Catatan harian si pengembara dalam samsara


Oma Magda adalah salah satu penghuni panti jompo di kota Bogor. Kami bertemu sebulan lalu.  Pengurus panti meminta saya datang ke panti untuk memotivasi oma opa agar siap menghadapi masa depan yang tidak menentu. Topik yang saya curi dari istilah Sayalay Dipankara, mengenai SUNSET tampaknya cuma mengena. Singkat cerita oma Magda meminta waktu untuk mendengarkan curhatnya bila saya berkenan. Tentu saja saya bersedia, karena ini merupakan salah satu dari tugas dan tekad yang telah saya tanam dari dulu, untuk menemani, mendampingi, melindungi, menjaga dan menghibur siapapun yang merasa sendiri, kesepian dan tidak punya teman.

Oma Magda berusia mendekati 80 tahun, terlahir di Wonosobo. Oma Magda pernah memasuki susteran selama setahun lebih. Magda kecil sangat terkesan dengan penampilan sahabatnya, seorang suster biarawati. Dengan modal niat dan nekad, oma Magda meninggalkan ibu yang sedang terbaring di tempat tidur sambil berkerudung selimut karena tak sanggup melihat putri terbesarnya meninggalkan rumah. Saat itu yang dipikirkan oma hanya satu, masuk susteran dan ia tidak ingat lagi pada pembeli yang sedang menunggu dilayani. Ia begitu bersemangat memasuki kehidupan biara yang telah lama dinanti-nantinya. Menurut oma, saat itu ia harus menunggu setahun lebih untuk memasuki biara karena semua biarawan dan biarawati yang ada di sana semua berasal dari luar. Sama sekali tidak ada orang pribumi. Oma di usianya yang menginjak 20 an memasuki kehidupan suci, niatnya berbagi dan menolong sesama.

Setelah memasuki biara dan menjalani kehidupan yang sangat menyenangkan, oma teringat pada kursus menjahit yang diikutinya. Tinggal setahun lagi, katanya kepada Romo, sayang. Akhirnya romo memberikan ijijn kepada oma untuk melanjutkan kursusnya. Setiap pergi les, ia bersepeda dan diikuti oleh suster lain dari belakang, ditunggui dan pulang ke biara bersama pula. “DIkawal, takut ada orang jahat”, begitu kata oma. Suatu ketika, oma sedang bersepeda menuju tempat kursus ketika melihat mama tercinta sedang menunggu delman sambil membawa barang dagangan. Ia hanya bisa melihat dan menatap sambil bersepeda dan berpikir, itu kan tugasku, kenapa aku tega ninggalin mama kerja sendirian?

Sekembalinya ke biara, oma mengutarakan keinginannya untuk kembali ke rumah karena tidak kuat menahan sedih melihat mama sedang berdiri mebawa barang dagangan. Romo menghibur, teman-teman semua menghibur. Akhirnya oma melanjutkan kehidupan nya di biara dengan bahagia. Beberapa bulan kemudian, oma bertemu kembali dengan mama di pinggir jalan. Ia melihat, badan mama semakin lama kok semakin kurus. Rasa sedih merasuk jiwa oma. Ia tak kuasa menahan kerinduan pada mama dan kembali romo dan teman-teman semua menghiburnya. Kesedihan yang dirasakan oma semakin berkepanjangan. Meskipun betah dengan kehidupan biara, namun kepedihan melihat penderitaan mama membuatnya semakin ingin pulang ke rumah.

Kebetulan, romo sudah menyuruh oma untuk mengukur jubah karena oma telah melewati masa orientasi selama 1 tahun. Sekarang oma akan memasuki masa percobaan, bila masa berikutnya dapat dilalui, maka oma akan segera ditahbis menjadi seorang suster biarawati. Galau istilah jaman sekarang. Oma mulai bimbang. Ia ingin pulang ke rumah, tapi juga ingin lanjut tinggal di biara. Akhirnya oma berpikir, sayang sekali bila jubah ini telah dibuat dan ia putus di tengah jalan, sangat memboroskan uang. Akhirnya oma memohon kepada romo agar diperbolehkan kembali pulang ke rumah karena tidak tahan melihat mama bekerja sendiri.

Romo mengijinkan oma pulang, tetapi ia harus menunggu tiga hari. “Saya akan doa dulu, apakah benar ini keinginan Tuhan”, begitu kata romo. Tiga hari kemudian, romo memanggilnya dan mengatakan, kamu boleh pulang dan saya sudah meminta mama kamu menjemput kamu nanti malam. Oma akhirnya kembali pulang ke rumah dan menjadi anak yang berbakti.

Oma akhirnya menikah dan memiliki dua orang putra dan satu orang putri. Semua anaknya sukses, menjadi sarjana, menikah, memiliki anak, memiliki rumah dan mobil. Sebelum anak-anaknya menikah, oma telah bertekad akan menjadi orang baik. Orang baik yang dimaksud oma adalah menjadi mertua yang baik untuk para menantunya. ia berpendapat, begitu banyak kisah tentang mertua yang jahat kepada menantu, yang suka menyiksa, menghina atau memfitnah menantu. Oma tidak mau seperti dongeng atau film tentang menantu dan mertua yang ribut terus seperti anjing dan kucing.

Beberapa tahun yang lalu oma tinggal bersama anak-anaknya, ada yang di Bandung, Bogor, Jakarta. Suatu ketika, adik oma yang tinggal di panti mengajak oma tinggal di panti. Oma melihat kehidupan panti sangat menyenangkan. Akhirnya oma memutuskan pindah ke panti walaupun ditentang semua anaknya. Alasan oma, rumah di Bogor, jauh dari jalan raya dan kemana-mana mesti naik ojeg… oma takut jatuh. Rumah di jakarta, jauh dari pasar. Rumah di Bandung, naik turun tangga kakinya gak kuat lagi. Sedangkan panti… dekat jalan raya, tidak ada tangga dan bebas kemana saja. Di panti…. Oma sendiri, namun banyak teman… di antara banyak teman, oma tetap sendirian.

Pertemuan ke dua dengan oma, saya katakan kepada oma, bila suatu saat oma ingin pulang ke rumah, kumpul bersama anak dan cucu, oma harus pulang. Oma pasti merindukan masa-masa itu. Oma menjawab… iya, pengen sih pulang. Tapi…. anak pergi pagi pulang malam, menantu juga kerja pergi pagi pulang malam, cucu-cucu semua sekolah pulangnya udah sore juga. Tiap hari sendirian juga. Saya diam… oma tersenyum.

Oma menunjukkan foto-fotonya dengan mama dan adik saat berangkat ke keliling Eropa tahun 80 an. Mama itu duitnya banyak, tapi gak tega pakainya. Saya melihat foto-foto oma… timbul rasa rindu masa lalu, pada warna foto yang warnanya pudar, pada baju-baju yang kuno modelnya kata anak sekarang, pada gaya-gaya yang tentunya jauh berbeda dengan gaya foto anak-anak jaman sekarang. Ibu-ibu jaman dulu tampil berkebaya, samping dan sanggul walaupun jalannya gagah namun tetap kemayu. Sementara ibu-ibu jaman sekarang rata-rata perawatan, minim bajunya, tidak berkonde, cantik namun tidak alami seperti ibu-ibu jaman dulu.

Oma bilang, saya tidak tahu lho kalau orang itu bisa meninggal. Saya tidak menyangka mama bisa meninggal. Waktu itu oma sudah menikah dan tinggal di Ambarawa. Ketika mama sakit, oma langsung pulang untuk menjaga mama. Kota pilihannya adalah Ambarawa agar dekat dengan rumah mama karena tujuannya keluar dari biara adalah untuk menjaga mama. Pagi itu, mama bangun jam 4 pagi ke kamar mandi kemudian tidur kembali. Jam 5 oma bangunkan mamanya namun mama diam saja. Oma membunyikan radio kencang-kencang agar berisik supaya mamanya bangun. Namun mama tetap tidak bangun. Akhirnya oma menelepon adiknya. Semua orang sudah berkerumun di pinggir ranjang namun oma tetap duduk diam menunggu mamanya bangun. Ia tetap berharap mama hanya tidur dan suatu saat akan bangun kembali. Tetapi… mama tidak pernah bangun sampai hari ini. Begitu kembali ke Ambarawa, oma merasa seperti hampa melayang-layang ditinggal mama… ia seperti dihempas ke tembok besar. Sekarang, oma sudah tahu kalau orang meninggal itu pasti apalagi setelah tinggal di panti, satu per satu temannya pergi.

Teman-teman, sepenggal kisah oma Magda ini akan lebih menyentuh hati kalian bila mendengarkan langsung cerita dari oma. Satu hal yang saya dapatkan dari curhat oma, bahwa cinta oma kepada mama luar biasa. Bagaimana dengan cinta kita kepada orang tua?

Semoga penggalan cerita ini, menyadarkan kita mengenai bakti kepada orang tua, bagaimana menyenangkan hati orang tua selagi hidup, bukan meratap saat orang tua sudah meninggal. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda semua.

Bogor, 04.04.2014
Carya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: