Catatan harian si pengembara dalam samsara


Minggu 30 November 2014 aku diundang talk show bersama Y.M. Bhante Saddha Nyano. di Vihara Dharma Bakti Duta Mas Jelambar, untuk mengupas tema tentang lagu buddhis dan perkembangan spritual. Sungguh menyenangkan sekali dapat mendengar lagu-lagu buddhis yang menyentuh hati, yang dinyanyikan dengan penuh perasaan, diiringi oleh gu zheng maupun CD pengiring. Terima kasih untuk kesempatan yang langka ini, dan aku yakin hal ini tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya. Ya, karena kondisi pendengar, pembicara, panitia, pendukung acara, dan semua hal yang pasti berbeda meskipun diadakan untuk kedua atau ketiga kalinya.

Menurutku, untuk pemula yang baru menjalani jalan spiritual atau religius, tidak melihat dari latar belakang pendidikan, agama, budaya, dan suku bangsa, lagu-lagu buddhis sangat membantu kita dalam mengalahkan ego diri sendiri dan perasaan-perasaan negatif seperti kecewa, sedih, marah, depresi, menyesal. Setelah mendengar lagu-lagu tersebut, suasana hati kita akan berubah menjadi lebih lega, bahagia, dan memperoleh pencerahan karena kata-kata dalam lagu akan menjadi reminder bagi pendengar untuk selalu mengingat Buddha, Dharma, dan Sangha dalam setiap kesempatan.

Begitu batin pemula berkembang ke arah yang lebih tinggi, maka mendengar lagu-lagu buddhis menjadi hambatan dan gangguan dalam pelatihan diri. Oleh karena itu mereka yang berlatih asthangasila, bertekad untuk tidak mendengarkan lagu. Lagu-lagu membuat pikiran kita mengembara, melayang, tidak fokus, dan hal tersebut sangat mengganggu kita saat melakukan meditasi. Ada baiknya lagu-lagu tidak didengar sama sekali saat kita bertekad untuk melatih diri menuju perkembangan batin.

Setelah batin menjadi kuat, kokoh seperti batu karang, dan tidak tergetar lagi oleh perasaan suka maupun tidak suka, maka lagu-lagu apa saja sangat membantu perkembangan batin. Bila sebagai pemula, bunyi sayap nyamuk terdengar tidak merdu, maka bagi batin tahap menengah suara nyamuk bagaikan petir di siang hari bolong, dan bagi batin yang sudah di tingkat tinggi, suara sayap nyamuk terdengar sangat merdu. Bahkan suara pintu berderit pun terdengar merdu bagi seorang pelatih diri sejati.

Oleh karena itu, sila samadhi dan prajna adalah kunci menuju kehidupan suci yang lebih membahagiakan. Perlindungan sejati pada Buddha, Dharma, dan Sangha dibarengi dengan melaksanakan sila-samadhi-prajna, membuat batin kita bahagia. Saat pencapaian itu terjadi maka semua lagu indah pada awalnya, indah di pertengahan, dan indah pada akhirnya. Seperti demikianlah batin seorang yang tekun melatih diri.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Tadyata Om Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha

Carya,
06.12.2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: