Catatan harian si pengembara dalam samsara

When the night comes…


Lelah. Hanya satu kata yang dapat mewakili perasaan Tazi saat ini. Lelah yang amat sangat, yang membuatnya ingin pergi dari kehidupan ini. Namun, Tazi tidak tahu tempat mana yang dapat dikunjunginya selain dunia yang penuh dengan keringat dan air mata ini.

Tazi bukan sekali ini mengalami lelah yang amat sangat seperti sekarang ini. Beberapa tahun lalu, ia pun pernah mengalami hal yang sama. Bahkan lebih parah. Ia jenuh, ia muak, dan ia menjadi emosional. Apa yang dilihatnya salah, apa yang dirasanya salah, apa yang dilakukannya juga salah. Aku melihat Tazi juga kasihan, namun aku sendiri pun tak dapat menolongnya karena ia tidak pernah mengungkapkan masalah penatnya itu padaku.

Kejenuhan Tazi dalam kemacetan dan rutinitas ini tentunya juga dialami oleh kita semua. Tidak ada yang dapat mengatasinya selain diri kita sendiri. Namun, kita dapat melakukan kegiatan lain yang bermanfaat untuk mengurangi dan menghilangkan penat itu sendiri seperti melakukan hobi, atau olah raga yang membuat tubuh kita lelah sehingga penat itu berangsur-angsur berkurang.  Tazi, ia membiarkan dirinya hanyut dalam kepenatan dan kejenuhan itu, sampai penat dan jenuh itu mencapai puncak penat dan puncak jenuhnya sendiri. Hahaha…. self therapy mungkin, atau self healing?? Hanya dia yang tahu apa yang harus dilakukannya saat ini😀

Pagi itu aku mendengar lagu Ebiet dengan seksama. Lagu yang sering kudengar namun tidak pernah kusimak kata per kata. Muncul keinginan untuk membuat sepenggal kalimat dalam lagu ini dikenal banyak orang. Tujuannya hanya satu, agar kita selalu mawas diri dan semangat mengarungi kehidupan ini walaupun jenuh dan penat selalu mengikuti bayangan tubuh ini.

Akhirnya kutulis kata-kata tersebut dalam bentuk pesan yang kubagikan kepada semua orang yang kucintai, yang ada dalam daftar teleponku. Begini yang kutulis:

“Hai guys, slmt pagi

Kembali bekerja setelah liburan panjang tentunya sangat tidak menyenangkan. Kita hrs kembal pd rutinitas yg sering kali membuat kita lupa diri pada pelatihan kesabaran, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Rutinitas membuat kita lelah, jenuh, marah, dan kehilangan makna kehidupan itu sdr.

Barangkali kalimat yang kucomot dr lagu Ebiet ini dpt membuat mata hati kita selalu terjaga. “Aku tak mati dalam hidup, tapi aku hidup dalam hidup”. Aku hidup dalam kreativitas, aku hidup dalam semangat, aku hidup dalam kehidupanku.😀

Semangat pagi, semangat hari Senin, semangat berutinitas.

Carya, 23.03.2015″

Mohon maap teman-teman yang terpelajar bila penulisan bahasa Indonesia ku sangat parah. Hehehe…. Tiada maksud lain, hanya ingin memotivasi orang lain dan diri sendiri terutama, agar tetap hidup dalam hidup. Aku bukan mayat hidup, aku bukan mumi, aku bukan orang mati. Aku adalah manusia yang hidup dan memiliki semangat. Jia You, all …..

Carya, 24.03.2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: