Catatan harian si pengembara dalam samsara

Keadilan yang Tidak Adil


Lestari berdiri mematung. Dadanya berdegup kencang. Tangan dan kakinya mulai gemetar. Air mata mulai membayang di sudut matanya. Aku tidak lulus ?? teriaknya dalam hati.. apa kata ibunya nanti.. apa kata saudara-saudaranya nanti… apa kata orang-orang yang mengenalnya ? Aku tidak lulus ? jerit Lestari dalam hati.

Di sudut ruangan kelas 3 IPA.. Lestari duduk di bangkunya. Seorang diri. Tak seorangpun berani mendekati Lestari. Semuanya ikut bersedh. Lestari bukan tidak belajar. Lestari bukan anak yang malas. Lestari bukan anak yang tidak bisa apa-apa. Dia pintar.. dia tidak malas. Dia serba bisa. Hanya saja… Bejo mencontek hasil ulangan Lestari. Akibatnya fatal… mereka berdua menjadi tidak lulus. Ibu guru tidak mau tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Ibu guru hanya ingin menegakkan keadilan di dunia ini.

Sri sebagai ketua kelas kemudian beranjak dari tempat duduknya. Menuju ke depan kelas. ” Teman-teman, mari kita menuju kantor kepala sekolah. Kita laporkan peristiwa ini kepada bapak kita. .. mudah-mudahan bapak kita memberikan jalan keluar atas kasus yang menimpa Lestari. ” Anton menyahut, ” Ayo.. kita jalan ! Aku setuju dengan ide ini ! ” Semua penghuni kelas 3 IPA kecuali Lestari berjalan beramai-ramai menuju kantor Bapak Sardin, kepala sekolah SMAN 3.

Pak Sardin mengernyitkan dahinya.. dia sibuk berpikir… apa yang harus diputuskannya untuk menyelesaikan kasus Lestari ini. Beliau takut.. anak-anak ini akan berdemo sampai ke jalanan.. membawa spanduk-spanduk besar.. berteriak-teriak di depan gedung. Lalu SMAN 3 akan menjadi terkenal akibat ulah anak-anak ini… kemudian SMAN 3 akan muncul gambarnya di koran-koran ibukota.. akan muncul juga di Televisi-televisi nasional. Kemudian ia akan diwawancara oleh semua orang. Dipanggil oleh Depdikbud untuk mempertanggungjawabkan kasus ini. Membayangkan semuanya ini…Pak Sardin menggeleng – gelengkan kepalanya.. kebingungan.

Sri memaksa Pak Sardin , ” Pak.. Lestari bukan anak yang suka menyontek, Pak ! ” Ria yang sangat pemalu dan terkenal pendiam di kelasnya pun bersuara , ” Pak.. silakan Bapak telusuri benar-benar.. siapa diantara kami yang suka menyontek dan yang tidak menyontek. Apakah Bapak tega… anak yang tidak pernah menyontek tidak lulus ? “

Pak Sardin diam membungkam. Dia tahu semuanya. Dia tahu… dia sangat mengerti. Tapi dia tidak berdaya. Tertulis adalah bukti yang bisa dipertanggungjawabkan walaupun itu bukan hasil yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: