Catatan harian si pengembara dalam samsara


Sepertinya perjalanan ini akan membosankan, lalu melelahkan, dan terakhir menyebalkan. Pikiran ini yang terus muncul sehingga ada rasa malas untuk berangkat. Tapi… tetap harus berangkat. Gak ada pilihan lain. Hmm… andai ada pilihan lain…. gua mau tidur aja 10 hari, gak usah jalan-jalan, gak usah sembahyang, gak usah kemana-mana. Yang pasti gak usah keluar pintu.
Dalam perjalanan yang ternyata mengesankan ini, gua belajar banyak. Gua bersyukur dan berterima kasih karena ternyata gua telah hidup bareng-bareng dengan seorang bodhisattva. Selama ini semangat, jiwa besar, kerendahan hati, kedisiplinan, kemurahan hatinya… tidak tampak. Bukan karena beliau yang tidak terlihat, namun karena kekotoran batin dan kebodohan batin gua yang tebal sampai akhirnya tidak pernah menemukan kelebihannya. Dan bersyukur sekarang gua merasakannya.
Beliau adalah sukong gua, Dharmasagaro Mahasthavira. Terharu juga saat orang-orang meninggikan beliau, sampai-sampai gua menitikkan air mata saat menonton DVD film ultahnya dua tahun berturut-turut. Gua melihat sinar mukanya yang berseri-seri. Gua menangis, gua sedih… hmm, tepatnya sedih kali ya… ternyata selama ini gua gak pernah memandang beliau. Orang lain di seberang lautan begitu memuja beliau, tapi gua.. gua cuek-cuek aja. Haiz….. seperti anak durhaka ya. Hiks…
Jujur aja perasaan gua ngaduk-ngaduk terus. Antara sedih, senang, bangga, terharu, menyesal.. semua jadi satu. Dan.. gua mana pernah tahu, kalau akhirnya gua ada di samping beliau. ^_^ Enam tahun lebih gua di sini. Dari mulai diomelin, diajarin, dinasehatin, hiks…. dan gua sekarang benar-benar berterima kasih karena ada jodoh untuk berada di samping beliau.
Gak ada yang bisa gua katakan lagi.. yang pasti, gua terharu… dan speechless akhirnya.
Well, sebelum gua akhiri. Gua tulis sedikit di Monkey Mind gua tgl 6 Oktober 2016:
“Kekotoran batin yang tebal,
Membuat hal baik menjadi buruk,
Mengubah kebenaran menjadi kebohongan,
Menciptakan surga menjadi neraka,
Menyalahkan orang hebat menjadi rendah.

Kekotoran batin yang tebal,
Membuat mata jasmani tidak dapat melihat kebaikan makhluk lain,
Membuat cinta kasih menjadi kebencian,
Membuat keindahan menjadi keburukan.

Sudah saatnya kita merendahkan hati,
Sudah saatnya kita menekuk lutut dan memohon ajaran,
Sudah saatnya kita berlapang dada untuk melihat kesalahan diri sendiri,
dan tidak lagi mengukur kesalahan orang lain.

Karena ternyata, sumber masalah adalah diri sendiri.
Bukan dari saudara, teman, orang tua, atau tetangga.”

Semoga kalian tidak mengikuti kesalahan gua ya, tidak pernah melihat kebaikan orang lain, selalu melihat keburukan orang lain, dan akhirnya tidak sadar bahwa kekotoran batin yang tebal ini benar-benar menutup mata batin dan tidak mampu lagi melihat kebaikan dari seorang guru.
Mari kita berubah, mari kita menjadi manusia baru. Semoga kita selalu bertemu dengan para guru bijaksan dan ajaran yang mengarahkan kita pada pembebasan sejati.
Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
Bogor, 11.10.2016
Carya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: