Catatan harian si pengembara dalam samsara

Pernikahan VS Perceraian


Sebulan terakhir ini, ada beberapa orang istri yang mencariku untuk bercerita tentang perasaan-perasaan yang muncul sehingga mengganggu kehidupan pribadi mereka. Akhir dari cerita mereka adalah perceraian merupakan jalan terakhir dan tampaknya mereka sudah tidak sanggup lagi melanjutkan pernikahan. Ada yang karena perbedaan agama, dan ada juga karena kebiasaan buruk suami.

Satu pertanyaan yang terlontar dari mulutku, spontan, dan membuat mereka terdiam dan berpikir sesaat: “Apakah kalian menikah karena cinta?” Diam sesaat menjadi tanda tanya besar untukku. Muncul banyak pertanyaan dalam benakku, ‘Mengapa harus terdiam sesaat?’ ‘Mengapa harus berpikir sesaat?’ ‘Mengapa harus tidak langsung menjawab?’ ‘Apakah benar cinta itu hilang?’ ‘Apakah cinta itu dari awal memang sudah tidak ada?’ ‘Apakah cinta itu tidak dapat bertahan?’ dan berjuta apakah-apakah yang lainnya yang jelas tidak akan ditemukan jawabannya karena aku hanya bertanya pada diriku sendiri.😀

Melihat mereka tidak langsung menjawab, akupun bertanya kembali, “Apakah kalian sewaktu menikah dulu, karena kebutuhan? Atau karena terbiasa? Atau karena kecocokan saat itu? Ataukah karena faktor usia?” Juga tidak terjawab pertanyaan ini.

Luar biasa menurutku…. mengapa harus tidak menjawab? Berarti mereka sendiri bingung, kenapa dulu harus menikah dengan pasangannya. What an unhappy couple in the end!!! Akhirnya aku menemukan jawaban, karena cocok waktu itu. Sayang? Ya… sayang. Aku jawab, maksudku cinta… karena cinta dan kasih sayang selalu akan memberikan maap kepada orang-orang yang dicintainya. Jangankan bilang manusia, anjing kesayangan mencakar kita pun, pintu maap selalu terbuka untuk anjing tercinta. Hehehehe…. apalagi dengan pasangan hidup, kecuali cinta dan sayang itu bukan landasan pernikahan kalian.

Well, akhirnya aku menarik kesimpulan. Dasar pernikahan ada 3: cinta, kasihan, kebiasaan bersama (seolah cocok) jadi malas cari orang ketiga. Kalau sudah demikian, jalani saja pernikahan sampai ujung kehidupan. Berikan selalu pintu maap kepada pasangan, berbesar hatilah, selalu melindungi-menjaga-memberikan perhatian penuh. Mudah-mudahan, perselisihan yang sudah meruncing akan berkurang, dan akhirnya hilang. Mudah-mudahan, ketidakcocokan yang selama ini membesar menjadi mengecil lalu menghilang. Mudah-mudahan pertengkaran, keributan yang selama ini mengiringi kalian bisa ter delete dari kehidupan kalian.

Keributan membuat kalian lebih mengenali pasangan. Pertengkaran membuat kalian lebih dewasa dalam membina pernikahan. Ketidakcocokan membuat kalian belajar bagaimana membuat pasangan bahagia. Bertahan dan terus bertahan. Belajar dan terus belajar. Sabar dan terus bersabar. Mengalah bukan berarti kalah. Menang bukan berarti pemenang. Pada intinya, ego dihilangkan atau dikurangi, maka keributan akan terhindar.

Cari kelebihan pasangan, atau hal-hal indah yang membuat kalian menyukai pasangan sehingga memutuskan menikah waktu itu. Jangan cari kelemahan atau kekurangan mereka. Mungkin saat ini yang terlihat adalah pasangan yang begitu egois, pemarah, tanpa perhitungan bisnis, dan pencemburu. Coba lihat cermin positif yang lain, ia tidak pernah mabuk, tidak pernah selingkuh, tanggung jawab pada keluarga walaupun kita anggap masih kurang, tidak pernah lupa doa, sayang pada orang tua, setia, dan rajin bekerja. Coba lihat ke atas dan ke bawah, lihat orang sekeliling kita, apakah ada orang yang benar sempurna bahagia?? Aku pastikan tidak ada.

Maka, hidup mengeluh sejam tidak ada gunanya… lebih baik belajar menerima apa adanya. Aku tahu sulit, karena cinta itu sudah tidak ada, sayang itu sudah hilang, benci yang muncul, ketidakpercayaan pada pasangan yang hadir. Tapi Anda harus bertekad untuk terus belajar menjadi istri yang sempurna bagi suami dan anak, atau suami yang sempurna bagi istri dan anak.

Sebelum menikah, bikin aturan-aturan main setelah pernikahan seperti tanggung jawab istri dan suami sejauh mana, siapa yang mendidik anak, siapa yang mengatur keuangan. Komunikasi setiap hari, isi dengan cerita, humor, dan selingan-selingan ringan. Komunikasi yang isinya sampah semua akan membuat pasangan malas, jijik dan illfeel. So guys, be smart… be a good partner….be a wise couple.

Semoga bermanfaat.

Carya, 10.09.2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: