Catatan harian si pengembara dalam samsara

Sutra Bakti Seorang Anak


Topik ceramah Minggu ini di Vihara Dhammasukkha Pluit tanggal 16 Maret 2013 adalah pembahasan Sutra Bakti Seorang Anak. Berikut ini adalah ringkasan Sutra yang saya buat.

Hyang Buddha ketika itu sedang berada di Hutan Jeta, Sravasti bersama dengan 1250 maha bhiksu dan 38.000 bodhisattva. Mereka berjalan menuju arah selatan ketika melihat seonggok tulang di samping jalan. Hyang Buddha lalu beranjali. Ananda pun bertanya, mengapa Hyang Buddha melakukan penghormatan kepala seonggokan tulang tersebut. Hyang Buddha menjelaskan tentang adanya kemungkinan tulang-tulang tersebut pernah menjadi sanak keluarga kita. Alasan itu menyebabkan beliau melakukan penghormatan.

Hyang Buddha menjelaskan tentang perbedaan pria dan wanita. Ketika pria dan wanita masih hidup, mereka dapat dibedakan dari cara berpenampilan tetapi setelah meninggal dunia, mereka dibedakan menjadi dua kategori. Pertama adalah tulang yang berat dan putih, kedua adalah tulang yang ringan dan hitam. Tulang yang berat dan putih adalah tulang pria sedangkan tulang yang ringan dan hitam adalah tulang wanita. Apa yang meyebabkan adanya perbedaan demikian?

Tulang pria berat dan putih karena selagi masih hidup, pria masuk ke rumah ibadah, mendengarkan sutra dan vinaya, memberikan penghormatan kepada Triratna dan melafal nama Buddha. Tulang wanita ringan dan hitam karena wanita memiliki sedikit kebijaksanaan, dipenuhi emosi, melahirkan dan membesarkan anak serta menyusi anaknya.

Hyang Buddha kemudian menjelaskan mengenai kebaikan seorang ibu.
Pada bulan 1 : hidup janin tidak menentu seperti titik embun pada daun
Pada bulan 2 : janin kental seperti susu kental
Pada bulan 3 : janin seperti darah mengental
Pada bulan 4 : Janin mulai terwujud sedikit seperti manusia
Pada bulan 5 : Kelima anggota anggota badan mulai terbentuk
Pada bulan 6 : mengembangkan inti ke-6 alat indera yaitu mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran.
Pada bulan 7: ke 360 tulang dan persendian terbentuk. 84.000 pori-pori rambut sempurna.
Pada bulan 8 : kecerdasan dan ke-9 lubang terbentuk.
Pada bulan 9: Janin belajar menyerap berbagai zat makanan seperti sari buah-buahan, akar tanaman, kelima macam padi-padian. Bagian tubuh ibu ada dua jenis organ yaitu organ padat dan organ hampa. Organ padat berfungsi untuk menyimpan, dan tergantung ke arah bawah. Organ hampa berfungsi untuk mengolah dan melingkar namun keduanya bersatu. Pembekuan darah ibu dari organ-organ membentuk zat tunggal menjadi makanan anak.
Pada bulan 10: badan janin disempurnakan, siap untuk dilahirkan.

Seorang anak yang dilahirkan berbakti ketika dilahirkan, telapak tangannya disatukan sebagai tanda menghormat. Kelahirannya aman dan baik. Ibu tidak akan terluka, dan tidak menderita kesakitan. Anak yang pemberontak, ketika dilahirkan akan merusak kandungan ibu. Ia akan mengoyak jantung dan hati ibu. Ia tersangkut di tulang-tulang ibu. Kelahiran itu seperti sayatan seribu pisau atau seribu pedang menikam jantung.😦

Ada 10 kebaikan seorang ibu, yaitu:
1. Memberi perlindungan dan penjagaan di kandungan. Badan ibu seberat gunung, baju ibu tidak terpakai lagi. Ia tidak dapat makan dan minum. Gerakan janin seperti bencana angin.
2. Menanggung penderitaan selama kelahiran. Setiap pagi ibu merasa sangat sakit. Sepanjang hari mengantuk dan lamban Ketakutan dan kegelisahan sukar dilukiskan. Kesedihan dan air mata memenuhi dadanya, ia takut maut menimpa.
3. Melupakan semua kesakitan begitu anak telah lahir. Kelahiran anak menyebabkan ibu sangat letih badan dan pikiran. Saat anaknya lahir sehat, ibu dipenuhi kegembiraan yang berlimpah lalu sedih kembali, badan terasa sakit.
4. Menyimpan bagian yang pahit bagi dirinya dan bagian yang manis untuk anak. Ibu membiarkan dirinya menahan kelaparan dan rasa dingin. Ibu menginginkan anak mendapat cukup makanan dan kenyamanan.
5. Memindahkan anak ke tempat kering dan dirinya berbaring di tempat yang basah. Ibu melindungi anak dari angin dan dingin. Ibu jarang lega di atas bantal. Ia tidak mencari penghiburan bagi dirinya sendiri.
6. Menyusui anak, memberi makan dan membesarkan anak. Ibu tidak membenci atau marah pada anaknya. Ibu tetap menyukai anaknya walaupun lahir lumpuh.
7. Membersihkan yang kotor. Sekalipun mencuci yang kotor merusak badannya, ia rela menerima kecantikannya memudar demi kepentingan anaknya.
8. Memikirkan anaknya bila berjalan jauh. Bila anak berjalan jauh, ibu merasa khawatir di kampungnya. Dari pagi hingga malam hatinya selalu bersama anaknya. Ibu menangis diam-diam.
9. Kasih sayang yang dalam dan pengabdian. Bila anak bekerja berat, orang tua tidak senang. Bila anak berjalan jauh, orang tua khawatir. Anak kesakitan sebentar saja orang tua akan bersusah hati.
10. Welas asih yang dalam dan simpati. Setiap bangun pagi, pikiran ibu hanya tertuju pada anak. Sekalipun ibu hidup 100 tahun, ia akan selalu mengkhawatirkan anaknya yang berumur 80 tahun.

Perenungan dari Hyang Buddha adalah: manusia itu bodoh dan dungu dalam tindakan dan pikiran. Manusia tidak mempertimbangkan kebaikan dan kebajikan orang tua mereka. Manusia tidak menghormati dan melupakan kebaikan dan apa yang benar. Manusia kurang manusiawi dan kurang berbakti/patuh pada orang tua. Orang tua terus mengajar dan membimbing anak. Orang tua mengatur perkawinan anak. Orang tua menyediakan harta benda dan kekayaan. Orang tua mengusahakan cara-cara untuk mendapatkannya. Orang tua bertanggung jawab dan susah sendiri dengan kerja dan semangat yang besar. Orang tua tidak pernah membicarakan kasih sayang dan kebaikan mereka.

Sementara anak tidak berbakti, tidak patuh, tidak hormat dan bertingkah laku tidak baik. Anak mendelik kepada orang yang harus disegani, anak menghina paman dan bibi mereka. Ia menghancurkan perasaan kekeluargaan. Ia tidak mematuhi aturan-aturan dan pengajaran. Anak tidak memperdulikan pengajaran. Ia tidak menuruti bimbingan orang tua. Ia menentang, melawan dan membangkang. Ia datang dan pergi tanpa memberi tahu orang tua. Kata-kata dan tindakannya sombong. Ia keras kepala dan tidak bisa diatur. Ia tidak berterima kasih. Ia berteman dan meniru kebiasaan jahat. Ia menganggap yang salah adalah benar. Anak demikian mungkin dipikat kawannya untuk kerja di kota lain dan meninggalkan keluarga. Ia tidak mengakui orang tua, menikah tergesa-gesa sehingga menghalangi mereka kembali pulang ke rumah dalam waktu yang lama. Anak demikian tidak hati-hati dan mendapati dirinya difitnah/dituduh berbuat jahat, jatuh sakit, ditimpa malapetaka atau kesukaran, tertarik pada ajaran aneh, terlibat pencurian, perkelahian, pencurian, berjudi, tidak pernah menanyakan kesehatan orang tua. Tidak pernah terpikir oleh anak-anak ini untuk menanyakan apakah orang tua dapat tidur nyenyak atau istirahat dengan tenang. Kalau orang tua menjadi tua, mereka malu. Orang tua kedinginan, kelaparan, dan susah. Anak berfoya-foya, dan mengikuti keinginan istri. Anak perempuan sebelum menikah berbakti, namun sesudah menikah tidak berbakti. Ia rela dipukul oleh suami, ikut suami pindah kerja dan tidak merindukan orang tua.

Hyang Buddha kembali menjelaskan mengenai cara membalas budi. Kita semua tentunya ingin membalas budi kepada orang tua kan? Nah inilah yang disampaikan oleh Hyang Buddha. Bila seorang anak mengangkat ayah di bahu kiri, ibu di bahu kanan, karena berat menjadi menembus tulang sumsumnya, darah keluar dari kakinya untuk membalas budi orang tua, tetap budi orang tua tidak terbalaskan.

Bila anak memotong sebagian sebagian daging di badannya dan memberi makan orang tuanya untuk membalas budi orang tua, tetap ia tidak dapat membalas budinya. Bila anak mengambil pisau, mencungkil mata dan mempersembahkan kepada Tathagata untuk membalas budi orang tua, tetap ia tidak dapat membalasnya. Bila anak mengambil pisau tajam, mengeluarkan jantung dan hatinya, menghancurkan tulang-tulangnya sendiri sampai ke sumsum untuk membalas budi orang tua, tetap budi orang tua tidak terbalaskan. Bila anak menelan butiran-butiran besi yang mencair untuk membalas budi orang tua, tetap budi orang tua tidak terbalaskan.

Setelah mendengar penjelasan ini, semua yang mendengar menangis sedih. Hyang Buddha mengatakan, inilah cara untuk membalas budi orang tua.

1. Tulislah sutra ini
2. Kumandangkan sutra ini
3. Bertobat atas pelanggaran dan kesalahan
4. Berikan persembahan kepada Triratna demi orang tua
5. Berdana dan mencari berkah demi orang tua.

Lanjut Hyang Buddha: anak yang tidak berbakti, ketika hidupnya berakhir dan badannya membusuk akan terlahir di neraka Avicci yang kelilingnya 80.000 yojana, dikelilingi dinding besi pada keempat sisinya. Diatasnya ditutup jaring-jaring dan lantainya dibuat dari besi. Api membakar dan berkobar-kobar, petir bergemuruh dan sambaran kilat berapi-api akan membakar. Anjing-anjing perunggu dan ular-ular besi terus-menerus memuntahkan api dan asap yang membakar orang-orang yang bersalah dan memanggang badan dan lemaknya. Ada galah, pengait, lembing, pemukul dari besi, jarum-jarum besi. Ia akan dicincang, dipotong, ditikan, berpindah alam neraka, roda menggilas, ribuan kelahiran dan kematian dialami.

Demikianlah ringkasan Sutra Bakti Seorang Anak. Semoga bermanfaat untuk Anda. Semoga kita semua dapat berbakti kepada orang tua, dengan melakukan kebajikan, mempersembahkannya kepada orang tua, dan memberikan Buddhadharma kepada orang tua. Semoga kita menjadi anak yang bermanfaat bagi orang tua dan orang lain.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Tadyata Om Gate Gata Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.

Bogor, 22 Maret 2014
Carya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: