Catatan harian si pengembara dalam samsara

Pengemis & Orang Kaya


Bila Anda ditanya, apa kriteria seseorang disebut pengemis, dan apa kriteria seseorang disebut orang kaya. Kebanyakan dari kita tentunya akan menjawab berdasarkan materi, orang miskin duitnya sedikit jadi tinggalnya pasti di rumah-rumah yang kumuh, makanan seadanya, baju juga kumel-kumel, yang pasti pendidikan ngasal, dan gak pernah jalan-jalan atau makan-makan di restaurant mewah. Kalau orang kaya, duitnya banyak, mau tidur ranjangnya empuk, pulang pergi naik mobil yang ada supirnya, tiap liburan naik turun pesawat, mainannya gadget, makannya di restaurant mewah dan yang pasti sering buang-buang makanan😀😀😀

Bila pertanyaan ini diajukan kepada sebagian kecil orang belum menjawab, mereka tentu akan melihat kaya dan miskin dari sudut spiritual. Orang kaya adalah orang yang bisa memberi, bisa berbagi, bisa bersedekah, sementara orang miskin adalah orang yang selalu ngarep, selalu minta, dan selalu diberi. Tangannya menghadap ke bawah kalau orang kaya sementara kalau orang miskin tangannya selalu menghadap ke atas😀😀😀

Suatu hari dalam perjalanan ke tempat bekerja, saya mendengarkan radio motivasi bagaimana seorang ayah yang kaya raya menyadari bahwa selama ini ia telah salah mendidik anaknya untuk menjadi seorang pengemis, tangannya selalu menghadap ke atas. Ia melakukan pembiaran ini sampai anaknya usia remaja, SMA. Sekarang ia telah sadar, bahwa bila ingin memiliki anak sukses maka ia harus mengubah cara mendidik anaknya. Ia harus belajar tega, dan tega. Ia harus merelakan anaknya “menderita”, dan ia harus membiarkan anaknya berjuang untuk membalikkan tangannya menjadi seorang pemberi.

Yang dikatakan ayah tersebut adalah, ia selalu membiarkan anaknya sedari kecil sampai remaja meminta-minta seperti mainan, buku, uang untuk jajan, baju, motor, helm baru, jaket baru, pulsa, HP baru, bahkan pacaran pun meminta uang bensin dari papa. Selama ini ia melakukan pembiaran ini dengan mengatasnamakan “CINTA”. Ternyata apa yang dilakukannya selama ini salah. Ia benar-benar menyadarinya setelah anak menjadi remaja. Apa yang akan terjadi dengan anakku bila ia masih berjiwa “meminta” setelah lulus kuliah nanti? Maka ia mengambil langkah cepat, untuk mendidik dan memotivasi anaknya menjadi seorang pemberi dan bukan peminta lagi.

Bapak-ibu, saudara-saudara, pembelajaran dari kisah ayah yang kaya ini harus kita petik. Bahwa kita sering mengatasnamakan cinta dan sayang kepada anak kemudian mendidik anak menjadi seorang “pengemis”. Sadarkan hai bapak ibu, bahwa karakter anak hari ini adalah hasil dari didikan Anda sendiri, bukan tetangga, bukan pembantu. Dengan menimbang hal ini, mari kita berubah.

Mari kita mengubah diri sendiri, agar jiwa pengemis dalam diri kita, selalu mengharap pemberian dari orang lain, selalu meminta dari orang lain… kita ganti dengan selalu berderma, selalu memberi, selalu bersedekah. Dengan demikian, kita menjadikan anak-anak kita seperti kita. Orang yang kaya, secara jasmani dan spiritua.

Menjadi orang tua tidaklah mudah, tetapi juga tidak sulit. Tinggal Anda sendiri yang menentukan, apakah Anda siap menghadapi perubahan? Sudahkan Anda siap menghadapi kemajuan? Kalo siap… Mari saatnya sekarang kita berubah.

Jia You….😀😀😀

Carya.
03.10.2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: