Catatan harian si pengembara dalam samsara

Mandala Pertamaku


Dua minggu lalu kayanya pengen banget mulai buat mandala buat nutupin pintu kaca tujuannya. Supaya gak banyak yang ngintip-ngintip kalau lewat depan pintu gua. Soalna gua pengen banget ada privacy di dalam ruangan. Terus kepikiran lah bikin mandala yang gede pake karton manila putih. Udah gua gambar ternyata belum sempat diwarna. Baru Kamis kemarin lah gua bawa pulang supaya kewarna. Soale kalau taruh di kantor terus pasti gak akan selesai dah. 🙂
Pas udah mulai siap mewarna, baru keingat suasana lagi bareng di kelas art nya Prof., ada yang pasang musik. Jadi kemarin malam gua niatin banget setel lagu relaxing piano flute pake HP. Mantap banget dah rasanya, mana makin lama makin malam kan. Dan suara ombak yang keluar dari lagu plus piano campur flute makin merasa semakin menyentuh lubuk hati terdalam.
Feel yang gua dapat dari lagu malah senyap, senyi, sendiri, hampa, sedih, dan yang dipikirkan adalah diam di pinggir pantai menatap matahari senja di mana orang-orang sudah selesai berpesta dan siap bubar. Hanya ada sedikit orang saja yang lalu lalang di sana, itu pun karena mereka bingung mau ke mana setelah matahari menghilang. Feel yang semakin lama semakin dalam, apalagi saat flute masuk dengan irama yang tiba-tiba melengking tinggi. Gak serilek yang gua bayangin ternyata ini batin.
Neh akhirnya muncul juga si warna. 
DSC_0546
Dan lihat gambar dengan warna ini plus instrumen yang diputar, hati semakin berasa jauh dari hal yang ingin diraih. Sepertinya semua mimpi indah yang sering muncul dalam tidur, hanya akan menjadi bunga mimpi. Jauh dari kenyataan dan jauh dari keadaan. Ada pelangi, ada burung, ada ikan, ada pohon, dan harusnya ada kesempurnaan.
Feel yang muncul: seperti mengharap sesuatu yang tidak akan pernah akan terjadi. Seperti mengharap sesuatu yang tidak akan pernah muncul. Seperti mengharap sesuatu yang tidak akan pernah ditemui. Seperti mengharap sesuatu yang tidak pernah ada ujungnya. Seperti mengharap sesuatu yang tidak pernah ada endingnya. Seperti mengharap sesuatu yang tidak pernah ada hasilnya.
Sekarang sudah senja. Sekarang sudah menjelang malam. Sekarang sudah menuju kegelapan. Sekarang sudah saatnya harus pulang. Tidak ada lagi yang perlu dilakukan. Tidak ada lagi yang kudu diharapkan. Tidak ada lagi yang perlu ditunggu. Tidak ada lagi yang perlu disesali.
Sedihnya seperti itu: seperti yang tidak ada lagi hari esok, seperti tidak ada lagi  matahari bersinar di keesokan hari… maka sebaiknya kita nikmati perjalanan hati ini sekarang juga, saat ini, di momen ini. Tidak usah berpikir ke mana-mana lagi. Karena semuanya akan segera berlalu. Nikmati saja. Meskipun menyedihkan, perpisahan tetap akan menjadi akhir dari suatu pertemuan.
Bogor, 07.04.2017
Carya, 20:18:20
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: