Catatan harian si pengembara dalam samsara

Mama di Mata Anak


Kamis 2 Oktober 2014 lalu aku diminta untuk mengisi acara PPD kelas 6 dan 7 sekolah buddhis. Pada sesi 1, aku mengajak anak-anak menonton bersama film Thailand, ‘Kasih Sayang Mama’. Memasuki sesi 2, aku memberikan 4 pertanyaan yang harus dijawab tertulis oleh masing-masing anak. Pertanyaan 1, sebutkan 8 perbedaan saya dan wan li, 2. Di matamu, mama ibarat apa?, 3. Mengapa?, 4. Apa yang akan kamu berikan saat mama ulang tahun?

Jawaban anak-anak membuat aku terharu karena sebagian besar anak menganggap mama sangat berharga dan tidak dapat digantikan oleh harta apapun yang ada di dunia. Anak-anak menyadari bahwa mereka mendapatkan kasih sayang mama namun mereka belum mampu membalasnya. Mereka masih menuntut banyak dan sedikit berkorban untuk mama. Mereka sering membandel dan tidak perduli pada orang tua meskipun mereka tahu itu tidak baik.

Memasuki sesi 3, aku mengajak anak-anak menonton film animasi Malin Kundang dan menjawab 2 pertanyaan secara kelompok. Pertanyaannya adalah 1. apa keuntungan menjadi anak yang berbakti? dan 2. apa kerugiannya menjadi anak yang tidak berbakti? Anak-anak memahami bahwa mereka tidak mau menjadi anak yang tidak berbakti dan berusaha untuk selalu menjadi anak yang berbakti. Pada sesi 3 ini, aku memanggil 4 anak secara pribadi yang tidak dapat menuliskan tentang mama di empat pertanyaan yang aku berikan di sesi awal. Semuanya anak laki.

Aku mencari informasi dan menemukan jawaban bahwa satu anak tidak tahu mama seperti apa karena sebagian besar waktu di rumah dihabiskan untuk main game. Anak kedua mengatakan bahwa ia kurang mengenal mama karena tidak tinggal bersama mama, hanya hari libur pulang ke rumah mama. Sehari-hari ia tinggal bersama bibinya. Anak ketiga menjawab, bahwa mamanya sibuk dari pagi sampai malam setiap hari sehingga jarang bertemu mama. Anak ke empat menjawab, ia tidak tinggal bersama orang tua. Aku melihat muka sedih di tiga anak, bahkan satu anak menangis ditahan. Ada kerinduan pada kehadiran mama pada diri tiap anak.

Memasuki sesi 4, aku mengajak anak-anak bermain games dengan tujuan mendekatkan satu dengan yang lain karena aku melihat banyak anak yang pasif. Selesai bermain, aku memberikan pertanyaan lisan kepada beberapa anak dan 3 orang guru mengenai apa yang yang diberikan kepada mama saat mama ulang tahun. Ada 3 anak yang tidak dapat menjawab karena tidak tahu apa yang harus diberikan pada mama.

Aku memberikan masukan, bahwa anak-anak sangat beruntung karena masih tinggal bersama orang tua, walaupun dimarahi, diomeli, disuruh-suruh.    Bandingkan dengan orang-orang dewasa yang harus mencari nafkah dan pergi meninggalkan keluarga, kerinduan pada orang tua hanya sebatas kerinduan karena tidak dapat pulang saat muncul kerinduan.

Selesai acara, aku merenung. Begitu berarti kehadiran seorang mama dan papa bagi anak-anaknya, namun sayang, kadang mama dan papa mengabaikan hal penting ini. Hadir secara fisik tentunya membuat anak merasa senang, namun bila ibu dan ayah tidak hadir secara emosional… apa yang akan terjadi pada masa depan si anak????

Carya
23rd Oct 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: