Catatan harian si pengembara dalam samsara

Apa kah “ITU” ?


TInggal beberapa langkah lagi kaki anak itu mencapai meja makan. Tetapi, seorang senior sudah berteriak membentak “Girl ! Kalo sudah mendengar bunyi bel, kamu harus langsung turun makan! Ini adalah peraturan!” Si Girl kemudian duduk di atas bangkunya, sambil berpikir, apa yang salah dengan diri si senior. Kemudian si Girl bertanya pada orang yang duduk di sebelahnya, “Apa yang terjadi ?” Belum juga mendapat jawaban, si senior sudah membentaknya lagi dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati si Girl. Dan si Girl duduk terdiam…. hatinya menangis, hatinya terluka.

Dia diam termenung berhari-hari, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Tempat yang membawanya pada kedamaian, tempat yang membawanya pada kebebasan, tempat yang membawanya pada suatu harapan di masa yang akan datang.

Air matanya jatuh ke pipi dan tidak ada seorangpun yang tahu, betapa hancur hatinya saat itu. Si senior sendiri ? Dia sudah terbahak-bahak dan melupakan hari berdarah itu.

Sahabat… dari cerita seperti ini, kita bisa menyimpulkan bahwa mulut orang lebih beracun daripada ujung pedang. Ujung pedang melukai badan kita, tetapi mulut orang melukai hati kita. Supaya tidak terluka, kita harus membuat hati kita seperti baja. Ini yang sangat sulit dilakukan. Apalagi kalo yang menyakiti hati kita itu adalah orang yang paling kita cintai, orang yang paling kita sayangi. Seumur hidup, kita akan terus mengingat peristiwa itu, dan kita tidak akan pernah bisa melupakan hari berdarah tersebut.

Sahabat, dari sini kita belajar… hati-hatilah saat berbicara. Boleh menegur orang, boleh memarahi orang, tapi jangan sampai memaki dengan kata-kata kasar, jangan berbicara dengan kata-kata yang menyakiti hati. Jangan timbulkan perselisihan itu dengan kata-kata yang tidak ada manfaatnya yang akibatnya hanya membuat kita menderita dan kita kehilangan kawan dan teman.

Ada banyak yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita ini, salah satunya adalah berbicara dengan ramah, berbicara dengan kelembutan, tapi tetap berprinsip. Bukan lemah tanpa prinsip.

Itulah seni “ITU”.😀

Comments on: "Apa kah “ITU” ?" (2)

  1. Salah satu guruku bilang, kalo ada orang yang menyebutmu dengan anjing, lihatlah pantatmu. adakah buntut panjangnya? kalau tidak ada buntutnya, kita tidak usah marah. berarti orang yang bilang kita anjing salah lihat. kalau kita manusia, ya tidak usah marah, kecuali kalau kita merasa diri kita anjing……

    Kata salah satu guruku yang lain, dan dia dapat dari katanya lagi, kata Sang Buddha, marah berarti sinting sementara….

    jadi kalo marah-marah terus, kita berarti sinting terus-terusan hahahahahahaha:D

  2. wkwkwkw.. bagus jg tuh kata nyaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: