Catatan harian si pengembara dalam samsara


Tinggi, kurus, hitam. Dan yang selalu kuingat sampai hari ini adalah rambutnya yang panjang tergerai kemudian diikat. Meski baru bertemu beberapa kali, ciri itu selalu aku ingat sampai hari ini. Maka ketika di grup keluarga ada berita ada orang meninggal dunia dengan foto di KTP yang tidak kukenal, maka aku pun juga tidak perduli. Tokh sudah biasa ada orang meninggal dengan keluarga yang entah di mana kemudian disebarkan via medsos  …… 😦
Aku tidak pernah menduga kalau foto yang tidak ku’download’ itu adalah KTP Akiu. Malam setelah acara retreat berakhir, menjelang jam tidur, aku buka HP ku. Kubuka dan kubaca kiriman berita dari adikku. Dan ….. nyawaku seperti terbang seperempat.
Sesaat kemudian aku tersadar. Seperti inikah rasanya kehilangan? Seperti inikah reaksi tubuh ketika jiwa bergetar karena nyawa hilang seperempat? Beginikah batin makhluk di dunia ini? Seperti inikah penderitaan para makhluk yang tidak berjuang mencapai pembebasan sempurna?
Hilang berarti tidak  terlihat lagi.
Hilang berarti tidak  bertemu lagi.
Hilang berarti lenyap.
Hilang berarti tidak tampak.
Hilang berarti tidak ada.
Aku ingat akiu pernah datang dan tinggal bersama kami di rumah kakek. Cimindi. Sepertinya tidak lama. Aku cuma ingat kalau saat itu akiu dan mama sedang berbicara berdua sambil berdiri di toko, kemudian seingatku mama bicara banyak dan agak kesal. Kemudian akiu pun pulang Solo. Saat itu aku belum 8 tahun. Dan itu pertemuan pertamaku. 
ketika aku naik kelas 2 atau 3, kemudian aku main ke Solo saat liburan sekolah. Yang kuingat adalah kami menjenguk akiu di rumah itu. Akiu berdiri menyambut kami. Namun sepertinya tangan akiu sedang memegang gitar. Kemudian aku tidak ingat lagi. Itu adalah pertemuan kami yang kedua.
Setelah itu hanya dongeng-dongeng sedikit tentang akiu dari mama. Aku juga tidak tahu seperti apa sosok akiu ku yang bungsu ini. Aku juga tidak tahu seperti apa kehidupannya sekarang setelah aku dewasa. Aku juga tidak tahu dengan siapa sekarang ia tinggal.
Kalau pertemuan itu dapat dihitung dengan tangan, lalu mengapa aku merasa kehilangan? Kalau pertemuan itu tidak kurang dari lima kali, lalu mengapa aku  turut meratap dan berduka?  Kalau pertemuan itu terjadi di masa kecilku yang tidak banyak ingat, mengapa aku turut bersedih dan menderita? Kalau dalam setiap pertemuan itu tidak ada kata-kata obrolan, mengapa aku merasa memilikinya?
Sebetulnya karena mama. Karena mama melihat kehidupan akiu begitu susah dengan main band. Karena ekonomi akiu begitu jauh dari sederhana karena bermain musik. Karena akiu tidak punya apa-apa karena memilih hidup dengan  musik. 
Karena akiu senang bermain musik. Karena akiu senang main band. Karena akiu memilih hobi nya. Karena akiu hidup dengan musik.
Karena itu…… mama juga melarang aku main gitar. Karena itu mama melarang aku hidup dengan musik. Karena itu mama juga melarang aku menjadi pemusik. Karena itu mama melarang aku menjadi seperti akiu.
Karena itu…. mama sering memarahi aku bila sudah memegang gitar berjam-jam. Karena itu mama sering menegur aku bila sudah bermain gitar berjam-jam. Karena itu mama berusaha mati-matian agar aku tidak bersama gitarku. Karena itu mama berjuang sekuat tenaga untuk memisahkan aku dengan gitar kesayanganku. 
Dan hidup tanpa musik…
Seperti makan nasi tanpa garam.
Dan hidup tanpa musik,
Seperti malam gelap tanpa bintang.
Dan hidup tanpa musik,
Seperti siang hari tanpa matahari.
Dan hidup tanpa musik,
Sepi, gelap, hampa.
Maka, pertemuan yang sangat singkat tersebut, selalu ada dalam ingatanku. Aku tidak boleh seperti akiu. Aku tidak boleh mengikuti akiu. Aku harus mencari jalan yang lain. Dan karena itu… sosok akiu, figur akiu melekat dalam batinku. Walau pertemuan hanya sesaat, namun musik mendekatkan aku dan akiu.
Akiu….
Thanks for being my inspirations
Thanks for being my songs
Thanks for being my clouds
Thanks for being sunshines
I can’t see you for the last time,
But I’ll bring your name in my prayer every day
May you rest in peace.
Thanks for being my uncle in this life
Thanks akiu untuk komunikasi kita yang singkat tahun lalu di group keluarga. Doa-doamu selalu menginspirasiku untuk selalu kembali kepada Sang Maha Esa. I’ll miss you badly. We’ll miss you badly. 
Love you…
May you be reborn in the happier life.
Bogor, 09.10.2017
Carya
09:43:07
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: