Catatan harian si pengembara dalam samsara

Archive for May, 2017

Ahok dan Aku

Monkey mind:
Dimanapun seorang bodhisattva berdiam, ia akan selalu menjadi berkah bagi makhluk lain.
Ia tidak pernah gentar dan takut menghadapi situasi apapun.
Raungannya seperti raungan singa yang akan menggetarkan alam semesta.
Berbahagialah bila dapat bertemu dengan bodhisattva tersebut dalam kelahiran kita.
Be happy all !
Be wise…
Happy Vesakh 2017 !
Bodhisattva, tubuhnya boleh terpenjara dunia, tapi tidak dengan batinnya.
Semangatnya  terus bergelora, memancar ke semua penjuru,
Mengajak semua orang untuk bergandeng tangan,
Pekikan kemenangan dan kekalahan,
Tidak membuatnya goyah,
Semakin membakar, semakin meriah, dan semakin bergema.
Dan dia walaupun terpenjara fisiknya,
menembus batas segala suku bangsa, agama, pendidikan, budaya, atau apapun.
Hari ini ketika Rayuan Pulau Kelapa dinyanyikan,
Ketika Garuda Pancasila juga bergema di balai kota,
Ketika rakyat bersatu menyuarakan kebenaran, 
Air mata pun mengalir, 
Terharu, sedih, tidak rela, pahit…. semua rasa bercampur aduk.

Aku…
kalau aku jadi dia,
kayanya batinku gak kuat diobok-obok terus,
kayanya pikiranku gak jernih lagi kalau digoyang-goyang terus,
kayanya emosiku bakal meledak-meledak kalau dihantam terus,
kayanya semangatku juga padam kalau ditentang terus,
kayanya daya juangku juga melemah kalau dilempar batu terus,
dan sejuta perbedaan antara aku dan dia…

Dia masih bertahan,
Dia masih tersenyum,
Dia masih menenangkan,
Dia masih mengayomi,
Dia masih melindungi,
Dia masih tegar !!!
Luar biasa! Dua kata ini yang membuat aku menangis terharu,
Luar biasa! Dua kata ini yang membuat aku merangkapkan tangan di dada,
Luar biasa! Dua kata ini yang membuat aku membungkukkan badan menghormat,
Luar biasa! Dua kata ini yang membuat aku menundukkan kepala, kagum!
Semoga ia mencapai tujuan luhurnya,
Semoga ia selalu dilindungi,
Semoga ia selalu diberkahi,
Semoga ia dimaapkan oleh para haters nya
Banyak hal yang dapat dipelajari dari kasus ini:
Tiada satu orangpun yang luput dari kesalahan,
Jagalah ucapan, pikiran, dan perbuatan kita,
Minta maaplah bila bersalah,
Memaapkan orang yang bersalah kepada kita,
Teruslah berbuat baik apapun yang terjadi,
Jangan pernah berhenti berharap
Kecewa boleh tapi tetap lakukan hal yang positif (padus bareng di balai kota)
Bukan doa nya yang gak manjur, namun pasti ada hal lain di balik suatu peristiwa,
Selalu ada hikmah di balik semua kejadian seburuk apapun,
Mempertahankan kebenaran tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetaplah berjuang!
Simpati akan menyatukan segala perbedaan,
Penjara tidak akan mematikan pikiran dan kreatifitas,
Surga dan neraka bukan ditentukan oleh manusia,
Dan banyak lagi pembelajaran lainnya…
Semoga kita semua dapat segera merealisasikan jalan.
Semoga batin kita selalu bersinar untuk semua makhluk!
Bogor, 10.05.2017
Carya

 

Advertisements

Selamat Melanjutkan Perjalanan Y.M. Mahasthavira, Vajrasagara

Mahasthavira…
Pertemuan kita mungkin tidak terlalu sering,
Tidak ada kata-kata, tidak ada percakapan, tidak ada candaan,
Hanya sekedar salam, sapaan, dan senyuman saja.
Itu karena Mahasthavira tampak diam dan bersahaja,
Tambah lagi banyak kisah-kisah hidup Mahasthavira yang saya dengar,
Membuat saya takut terhadap Mahasthavira… 
Segan tepatnya… karena Mahasthavira sosok yang tidak tergoyahkan,
Yang dapat menggoncangkan hati ayahanda, sebagai rohaniwan di masyarakat Batak.
Kehadiran Mahasthavira dalam perjalanan hidupku sebagai seorang novice,
Ketika tiada sanak saudara di samping kanan-kiri,
Tiiada sahabat dan teman dalam suatu perjalanan spiritual,
Tiada kehadiran guru yang menegur ketika novice melakukan pelanggaran,
Tiada motivator yang menyemangati ketika novice jatuh terduduk dan terperosok,
Bagaikan pelita di tengah kegelapan,
Laksana setetes air di tengah gurun pasir,
Bak kayu terapung di tengah samudra yang luas dan bergelora.
Sekitar 10 tahun lalu itulah,
Novice mengenal sosok Mahasthavira,
Di rumah duka, dekat dengan tempat tinggal novice
Dan pertama kalinya novice bersama dengan Mahasthavira setiap hari,
Dari pagi sampai malam, dari awal sampai akhir mengantar perjalanan seorang ibu.
Menuju tempat peristirahatannya di alam semesta.
Di malam kembang itulah,
Ketika novice datang dan melihat anak-anak perempuan berlutut di kakimu,
Menangis kencang dan tidak mampu berkata,
Sementara mukamu, Mahasthavira, begitu santai, tenang, dan tidak tergoyahkan,
Novice terhenyak kaget lalu berganti dengan salut,
Bertambahlah satu pengalaman novice terhadap kehidupan,
Bertambahlah satu poin pengetahuan novice terhadap keyakinan pada Tri Ratna,
Sungguh luar biasa Mahasthavira, 
Sungguh salut aku padamu!!!
Dan di hari terakhir untuk kremasi,
Ketika semua anak perempuan tidak mampu lagi menahan tangisnya,
Ketika satu anak lelaki yang paling besar tidak mampu lagi mengikuti arus tradisi,
Mahasthavira bercerita panjang lebar tentang perbedaan agama Buddha dan tradisi rakyak Tionghoa,
Tentang pentingnya peranan anak lelaki di mata orang Tiongkok, 
Tentang pentingnya anak lelaki mengantar orang tua ke peristirahan terakhir,
Tentang pentingnya anak lelaki terbesar membawa foto, abu, dan menyalakan api,
Seketika anak terbesar yang telah menjadi rohaniwan agama lain, terketuk hatinya,
Ia lalu menangis, bernamaskara di depan jenazah ibunya,
Kemudian disaksikan semua orang, ia menyalakan api untuk menyempurnakan ibunda.

Hilang rasa malu,
Hilang rasa takut bersalah,
Hilang rasa gelisah,
Hilang semua bentuk keakuan.
Rohaniwan di hadapan jemaatnya, mengalahkan egonya dan mengikuti tradisinya.
Bukan karena kebodohan batin,
Bukan karena keterpaksaan,
Bukan karena kelemahan imannya,
Namun karena bertambahnya satu kebijaksanaan,
dan itu adalah pengetahuan yang diberikan oleh seorang Mahasthavira.

Sungguh indah bagi novice pengalaman ini,
Menggetarkan batin novice yang masih bingung membedakan prinsip dan keakuan,
Menguatkan batin novice yang sedang gundah melaksanakan teori dan praktek,
Menginspirasi pikiran novice akan pentingnya sraddha yang dibarengi prajna,
Memotivasi kehidupan novice untuk tidak pernah berhenti dalam pembelajaran.
Menyadarkan novice pentingnya kesabaran saat menghadapi kemarahan dari luar.
Dua hari lalu, tanggal 8 Mei 2017, Mahasthavira telah menyempurnakan paraminya di kehidupan sekarang sebagai seorang Vajrasagara.
Mahasthavira telah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna dalam kelahiran sekarang sebagai seorang praktisi Dharma,
Mahasthavira telah melengkapi kehidupannya dengan pengetahuan, teori dan praktek,
Kini saatnya Mahasthavira melanjutkan perjalanan menuju stasiun berikutnya.
Kini saatnya mengucapkan terima kasih dan selamat jalan kepada Mahasthavira.
Tiada untaian bunga yang dapat kupersembahkan untuk Mahasthavira,
Tiada untaian kata yang dapat kuucapkan untuk Mahasthavira,
Selain tulisan ini yang mengingatkan novice pada Mahasthavira,
Novice hari ini tumbuh berkembang, karena kebijaksanaan dari Mahasthavira.
Namaskara untuk Mahasthavira….
Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
Semoga Mahasthavira selalu berada di jalan Bodhisattva.
Bogor, 10.05.2017
Carya

Candi Muara Jambi

Akhirnya kemarin siang setelah sembahyang dan makan siang, gua mau juga diajak pergi ke Candi Muara Jambi. Sebetulnya kalo ada pilihan, gua lebih seneng diam di dalam kamar aja, sendirian, sambil nunggu waktu jam 19. Tapi karena gua liat muka yang ngajak kayanya niat banget, ya OK lah gua pergi. Sebetulnya agak sedikit malas, selain panas banget, juga rasanya cape banget. Pengen tidur panjang. Tapi ya sudahlah, mungkin ada pembelajaran yang lain hari ini.
Kemarin di Damri Bogor-Jakarta, gua ketemu ama ibu yang kerja di Dep. Kehutanan. Keren banget si ibu tahu percis semua jenis hewan padahal dia bukan peneliti hewan. Berhubung kerjaan si ibu berkaitan dengan ekosistem, mau gak mau dia juga ikut kenal ama hewan-hewan yang tinggal di hutan. Seru banget waktu cerita dikejar komodo rame-rame terus pontang-panting cari pohon bercabang untuk menghindari serangan komodo. Wah pokoknya, jiwa petualang kudu ada deh dalam diri si ibu. 😀
Di Candi, gua lihat musium dulu. Biasa lah kepo juga lihat kanan kiri, tanya ini-itu, sampai akhirnya gua jalan menuju candi. Ternyata bangunan candinya banyak banget. Hahahaha…. dan gua lihat ukirannya, halus banget. Keren banget beneran. Apalagi denger cerita tour guide kalau candi ini dulunya kemungkinan besar adalah universitas buddhis terbesar ke dua setelah Nalanda India. Rasanya, jadi kangen balik lagi ke India.
Muncul satu pertanyaan kepo kepada tour guide saat menuruni jembatan kayu, apa ada penampakan-penampakan di sini. Tahu-tahu tangan gua ditarik kencang banget ke belakang. Sakiiitt!!! Eh di kaki jembatan, ada anak ular hitam lari ke bawah jembatan. “Sudah suhu, jangan dibicarakan lagi!” “Siap, Pak!” Akhirnya diam-diam kita pergi melanjutkan perjalanan dan percakapan berpindah dari satu candi ke candi yang lain namun hati dan pikiran gua masih melekat pada anak ular hitam itu.
Sekarang gua udah di Bogor, tapi pikiran gua masih setengah di Candi Muara Jambi. Ternyata gua lama di sana, sekitar 2 jam. Itu pun gua merasa cuma lihat sebentar doang, belum selesai. Gua kapan-kapan balik lagi, buat baca semua tulisan di dalam musium dan melihat ukiran-ukiran arca lebih jelas. Rasanya ada sesuatu yang menarik hati gua untuk balik lagi ke sana.
Pulang dari Candi, begitu buka FB, muncul foto Guru Dagpo… ooowww sudah lama sekali ya aku meninggalkan beliau. Sekarang sudah tampak tua namun tetap masih sama tatapan mata dan senyumnya itu. Muncul rasa kangen, pada beliau, pada ajaran, pada Mahayana, pada ajaran luhur, pada bodhicitta, pada guru-guru besar, pada kehidupan masa lalu. Hmmmm…… sekarang bertemu pun, ternyata jodohnya sesaat.
Bogor, 04.05.2017
Carya

Waisak Bersama Sangha Mahayana Indonesia 01.05.2017

Tahun ini aku dipilih Ketum, Waketum, dan Sekjen SMI jadi ketua pelaksana Waisak SMI 2017. Hiks…. makin hari makin dipikir bebanku berasa makin berat. Aku udah gak sanggup lagi. Rasanya pengen banget mengundurkan diri terus kabur pergi ke bulan, balik lagi nanti pas liburan sekolah supaya langsung refreshing.  Huhuhu… Tapi itu adalah sesuatu yang gak mungkin banget terjadi karena semua orang nunjuk aku dan mereka bilang, cuma kamu doang yang belum kebagian. Apaaaannnn tuuuhh?? Ini kan bukan piala bergilir… hiks hiks hiks…
Semakin dekat hari semakin aku sering marah-marah, ngomel-ngomel ama panitia juga yang sebagian besar orang Mahasi. Pertama, karena aku lagi stres ngomong di atas panggung di depan anggota sangha yang begitu banyak. Huhuhuhuhuhu…. Kedua, kepikiran terus ama alasan pertama. Ketiga, makan tidur kerja pun jadi gak enak gara-gara mikirin nomor satu. Beneran sumpah, aku gak mau banget naik panggung ngomong di atas podium. Kalau disuruh kerja apa juga aku bisa kerjain dah. Tapi yang satu ini ????? Hiiikkkkkssssss…. mati enggan hidup pun enggan.
Aku menyiapkan hati setiap hari 24 jam. Tapi tetap gak siap juga. Panitia kupercayakan pada tiap koor sie dan wakil ketua. Aku yakin seh mereka bisa kerja semua karena semua pengurus emang udah bisa kerja di vihara masing-masing. Cuma dalam hal ini,  aku cuma takut ama diri aku sendiri, aku cuma khawatir ama diri aku sendiri. Boooo… ngomong itu sesuatu yang menakutkan buat aku. Karena aku sering ngomong kecepatan, kedua karena kecepatan jadi ngomongnya gak jelas. Parno banget dah. Jadi menyiapkan hati, pikiran, dan lidah biar sinkron itu bener-bener butuh waktu banyak.
Bersyukur panitia semuanya kerja dengan baik di hari H walaupun aku sempat ngomel-ngomel sama beberapa orang. Mereka jadi tempat sampah aku seh sebetulnya. Hihihi… maapken aku ya… yang tahu kelemahanku kan cuma aku sendiri. Kalian gak ada yang tahu dan gak akan percaya kalau aku kasih tahu. Tapi ini benar-benar realita, ku gak sanggup ngomong pelan di depan umum.
Pas naik panggung, haiz… aku berusaha terus untuk menyeimbangkan otak dan lidah serta mata dan pikiran. Entah dah apa kata orang, aku berusaha semaksimal mungkin supaya bisa ngomong selambat dan sejelas mungkin dengan intonasi wajar. Hihihi… aku berjuang mati-matian. AC ruangan yang dingin pun terasa panas di atas panggung. Kalimat-kalimat yang harusnya pendek itu berasa jadi panjang banget. Haizzzzz…. sampai kapan bacaan ini selesai tah… rasanya gak habis-habis. Hihihihi…
Kulihat dari atas, suhu senyum, wasekjen senyum, sekjen juga senyum…. wah, lega rasanya. Berasa kaya ketemu keluarga, berasa seperti gak sedang dihukum, berasa cuma jadi EO doang. Beban seperti hilang begitu saja melihat mereka menertawakan aku wkwkwkwks, aku jadi merasa nyaman, gak tegang lagi, rasanya ini gak jadi acara formal walaupun ada orang Dirjen Bimas Buddha, suasana jadi seperti informal di mana kita bisa bercanda-canda sendiri. Hihihiiiii… terima kasih buat suhu-suhu semuanya.
Hari ini aku senang banget, karena beberapa suhu bilang acaranya sukses dan banyak umat juga bilang begitu. Aku senang karena panitia tetap kerja keras dan tahan omelan aku (aku kalau ngomel itu dahsyat terus gak liat tempat, orang, dan situasi wkwkwkwk.. bener-bener dari hati yang paling dalam aku minta maaf banget ama panitia). Maapken aku yang masih manusia biasa.
Selesai acara, aku cari suhu buat mengucapkan terima kasih. Kesempatan ini membuat aku sadar diri bahwa aku masih jauh dari sempurna dan mesti belajar banyak hal. Aku gak cermat, aku gak teliti, aku masih kurang tulus membantu orang, aku masih gak profesional dalam mengerjakan banyak hal. Banyak hal yang aku abaikan seperti briefing singkat dengan penerima tamu dan donatur, jubah yang akan dipakai, rundown acara dalam bentuk email… dan banyak lagi. Aku malas urus detail begitu tapi justru yang detail itu yang penting karena bisa bikin acara besar jadi sempurna. Aku lalai dalam hal ini. Thanks suhu sekali lagi.
Aku kemudian cari sukong karena kehadiran beliau membuat aku berasa jadi dewasa. Aku bukan anak kecil lagi. Aku kudu berjuang, berusaha, dan memperbaiki diri. Kehadiran beliau membuat aku jadi mikir panjang dan gak sensi lagi karena seperti satu dorongan, satu dukungan, satu motivasi biar aku lebih berjuang lagi. Ini baru awal !
Aku kemudian cari semua acarya, ada 3. Terima kasih karena sudah maksa aku jadi ketua pelaksana. Gak ada paksaan tersebut, aku yakin gak ada pengalaman di hari ini. Gak ada emosi-emosi muncak di hari ini, gak ada usaha untuk menyelaraskan antara mata-mulut-dan pikiran serta hati. Aku tetap seperti anak kecebong yang pernah berusaha untuk jadi seekor katak. Wkwkwkwks.. benar-benar terima kasih suhu-suhu!
Yang terakhir aku terimakasih untuk pantia, donatur, volunteer, dan hadirin sekalian. Tanpa kalian, aku gak terima sanjungan. Tanpa kalian, aku gak dapat karpet merah. Tanpa kalian, aku bukan siapa-siapa. Kita adalah team. Kesuksesan aku berarti kesuksesan team, kesuksesan semua, kesuksesan bersama. We are one.. we are family!!
Tema Waisak SMI tahun ini: “Dengan semangat Waisak kita tingkatkan toleransi dan kerukunan demi tercapainya perdamaian”. Semoga di tahun mendatang seluruh panitia bekerja lebih baik lagi. Terima kasih untuk dukunga, bantuan, dan kehadiran Anda semua.
“Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia
Sungguh sulit kehidupan manusia,
Sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar,
Begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.”
Semoga kita semua dapat memanfaatkan tubuh manusia di kelahiran sekarang ini dengan sebaik-baiknya. Semoga kita selamanya berada di jalan bodhisattva.
Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
Amituofo.
Terima kasih untuk seluruh Pengurus dan anggota Sangha Mahayana Indonesia, dan anggota sangha sekalian. Terima kasih untuk kehadiran Pak Caliyadi dan Pak Suwanto juga.

Jakarta, 01.05.2017
Grand Mercure Hotel, Kemayoran
Carya