Catatan harian si pengembara dalam samsara

Live In


Pengalaman tiga hari ini dari tanggal 28 sampai hari ini 30 Oktober 2015 sungguh luar biasa. Tinggal bersama dalam komunitas petani organik di Bina Sarana Bakti Agatho Cisarua Pencak menjadikan pengalaman pertama yang tidak akan terlupakan. Berteman dengan suara jengkerik setiap malam, di tempat tidur sederhana di tengah lådäng. Menjadikan suasana damai tak terperi, yang tidak akan ditemukan di tengah pusat kota walaupun malam hari.

Tanah seluas 16 ha itu seperti surga di dunia. Anak-anak Permai kelas XI tinggal berama orang tua angkat mereka. Mereka bangun pagi, sarapan, pergi ladang, istirahat siang, kembali ke ladang, dan pulang ke rumah. Semua dilakukan bersama-sama dengen teman dan orang tua angkat mereka. Kehangatan, keramahan, dan penerimaan yang totalitas dari para petani membuat suasana sungguh menyenangkan. Rasanya seperti kembali pulang ke rumah, superti pulang ke keluarga masing-masing, seperti pulang ke keabadian.

Senyum tulus yang merekah setiap pagi, sapaan riang yang terdengar dari mulut para petani membuat kami betah tinggal di sana meskipun harus bekerja keras, bercucuran keringat untuk sepiring nasi dan lauk pauk sehari itu. Guru sejati yang tidak diperoleh di pendidikan formal. Guru sesungguhnya yang ada di alam semesta, yang mengajarkan tentang kesabaran, ketulusan, kerinduan, cinta kasih, semangat, konsentrasi, kebijaksanaan, kesederhanaan, penerimaan, kegigihan, keuletan, kesadaran, kekeluargaan, dan lain-lain yang tidak data disebutkan namun saat dirasakan, rasanya begitu hangat. Hangat yang menyelimuti diri yang penuh ketidaktahuan ini.

Air mata menetes melihat ketidakpekaan berubah menjadi kepedulian, kekerasan menjadi kelembutan, kekasaran menjadi cinta kasih, kejengkelan menjadi senyum riang gembira, kedangkalan pengalaman menjadi empati yang luar biasa… semua ada dalam 3 hair ini. Kegalauan yang berbeda dengan kegalauan yang ada di Jakarta. Tinggal bersama keluarga yang bukan keluarga, namun rasanya seperti keluarga. Keakraban yang sulit ditemukan di tempat lain. Tentunya, kita harus menghargai hari ini, kita harus bersyukur untuk hal ini, kita harus berterima kasih untuk semua yang terjadi saat ini.

Hai parents yang memiliki kekayaan duniawi… sesungguhnya anak-anak kalian merindukan kehangatan dalam rumah, merindukan teguran sapaan yang meneduhkan, merindukan kehadiran kalian yang sepenuhnya… tanpa uang, tanpa kemewahan, tanpa atribut duniawi. Mereka sungguh kesepian, mereka sungguh menderita, mereka sungguh menggelepar seperti ikan yang dijauhkan dari air laut.

Hai parents, mari mengubah diri menjadi lebih sederhana baik dalam berpikir, bertindak, maupun berucap. Mari sederhanakan keluarga kita, mari sederhanakan kebutuhan kita, mari sederhanakan rutinitas-rutinitas tidak jelas itu. Bagian terpenting dari hidup adalah menjalin jodoh yang sebaik-baiknya dengan orang-orang terdekat. Dengan keakraban, dengan saling bertegur-sapa, dengan saling melakukan aktifitas bersama-sama, dengan  makan bersama-sama, dengan menderita bersama. Mereka adalah bagian dari kehidupan mereka, bukan bagian dari mainan kehidupan kalian, di mana kalian seperti robot bagi anak-anak sendiri.

Semoga semua orang tua mampu menciptakan suasana kondusif dalam rumah tangga. Mari ciptakan Home Sweet Home bersama-sama sehingga kita semua menjadi pribadi yang sehat baik fisik maupun spiritual.

Bogor.
Carya. 30.10.2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: