Catatan harian si pengembara dalam samsara


Sudah lulus 26 tahun tapi kebanggaan jadi alumni Aloysius semakin kuat. Mungkin karena teman-teman berkumpul kembali dan membuat grup di WA baik grup per kelas maupun per angkatan. Bangga karena pernah jadi bagian dari sekolah favorit di jaman dulu. Senang karena sekarang bisa berkumpul kembali bersama teman-teman.
Gua ingat buku DEWA, Di sini Aku Menjadi Dewasa. Mungkin itulah akhir dari masa remaja, di mana kita sebagai siswa kelas III harus memutuskan langkah berikutnya untuk menuju masa depan. Sudah tidak bisa lagi ber haha hihi, sudah tidak bisa lagi main-main karena pilihan waktu itu kuliah dan di mana serta jurusan apa atau langsung kerja terus nikah. Fiiuuhhh… kalau mengingat masa SMA III itu, kayanya lebih banyak tegangnya daripada enjoy nya.
Hmm.. ingat waktu kelas II SMA. Rambut dipotong pendek ala Demi Moor, tapi di paling belakang sisa ekor yang panjang-panjang-panjang. Sengaja dikuncir, pake karet warna orange, atau hijau terang. Kunciran dimasukan ke dalam balik baju. Kalau di kelas, kepala dijaga sedemikian rupa supaya gak bergerak-gerak. Kalau pun terpaksa harus bergerak, maka satu badan ikutan gerak juga. Hahaha…. kaya robot. Dan kayanya aneh di mata para guru. Satu-satu ketahuan. Kena gunting hahaha. Gue punya kunciran yang paling akhir ketahuan. Itupun sudah aman berbulan-bulan. Semua orang udah cengar cengir. Kalau ada razia rambut di kelas sebelah, bocor sudah kemana-mana. Kunciran di selip ke belakang telinga. Hahaha… tegang tapi seru. Gaya kayanya bisa ngerjain guru.
Hari itu, gua gak ngerti kenapa bisa ketahuan. Waktu itu pelajaran Menggambar sama Pak Prihadi. Pak Pri panggilannya, orangnya kalem banget. Kecil mungil, tapi suaranya bikin jantung kita lemes. Kebapakan banget. Beda ama Pak Ronald yang suaranya sudah menggelegar kemana-mana. Beliau tahu-tahu ada di dekat saya, terus bilang, “Mari ikut saya”. Sampai di kantor beliau, kepsek kita tuh, beliau bilang, coba dikeluarkan. Haha… gua masih menghindar. Terakhir gua keluarkan juga rambut gua, dan digunting sama beliau. Terus beliau ambil solatip, katanya, “Rambut ini dipajang di kaca sini ya, biar saya ingat terus sama kamu si pemilik rambut panjang”. Haddeeuhh… malu. Bapak bilang, kamu ini tampangnya baik banget, di kelas juga diam-diam, gak tahunya begitu ya. Haaaiizzzzz…. udah deh langsung bertobat. Hahaha
Well.. sekarang sudah lewat berpuluh tahun. Ada kerinduan akan masa SMA. Ada memori indah di sana. Bagaimanapun juga, I’m proud of becoming one of the alumn ST. ALOYSIUS Bandung.
Semoga, saya bisa membalas jasa para guru semua.😀
Terima kasih untuk semua kenangan indah saat SMA.
Semoga semua makhluk hidup bahagia.
Carya.
1 Mei 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: