Catatan harian si pengembara dalam samsara

07.03.2017


 

Lorong itu panjang, pekat, gelap, dan hitam. Aku tahu suatu saat aku akan berjalan di dalamnya. Aku akan melangkah di dalam lorong tersebut. Sendirian. Jauh. Tiada akhir. Tanpa siapapun. Perjalanan yang harus aku lewati suatu saat.
Mau tidak mau, suka tidak suka, aku tidak punya pilihan lain. Lorong itu meski tidak menakutkan dan tidak mengerikan namun rasanya begitu dingin, menusuk tulang, dan tidak ada kehangatan. Sepertinya lorong itu adalah lorong penghubung, namun entah apa. Mungkin penghubung antara satu kelahiran dengan kelahiran yang lain, bisa juga penghubung kesedihan dan kebahagiaan atau sebaliknya. Yang pasti lorong itu tidak mengundang aku untuk memasukinya namun aku tahu suatu saat aku harus masuk ke dalam lubang itu.
Sepertinya itu akan menjadi lubang perjalanan hidup seseorang ketika kematian tiba. Ketika nafas seseorang putus karena jantung berhenti berdetak, di saat itulah seseorang akan memasuki lubang panjang, hitam, dan pekat tersebut. Tidak ada harta yang dapat dibawa, tidak ada teman yang dapat dituntun, tidak ada saudara yang akan menemani. Semuanya sendirian, gelap, dan tidak ada cahaya. Semuanya tidak terlihat.
Membayangkan hal ini, rasanya aku menjadi sesak nafas. Bila boleh memohon, bolehkah aku tidak melalui lubang tersebut? Bila boleh meminta, bolehkah aku tidak usah melewati kegelapan dan kesendirian itu? Bila dikabulkan, bolehkah semua orang yang aku kasihi juga tidak perlu melewati lubang tersebut? Bisakah? Mungkinkah? Kepada siapa aku boleh meminta? Kepada siapa aku boleh memohon? Kepada siapa?????
Apakah setitik kebajikan yang pernah dilakukan di dunia tidak cukup untuk menjadi cahaya dalam perjalanan kematian? Apakah setitik kebajikan yang pernah dilakukan di dunia tidak cukup untuk menjadi sahabat dalam perjalanan kematian? Apakah setitik kebajikan yang pernah dilakukan di dunia tidak cukup untuk menjadi penyelamat saat kita menuju pada kematian? Mengapa harus ada pengadilan? Mengapa harus ada hukuman? Mengapa harus ada surga dan neraka? Mengapa harus ada pembedaan? Mengapa harus ada semua itu? Tidak bolehkah mereka dimaafkan dan diberikan jalan yang sama dengan orang-orang yang dianggap bajik itu?
Lubang itu dingin. Lubang itu jauh. Lubang itu gelap. Lubang itu pekat. Lubang itu senyap, seperti masuk ke dalam sesuatu yang hampa, kosong, tiada makna. Lubang itu sepertinya menunggu satu per satu untuk berjalan memasukinya. Tanpa arah petunjuk yang jelas. Tanpa ada seorangpun yang mampu menolong dirinya sendiri.
Lubang itu ingin kubuang jauh-jauh. Lubang itu ingin kutendang jauh-jauh. Lubang itu ingin kusingkirkan jauh-jauh. Lubang itu ingin kulempar sejauh-jauhnya. Tapi aku tidak berdaya, aku tidak berdaya…. Aku tidak berdaya… L
Lubang itu ada di sana. Jauh. Dan aku sudah mengantar banyak orang melewati lubang tersebut. Apakah mereka bahagia? Apakah mereka dalam kedamaian? Apakah mereka benar sendirian? Apakah mereka benar menemukan kehidupan baru? Apakah mereka tidak saling melihat dan mengenalkan diri? Ataukah mereka hidup dalam ketakutan, kegelisahan, kecemasan, dan ketidakpastian?
Aku hidup dalam kecemasan. Aku hidup dalam ketakutan. Aku hidup dalam kegelisahan. Berapa banyak lagi orang yang akan kuantar untuk melewati lubang tersebut sampai aku sendiri melewatinya dan tidak pernah kembali lagi pada kehidupan saat ini ? 😦 😦 😦
Pertanyaan ‘mengapa orang harus mengalami kematian’ terus bergema dalam hati. Membahas kematian itu sama seperti menorehkan ujung pisau yang sangat tajam ke tangan kiri yang jelas tidak berdaya. Menggores bagian yang pernah terluka, yang lukanya sekarang sudah tertutup rapat. Dalamnya masih bernanah. Dalamnya masih berair. Digores dengan ujung pisau yang tajam dan berdarah. Tangan itu adalah tangan yang tidak berdaya. Tangan yang tidak dapat melawan kehendak alam semesta, tangan yang tidak dapat melakukan apapun juga karena ia sudah terluka saat dilukai.
Sakit. Hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati saat ini. Bisakah kau berhenti menggoreskan ujung pisau ini? Bisakah kau berhenti mengetahui apa isi di balik darah ini? Tolong. Aku sakit. Sangat sakit.
Kematian itu seperti kelopak-kelopak bunga yang berguguran. Satu. Satu. Satu. Satu. Pohonnya meskipun tegak berdiri, usia kelopaknya berbeda.
Sama seperti alam semesta ini dan manusia. Alam semesta berdiri tegak sementara anak manusia tiap hari berguguran satu per satu menuju tanah, menuju alam semesta. Aku tidak berdaya. Satu per satu pergi meninggalkan aku. Satu per satu pergi meninggalkan kehidupan. Satu per satu pergi meninggalkan alam manusia menuju alam semesta. Menuju kekekalan, menuju sesuatu yang pasti yaitu kematian.
Dan mataku hanya bisa memandang dari kejauhan tanpa bisa melakukan apapun. Dan aku hanya bisa menangis di dalam hati sambil membiarkan satu per satu pergi meninggalkanku. Satu per satu hilang dari pandanganku. Satu per satu hilang dari kehidupanku. Aku tidak rela, aku tidak suka dengan perpisahan ini. Aku benci dengan perpisahan seperti ini. Begitu mencekam. Begitu menakutkan. Aku sungguh tidak mau !!!
Siapa yang mau membahas kematian denganku? Siapa yang mau membahas kematian saat kita sedang bahagia? Siapa yang mau membahas kematian di saat kita sedang tidak mengalami sakratul maut? Bahkan di saat nafas tinggal satu per satu pun banyak orang masih tidak ingin membahas tentang kematiannya. Hampir semuanya tidak mau mendengar tentang perjalanan kematiannya.
Hidup seperti misteri, seperti lingkaran yang terus berputar dalam pusaran yang tiada akhir dan tiada ujung. Aku masuk dalam arus tersebut. Dan aku sangat tidak berdaya. Aku masuk… masuk… dan masuk… dan tersedot semakin dalam. Aku masuk terus ke dalam dan semakin masuk, masuk … dan tidak sempat lagi mata ini melihat ke kanan – ke kiri hanya untuk mencari sahabat di dalam arus misteri lingkaran tersebut.
Seperti itukah kelahiran yang berakhir dengan kematian? Seperti masuk dalam pusaran arus? Seperti terbang melayang di udara yang hampa? Seperti penyedot debu yang dijalankan hanya untuk menarik kotoran-kotoran kecil? Di mana ujungnya? Di mana akhirnya? Di mana?
Lelah. Aku lelah. Aku capai. Aku lelah dengan pikiran-pikiran liar ini. Aku menyebutnya dengan pikiran monyet. Pikiran monyetku terus berkeliaran, sangat liar, dan sulit dikendalikan. Sepertinya ia berhenti sesaat ketika aku duduk mengamati nafas yang keluar dan masuk dari hidungku. Tidak usah lagi banyak bicara. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan.
Hanya konsentrasi pada tarikan nafas keluar dan masuk. Seperti menarik pikiran liar kembali ke sarangnya. Seperti menarik pikiran monyet kembali ke kandangnya. Meskipun masih liar namun tidak terbang terlalu jauh. Tidak terlau menghayal dan tidak terlalu banyak bertanya.
Sepertinya gambar air hujan yang menetes membasahi bunga ini begitu deras. Tidak membahayakan. Kelopak bunga berwarna-warni seperti kehidupan tiap anak manusia yang berbeda-beda. Semua saling melengkapi, semua indah, semua memiliki makna. Kelopak bunga tergantung di atas sana, meskipun kena hujan dan angin ia tetap tergantung. Mengayun mengikuti gerak alam. Tidak patah, tetap bertahan karena waktunya belum tiba.
Batangnya entah berujung di mana. Bunga tergantung di sana. Tidak ada yang tahu darimana ia berasal. Seperti kehidupan manusia, entah siapa yang menjadi penguasanya, tidak terlihat… tapi hidup manusia nyata, ada dan terasa. Menggantung, tergantung, dan tidak tahu siapa pemilik kehidupan ini sebenarnya.
Air hujan membuat hatiku lapang. Air hujan turun ke bumi. Pikiran-pikiran yang kacau seperti turun ke bumi. Pikiran-pikiran yang liar jatuh ke bawah. Serasa aku sedang bermain air hujan, segar. Serasa aku seperti ada di bawah langit yang juga sedang berduka. Serasa seperti aku mempunyai teman, karena air hujan itu sepertinya mempunyai irama yang indah. Irama yang tidak dapat didengar oleh siapapun. Irama kehidupan yang akan terus mengalun mengiringi perjalanan hidup tiap anak manusia sampai kelopak-kelopaknya berguguran satu persatu ke bawah, yang tiada dasarnya.
Saya tidak mau masuk lebih dalam lagi. Saya takut sakit.
Carya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: