Catatan harian si pengembara dalam samsara

Luka Batin dan Obatnya


Sungguh menyenangkan bila kita sebagai manusia bebas dari segala macam luka batin. Luka batin menurut saya adalah batin yang terluka. Luka ini disebabkan oleh banyak sebab. Mungkin oleh perkataan seseorang yang sangat-sangat tidak berkenan kepada kita, mungkin sikap dan tingkah laku yang sangat tidak berkenan dari seseorang yang ditujukan kepada kita. Apa yang telah ditujukan kepada kita itu baik lewat ucapan maupun perbuatan, menimbulkan rasa nyeri, duka, luka dan trauma yang mendalam. Luka, duka, nyeri, trauma ini akan terbawa sampai kita besar, sampai kita dewasa, sampai kita tua dan mungkin sampai kita meninggalkan dunia ini. Semua jenis penderitaan ini yang membentuk kita hari ini.. selain kebahagiaan-kebahagiaan lainnya tentunya. Jadi bisa disimpulkan bahwa kita hari ini adalah bentukan dari peristiwa, kejadian yang telah lewat di masa lalu.

Luka batin dapat disembuhkan tetapi tidak dapat dihilangkan bekasnya. Luka batin tidak sama seperti goresan pisau di tangan atau pipi kita yang hilang setelah beberapa saat. Luka batin ini karena tertanam kuat dalam kesadaran kita, maka ia akan terus menetap di sana. Mungkin bisa terbawa sampai kelahiran-kelahiran kita berikutnya.

Luka batin dimiliki oleh setiap orang. Sumbernya banyak, bisa dari rumah, lingkungan, teman sepermainan, teman sosial, atau orang yang tidak kita kenal. Dosen saya bilang, selama kita dapat berdamai dengan trauma-trauma itu.. maka otomatis luka batin akan sembuh, tapi bukan hilang. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat berdamai dengan diri sendiri agar luka-luka batin ini dapat segera sembuh.

Caranya agak mudah tapi juga sangat sulit. Mengapa? Karena kita harus memaafkan segala peristiwa itu. Memaafkan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan apalagi saat kita terluka oleh ucapan atau perbuatan seseorang entah itu disengaja ataupun tidak disengaja. Memaafkan itu mudah diberikan bila ‘cinta’ atau ‘sayang’ masih kuat tertanam dalam pikiran kita. Tapi saat ‘cinta’ itu telah lenyap dan berganti ‘benci’ atau ‘tidak suka’.. maka memaafkan akan menjadi tanda tanya besar sekali.

Mengapa ‘cinta’ dan ‘sayang’ saya beri tanda kutip satu? karena cinta kita itu ada batasnya, ada ujungnya, ada sesuatunya.. minta balasannya. Bila tidak lagi dicintai, tidak lagi disayang.. maka berbalik menjadi benci. Yang harusnya kita miliki adalah cinta yang sesungguhnya, cinta yang tanpa pamrih, cinta yang tak pernah menuntut, cinta yang penuh pengabdian, cinta yang penuh pengorbanan walaupun sudah ditekan bermilyar-milyar kali. Cinta universal yang dimiliki oleh orang bijaksana, yang dimiliki oleh orang-orang yang telah mencapai tingkatan tertinggi. Cinta inilah yang dapat menyembuhkan luka batin.

Mencari penyembuhan luka batin, hanya dengan mengubah pikiran diri sendiri. Memaafkan! Maafkan ! Berilah maaf! Berikan maaf! Meskipun ia tidak pernah memberikan maafnya kepada kita, meskpun ia tidak pernah memberikan cintanya kepada kita… tidak menjadi masalah. Yang penting, batin kita sehat, yang penting batin kita tidak terluka, yang penting batin kita sembuh.

Mari kita berdamai dengan diri sendiri… menjadi manusia yang sehat mental. Jangan balas perbuatan orang jahat kepada kita, biar anjing menggonggong.. kafilah harus tetap berlalu. Jadilah pulau bagi dirimu sendiri karena tak ada seorangpun yang dapat menyembuhkan batin kita.

Salam sejahtera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: