Catatan harian si pengembara dalam samsara


Vihara Zen River, Belanda sungguh asri. Tiba malam hari, disambut oleh angin yang super kencang. Rasanya ingin sekali hati ini membuat baling-baling bambu sehingga dapat membuat koper dan tubuh ini segera masuk ke dalam ruangan yang hangat.😀😀😀 Namun kenyataannya, aku hanyalah manusia biasa yang harus berjalan kaki malam-malam, sambil menarik koper baju menuju pintu yang jauh di sana, yang tidak terlihat sama sekali… dimanakah pintunya berada..  :p Aku asyik memandang langkah kaki ke bawah, karena takut terantuk bebatuan sambil menahan rasa dingin yang luar biasa sambil mata sesekali memandang jauh ke depan, dan berpikir… “mana sih pintunya… kok gak sampai-sampai!” hahaha….😀
Tinggal dalam vihara Zen River dua malam, di kamar yang pas untuk ukuran satu orang, dengan heater yang membuat hangat tubuh ini, amboi… aku menikmatinya. Berasa seperti anak kost. Tidur juga nyenyak, walaupun tidak mandi sudah selama beberapa hari. Ya malas, ya dingin, ya tidak ada waktu. Tapi jujur, malas seh lebih dominan. Hahaha….
Budaya Jepang memang luar biasa. Terus memberikan penghormatan, baik saat bertemu, saat akan diberikan makanan, saat mengawali dan mengakhiri meditasi, saat melakukan ritual, termasuk saat melap meja setelah makan… sungguh luar biasa. Jangankan  untuk membungkukkan badan, mengingat ritual untuk membuka serbet makan saja susahnya luar biasa. Ada tiga mangkuk di dalamnya, satu sendok makan, dan satu sumpit. Semua ditumpuk, dan dibungkus dengan serbet yang diikat dengan simpul yang seharusnya berbentuk daun teratai, simbol kesucian, kebijaksanaan. Sayang, aku gak bisa buatnya jadi cuma simpul basa-basi yang penting kencang.
Bangun pagi jam 5 subuh, bersih-bersih, kemudian disiapkan kopi atau teh sebelum mengawal zazen (3 sesi) pukul 05.30 sampai 07.30. Duduk menghadap luar, jalan, duduk menghadap tembok. Menghadap luar, menghadap altar, menghadap manusia-manusia lain. Menghadapi problem, menghadapi situasi, menghadapi masyarakat, karena kita adalah makhluk sosial. Menghadap ke dalam, berarti melihat ke dalam diri sendiri, melihat ke dalam batin sendiri, memperhatikan diri sendiri, fokus pada kerisauan diri sendiri, artinya tidak mengamati orang lain. Demikianlah hidup seseorang, seharusnya ia dapat membagi waktu antara orang lain dan diri nya sendiri, sehingga diri sendiri ada pencapaian, dan juga bermanfaat juga untuk makhluk lain.
Chanting 07.30 sampai pukul 08.00 di main shrine. Berbahasa Inggris, menyentuh kedalaman hati. Nada-nada yang dilantunkan, membuat si pendengar bertanya-tanya, siapakah aku yang sedang berada di sini. Siapakah aku yang sedang melihat ke teks-teks sutra ini. Hmm.. siapakah aku? Suara ikan kayu yang dipukul, membuat semakin indah suara yang didengar. Akankah berakhir kedamaian ini? Akankah berakhir ketenangan ini? Akankah berakhir karma-karma baik ini?
Selesai chanting sekitar 20 menit, kami kembali ke ruang meditasi untuk sarapan dengan kondisi meditasi. Tanpa suara, tanpa hayalan, tanpa teriakan, hanya tenang, rileks, menyuap dan menelan. Menghayati semua rasa makanan yang masuk melalui mulut. Luar biasa… luar biasa. Dan ritual makan ini dilakukan bersama-sama 30 orang dalam satu ruangan yang remang, hening, namun damai. Ada filosofi mengapa menaruh sendok makan di dalam mangkuk harus menghadap ke dalam, dan pada saat menyuap makanan, posisi sendok dari arah depan bukan menyamping seperti yang biasa kita lakukan. Pendapat dari Master adalah Buddha yang memberikan makanan ini maka sendok ini dari arah depan karena Buddha yang menyuapkan makanan ini untuk tubuh kita.
Doa yang diucapkan bersama sebelum makan adalah Meal Gatha: “Buddha was born at Kapilavastu, enlightened at Magadha, taught at Paranasi, entered Nirvana at Kusinagara. Now I open Buddha Tathagata’s eating bowls; may we be relieved from self-clinging, with all sentient being. Kemudian, pujian-pujian kepada para Buddha dan bodhisattva. Lima perenungan yang bisa kita lakukan juga setiap kali akan mengawali makan:
1. Seventy-two labours brought us this food, we should know how it comes to us.
2. As we receive this offering, we should consider whether our virtue and practice deserve it.
3. As we desire the natural order of mind to be free from clinging, we must be free from greed.
4. To support our life we take this food.
5. To attain our way we take this food.
Doa tambahan untuk makan siang adalah: 1) this food is for the Three Treasures, 2) It is for our teachers, parents, nation, and all sentient beings, 3)it is for all beings in the six worlds, thus we eat this food with everyone. We eat to stop all evil, to practice good. To save all sentient beings, and to accomplish our Buddha Way.
Kegiatan terus berlanjut sesuai jadwal, ada waktunya bekerja, ada waktunya beristirahat, ada waktunya coffee break, ada waktunya diskusi dharma. Semua harus dilakukan dengan kesadaran dan tanpa kegelisahan. Benar-benar santai, senyaman mungkin. Karena tujuan pelatihan diri adalah mencapai kondisi bahagia. Bahagia yang tentunya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Bahagia yang harus dirasakan oleh diri sendiri, dan hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri.
Kekuatan karma baik yang hadir lagi untuk kesekian kalinya. Kesadaran yang tiba-tiba muncul, mengapa kita harus membeda-bedakan seseorang karena jubahnya atau karena tradisinya. Pada akhirnya, pencapaian adalah milik perorangan, bukan karena ia tradisi Cina maka ia mencapai pencerahan, atau bukan karena ia turunan bangsawan maka ia mencapai pencerahan, bukan karena ia dari suku tertentu maka ia mencapai pencerahan, bukan karena ia murid dari guru ternama maka ia mencapai pencerahan. Semuanya bukan… bukan.. Pencerahan adalah usaha yang giat, yang terus-menerus, yang konsisten, yang berkelanjutan, yang gigih, dan pada saat waktunya tiba.. semua akan indah pada waktunya. Itulah pencerahan.
Terima kasih kepada para guru,  teman-teman pejuang dharma, donatur, penyokong spiritual, semuanya. Tanpa kalian, tidak ada aku hari ini. Tanpa kalian, tidak ada aku yang hadir dalam ruang meditasi ini untuk mempelajari dharma yang tiada taranya. Bagaikan seorang buta yang tiba-tiba mendapat penglihatan, semuanya serba terang, serba jelas, juga serba mengharukan hati. 
Special thanks to Suhu Xue Liang, yang sudah memberikan support kepada saya, sampai hari ini… meskipun hanya berkomunikasi lewat short messages. Ini sangat membantu saya dalam menumbuhkan keyakinan. 
Agar berbeda ritual yang dilakukan di River Zen Temple dengan Fo Guang Shan Monastery, walaupun sama-sama beraliran Zen. River Zen berdasarkan silsilah Chao Tung (Soto) sementara Fo Guang Monastery silsilah Lin Ci (Rinzai). Kami, di Indonesia, berasal dari silsilah Lin Ci. Jadi 3 hari ini merupakan pembelajaran yang luar biasa karena memiliki kesempatan mempelajari silsilah Soto dengan zazen dan koan “無 atau 悟“ nya untuk mengheningkan pikiran kita. Kembali ke prinsip…. just relax and sit…. It’s wonderful, isn’t it?
Carya. 12.12.2015.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: