Catatan harian si pengembara dalam samsara

A mother and her son


Saya rasa sebagai orang tua, kita harus sering melakukan introspeksi diri. Apakah cara berbicara kita terhadap anak-anak kita sudah benar? Apakah cara kita bertindak menghadapi suatu permasalahan yang ada di hadapan anak-anak kita sudah benar? Apakah kita sudah berpikir dengan benar? Apakah kita sudah beretika dengan benar? Apakah kita sudah memandang sesuatu dengan kacamata yang benar? Apakah kita sudah melakukan sesuatu dengan benar?
Saya tidak melahirkan anak seorangpun, tetapi saya memiliki banyak anak di mana-mana. Sekecil-kecilnya anak-anak… tetap saja anak-anak. Setua-tuanya seseorang tetap saja sifat kekanak-kanakannya masih ada. Saya teringat satu kalimat dari seorang bhante sekitar 20 tahun yang lalu…. “Setiap orang punya kesamaan…. sama-sama pembosan, sama-sama suka jenuh, sama-sama ingin diperhatikan alias ingin dicintai dan sama-sama ingin mencintai. Kalimat keramat buat saya, karena setelah banyak mengalami dan melihat banyak peristiwa dalam kehidupan ini…. kalimat tersebut menjadi sangat bermanfaat setiap kali saya harus mengambil suatu tindakan.
Suatu hari seorang ibu menghampiri saya. “Suhu… anak saya nilainya semakin menurun. Waktu kelas 1 dia masih bagus, masuk ke semester 2… angka merahnya ada 2-3 buah. Sekarang masuk kelas 2… saya takut dia gak bisa bagus. Setiap hari saya kasih dia pelajaran… dia selalu nangis. Katanya gak mau belajar. Saya mesti gimana sama dia….”
Mungkin peristiwa ini dialami juga oleh ibu-ibu yang lain. Saya tanya balik, kegiatan anak ibu setiap hari apa aja? Pagi dia sekolah sampai jam 1, terus saya kasih main sebentar 30 menit, terus makan, beres-beres, terus les inggris sampai jam 5..terus belajar lagi sama saya sampai jam 7. Tapi tiap kali saya tanya, selalu jawabnya lupa. Dia gak bisa jawab… terus dia nangis. Terus saya jadi bingung, mesti gimana saya…..
Ibu… ingat waktu kecil.. seusia anak ibu sekarang…. ibu banyak belajar atau banyak main? Banyak main… tapi sekarang gak bisa kaya saya dulu suhu… ntar gak naik kelas gimana…
Ibu masih ingat dosen saya bilang apa lagi seminar kemarin? LEARNING BY PLAYING. Ibu coba berubah cara mengajarnya. Dia anak kecil yang suka jalan sana jalan sini, yang suka gerak sana gerak sini. Ibu mungkin akan cape sedikit. Tapi ibu bisa ikuti dia, sambil ditanya… atau tidur di pangkuan ibu, sambil diusap-usap kepalanya. Ibu pernah lakukan itu?
Udah lama gak sih… karena dia ada adiknya…
Betul ada adiknya… tapi kan tetap saja dia anak-anak… dia masih kecil. Dia masih butuh perhatian, butuh kasih sayang. Kita yang udah sebesar gini aja… masih senang kan kalo dipeluk ama orang? Dipeluk mama… dipeluk suami? Kita lho… yang udah tua gini… anak kecil apalagi. Coba ibu perhatikan.
3 minggu kemudian… si ibu menghampiri saya. Suhu… saya ikuti kata-kata suhu. Anak saya kemana, saya biarkan saja. Dia pegang mainan, sebentar dia jalan ke sana, jalan ke sini… saya gak marah, gak ngomel, gak ngancam .. gak mukul juga. Eh…angkanya dia bagus… dapat 84. Kalo saya marahi, malah dapatnya 40-50…
Cerita a mother and a son ini… semoga menjadi inspirasi bagi para orang tua… agar hati-hati saat bertindak, berucap di hadapan anak-anak kita… mereka bukan mesin, mereka bukan robot, mereka adalah manusia… anak kita sendiri… yang butuh dicintai, dimanja, diperhatikan dan disayang.. sama seperti kita.. kita juga butuh dicintai, dimanja, diperhatikan dan disayang.
Semoga kita semua menjadi ayah dan ibu yang bijak setiap hari….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: