Catatan harian si pengembara dalam samsara

Pertemuan dan Perpisahan


Sudah 4 hari kamu pergi. Bagaimana keadaanmu saat ini? Apakah kamu merasa kesepian? Apakah kamu merasa ketakutan? Apakah kamu merindukan kami di sini? Ataukah kamu sedang berbahagia di sana? Siapa yang menemanimu saat ini? Apakah kamu masih mengingat kami? Apakah kamu…. apakah kamu…. apakah kamu…. pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benakku setelah kepergian kamu.

Andai aku tahu kalau senin malam itu adalah senin terakhir kita berbincang, malam terakhir kita duduk bersama, dan malam terakhir kita menjalani hari bersama dalam senyum, canda, dan tawa… tentunya tak akan kusia-siakan kesempatan itu untuk berbincang denganmu hingga malam menjelang. Akan kunikmati setiap momen agar perpisahan kita menjadi perpisahan yang bermakna. Akan kubiarkan malam itu terisi dengan kisah-kisah spiritual dan doa-doa khusuk untuk mengantar kepergianmu. Sayang… aku tidak tahu.

Mangga indramayu itu menjadi hadiah pertama dan terakhir darimu. Kau pilih yang terindah, kau pilih yang terbaik, dan kau pilih yang termanis. Meskipun hatiku berdesir melihat perubahanmu, tetapi semua hanya kusimpan di dalam hati… tak ada satu patah katapun yang terucap dari bibirku. Senin malam itu, kamu tampak begitu gembira dan begitu ramah, tetapi aku tidak terlalu menghiraukannya meskipun aku merasakannya.

Sekarang kamu telah pergi ke dunia yang lain. Begitu tiba-tiba kabar itu kuterima sehingga aku tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Aku hanya terdiam, dan tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sangat terkejut dan mengharap kabar itu bohong. Aku mengharap kamu hadir lagi seperti biasa dengan sapan-sapaan dan senyummu. Namun, berita itu adalah benar, dan kamu benar-benar pergi. Kamu sudah jalan entah ke mana. Dan kami ada di sini mengenangmu…

Terima kasih telah menjalani sahabat terbaik selama 4 tahun ini, menemaniku saat aku sendiri dan terpuruk. Terima kasih telah menemaniku selama 4 tahun ini dengan mendengarkan keluh kesahku dan memotivasiku saat aku tenggelam dalam masalah-masalah yang tiada ujung pangkalnya. Terima kasih telah menjadi sahabat yang menemaniku mengarungi besarnya ombak kehidupan ini meskipun hanya 4 tahun.

Kamu tetap yang terbaik untukku. Kamu tetap yang terindah untukku. Kamu tetap yang termanis untukku. Tiada air mataku yang mengiringi kepergianmu, hanya doa beberapa malam ini dan renungan pertemuan dan perpisahan ini sebagai pengganti air mataku, yang mengiringi kepergianmu.

Selamat jalan Teddy… selamat mengarungi kehidupan baru. Semoga amal ibadahmu menjadi jalan kebahagiaan di kehidupanmu selanjutnya.

Terima kasih untuk semuanya… Selamat jalan. Aku akan mengenangmu sepanjang hayatku.

Carya, 26.09.2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: