Catatan harian si pengembara dalam samsara

Tata


Gadis itu terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit Siloam daerah Semanggi. Begitu aku menampakkan diri, ia langsung duduk di atas ranjangnya. Tersenyum. Matanya kuning sekali, beda dengan mata manusia sehat. Badannya sangat kurus. Aku tanya, apakah ia sudah makan. Ia jawab, sudah makan dan bisa makan. Aku datang karena gadis ini ingin bertemu dengan bhante atau suhu. Kebetulan aku baru beres isi di Dhammasukkha. Sehabis makan siang, naik mobillah kami ber-5 ke sini. Dia pikir aku suhu “….”. Aku jawab bukan. Dia masih tidak mengenaliku.
Aku memanfaatkan keyakinannya yang kuat kepada Triratna. Dengan mantra dan sutra yang dilantunkan, aku meminta si gadis untuk memperteguh keyakinan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Mengingat terus kebajikan-kebajikan yang pernah dilakukannya di masa lalu. Pertahankan kebahagiaan dari perasaan-perasaan yang muncul setelah berbuat baik. Jangan hadirkan pikiran gelisah, khawatir, dan cemas. Belajar untuk melepas… karena apapun yang berkondisi semuanya tidak kekal. Si gadis yang bernama Tata itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Dari tatapan matanya saya tahu kalau ia adalah gadis yang tegar dan pantang menyerah. Sosok yang membuat orang yang melihatnya ingin bangkit dari penderitaan. Kuat, sangat kuat. Bahkan mungkin mengalahkan kita semua yang masih sehat saat ini.
Akhirnya Tata ingat siapa aku setelah aku berbicara panjang lebar. “Suhu Xian Xing ya… ” Aku tersenyum.. Iya, ini aku datang setelah dari Dhammasukkha. Tata… you have to be strong. Aku baru akan meninggalkan ruangan saat tersadar bahwa perutnya sangat buncit. Amituofo, semoga karma-karma buruk di masa lalu nya segera lunas. Semoga batinnya memperoleh kesabaran dan ketabahan. Semoga keyakinannya pada Triratna semakin menguat. Hanya doa-doa itulah yang aku ucapkan di dalam hati. Itu semua terjadi di tanggal 24 April 2016 siang hari.
Sabtu kemarin, 5 Mei 2016 aku mendapat SMS dari ibu vihara. “Suhu, apakah sudah tahu? Tata sudah tidak lagi merasakan penderitaannya. Ia telah meninggal dunia kamis kemarin. Terima kasih atas bimbingan suhu kepada Tata”. Aku hanya sanggup membalas dengan satu kalimat, semoga keluarga Tata tabah. Terima kasih untuk semuanya. Itulah akhir perjalanan hidup seorang manusia di usia 30 an. Seorang yang enerjik, meninggalkan seorang anak balita dan suami yang sangat muda di usianya. Ia telah pergi menuju kehidupan yang lain, yang lebih sesuai dengan jodoh dan karmanya.
Selamat jalan, Tata… selamat melalui proses-proses kehidupan berikutnya sampai mencapai pantai bahagia. Semoga keyakinanmu pada Triratna tidak pernah luntur di manapun kau dilahirkan. Semoga karma-karma baikmu membuahkan kebaikan yang akan menjadi penyebab karma baik di kehidupan berikutnya. Terima kasih sudah mau membantu aku mengumpulkan akar-akar kebajikan untuk diriku sendiri. Semoga kita semua dapat menolong semua makhluk hidup tanpa batas, semoga kita semua dapat mencapai kebuddhaan.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Carya
Bogor 9 Mei 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: