Catatan harian si pengembara dalam samsara


Mahasthavira…
Pertemuan kita mungkin tidak terlalu sering,
Tidak ada kata-kata, tidak ada percakapan, tidak ada candaan,
Hanya sekedar salam, sapaan, dan senyuman saja.
Itu karena Mahasthavira tampak diam dan bersahaja,
Tambah lagi banyak kisah-kisah hidup Mahasthavira yang saya dengar,
Membuat saya takut terhadap Mahasthavira… 
Segan tepatnya… karena Mahasthavira sosok yang tidak tergoyahkan,
Yang dapat menggoncangkan hati ayahanda, sebagai rohaniwan di masyarakat Batak.
Kehadiran Mahasthavira dalam perjalanan hidupku sebagai seorang novice,
Ketika tiada sanak saudara di samping kanan-kiri,
Tiiada sahabat dan teman dalam suatu perjalanan spiritual,
Tiada kehadiran guru yang menegur ketika novice melakukan pelanggaran,
Tiada motivator yang menyemangati ketika novice jatuh terduduk dan terperosok,
Bagaikan pelita di tengah kegelapan,
Laksana setetes air di tengah gurun pasir,
Bak kayu terapung di tengah samudra yang luas dan bergelora.
Sekitar 10 tahun lalu itulah,
Novice mengenal sosok Mahasthavira,
Di rumah duka, dekat dengan tempat tinggal novice
Dan pertama kalinya novice bersama dengan Mahasthavira setiap hari,
Dari pagi sampai malam, dari awal sampai akhir mengantar perjalanan seorang ibu.
Menuju tempat peristirahatannya di alam semesta.
Di malam kembang itulah,
Ketika novice datang dan melihat anak-anak perempuan berlutut di kakimu,
Menangis kencang dan tidak mampu berkata,
Sementara mukamu, Mahasthavira, begitu santai, tenang, dan tidak tergoyahkan,
Novice terhenyak kaget lalu berganti dengan salut,
Bertambahlah satu pengalaman novice terhadap kehidupan,
Bertambahlah satu poin pengetahuan novice terhadap keyakinan pada Tri Ratna,
Sungguh luar biasa Mahasthavira, 
Sungguh salut aku padamu!!!
Dan di hari terakhir untuk kremasi,
Ketika semua anak perempuan tidak mampu lagi menahan tangisnya,
Ketika satu anak lelaki yang paling besar tidak mampu lagi mengikuti arus tradisi,
Mahasthavira bercerita panjang lebar tentang perbedaan agama Buddha dan tradisi rakyak Tionghoa,
Tentang pentingnya peranan anak lelaki di mata orang Tiongkok, 
Tentang pentingnya anak lelaki mengantar orang tua ke peristirahan terakhir,
Tentang pentingnya anak lelaki terbesar membawa foto, abu, dan menyalakan api,
Seketika anak terbesar yang telah menjadi rohaniwan agama lain, terketuk hatinya,
Ia lalu menangis, bernamaskara di depan jenazah ibunya,
Kemudian disaksikan semua orang, ia menyalakan api untuk menyempurnakan ibunda.

Hilang rasa malu,
Hilang rasa takut bersalah,
Hilang rasa gelisah,
Hilang semua bentuk keakuan.
Rohaniwan di hadapan jemaatnya, mengalahkan egonya dan mengikuti tradisinya.
Bukan karena kebodohan batin,
Bukan karena keterpaksaan,
Bukan karena kelemahan imannya,
Namun karena bertambahnya satu kebijaksanaan,
dan itu adalah pengetahuan yang diberikan oleh seorang Mahasthavira.

Sungguh indah bagi novice pengalaman ini,
Menggetarkan batin novice yang masih bingung membedakan prinsip dan keakuan,
Menguatkan batin novice yang sedang gundah melaksanakan teori dan praktek,
Menginspirasi pikiran novice akan pentingnya sraddha yang dibarengi prajna,
Memotivasi kehidupan novice untuk tidak pernah berhenti dalam pembelajaran.
Menyadarkan novice pentingnya kesabaran saat menghadapi kemarahan dari luar.
Dua hari lalu, tanggal 8 Mei 2017, Mahasthavira telah menyempurnakan paraminya di kehidupan sekarang sebagai seorang Vajrasagara.
Mahasthavira telah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna dalam kelahiran sekarang sebagai seorang praktisi Dharma,
Mahasthavira telah melengkapi kehidupannya dengan pengetahuan, teori dan praktek,
Kini saatnya Mahasthavira melanjutkan perjalanan menuju stasiun berikutnya.
Kini saatnya mengucapkan terima kasih dan selamat jalan kepada Mahasthavira.
Tiada untaian bunga yang dapat kupersembahkan untuk Mahasthavira,
Tiada untaian kata yang dapat kuucapkan untuk Mahasthavira,
Selain tulisan ini yang mengingatkan novice pada Mahasthavira,
Novice hari ini tumbuh berkembang, karena kebijaksanaan dari Mahasthavira.
Namaskara untuk Mahasthavira….
Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
Semoga Mahasthavira selalu berada di jalan Bodhisattva.
Bogor, 10.05.2017
Carya
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: