Catatan harian si pengembara dalam samsara

Batu dan Riak Air


Malam ini seperti malam-malam kemarin, lewat dengan kesibukan yang sama. Nyaris terlupakan konsep latihan yang paling mendasar. Sepertinya sudah tidak ada lagi belas kasih atau cinta kasih yang diagungkan oleh para bodhisattva. Yang muncul percikan-percikan kemarahan, kekesalan, penderitaan, keakuan, kesombongan, keraguan, dan lain-lain. Semua menyatu seperti dingin dan panas beberapa bulan terakhir ini. Menyatu dalam ketidakjelasan, menyatu dalam kepekatan malam yang sebetulnya masih dapat dibilang samar-samar.
Manusia lahir untuk mati. We were born to die. Kalau begitu, kenapa kita harus saling membalas? Kenapa kita harus saling menyakiti? Kenapa harus saling mengelabui? Hmmm… lama-lama pertanyaan-perenungan seperti ini hilang. Karena fisik lebih lelah daripada batin, padahal sebenarnya batin lebih lelah daripada fisik. Samar… samar … dan semakin samar… bercampur dalam rutinitas yang tidak jelas. Katanya untuk kebahagiaan makhluk lain… namun endingnya, merasa diri sendiri yang paling menderita dibandingkan makhluk-makhluk lain yang dianggap menderita.
Fitnah, ucapan di belakan, gosip, prasangka negatif, celaan semuanya terjadi di belakang. Mengapa jarang ada orang yang gentle.. mengatakannya di depan orangnya langsung? Aku? Aku pilih yang kasar, langsung disampaikan di depan orangnya langsung. Mengapa? Kejam? Tidak… ! Sama sekali tidak. Sahabat yang baik adalah sahabat yang dapat menyampaikan keburukan dan kelemahan sahabatnya di depan kita, bukan yang terus memuji kita… namun ia yang dapat memberitahu kelemahan kita sehingga kita dapat mengubah diri, memperbaiki diri, dan menjadi baik. Aku hanya ingin mnejadi sahabat yang baik bagi setiap orang. 
Biarkan orang menghujat aku dari belakang, semoga aku dapat menerimanya. Biarkan orang mencela aku dari belakang, semoga aku sabar menghadapinya. biarkan orang menghina aku dari belakang, semoga aku tabah mendengarnya. Biarkan orang membenci aku tanpa alasan, semoga aku tidak membalasnya. Biarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan, semoga mereka memperoleh kesabaran, kebijaksanaan dan kesempatan untuk menyadari kesalahannya.
Aku sendiri… aku belajar seperti batu yang dilempar ke dalam air. Aku belajar menjadi  air yang dilempar batu. Riaknya tetap ada, riaknya tetap bergelombang di sekitar batu, melingkar dan membesar membesar… membesar… namun hilang. Semoga aku dapat bertahan seperti air itu. Walaupun dilempar batu sebesar apapun, airnya tetap tenang dan membuat orang yang melihatnya bahagia.
Semoga aku memiliki kesabaran itu. Semgoa aku sanggup menghadapinya. Semoga mereka yang belum berkesadaran, dapat segera menemukan kesadaran. Semoga mereka yang baru setengah berkesadaran, dapat segera meraih jalan utamanya. Semoga mereka yang telah menuju kesadaran, semakin meningkatkan kesadarannya. Semoga mereka yang sudah mencapai kesadaran, dapat memanfaatkan kesadarannya demi semua makhluk.
Semoga semua makhluk hidup bahagia. Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.
Xing
Bogor 09th May 2016

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: