Catatan harian si pengembara dalam samsara

Matahari


Udara Bogor lebih dingin dari Bandung tapi tidak lebih panas dari Jakarta. Bedanya karena Bogor disebut Kota Hujan, maka jarang banget kita liat jalanan kering kerontang penuh dengan debu-debu beterbangan. Hampir tiap hari, Bogor diguyur hujan. Kalaupun panas… paling panas beberapa hari doang, kgak nyampe seminggu rasanya… eh udah hujan lagi. Hohoho…

Hujan ini kadang bisa pagi, bisa siang, bisa sore, dan bisa malam. Apalgi kalau kaya sekarang, musim yang kgak jelas musim hujan atau musim kemarau, hehehe. Kapan aja bisa hujan. Dan yang lucu, di Bogor sering kedengaran suara bising… suara angin… namanya angin ribut. Kalo kita lagi diam di lantai yang tinggi… pasti shock dan cukup tegang juga waktu dengar suara ribut-ribut, bising-bising begitu… aneh lah suaranya.. dan anginnya kencang sekali kayanya bener deh, lagi pada ribut anginnnya. Hahahaha…..

Tapi gua mau bahas matahari… bukan hujannya juga bukan anginnya. Matahari yang tiap hari kita liat, sama seperti yang kalian liat. Sudah beberapa minggu ini gua liat langit warnanya abu-abu.. alias awannya tebal banget. Kadang liat kabut. Kadang malah kgak liat apa-apa saking derasnya hujan. Dan cuaca yang seperti begini… bikin kepala sakit, bikin kita pengen tidur lagi, pengen malas-malasan lah.

Sampai suatu pagi, gua liat semuanya kgak keliatan…  rumah-rumah di bawah kgak keliatan gentengnya, jalanan lebih-lebih lagi gelapnya… liat ke atas juga gelap… yang ada cuma suara air hujan deras banget turun dari langit sana. (Sebetulnya bukan turun dari langit ya….😀 ). Dan muncul satu kedamaian dalam diri gua. Damai bukan karena hujan, bukan karena awan, bukan karena bisa tidur lagi. Hehehe…

Gua damai karena gua yakin matahari tetap seperti kemarin, tetap seperti tahun lalu, tetap seperti ratusan tahun yang lalu… terbit dari timur dan tenggelam di barat. Gua damai karena membayangkan matahari tetap konsisten untuk selalu terbit walalupun bumi lagi badai, walaupun manusia-manusia lagi pada berantem, walaupun awan-awannya tebal banget, walaupun kgak keliatan ama manusia. Betapa hebatnya matahari kita !! Tapi kita selalu melupakan matahari dan kalo matahari tidak muncul, kita nyalahin matahari. Padahal ??? Matahari selalu setia bersama kita, selalu muncul dan selalu bersinar untuk kita. Cuma masalahnya awa-awan selalu menghalangi sinar matahari jadi aja kita kgak bisa liat matahari dengan terik.

Manusia ada bosannya. Manusia ada jenuhnya. Manusia ada berhentinya. Pernah kita bayangin kgak… apa jadinya kita ini kaauo matahari cuti bersinar 2 minggu ? Jangan lama-lama deh… matahari cuti bersinar selama 1 hari satu malam ?? Wah… bunga-bunga, pohon-pohon pasti kgak akan tumbuh, kemudian orang-orang juga kgak tau mesti kerja apa ya… karena semua harus pake listrik… terus digilir lagi mati hidupnya… Aaahhhh.. susah deh !!🙂

Gua sebetulnya ingin seperti matahari… gua juga ingin orang-orang seperti matahari. Selalu konsisten berbuat baik, selalu konsisten menjaga ucapan, pikiran dan perbuatan kita. Seperti matahari, walaupun ada badai, walaupun ada kerisauan, walaupun ada kegundahan, walaupun ada rintangan batin, walaupun ada kemalasan, ada kemarahan, ada kebosanan, ada kejenuhan.. kita tetap harus seperti matahari. Tetap terbit dan tidak pernah cuti untuk bersinar….

😀😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: