Catatan harian si pengembara dalam samsara

Daun-daun


Tidak sengaja pagi ini gua berdiri di depan jendela kamar. Tidak ada maksud dan tujuan apa-apa, hanya untuk diam dan berdiri mematung di sana. Tapi mata gua jadi memandang ke atas pohon di pojok sana. Badan gua tegak tapi mata gua bergerak naik turun.. memandangi dan menghayati semua daun-daun yang jatuh dari atas ke bawah, lalu jatuh ke tanah.. ditiup angin terbang lagi entah ke mana dan akhirnya hilang karena gua kgak bisa lagi menemukan bayangannya.

Muncul satu kesedihan dalam hati gua, kesedihan yang tiba-tiba muncul dan semakin dirasakan semakin terasa sedihnya. Hidup setiap manusia, hidup kita, hidup gua sama seperti daun-daun itu. Ada yang masih hijau dan segar tapi sudah jatuh tertiup angin. Ada yang memang sudah kering dan menguning lalu jatuh terbang tertiup angin. Ada yang masih menempel di batang-batang kayu dan tidak terjatuh walaupun diterjang hujan dan angin. Ada yang sudah sampai tanah… lalu diam tidak kemana-mana.. ada juga yang tidak sampai ke tanah.. terus terbang.. jauh.. jauh… dan semakin jauh.

Hari ini berkumpul… sesaat kemudian terpencar. Ada yang ke kanan, ada yang ke kiri, ada juga terbawa arus lalu pergi ke mana… tidak tahu lagi. Daun-daun.. seperti hidup gua, hidup lu juga… hidup kita semua.

Waktu kecil… berkumpul dengan orang tua.. dengan adik, kakak.. dengan paman dan bibi, dengan semua sepupu dan keponakan. Sebentar bermusuhan, sebentar tertawa gembira, sebentar ada yang menangis, sebentar ada yang berlari kesana-kemari, sebentar ada yang bertepuk tangan.

Setelah remaja… masing-masing sibuk dengan kegiatan masing-masing, waktu untuk berkumpul semakin sedikit, waktu untuk bercanda semakin tidak ada, waktu untuk saling meledek semakin berkurang. Apalagi setelah dewasa.. kita lupa dengan kanan-kiri kita… kita kejar terus masa depan, kita kejar terus asa-asa kita..kejar terus kejar terus…

Sekarang setelah sangat-sangat dewasa.. baru tersadar… kita hidup seperti daun, menunggu angin menjatuhkan kita dari batangnya, menunggu angin menghentakkan kita dari sumbernya dan kemudian sama-sama terbang… terbang tak tentu arah, diterbangkan angin yang juga tidak ada kepastian, menuju ke kelahiran berikutnya dan berkumpul bersama siapa… kita tidak lagi tahu.

Daun-daun.. yang gua pandangi dari jendela kamar… membuat gua merindukan masa lalu, merindukan masa kanak-kanak, merindukan masa-masa berkumpul untuk tertawa dan bergembira bersama sanak keluarga. Tapi daun-daun itu juga sudah terbang tertiup angin, dan gua… gua harus segera pergi meninggalkan jendela kamar ini… untuk melakukan aktifitas harian yang sama seperti hari kemarin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: