Catatan harian si pengembara dalam samsara


Menjadi satu bagian dari keluarga Bhiksu Dharmasagaro merupakan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri buatku. Aku panggil beliau sukong. Sudah enam tahun aku tinggal bersama beliau di Vihara Vajrabodhi, Bogor. Banyak suka-duka yang aku alami dalam enam tahun bersama beliau. Ada kalanya aku dipuji, ada kalanya aku dimarahi, ada kalanya aku dinasihati, dan ada kalanya aku disalahkan. Itu semua menjadi bagian yang tidak akan terlupakan dalam hidupku.
Tahun ini, usia beliau menginjak 71. Sangha Mahayana Indonesia membuat pesta Ulang tahun sebagai penghargaan atas jasa beliau mendirikan Sangha Mahayana Indonesia. Buatku,  beliau menjadi pendiri atau bukan adalah urusan lain. Secara pribadi, aku menjadikan momen ini  sebagai kesempatan langka untuk mengabdi kepada beliau, sebagai guru, kakek guru, teman diskusi, sahabat, dan penasihat. Bila bukan sekarang aku berbakti, belum tentu kesempatan ini akan datang lagi di hari esok. Dan aku ingin melakukan sesuatu yang lebih untuk beliau sebagai ucapan terima kasihku selama enam tahun ini.
Suhu Ting Hai yang kupanggil sukong adalah sosok yang begitu sangat sederhana. Di mataku, kesederhanaan ini begitu sulit untuk diteladani. Sederhana dalam makanan, sederhana dalam tindakan, bahkan sederhana dalam ucapan. Begitu sederhananya, sampai-sampai aku tidak mencerna apa yang beliau maksudkan. Pikiran beliau tidak sederhana. Pikiran beliau begitu jauh ke depan. Begitu banyak pengetahuan yang dimilikinya. Itu semua tidak terucapkan. Hanya muncul bila ada orang yang banyak bertanya. Begitu sederhananya, sampai mungkin sedikit orang yang tahu, betapa bijaksananya beliau.
Satu kalimat yang membuat aku terdiam saat aku mengadu panjang lebar tahun lalu sekitar bulan Oktober adalah 難行能行 (nan xing neng xing). Sejak itu, aku tidak pernah lagi mengadu hal apapun juga. Rugi. Itulah satu kata yang dapat kucerna. Untuk apa aku mempermasalahkan urusan duniawi yang hanya membesarkan ego? Aku harus bertahan. Aku tahu, kapal ini sedang mencoba berlayar menuju pantai seberang. Aku juga tahu, kapal ini sering kali diombang-ambing oleh perasaan-perasaan. Aku juga tahu, aku sering kali tidak berdaya menghadapi ombak kehidupan yang tiba-tiba menerpa. Aku juga tahu, aku sering kali masih ingin menengok ke belakang.
Dharmasagaro adalah nama beliau. Selain sederhana, beliau sangat baik hati. Beliau bukan orang kejam, bukan orang yang suka mengada-ada, bukan orang yang berteriak tanpa alasan. Beliau tidak pernah menolak untuk membantu orang lain. Hatinya lemah bukan karena tidak tegas, melainkan karena beliau sangat welas asih. Sulit bertemu dengan orang seperti beliau. Sulit bertemu orang dengan kepribadian yang luar biasa seperti beliau. Dan hanya orang-orang yang dekat beliaulah yang tahu, betapa lemahnya hati beliau.
Semangat beliau luar biasa. Aku tidak sebanding dengan beliau walaupun aku lebih muda. Aku sering bermalas-malasan. Beliau membaca buku, membaca koran, membaca apapun juga yang bisa dibaca. Aku salut dengan beliau. Pertanyaan apapun bisa dijawab oleh beliau. Lancar dengan semua penjelasannya yang sangat lengkap. Dari sejarah masa lalu sampai perkembangan apapun di masa kini. Siapa yang bisa menyaingi beliau? Hmmm…. aku tidak sanggup.
Aku ingat saat aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekitar 15 tahun. Tidak sadar aku bengong dan  tidak sadar di depanku ada beliau yang sedang duduk tepat di depanku, di ruang tamu di lantai 5 Vihara Dharmasagara. Saat itu beliau sengaja datang berkunjung ke vihara. Tidak ada siapapun kecuali aku. Aku cuma ingat pesan suhu, kalau sukong datang bawa ke lantai 5. Maka aku bawa beliau naik ke lantai 5. Tiba-tiba ada suara Beliau, kencang, “Kok bengong”. Itu yang membuat aku sampai hari ini tidak pernah menjadi orang yang bengong lagi. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu apa yang harus aku jalankan. Aku tahu apa yang harus kerjakan. Rasanya saat itu, beliau tahu apa yang sedang kurasakan, beliau tahu apa yang sedang kupikirkan, beliau tahu apa yang harus ditunjukkannya padaku. Teriakan itu seperti pukulan palu di kepalaku. Membuat mataku berkaca-kaca saat itu… sama seperti sekarang saat aku mengenang kembali masa itu. 
Setelah hari itu, beliau sering menelepon menanyakan keadaan vihara. Everything is OK. Everything is done well. Pernah sekali waktu beliau datang berkunjung kembali, tidak mau naik ke lantai 5. Langsung berjalan menuju tempat abu. Sebelum sampai tempat abu, beliau berhenti, kemudian mengangkat piring meja yang ada di atas meja sembahyang, dicoleknya bagian belakang. Aku tersenyum…beliau diam. All is well. Aku sangat bersih, aku tidak akan melewatkan setiap kotoran pun untuk tampil di depanku.🙂
Saat beliau sakit di Singapore, aku ada di sana. Bersama beliau beberapa hari, di rumah sakit dan setelah perawatan. Aku ingat saat beliau mengusir aku keluar dari kamar, Xian Xing keluar! Hahaha… semua orang menertawakan aku. Ya, beliau mau ke toilet. Aku segera keluar dan masuk setelah dipanggil. Ada kenangan yang tidak terlupakan. Ada kenangan yang tidak terucapkan, hanya bisa dirasakan… dan itu sudah berlalu. Dan banyak lagi hal-hal yang tidak dapat lagi dituangkan dalam tulisan, karena terlalu dalam dan terlalu berkesan untuk sekedar digoreskan dalam blog ini.
Sukong, Selamat Ulang Tahun… semoga panjang umur. Semoga tabah dan tegar dalam menghadapi penyakit badan jasmani. _/|\_
Namo Bhaisajyaguru Buddhaya, Namo Bhaisajyaguru Buddhaya, Namo Bhaisajyaguru Buddhaya!
Doa ini, yang bisa kami lantunkan, cucu-cucu muridmu di altar Buddha:
師公上定下海長老法體安康。長久住世。大轉法輪回向。正法久住。世界和平。人民安泰。皈依三寶
Bogor, 19.04.2016
Carya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: