Catatan harian si pengembara dalam samsara

Bermanfaat dalam keluarga


Ceramah kemarin di Pluit Dhammasukkha tanggal 24 April 2016 adalah mengenai empat hal yang dilakukan bodhisattva. Bodhisattva bukan berarti berkarya pada masyarakat luas saja. Bodhisattva juga wajib berkarya dalam keluarga inti, pada suami atau istri, anak, orang tua, mertua, pembantu, atasan, tetangga, sampai kepada semua makhluk. Di mana ada kesempatan berbuat baik, maka di situlah bodhisattva akan melatih dirinya.
Hal pertama adalah berdana. Berdana melalui ucapan, pikiran, dan perbuatan. Semuanya ditujukan untuk kebahagiaan semua makhluk. Bukan untuk kesenangan diri sendiri, melainkan usaha untuk membuat semua makhluk lepas dari penderitaan. Berdana sudah sering kita lakukan. Maka saat berada bersama anak, kita juga harus menanamkan sifat berdana pada anak-anak. Berdana dengan pikiran artinya mau membagi ilmu, bila teman bertanya tentang pelajaran dan kita lebih memahami, kita bantu jelaskan. Jangan pelit juga meminjamkan buku catatan. Berdana bentuk materi, sampai berdana dharma… kalau bisa dilakukan, mengapa tidak?
Hal kedua adalah mengucapkan kata-kata yang membuat pendengarnya senang, termotivasi, terdorong untuk terus melakukan kebaikan. Kata-kata yang indah belum tentu benar. Kita harus mengucapkan kata-kata yang baik dan bijak, namun tidak membohongi si pendengar. Diucapkan dengan tulus dan benar-benar sesuai dengan kenyataan. Pada anak, istri, keluarga inti. Banyak orang yang senang memuji-muji orang lain, tapi menghina-hina keluarganya sendiri. Ada orang yang memperhatikan orang lain, tapi pada keluarga sendiri cuek-cuekan. Ada bagusnya mulai sekarang kita belajar berubah. Kalau memang pantas dipuji… kita puji. Kalau memang harus ditegur, berikan kata-kata yang mudah dicerna, memotivasi, dan tidak kasar.
Hal ketiga adalah perbuatan, tindakan. Tindakan harus hati-hati. Masih banyak gesture tubuh kita yang tidak membuat orang sekitar kita nyaman. Misalnya saat acara keluarga, kita sibuk terus main HP. Saat anak atau pasangan mengajak bicara, mata kita tetap saja fokus pada layar Android. Saat anak mengajak mamanya berbincang dan bertanya terus-menerus, mama langsung darah tinggi dan membentak anak. Hal-hal seperti inilah yang harus kita perhatikan dalam rumah tangga. Jangan sampai diluaran nama kita harum, tapi di dalam rumah tangga morat-marit. Dingin, tiada keharmonisan. Bukan itu yang diharapkan oleh Buddha. Tatapan mata bila perlu antar keluarga inti. Hal ini dapat menambah keharmonisan keluarga Anda.
Yang keempat adalah menjadikan diri kita sesuai dengan kebutuhan orang lain. Seperti Avalokitesvara Bodhisattva yang siap membantu siapapun yang menderita dan dalam bentuk apapun. Intinya kita harus melepas ego, jangan mempertahankan ego. Mengalir seperti air. Bila yang dibutuhkan seorang pembantu, kita menjadi pembantunya. Kalau yang dibutuhkan tukang masak, kita menjadi tukang masaknya. Jika yang dibutuhkan seorang motivator, kita menjadi motivatornya. Jika yang dibutuhkan seorang penceramah, maka kita lah yang maju untuk melakukan sharing dharma.
Sederhana kan? Mari kita coba dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga tercinta. Jadilah bodhisattva dalam rumah tangga sendiri !! Selamat berjuang….
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Bogor, 25.04.2016
Carya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: