Catatan harian si pengembara dalam samsara

M A K A N


Semua orang pasti harus makan, setuju ? Ada yang disebut sarapan, ada yang disebut makanan ringan, ada yang disebut makanan berat. Gunanya ya macam-macam. Ada yang makan sekedar iseng karena mulutnya gak mau diam, ada yang makan untuk menambah energi supaya bisa beraktifitas, ada juga yang karena alas an kesehatan dan itu semua memang dibenarkan oleh kita semua.

Di dalam ruangan makan di vihara-vihara Mahayana, biasanya kita mendapati lima baris syair yang tertempel di tembok depan, dalam bahasa Mandarin yang bunyinya demikian:

一,        计功多少。量被来处。

二,        忖已德行。全缺应供。

三,        防心离过。贪等为宗。

四,        正事良药。为疗形枯。

五,        为成道业,应受此食

Ke lima syair ini digunakan oleh para monastik selama melakukan proses makan. Ke lima syair ini adalah syair perenungan, yang harus dilakukan oleh setiap orang saat makan.

Yang pertama, ada berapa banyakkah kebajikan yang kita miliki ini. Yang kedua, apakah dengan kebajikan yang kita miliki sekarang ini, kita sudah layak untuk menerima persembahan ini. Yang ketiga, tinggalkan semuanya, keserakahan, dsb. Yang keempat, makanan ini adalah sebagai obat, untuk mempertahankan badan jasmani. Yang terakhir, kita makan demi mencapai kebuddhaan.

Makan. Anda makan dengan sendok ? Dengan sumpit ? Dengan tangan ? Sama saja ! Selama makan, kita tidak boleh meninggalkan lima perenungan tersebut. Makan adalah suatu pelatihan diri. Dalam proses makan, kita harus punya semangat, perhatian,  punya kesadaran,  cinta kasih, tekad. Dan yang paling penting, kita harus bisa meninggalkan keserakahan, kesombongan, kemelekatan, ketidaksenangan dan kebodohan batin.

Makan itu gampang-gampang mudah. Mudah.. karena tinggal buka mulut, masuk mulut, kunyah lalu telan. Buka mulut, masuk mulut, kunyah dan telan. Buka mulut, masuk mulut, kunyah dan telan. Tapi setiap kunyahan yang kita lakukan.. apakah kita lakukan dengan penuh kesadaran ? Apakah kita mengunyah dengan penuh perhatian ? Apakah kita mengunyah dengan satu tekad agung ? Apakah kita mengunyah tanpa keserakahan ?

Kalau sudah tahu, makan adalah suatu bentuk pelatihan diri, kenapa kita tidak memulai dari makan untuk melatih diri kita sendiri, selain membaca sutra dan mantra, dan meditasi. Buddha adalah makhluk yang telah sadar. Mari kita mulai dari makan, untuk menjadi makhluk yang sama seperti Buddha, makhluk yang sadar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: