya membuat kita semakin terpuruk dalam luka batin yang tidak kunjung sembuh. Jangan pula sakit hati tersebut membuat kita berhenti dan berputus asa lalu menganggap semua sudah berakhir lalu membuat suatu keputusan bahwa hidupku selamanya tidak pernah bahagia dan tidak mungkin bahagia.

Sahabat, penentu kebahagiaan adalah diri sendiri. Penentu keberhasilan adalah diri sendiri. Orang lain hanya membantu kita untuk bangkit namun penunjang utama keberhasilan adalah kita sendiri. Mari bangkit, mari berjuang. Bukan hanya kamu yang punya sakit hati, bukan hanya kamu yang punya luka batin, bukan hanya kamu yang punya trauma, kita semua punya pasti. Mari berpegang tangan, memulai kisah baru saat ini juga. Tetap semangat, karena hidup bukan hanya hari ini. Ayo berusaha!!!

Carya, 13.03.2015