Catatan harian si pengembara dalam samsara

Kecerdasan VS Kebijaksanaan


Monkey’s mind:
Saya membaca tentang kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki seorang anak manusia. Cerdas dalam berhitung di sekolah, belum tentu bisa menghitung berapa banyak helai uban yang ada di atas kepala saya.🙂

Kalau begitu, selain mengembangkan kecerasan… ada baiknya kita juga mengembangkan kebijaksanaan. “Berapa banyak helai rambut di atas kepala bapak?” bisa dijawab dengan “sebanyak jumlah pasir di pantai Pangandaran”.

Arti halusnya…. “Yuk, pak ! Kita sama-sama ngitung”… berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Hehehehe….

Itu yang status yang saya tulis hari ini di salah satu jaringan sosial. Sosial atau sok sial saya juga tidak paham. Kadang-kadang emang berbau sosial. Kadang-kadang komen-komen yang dilontarkan membuat kita jadi sok sial juga. Ya, bagaimanapun … jama sekarang ini jaringan sosial sudah mewabah. Kalau kita tidak ikut memanfaatkannya… kita disebut kuno, gak zaman, kampungan, norak.
Apa yang saya pelajari dari kecerdasan-kecerdasan tersebut?
Ternyata setiap individu memiliki dan dapat mengembangkan kecerdasan yang lain selain kecerdasan matematika logis. Singkat kata, seorang anak memiliki banyak kecerdasan alias memiliki kecerdasan ganda dan bukan hanya satu saja. Kalau begitu, kita tidak boleh memberi cap pada anak. Misalnya angka berhitung 20 lalu minggu depan 50 lalu bulan depan 40. Kita sebut dia si bodoh. Kita sebut dia si lemot. Kita sebut dia si bego. Itu gak diperbolehkan dan gak pernah boleh dibenarkan. Mengapa? Karena tiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing. Kecerdasan matematika logis itu khusus dikembangkan di sekolah, pake rapor terus pake laporan ke orang tua dan dapat ijazah pas lulus kemudian dapat kerja di perusahaan bonafid. Tapi kecerdasan tiap orang itu bukan melulu kecerdasan matematika logis.
Ada anak yang memiliki keistmewaan di bidang nyanyi, lukis, olah raga, bicara, pidato,  merenung, hiking, ngurus anjing, miara burung. Itu semua adalah bagian dari kecerdasan. Jadi jangan suka maksain keinginan orang tua sama anak karena anak memiliki kecerdasan berbeda dengan orang tuanya. Boleh aja papa nya dokter umum mamanya dokter gigi. Kalau anaknya hobinya ke musik, ya jangan paksa anaknya buat jadi dokter. Kecuali emang itu anak ada kecerdasan yang sama dengan orang tuanya.
Di sini yang saya pelajari ada 9 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner. Ada kecerdasan matematika logis, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan kinetetis/tubuh, kecerdasan musik, kecerdasan verbal/linguistik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial. Terus memiliki kecerdasan-kecerdasan ini bukan berarti kita harus jadi atlet Sea Games, atau penyanyi papan atas, atau mengimbangi Picasso, ata seperti Bill Clinton. Misalnya anda hobi badminton, hobi renang, hobi nyelam, bisa balet…. nah itu udh termasuk kecerdasan kinetis. Pokoknya yang berurusan ama olah tubuh. Nyetir mobil, naik sepeda, jalan kaki itu pun sudah termasuk memiliki kecerdasan. Atau hobi merenung, melihat ke dalam diri sendiri .. itupun sudah termasuk memiliki kecerdasan intrapersonal. Atau hobi melobbi orang, ahli marketing.. itu termasuk memiliki kecerdasan interpersonal. Gampang kan? 
Jadi sebetulnya kita gak boleh menghina orang lain, gak boleh menjelekkan orang lain, karena tiap orang punya bakat nya masing-masing. Tiap orang punya keterampilannya masing-masing. Kalau dikembangkan terus-menerus, ya jelaslah anda jadi profesional.
Sebagai orang tua yang punya anak, kita harus mengenali kecerdasan-kecerdasan anak kita.  Kalau anak cerdas di Matematika, boleh lah suruh sekolah tinggi-tinggi. Tapi kalau anak kecerdasan dominannya di musik.. gak minat banget di Matematika walaupun sudah dipanggilkan guru les, sebagai orang tua harus bijaksana menyikapi hal ini. Gak bisa maksa anak karena anak harus mandiri dan berkembang sesuai dengan kecerdasannya. Jadi mau gak mau dah orang tua mengalah, merelakan keinginannya sendiri dan membiarkan anak menjadi dirinya sendiri. Itulah bijaksana ! Itulah cinta kasih ! Itulah kebesaran hati !
Oleh karena itu… ahli matematika memang dikagumi banyak orang, semua orang. Tetapi belum tentu ahli matematika bisa menghitung jumlah uban di kepala saya. Jadi daripada ngitungin uban di kepala saya… lebih baik jawab saja, sebanyak pasir di pantai pangandaran. Artinya… jumlah banyak dan tidak lagi dapat terhitung. Kalaupun dapat terhitung, itu hanya menghabiskan waktu dan menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat yang lebih bermanfaat.
Saya suruh anak ngitung uban.. terus anak itu nyuruh saya ngitung pasir… gak mungkin dong kita lakuin. Malas pasti !! Jadi… simpulkan sendiri ya…🙂
Selamat melatih kecerdasan, selamat menikmati kecerdasan, selamat memanfaatkan kecerdasan… :) 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: