Catatan harian si pengembara dalam samsara


Sabar itu dapat dilakukan bila kita berhadapan dengan orang yang menurut, orang yang baik, orang yang mau mendengarkan, orang yang mengikuti aturan, orang yang penuh visi, misi dan tujuan. Bagaimana saat kita menghadapi orang-orang yang kesepian, orang-orang yang kurang kasih sayang, orang-orang yang mencari perhatian, orang-orang yang malam melek siang tidur, dengan orang-orang yang tidak menemukan makna hidupnya?

Saya rasa latihan kesabaran terbaik adalah saat kita berhadapan suka atau tidak suka, dengan orang-orang yang tidak dapat diajak bicara, tidak mengerti apa yang kita ucapkan dan hanya tahu apa yang mereka mau tanpa menghormati apa yang diinginkan orang lain.

Barangkali itu juga yang terjadi malam ini, saat terpaksa saya mengatakan bahwa saya adalah orang kaya. Adu debat mulut karena keributan-keributan anak-anak muda yang sedang bergadang di depan vihara sungguh membuat saya menyadari betapa miskinnya praktik dharma saya. Saya tidak tahu apa yang mereka cari di dalam kelompoknya, saya tidak  tahu apa yang mereka nikmati di dalam keheningan malam bersama para teman-temannya yang berjumlah 30 an orang itu…. yang saya  tahu adalah saya ingin beristirahat dan ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat setelah seharian menyusuri jalanan… tetapi mereka malah asyik berteriak-teriak sendiri.

Saya tahu, mereka membutuhkan perhatian, kasih sayang, cinta kasih. Tetapi saya tidak mampu memberikan mereka perhatian itu… saya membungkus tubuh saya dengan selendang kesombongan, kemarahan, kebencian dan kebodohan batin. Saya “mengusir” mereka. Selain itu saya masih berani mengatakan bahwa saya adalah orang kaya. Padahal  saya tidak memiliki apa-apa yang patut dan layak untuk dihormati… karena saya tidak memiliki kebajikan dan kebijakan.

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya adalah orang yang miskin dalam kebijaksanaan, saya miskin dalam pengalaman dan saya miskin dalam praktik dharma. Barangkali mereka mengartikan saya orang kaya sebagai orang yang tinggal di rumah gedung, vihara yang megah. Mereka tidak tahu… bahwa saya sedang belajar… belajar menjadi orang yang kaya, belajar menerima orang lain tanpa perbedaan, belajar menahan sabar … seperti malam ini.

Saya terdiam, dan hati saya terusik saat mereka bergerak ke tempat lain, begitu saya mengatakan, mari kita saling menghormati….. klik! Menghormati orang lain berarti menghormati diri sendiri. 

Mari kita menjadi orang sabar. Sabar terhadap semua kondisi, sabar terhadap teman atau orang yang tidak dikenal, sabar terhadap apapun yang terjadi.

Semoga kita dapat selalu saling menghormati…

30 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: