Catatan harian si pengembara dalam samsara

Dua Kaki Dua Perahu


Lewi berjalan sendirian di jalan yang panjang. Ia menuju dermaga. Tujuannya menuju pulau bahagia di seberang sana. Sudah beberapa tahun ia menapakinya dan belum sampai juga. Lewi lelah. Lewi ingin berhenti. Tapi …. Lewi tetap berjalan.
Setelah beberapa tahun berjalan, suatu hari Lewi bertemu seorang pengembara. Orangnya baik hati, ramah, dan menyenangkan. Hatinya lembut dan selalu memperhatikan Lewi. Pengembara itu dapat mengambil hati Lewi. Pengembara tersebut sangat mendukung Lewi. Kapan saja, ia selalu ada untuk Lewi. Akhirnya Lewi memutuskan untuk berjalan bersamanya.
Akhirnya Lewi sangat bergantung pada orang tersebut. Lewi tidak lagi mandiri. Lewi tidak lagi mampu melakukan apapun sendirian. Lewi selalu menjadikan orang tersebut sandaran. Lewi tidak sadar bahwa kehidupannya sudah berubah, ia berubah.
Beberapa tahun kemudian mereka sampai ke dermaga. Lewi ingin menaiki perahu pengembara tersebut. Lewi sangat berharap pengembara itu pergi membawanya ke pulau bahagia. Pikiran Lewi sudah melayang-layang. Pikiran Lewi sudah penuh dengan cita-cita di masa depan. Lewi sudah yakin bahwa ia akan bersama pengembara tersebut.
Apa daya, karma baiknya belum berbuah. Orang tersebut menolak Lewi. Orang itu tidak sanggup membawa Lewi. Orang tersebut tidak mampu mengurus Lewi. Orang tersebut memilih berjalan sendiri dan meninggalkan Lewi.
Hancur hati Lewi. Dermaga sudah dicapainya. Pulau bahagia sudah di depan mata. Perjalanan menuju pulau seberang hanya tinggal hitungan jari. Ia butuh perahu untuk menyeberang. Ia butuh sampan untuk melintas. Ia butuh rakit untuk melewati air.
Kala resah itu, muncul tukang perahu yang menawarkan bantuannya untuk menyeberang jalan. Lewi tertarik. Namun hatinya telah tertambat pada pengembara tersebut. Dan tampaknya pengembara tersebut tidak sanggup juga untuk melepaskan Lewi. Lewi bingung. Lewi gelisah. Lewi harus memutuskan.
Akhirnya ia menaiki perahu yang ditawarkan orang tersebut. Sebelah kakinya tetap menggantung pada perahu si pengembara. Mereka masih berjalan beriringan. Mereka masih berjalan bersamaan. Mereka masih mencoba untuk saling menarik walaupun perahunya sudah berbeda.
Bertahun-tahun seperti itu, akhirnya arus kehidupan semakin kuat. Lewi tidak sanggup lagi. Ia harus memilih salah satu. Tidak mungkin kakinya ada di dua perahu. Ia bisa terjungkir. Ia bisa terjatuh. Ia bisa mati.
Dengan berat hati, ia melepaskan kakinya yang sebelah. Tubuhnya telah bersama tukang perahu. Lebih mudah bagi Lewi untuk mengangkat kakinya daripada memindahkan seluruh tubuhnya. Hatinya tersayat. Hatinya teriris. Lepas sudah, kebahagiaan sempurna yang dimilikinya.
Lewi berlayar sendiri. Tukang perahu membawanya menuju pantai bahagia. Tukang perahu pun tidak pernah meninggalkan Lewi terseret arus kehidupan. Ia selalu ada untuk Lewi. Ia setia pada Lewi. Ia melakukan apapun untuk Lewi. Lama-lama Lewi iba. Lewi berusaha membalas kebaikan tukang perahu dengan sisa kasih yang dimilikinya.
Lewi berusaha melupakan si pengembara. Lewi berusaha tidak membandingkan si pengembara. Lewi berusaha menyingkirkan pengembara dalam hidupnya. Lewi mencoba untuk menikmati perjalanan bersama tukang perahu.
Kesetiaan tukang perahu sungguh besar. Pengorbanan tukang perahu sungguh luar biasa. Perlindungan dari tukang perahu sungguh tidak terbalas. Lewi akhirnya merasa menjadi orang yang paling beruntung. Ia sekarang sadar. Ia harus membalasnya.
Di saat Lewi sudah mantap, di saat Lewi sudah tenang, di saat Lewi sudah memutuskan, tiba-tiba si pengembara muncul di hadapannya. Ia mengajak Lewi memasuki kapalnya. Kerinduan Lewi muncul. Kerinduan Lewi bangkit. Kerinduan Lewi berkembang. Lewi mulai siap beranjak berdiri, hatinya ingin meninggalkan kapal yang sekarang dinaikinya.
Lewi berdiri. Lewi melangkah. Lewi mulai menjejakkan kakinya di perahu pengembara. Badannya meninggalkan tukang perahu. Lewi berjalan masuk. Sudah beberapa jam mereka berbincang-bincang. Semakin lama semakin dalam perasaannya terseret. Semakin lama semakin terasa betapa dalamnya kerinduan mereka. Semakin lama semakin berasa bahwa mereka saling melekat satu sama lain.
Kerinduan-kerinduan yang sekian lama terpendam, getarannya begitu kuat. Tiada satupun yang bisa menjauhkan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengganggunya. Tiada seorangpun yang dapat menggantikannya. Tak ada tandingannya, tidak ada yang dapat mengalahkannya.
Hubungan ini begitu kuat. Hubungan ini begitu kencang. Hubungan ini begitu solid. Begitu menyatu, begitu tidak memaksa, begitu santai, mengalir alami, membuat siapapun yang di dekatnya bergejolak karena cemburu.
Sebetulnya, Lewi sedang beristirahat di suatu pulau. Bukan sehari dua hari. Sudah tahunan ia beristirahat di pulau ini. Tukang perahu tetap menemaninya. Ia tidak pernah meninggalkan Lewi. Ia tidak mencari pengganti. Ia tidak berusaha membuang Lewi dan mencari penumpang baru. Ia tetap setia untuk Lewi. Inilah yang membuat hati Lewi trenyuh. Lewi merasa bersalah.
Sebetulnya Lewi sedang menanti pengembara di pulau ini. Sebetulnya Lewi selalu merindukan pengembara tersebut. Sebetulnya Lewi ingin  selalu bersama pengembara tersebut. Sebetulnya Lewi tidak pernah meninggalkan pengembara itu. Sebetulnya… sebetulnya… dan sebetulnya… Lewi hanya pada pengembara.
Ketika Lewi sadar bahwa ia sudah memasuki kehidupan pengembara yang selalu dinanti-nantinya, Lewi tertunduk. Sinar mata tukang perahu yang penuh kasih muncul. Senyum tukang perahu ada di mana-mana. Lewi mulai menangis. Lewi berlinang air mata. Lewi terisak sangat kencang. Lewi tidak tega meninggalkan tukang perahu sendirian.
Kata Lewi, “Dulu kamu meninggalkan aku. Sekarang aku yang harus meninggalkan kamu. Aku tidak rela. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Tapi aku harus pergi.” Hati Lewi terluka.
Kasihnya tukang perahu mengalahkan kasih si pengembara. Kasihnya tukang perahu melebihi kasih si pengembara. Kasihnya tukang perahu menyembuhkan hati Lewi yang berdarah. Kasihnya tukang perahu membuat luluh hati Lewi. Kasihnya tukang perahu, membuat Lewi jatuh berlutut. Tidak sanggup meninggalkannya di sana seorang diri.
Lewi kembali ke tukang perahu. Lewi membalikkan badan. Lewi tertunduk, hatinya pedih. Ia harus meninggalkan si pengembara. Namun hatinya akan lebih pedih lagi bila ia meninggalkan si tukang perahu yang setia menemaninya sampai hari ini.
Bogor, 29.06.2017
Carya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: