Catatan harian si pengembara dalam samsara

Penjahat


Dalam suatu bincang-bincang dharma di suatu vihara, saya sempat bertanya kepada teman-teman yang hadir, suatu pertanyaan seputar peristiwa yang baru-baru ini terjadi, teroris.

Saya mengumpamakan, anda semua adalah seorang ibu yang memiliki 12 orang anak. 6 orang anak diantaranya adalah anak-anak yang berbakti, yang tidak pernah salah, selalu menjadi panutan masyarakat. Dipercaya oleh orang-orang, terpandang dan terhormat serta terpelajar. Yang tidak pernah membuat kepala kita sebagai seorang ibu, pusing.

Sementara 6 orang anak lainnya adalah berandalan, hura-hura, mabuk-mabukan, penjudi bahkan 3 diantara 6 orang ini akhirnya masuk dan tinggal di penjara sampai bertahun-tahun. Tidak ada hal yang bisa dibanggakan dari ke tiga anak yang masuk penjara ini. Selalu membuat onar, membuat pusing dan membuat malu nama keluarga kita.

Sebagai seorang ibu… saat mendengar 3 orang anak ini besok akan keluar dari penjara.. akankan membuka pintu rumah menyambut ketiga anak yang hilang tersebut ? Ataukah segera mengunci pintu dan mempersiapkan para tentara serta polisi untuk berjaga-jaga dan mengusir tiga orang anak tersebut begitu mereka tiba di rumah ??

Saya jamin dan saya yakin, jawaban dari kita semua adalah sama, membuka pintu rumah dan menunggu ketiga anak kita pulang ke rumah dengan kerinduan yang mendalam. Mengapa ?? Karena mereka anak kita, mereka adalah keturunan kita.. mereka adalah kehidupan kita. Setuju ??

Misalkan pertanyaan ini saya balikkan, misalkan ibu ini bukan saya. Ibu ini adalah tetangga kita di kampung. Anda adalah tetangga si keluarga ini. Akankah menerima kehadiran tiga orang ini di kampung anda ? Ataukah anda mengunci pintu rumah rapat-rapat dan buru-buru memanggil satpam untuk berjaga-jaga, curiga kalau-kalau mereka akan masuk ke rumah kita diam-diam ??

Saya yakin, jawaban kita juga sama… kita takut dan akan berjaga-jaga.. kalau boleh dan kalau bisa, 3 orang ini jangan masuk dan jangan pulang lagi ke kampung kita.

Pertanyaan saya berikutnya, kenapa ada jawaban yang berbeda seperti itu ? Pernahkah anda mencoba menyelami perasaan seorang ibu ? Menukar posisi dia adalah aku, dan aku adalah dia ?? Bukankah jawaban yang diberikan akan lebih bijaksana ?

Kalau saya adalah dia… tentunya akan lebih mudah kita mengambil satu kebijaksanaan. Bukan melulu karena emosi sesaat, ataupun karena keegoisan pribadi. Kembali.. kalau saya adalah dia… apa yang akan kamu lakukan.. kalau kamu adalah saya ??? Mungkin anda pun akan sulit menjawab…

“Kalau kamu adalah saya…. ” mungkin kita bisa lebih menyayangi orang lain, mungkin kita bisa lebih menghargai pendapat orang lain, mungkin kita bisa lebih bertoleransi pada kehidupan orang lain, mungkin kita bisa lebih mencintai makluk-makhluk hidup lainnya…

Kalau kamu adalah saya…. 😀

Comments on: "Penjahat" (1)

  1. febby lie said:

    sy akan terus exist menjd perpjgan tangan sang Bodhisatva dimanapun dan kapanpun bahkan di dunia maya sekalipun.pokokny cr t4 yg plg exist🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: