Catatan harian si pengembara dalam samsara

Kanibal


Hari ini ada artikel di Intisari tentang manusia yang makan daging manusia. Seru, kaget, merinding sekaligus heran… kok bisa? Ada apa dan mengapa sebenarnya?

Singkat cerita…..

Laki-laki dewasa ini berfantasi untuk makan daging manusia. Ia kemudian menulis status di jejaring sosial mengenai pencarian orang yang bersedia disantap dagingnya. Setelah beberapa waktu menulis status tersebut, akhirnya ada pria dewasa yang menanggapi dengan serius. Ia adalah seorang homoseksual yang senang melakukan kekerasan kepada pasangannya sebelum berhubungan. Membaca status laki-laki dewasa ini, si pria dewasa tertarik dan sangat menggebu-gebu untuk segera bertemu dengan si laki-laki dewasa. Akhirnya ia menjual semua rumah dan hartanya kemudian meninggalkan warisan untuk pacarnya.

Pria dewasa selama ini berfantasi ada orang yang mau memakan tubuhnya. Setelah bertemu dengan si laki-laki dewasa, akhirnya mereka sepakat untuk melakukannya. Mereka makan minum bersama…. laki-laki muda meminum anggurnya perlahan-lahan dan akhirnya menemui kematiannya perlahan-lahan. Si pria dewasa menikmati semua rangkaian peristiwa itu dengan bahagia. Ia juga menggunakan video rekaman untuk mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut yang bisa ia tonton setiap kali ia ingin menontonnya. Setelah pria dewasa meninggal, dagingnya dipotong-potong dan dimasak, sisanya dimasukan ke dalam freezer dan akan dimasak bila si laki-laki dewasa ingin memakannya.

Setelah peristiwa si pria dewasa mengorbankan tubuhnya, si laki-laki dewasa masih beberapa kali mencoba mencari mangsanya. Sayangnya… maap… untungnya mungkin lebih tepat, ia masih belum menemukan mangsa yang tepat untuk dimakan. Syarat utama yang diajukannya adalah si korban harus senang dan rela mengorbankan dirinya. Selama ini, ia bertemu dengan beberapa korban yang katanya bersedia dibunuh tetapi setelah ia tandai badannya (seperti sapi), orang-orang ini malah ketakutan. Akhirnya si laki-laki dewasa melepaskan para korbannya. Ada juga beberapa korban yang bersedia… tapi si laki-laki ini tidak bernafsu memakannya.

Suatu ketika, ada seorang mahasiswa yang membaca status si laki-laki dewasa dan kemudian melaporkannya kepada polisi. Polisi menangkap orang ini. Laki-laki ini bertanya-tanya, apa kesalahannya karena ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Pada saat polisi mengatakan ia dituduh melakukan pembunuhan, ia tidak dapat menerimanya. Ia memperlihatkan video rekaman kematian si laki-laki dewasa. Katanya, ia dengan senang hati dan rela badannya dibunuh. Polisi pun kebingungan…. korban memang tidak menderita, bahkan tampak bahagia di dalam video tersebut. Kebetulan belum ada undang-undang mengenai pembunuhan yang disengaja tapi korbannya sendiri rela dibunuh.

Laki-laki dewasa ini ternyata memiliki masa kecil yang suram. Usia 8 tahun ayah ibunya bercerai. Ayahnya mendidik anak-anak dengan sangat keras dan tidak dekat dengan anak. Pada saat ayah meninggalkan rumah, ia berlari mengejar mobil ayahnya tetapi ayahnya tidak berhenti. Ia tinggal bersama dua orang saudara tirinya, tetapi terakhir kedua saudara tirinya ikut dengan ayahnya. Akhirnya ia selalu bermain sendiri dan membaca buku mengenai anak yang makan orang. Dari kecil fantasinya sudah terbentuk, maka setelah dewasa, ia wujudkan menjadi suatu keinginan. Apalagi selama ini ia tinggal sendiri. Ibunya sudah meninggal. Sewaktu ibunya masih ada, ia pernah memiliki pacar tetapi ibunya tidak setuju. Akhirnya ia melajang dan berteman dengan kawan di jejaring sosial.

Well…. pelajaran berharga dari artikel ini adalah…. anak yang dididik dengan kekerasan, menjadikan anak keras dan seolah tidak berperasaan. Anak yang dididik dengan cinta kasih dan kasih sayang… maka ia menjadi anak yang sabar, penuh kasih dan mau memahami orang lain. Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kekerasan dibalas dengan kekerasan? Ataukah kekerasan dibalas dengan kelembutan? Mari kita renungkan…..

Bila memungkinkan… marilah kita belajar memaafkan kesalahan orang lain. Dengan demikian, kita dapat membangun kehidupan yang baru, yang lebih bermakna dan bahagia.

Carya
04.12.2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: