Catatan harian si pengembara dalam samsara

Mimpi Tadi Malam


Gua diundang ke satu acara di satu vihara tapi gak tahu di mana. Begitu masuk ruangan ada umat yang tiba-tiba nangis mau meluk satu suhu. Gua baru sadar bahwa di sini sedang berlangsung pesta perpisahan. Suhu tersebut mau ninggalin vihara dan umatnya lagi sedih. Banyak umat dan suhu-suhu yang gak gua kenal. Sepertinya gua juga sering masuk vihara ini. Malah dalam hati gua ada bilang, kalau suhunya ada kalian malah jarang datang, suhunya mau pergi kalian malah tangisi. Aneh !
Terus suhu tersebut pergi naik mobil. Kami keluar lah antar dia. Eh ternyata vihara ini ada di atas gunung. Jalan di depan vihara ternyata kanan kirinya jurang. Suhu tersebut udah masuk mobil tapi si mobil malah mau jalan mundur bukan putar balik. Wow… gua lupa siapa yang kasih tahu, akhirnya si sopir muter kepala mobil jadi arahnya normal, menghadap jalan bukan disetir mobil. Pergilah dia dengan aman.
Nah gua juga mau pergi dong. Gua naik mobil lah ama suhu yang bandung. Sama kaya suhu tadi, sopir mobil ini gak mau puter balik si mobil. Dia tetap maksa mobil jalannya mundur. Nah jalanannya kecil dan berkelok-kelok, mana tinggi lagi di atas gunung, gua gak yakin bakal selamat lah.
Bener juga yang gua bilang, gak lama begitu ada turunan si mobil udah gak bisa dikuasai lagi. Ia langsung meluncur mundur. Cepat banget! Wow! Gua nengok ke belakang, wah yang keliatan bukan jalanan tapi pucuk-pucuk pohon yang tinggi. Terus ujung belakang mulai gak di aspal, start lah journey kami melayang di udara. Sungguh! Kami melayang di udara sama si mobil dan sopirnya.
Gua langsung bilang ama suhu bandung: udah saatnya kita nian fo. Yang lain gak usah dipikirin. Gua mulai dah nian fo, dan gua udah gak tahu apa yang terjadi dengan pohon-pohon, tetangga di samping bangku, sopir di depan gua, atau si mobil ini. Gua terus nian fo. Gua udah pasrahin semuanya. Gua lepasin semua beban dalam pikiran. Sebebas-bebasnya. Karena gua tahu, waktu gua tinggal hitungan menit aja.
Udah beberapa saat nian fo, gua bingung kok ini mobil gak berhenti-berhenti ya. Aneh juga. Gua jadi buka mata. Eh… kok kami gak nabrak pohon-pohon. Kayanya ada yang pilih jalan yang kudu dilewati. Tahu-tahu ujung belakang mobil kena aspal yang ada di bawah gunung, terus mobil meluncur lagi di aspal. Cuma perasaan takut jadi muncul begitu di aspal. Soale semua bentuk jadi kelihatan. Ada becak, orang, sungai, rumah, dan yang lupa gak keingat. Pokoknya gua berasa rame banget lah. Dan seram banget!
Mobil berhenti juga akhirnya. Gua langsung kabur turun masuk vihara lain. Gua bangun dah. Eh ternyata cuma mimpi. Itu mimpi gua tadi malam. Mungkin karena semalam gua habis nulis Personal PD ya tentang si gunung. Wkwkwkwks…. Kalau benar mobil bisa jalan mundur, gua yakin dah semua orang udah tabrakan. Orang aja gak mampu jalan mundur apalagi mobil yang cuma mengandalkan dua spion kanan kiri dan tengah. Ampun dah !
Ya satu hal yang gua pelajari, melepas itu gak segampang menulis artikel. Melepas itu gak segampang yang diucap di mulut. Melepas itu membutuhkan semangat. Melepas itu membutuhkan energi besar. Melepas itu…. berarti gak melihat gunung itu lagi sendirian. Hmmm… apa hubungannya ya…. xixixixi…
Bogor, 27.03.2017
Carya 07:01:40

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: