Catatan harian si pengembara dalam samsara

Guru


Menurut saya… tidak semua orang guru adalah “GURU”. Kalo kita baca buku Laskar Pelangi.. ada tertulis pengorbanan seorang kepala sekolah yang murid-muridnya makin lama makin sedikit tapi tetap bertahan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.. meskipun tahu ia bakal dilupakan oleh semua eks muridnya setelah lulus dari sekolah tersebut.

GURU. Saya pernah disapa seorang anak suatu sore saat akan menutup pintu pagar untuk pergi ke suatu tempat. Anak itu menyapa saya dengan kalimat, “Guruuuu… udah mau berangkat ya ?”

Sapaan yang halus dan penuh santun tetapi terasa asing di telinga dan terasa tersindir hati ini… GURU ?? Apakah saya mampu menyandang gelar GURU sementara saya sendiri hanya sekedar datang, mengajar kemudian pulang?? Oh, tidak !! Rasanya berat.. berat sekali dengan panggilan GURU itu. Saya ingin berlari dan menyembunyikan muka di mana saja.. malu dengan panggilan tersebut.

Saya membalas sapaan dengan anggukan kepala dan tersenyum meskipun hati ini menjadi galau dengan panggilan si anak tersebut. Memasang gaya sedikit jaim dan sok berwibawa.. supaya terkesan bahwa saya emang guru yang baik dan bijaksana. Hahaha… menipu diri sendiri sebetulnya karena saya tahu percis kalo saya bukanlah seorang guru yang baik.

Menurut saya.. seorang guru adalah seorang pahlawan. Seorang yang siap dilupakan dan siap ditertawakan. Seorang yang siap untuk dilecehkan dan dipermainkan serta digosipkan.. seorang yang siap miskin dan tidak punya apa-apa dan hanya melihat satu per satu murid-muridnya jadi orang terkenal dan berhasil.. tetapi tidak apa… suatu saat ia pasti dikenang oleh murid-muridnya.

Seorang guru tidak boleh marah-marah. Ia harus bijaksana, sabar, galak, disiplin, murah senyum, berwawasan luas, tutur bahasanya halus, tingkah lakunya tidak tercela, tatapan matanya memancarkan keteduhan, dan yang paling penting.. guru itu harus seperti air yang mengikuti wadahnya. Saat anak-anak harus dimarahi, ia harus marah. Saat anak-anak perlu perhatian, ia harus memberikan kasih sayang. Saat anak-anak penuh ketakutan, ia harus bisa menenangkan.

Seseorang menjadi guru… harusnya bukan karena tidak ada pilihan yang lain. Juga tidak boleh karena disuruh orang lain. Seorang yang menjadi guru haruslah karena keinginannya sendiri… ingin mendidik dan mengajar orang lain. Ia tidak boleh hanya mengajar tapi tidak mendidik. Ia juga tidak boleh hanya mendidik tapi tidak mengajar. Ia harus menjadi pendidik dan juga menjadi pengajar.

Guru adalah panutan. Guru kencing berdiri.. murid kencing berlari. Ada banyak hal yang harus dikorbankan untuk memajukan seorang murid. Termasuk mengorbankan waktunya dan mengorbankan kebebasan dirinya sendiri. Menjadi guru artinya tidak bebas lagi. Ia tidak bisa lagi pergi ke club-club dan berdisco seenak hati. Ia tidak boleh menampar orang walaupun mungkin tangan ingin menampar. Ia tidak boleh memarahi dengan bahasa yang kasar walaupun hatinya ingin sekali meneriakkan kata-kata kasar. Ia menjadi tauladan murid-muridnya. Ingin murid yang berhasil ? Itu semua tergantung dari gurunya.

Oleh karena itu.. Hai para guru… marilah kita menjadi seorang pengajar dan pendidik yang berdedikasi tinggi, mengabdi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara… karena… “GURU bagaikan pelita dalam kegelapan..”

Comments on: "Guru" (1)

  1. menurut sy suhu jg guru yg hebat.bs buat blog2 ky gn wat kt semua(murid2 suhu or umat awam) introspeksi diri.suhu py dedikasi yg tinggi tuk menyandang predikat seorg Guru n sy yakin suhu pst bs menyandang nama tsb.trs berjuang Guru!!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: