Catatan harian si pengembara dalam samsara


Damai.. kedamaian… berdamai… satu set. Beda tapi intinya sama.. damai. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, damai artinya adalah suasana yang tenang dan menyenangkan, bebas dari rasa takut, aman sentosa, tiada kerusuhan, tidak ada perang. Menurut saya, topik “berdamai dengan diri sendiri” ini sangat menarik. Bukan hanya sangat, melainkah luar biasa menarik.

Mengapa luar biasa menarik? Karena berdamai biasanya dilakukan oleh dua orang, dua pihak atau dua negara yang sedang bertikai, yang sedang mengalami konflik, bahkan bertikai ini mungkin saja melibatkan banyak pihak, banyak orang dan banyak negara.  Bosan dengan peperangan, bosan dengan konflik, bosan dengan keresahan, bosan dengan kegalauan, bosan dengan kekhawatiran, bosan dengan pertikaian.. lalu merindukan suatu ketenangan, yang benar-benar damai… yang benar-benar bebas dari rasa takut. Tapi sekarang yang akan dibahas adalah berdamai dengan diri sendiri, bukan dengan orang lain, bukan dengan pihak lain, bukan dengan organisasi lain, bukan dengan negara lain, bukan dengan keluarga lain… tapi dengan diri sendiri.

Apa rasanya berdamai dengan diri sendiri? Bagaimana mungkin kita bisa berdamai dengan diri sendiri? Apakah bisa kita berdamai dengan diri sendiri? Bila bisa… apa manfaatnya berdamai dengan diri sendiri?

Topik ini muncul ketika saya diundang berceramah di ingkungan Buddhis Indofood Sudirman Jakarta beberapa bulan. Saya melihat, setiap orang mendambakan kedamaian dan kebahagiaan, tetapi mengapa yang terjadi malah sebaliknya, permusuhan dan pertikaian. Saya merasakan betapa menderitanya hidup dalam pertikaian dan permusuhan tersebut. “Saya dapat mengerti orang lain, tapi mengapa orang lain tidak dapat mengerti saya?”

Sebelum bicara damai, mari kita bicara tentang konflik, tentang masalah. Menurut saya masalah itu adalah konflik yang menyerupai sampah. Sampah bisa membawa manfaat dan bisa juga menjadi bencana. Demikian pula dengan masalah. Masalah dapat menjadi musibah dapat juga menjadi berkah. Masalah akan membuat kita jadi dewasa, jadi bijaksana, jadi mandiri dan jadi pemicu bila kita menganggap sampah itu dari kaca mata positif. Sebaliknya kita akan menganggap sampah itu untuk menghujat karma, menghujat yang di atas, menghujat orang lain.. bila kita menggunakan kacamata negatif.

Masalah akan menjadi luka dalam batin bila tidak segera ditangani. Maka kita harus bijaksana memanfaatkan masalah jangan sampai kita menjadi trauma dengan masalah atau bahkan menjadi luka batin. Masalah membuat kita berani menghadapi masyarakat, masalah adalah tantangan untuk maju, masalah adalah jalan untuk memperolehilmu-ilmu yang lebih tinggi lagi. Ilmu sabar, imu bijaksana, ilmu bicara, ilmu semangat, ilmu tekad, ilmu tobat, ilmu konsentrasi, ilmu cinta kasih, ilmu beramal, ilmu bekerja dan ilmu-ilmu lainnya lagi. FREE.. gratis.. tidak dipungut bayaran. Asal kita siapkan hati, siapkan mental, siapkan batin selapang-lapangnya… maka masalah akan menjadi emas berlian, permata pengabul segala harapan. Hati yang luas akan membuat kita peka terhadap kritik, dan ini akan membuat kita bangkit, maju dan sukses.

Konflik tidak usah dicari-cari. Konflik akan datang sendiri, datang setiap saat. Tapi bila batin kita damai… konflik tidak akan muncul. Bangun tidur.. konflik sudah terjadi. Mau bangun atau tidak. Kalo mau bangun, mau duduk dulu atau langsung berdiri. Kalo kita berdiri di depan sebuah pintu, konflik juga muncul. Mau kaki kanan dulu yang melangkah atau kaki kiri dulu. Kalo di depan kita ada  10 macam sayur, sayur mana dulu yang mau kita ambil. Itu semua adalah masalah kalau kita menganggapnya masalah. Kalau kita tidak menganggap masalah, ya artinya berjalan begitu saja.. spontan.

Harap diingat selalu bahwa semua makhluk tidak ada yang tidak memiliki keserakahan, kebencian dan kebodohan batin. Ingat selalu bahwa setiap makahluk tidak ada yang tidak memiliki masalah. Apapun dia, siapapun dia, bagaimanapun dia.. pasti mengalami masalah. Darimana masalah ini muncul? Dari ucapan, pikiran dan perbuatan yang tidak terkendali. Dari ucapan, pikiran dan perbuatan yang tidak ada kontrolnya. Dari ucapan, pikiran dan perbuatan yang selalu menyakiti dan merugikan makhluk lain bahkan sampai membunuh makhluk lain. Mata melihat, hidung membaui, telinga mendengar, lidah merasakan, jasmani menyentuh, pikiran berproses.. semuanya adalah lubang-lubang kebocoran yang membuat kita selalu melakukan kesalahan. Kesalahan ini akan menimbulkan karma buruk yang baru. Karma buruk muncul, karma buruk berbuah.. inilah yang kita sebut masalah.

Saat masalah ini muncul… apa yang harus kita lakukan agar kita dapat berdamai dengan diri sendiri?

Menurus saya, yang pertama harus dilakukan adalah:

1. Kenali diri sendiri baik yang positif maupun yang negatif. Dengan mengenali diri sendiri sampai pada hal-hal yang detil seperti ujung rambut atau ujung kuku kelingking kaki, maka kepercayaan diri kita akan muncul.

2. Setelah mengenali plus minus diri sendiri, lalu sadari.

3. Setelah mengenali, menyadari maka kita harus menerima dan jujur pada diri sendiri. Jangan menyangkal lagi.

4. Kalau bisa berubah, ya diubah kalau tidak bisa diubah ya sudah terima saja. Lalu kita bertekad untuk mengubah yang minus jadi plus, yang sudah plus tambah plus lagi nilainya.

Misalnya ujung kuku kaki kelingking saya kukunya kecil sekali..bahkan sampai tidak terlihat bentuk kukunya. Misalnya suatu saat saya pergi bersama teman-teman di mana kami harus melepas sepatu dan kaos kaki, bila saat itu ada teman yang tiba-tiba nyeletuk sambil tertawa dan menunjuk kaki kelingking saya… dan akhirnya semua orang menertawakan saya… saya akan menanggapinya dengan biasa saja. Mengapa? Karena saya sudah mengenali semua hal dalam diri saya.. plus minusnya. Saya mengenali jari kuku kelingking saya memang tidak ada kukunya, dan saya harus menyadarinya…saya harus menerimanya dan saya harus jujur jangan berpura-pura ada kukunya. Memang kenyataan kok tidak ada kukunya. Bila hal-hal ini dapat kita lakukan setiap saat, masalah apapun yang timbul tidak akan lagi menjadi masalah buat kita. So, batin harus dibuat lapang agar kita bisa menampung sampah-sampah ini.

Sampah-sampah ini bisa dari pikiran kita sendiri yang selalu menuntut, tidak pernah puas dan serakah atau bisa juga dari orang lain yang terus-menerus melempar sampah kepada kita. Bila tempat sampah yang kita siapkan besar sekali bahkan ukurannya bisa tidak terhingga.. maksudnya batin… maka sampah apapun yang dilempar ke dalam batin kita… maka kita tetap akan tenang, tetap akan damai dan bebas dari rasa takut serta khawatir.

Jadi sebenarnya… damai itu bukan di kolong meja, atau di bawah selimut tapi ada di dalam diri kita sendiri. Tidak usah mencari sampai ke atas gunung atau ke tengah gua untuk mencari kedamaian. Kedamaian ada di dalam hati setiap orang, asalkan kita mau menenangkan diri maka kedamaian langsung ada.

Agar tetap damai, agar tidak lagi ditimpa masalah yang selalu mengganggu timbulnya rasa damai… maka jalankan SILA dengan keberanian, lakukan samadhi secara teratur dan kembangkan prajna setiap momen. Jangan pernah berpaling dari Triratna walaupun bercanda dan sadari selalu fenomena Dukkha, Anatta dan Anitya. Yakinlah pada hukum karma dan hukum-hukum lainnya seperti paticca samutpada. Praktikan paramita-paramita  maka kedamaian akan menjadi milik anda.

Dengan memiliki kedamaian, maka tujuan hidup menjadi lebih jelas dan terarah. Yang pasti hidup akan jadi bermakna buat diri sendiri dan mahluk lain.  Motivasi diri kita menjadi lebih kuat. Tidur menjadi nyenyak…  dan sebagainya sebagainya sebagainya.

Kesimpulan:

damai adalah ketika mama papa tidak memarahi aku, damai adalah ketika aku  makan malam bersama keluarga di meja makan sambil bercanda, damai adalah ketika aku tidak mendengar bunyi klakson di jalan raya, damai adalah ketika angin bertiup sepoi-sepoi dan langit terlihat sangat biru, damai adalah ketika air laut tidak beriak sama sekali, damai adalah ketika aku merem dan tidak ada orang yang menggangguku.🙂

Seperti sabda Hyang Buddha, “Jangan berbuat jahat, Perbanyak perbuatan baik, Sucikan hati dan pikiran”. Sekecil apapun kejahatan.. jangan dilakukan lagi. Sekecil apapun kebajikan, jangan dibaikan.

LIVE IN PEACE… REST IN PEACE.

05/12/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: