Catatan harian si pengembara dalam samsara

Membaca Abjad


Luar biasa sekali pengalaman hari ini menurutku. Permintaan dari Vihara di Parung Panjang sebetulnya mudah, hanya mengajarkan tata cara kebaktian Mahayana. Jam 07.50 aku dan 3 orang umat Vihara Vajrabodhi berangkat menuju Parung Panjang. Sayangnya, jalanan kampung tidak dapat kami lewati terus karena kami sama sekali buta di jalanan. Hehehe… Akhirnya pilihan kembali ke jalan tol Bogor-Serpong. Intinya sih cari aman, karena dulu juga lewat tol waktu ke Parung Panjang.

Sesampainya di vihara Simpak sudah menjelang 13.00. Janjinya jam 10 tapi ternyata molor hingga jam 1 siang. Mohon maap lahir batin kepada para umat yang tetap setia menunggu kami datang walalupun mungkin kelaparan karena lewat jam makan siang. Hiks…. tapi yang pasti 4,5 jam nyetir itu bikin pinggang dan kaki pegel.

Buku Amitabha Sutra sudah disiapkan, demikian pula dengan alat-alat sembahyang. Aku menjelaskan mengapa ada orang yang ingin membaca Sutra Amitabha dan siapakah Amitabha Buddha. Setelah itu aku bertanya, apakah pernah membaca sutra Amitabha? Berapa orang yang pernah membaca sutra ini? Tiba-tiba ada ibu yang menyeletuk kalau beliau tidak bisa membaca. Hiks… di jaman 2015… masih ada yang tidak bisa membaca??????

Akhirnya aku tanya semua umat, siapa yang tidak bisa membaca sama sekali, yang sudah mengenal huruf tetapi masih lambat mengejanya, dan yang sudah lancar. Akhirnya muncul 3 kelompok. Aku memegang ibu-ibu yang belum mengenal abjad… ada 6 orang. Sisanya umat-umat Vajrabodhi yang mengajarkan cara membaca sutra Amitabha.

Aku berhadapan dengan 6 orang ibu, yang tertua 79 tahun, sisanya manula yang matanya pun tak cukup awas namun tetap semangat untuk kebaktian walaupun tidak bisa membaca. Hiks… Aku menulis di kertas huruf A-Z, dengan huruf besar dan kecil. Aku membagi seorang ibu sehelai kertas abjad. Kemudian kami membaca bersama. Tampak berbeda walaupun sama-sama belum pernah menginjak bangku sekolah. Ada yang percaya diri, ada yang tidak percaya diri, ada yang semangat, ada juga yang malu-malu. Akhirnya setelah membaca bersama, aku mengajarkan mereka bernyanyi lalu Abjad.. supaya saat mereka pulang ke rumah, ketika bentuk huruf lupa diingat, mereka tetap dapat membacanya dengan cara bernyanyi.

“ba bi bu be bo… ca ci cu ce co… da di du de do… fa fi fu fe fo…. ga gi gu ge go”

Terharu… terharu sekali.. aku bisa mengajarkan para manula membaca. Mereka bilang, miskin sekali jadi tidak bisa sekolah. Tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Mereka memiliki anak yang sudah sukses, sekarang mereka hanya mengurus cucu. Kalau dibentak anak, dimarahi suami… hanya bisa menangis, mengelus dada. Hu hu hu….😦  :(

Sebelum pulang, aku motivasi para ibu… jangan malu sama suhu. Tetap harus semangat, jangan bilang juga suhu harus sabar sama kalian… tapi kalian yang benar-benar harus sabar menghadapi diri sendiri. Suhu bisa sabar… tapi kalian yang harus ekstra sabar. Kalian yang harus saling mendukung, saling menyemangati saat ada temannya yang sudah frustrasi. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Jangan bilang bisanya hanya masak lalu mati terserah mau diapain. Tetap kita harus berjuang walaupun yang dihafalkan atau yang dapat diingat hanya sedikit. Kebijaksanaan adalah milik kita sendiri bukan milik orang lain. Ingat selalu apa kata-kata dari Hyang Buddha: “PEMENANG SEJATI ADALAH DIA YANG DAPAT MENGALAHKAN DIRINYA SENDIRI. BUKAN YANG DAPAT MENAKLUKAN SERIBU ORANG MUSUH”

Tetap semangat yang ibu-ibu….. Kudu….

Carya.
07.11.2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: