Catatan harian si pengembara dalam samsara

Si Bayi (2)


Setelah si bayi lelaki itu berumur 4 bulan, si bapak dan si ibu kembali menanyai anak gadisnya, untuk lebih meyakinkan dugaan dan tebakan mereka selama ini. Benarkah ayah si bayi adalah supir mereka, Ahmad, yang keturunan Afrika ?

Si gadis kali ini tidak menjawab, tapi juga tidak menggeleng. Ia hanya menatap ibunya, lalu menatap ayahnya. Kemudian berbisik,  “Maafkan aku, Pak, Bu!” Si Bapak dan si Ibu semakin bingung dengan jawaban si gadis. Ada rasa marah yang mulai membakar jiwa si Bapak. Ia ingin menampar anak gadisnya. Ia ingin melempar anak gadisnya dengan pot bunga di meja rias. Ia Ingin melakukan semuanya… tapi yang terjadi malah sebaliknya… ia malah menangis… terisak !

Ayah menangis. Menangisi nasibnya yang malang. Ibu termenung. Merenungkan nasibnya yang malang. Si gadis kemudian berlutut di hadapan ayah dan ibunya. Sekali lagi, katanya, “Pak, Bu.. maafkan saya.” Ayah menatap bola mata anaknya dalam-dalam. Rasa sakit dan pedih dalam hatinya, ditunjukkannya kepada si gadis, anak kesayangannya.

Si gadis tertunduk, dan kemudian berkata dengan gemetar, “Saya mencintai dia, saya sangat menyayangi dia. Saya relakan masa depan saya agar saya dapat selamanya bersama dengan dia. Mohon doa restu Ibu dan Bapak, supaya kami berdua bisa bersatu dalam pernikahan yang sah. Mohon doa restu Ibu dan Bapak, agar kami dapat menjadi pasangan yang seia-sekata sampai kematian memisahkan kami.

Ayah dan Ibu diam. Si gadis bersujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: