Catatan harian si pengembara dalam samsara

Sahabat dan “Sahabat”


Pagi ini di meja makan kami sudah ramai sendiri membicarakan persoalan agama, politik, sosial sampai ke urusan pribadi. Seru seh kalo yang bicara punya banyak pengetahuan dan punya banyak penyelidikan. Tapi kalo yang bicara penuh dengan kebijakan-kebijakan dia sendiri tanpa memperdulikan kelompok yang lain…. kayanya ini juga bukan hal yang menyenangkan.

Demikianlah obrolan pagi ini. Masih dipenuhi dengan kata-kata segar, kata-kata konyol dan senyum-senyum penuh harapan. Sapa yang menduga satu menit kemudian segala-galanya berubah menjadi bentakan-bentakan dan teriakan-teriakan. Masing-masing pihak saling memaki dan saling membela kelompoknya masing-masing. Akhirnya terlontar satu kalimat, “Bisa kgak seh kalo ngomong jangan nyindir-nyindir. Pake otak dikit kalo ngomong.” Masih disambung lagi waktu ketemu di depan tangga, “Pake otak kalo ngomong.” ‘Siapa?’ “Kamu !” ‘Kamu yang pake otak kalo ngomong. Otak kgak dipake.’

Begitulah suasana pagi ini berubah menjadi sendu dan air mata. Tapi muncul satu pertanyaan di hati saya. Sahabat ? Ataukah “Sahabat ?”

Kita menjadi SAHABAT bagi orang lain, atau menjadi “SAHABAT” bagi orang lain ? Kalo menjadi SAHABAT bagi seseorang, kenapa kita masih suka membicarakan keburukan dia di belakangnya ? Kalo kita menjadi SAHABAT bagi seseorang, kenapa kita masih tidak bisa menerima segala kekurangannya ? Kalo kita menjadi sahabat bagi seseorang, kenapa kita tidak pernah memahami apa yang sedang dialami, dirasakan dan diinginkannya ?

Sahabat tidak pernah meninggalkan sahabatnya. Ia selalu memiliki waktu untuk para sahabatnya. Ia memiliki semangat untuk para sahabatnya. Ia memiliki kehidupan bagi para sahabatnya. Ia memiliki jembatan bagi para sahabatnya. Ia memiliki air bagi para sahabatnya. Ia memiliki kesetiaan bagi para sahabatnya. Dan yang pasti, ia memiliki kejujuran bagi para sahabatnya.

Ia akan selalu hadir saat kita bergembira. Saat kita berduka, ia ada menemani kita untuk meringankan beban penderitaan kita. Ia tidak pernah menyalahkan kita dan tidak pernah mencurigai kita. Ia tidak pernah cemburu dan ia tidak pernah iri hati. Karena ia mengerti, bahwa sahabatnya adalah segalanya dalam kehidupannya.

“Sahabat” tidak akan pernah memiliki sahabat. Tapi para “sahabat” hanya memiliki “sahabat-sahabat” versi nya sendiri. Berbeda dengan para sahabat yang akan memiliki banyak sahabat.

Anda… saya… mereka… membutuhkan sahabat. Apakah anda mau jadi sahabat bagi orang lain ?

Comments on: "Sahabat dan “Sahabat”" (1)

  1. sahabat? utk cr seorang sahabat itu ga gampang….
    kita mau jd sahabat bagi org lain tp siapa yg mau jd sahabat bagi kita????
    dl g jg pny bbrp sahabat, tp saat g memerlukan bantuan mrk, mrk ga prnah muncul….tp saat mrk memerlukan bantuan g mrk selalu membawa2 kata “kita khan sahabat” ms u ga mau bantuin g???
    ckp kecewa jg dengan sahabat2 ini….
    tp 1 hal yg pasti, jgnlah krn kekecewaan ini kita ga mau menjadi sahabat bagi org lain. berpegang pada pepatah “lebih baik memberi daripada menerima” dengan begitu hidup kita akan lbh bahagia walaupun tanpa seorang sahabat. betullll??????? hehehee…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: