Catatan harian si pengembara dalam samsara


Donatus Lado Sogen, lahir pada tanggal 22 Juni 1980 di Desa Tenawahang Kecamatan Titihena Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur,Indonesia. Sebagian besar penduduk Desa Tenahawang bermata pencaharian sebagai petani. Hasil pertanian utamanya adalah kemiri dan kopi. Mayoritas agama yang dipeluk masyarakat di desa ini adalah Agama Katholik.

Don dilahirkan dari pasangan Bapak Paulus Bolo Sogen dan Ibu Agnes Ene Telar, keduanya adalah penganut Katholik yang taat. Ayahnya adalah juga seorang petani. Pada saat Don menginjak usia 3 tahun, ibunya meninggal dunia. Kemudian Don dirawat dan dibesarkan oleh bibinya (kakak perempuan dari ayahnya) sampai usia 17 tahun.

Sepeninggal ibunya, ayah Don memutuskan untuk merantau dan bekerja di Malaysia. Masa kecil Don tak bedanya dengan anak seusianya. Selain disibukkan dengan kegiatan sekolah, ia juga aktif mengikuti kegiatan gereja terutama paduan suara. Saat menginjak kelas 5 SD, Don kecil sering bertanya dalam hatinya “ Mengapa banyak anak-anak yang kehilangan ibu di saat mereka masih membutuhkan kasih sayang ?”. Hal ini sering ia tanyakan kepada guru dan pembimbing agamanya, namun jawaban yang ia peroleh selalu mengatakan bahwa ibunya meninggal dikarenakan dipanggil Tuhan, karena Tuhan lebih sayang kepada ibunya sehingga dipanggil duluan masuk surga.

Semakin hari pertanyaan-pertanyaan yang membuat gelisah batin Don semakin menjadi-jadi. Ia bahkan sempat berpikir apakah Tuhan tidak mempunyai ibu, sehingga tidak paham bagaimana rasanya kehilangan seorang ibu. Mengapa di dunia ini sangat banyak ketidakadilan. Mengapa ada orang cacat,mengapa ada orang miskin. Don merasa bahwa ia semakin jauh dari Tuhan. Ia merasa dirinya adalah seorang pemberontak.

“Kegelisahan menjadikan seseorang untuk bergerak. Keluar dari zona nyaman atau tidak nyaman menuju sesuatu yang mencerahkan. Pencerahan yang adalah akhir dari dukkha.” Buku yang merupakan kumpulan kisah-kisah kontemplasi pemikirannya yang ditulis Don semasa ia Kuliah. Dan diterbitkan saat ia telah menjadi seorang Samanera.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelayut di benaknya. Sangat sering Don berdiskusi dengan teman-temannya mencoba mencari jawaban atas kerisauannya tersebut. Keinginannya mencoba untuk memahami sosok Tuhan, membuatnya menjadi seorang pembaca yang serius. Berbagai buku mengenai agama, teologi, filsafat dan sejarah menjadi teman melewati hari-harinya. Karena kepiawaiannya dalam berdiskusi, banyak teman-temannya mengatakan bahwa Don sangat cocok untuk menjadi seorang Pastor.

Peluncuran Buku ‘Kegelisahan Sang Domba’ secara simbolis yang di lakukan di Vihara Mendut dihadiri oleh YM Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera.

Setelah menamatkan SMP, Don pindah ke Semarang karena ayah nya menetap di Semarang dan menikah lagi. Ia bersekolah di SMK Pariwisata Jayawisata Semarang. Masa-masa SMA merupakan penyesuaian bagi Don dengan lingkungan yang baru. Seperti remaja lainnya,hari-harinya diisi dengan kesibukan sekolah dan bergaul dengan teman-temannya.

Bertemu Dengan Dhamma

Setelah menyelesaikan SMA, Don belum memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Ia sempat bekerja di sebuah hotel di Semarang selama 2 tahun. Pada usia lebih kurang 22 tahun , tanpa sengaja saat sedang berada di toko buku Gramedia, ia melihat sebuah buku yang terpajang di rak buku dengan judul “Sebuah Buku Meditasi Bodhinyana” karangan Y.M Ajahn Chah. Yang menarik perhatiannya adalah sinopsis pada bagian belakang buku tersebut yang mengulas mengenai pikiran yang selalu gelisah, persis seperti kondisi yang dialaminya. Ia lalu memutuskan membeli buku tersebut.

Butuh waktu untuk memahami isi buku tersebut. Karena inilah pertama kalinya Don bersentuhan dengan istilah-istilah Buddhis. Seperti ikan yang bertemu dengan air, mungkin inilah kondisi Don saat itu. Ia seperti menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang merisaukan hatinya bertahun-tahun ini. Semenjak saat itu, ia mencoba mencari tahu lebih banyak mengenai Ajaran Buddha. Sebuah agama yang menurut guru-Nya dahulu adalah agama yang kuno. Kegemarannya akan membaca, membuatnya tak butuh waktu lama untuk dengan cepat memahami dasar-dasar Buddhis.

Setelah beberapa tahun menjadi samanera, iapun memilih untuk terus berjuang pada Buddha Dhamma dan Sangha. Samanera Donatus Lado Sogen Atthapiyo bersama tujuh samanera lain ditahbiskan menjadi Bhikkhu, di Uposataghara Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.

Akhirnya Don memberanikan diri untuk mendatangi sebuah vihara. Vihara yang didatanginya pertama kali adalah sebuah Vihara Mahayana yang bernama Pusdiklat Buddhis Bodhidarma Pakopen di Semarang. Setelah aktif selama beberapa saat,Don memutuskan untuk belajar secara intensif di pusdiklat tersebut. Ia memutuskan tinggal di pusdiklat tersebut selama lebih kurang 1,5 tahun.

Kegiatan baru Don tersebut tentulah membuat bingung keluarganya. Sebuah wawasan baru yang tak pernah mereka bayangkan akan terjadi kepada Don. Sempat terjadi ketegangan dalam keluarga akan pilihan Don untuk berpindah keyakinan. Namun setelah Don berhasil membujuk orang tuanya untuk bertemu pembimbingnya di pusdiklat yaitu Bhiksuni Xian Xing, akhirnya sikap orang tuanya mulai melunak. Namun keinginan Don untuk menjadi seorang bhikkhu yang saat itu diutarakan, langsung mendapatkan penolakan tegas.

Don kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 setelah 4 tahun berselang dari tamat SMA. Ia memilih jurusan Sastra Inggris di Universitas Katholik Soegijapranata Semarang, sesuai dengan kegemarannya akan membaca karya sastra. Selama kuliah Don aktif di Vihara Tanah Putih Semarang.

Tahun 2015 adalah tahun ke-13 setelah Don menemukan buku “Meditasi Bodhinyana” . 13 tahun pula ia telah mengenal Buddha Dhamma. Banyak kejadian yang makin memperkuat tekadnya untuk mantap menjadi seorang bhikkhu. Dalam rentang ini ibu tirinya meninggal dunia, ibu yang mengasuh (bibi Don) juga meninggal dunia. Beberapa teman yang usianya masih muda juga banyak yang meninggal. Dari beberapa kejadian ini Don merasakan betapa rapuhnya dirinya. Ia merasa kehilangan lagi orang-orang yang sangat ia cintai. Kemudian Don berpikir apabila ia tidak segera mengambil keputusan, maka suatu saat ia akan meninggal juga dengan praktek Dhamma yang tidak berkembang. Akhirnya dengan tekad bulat, Don memantapkan untuk menjadi seorang Bhikkhu, agar ia memiliki lingkungan yang mendukung untuk berpraktek Dhamma dan sekaligus hidupnya dapat lebih bermanfaat bagi Buddha Sasana.

Sabtu, 13 Juni 2015 bertempat di Uposataghara Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya setelah beberapa tahun menjadi samanera, Donatus Lado Sogen Atthapiyo bersama tujuh samanera lain ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Bhikkhu Don Atthapiyo adalah Bhikkhu Indonesia pertama yang berasal dari Flores.

Donatus Lado Sagen, Sang Domba yang gelisah itu nampaknya telah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini.

Sumber: Wawancara melalui pesan FB dengan Bhikkhu Atthapiyo

Sumber: segenggamdaun.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: