Catatan harian si pengembara dalam samsara

Sekeranjang Buah


Tok.. Tok.. Tok… ” Permisi.. ada orang di dalam ?? ” Tok.. Tok.. Tok.. ” Permisi… Pak.. Bu.. ada orang di dalam ?? ” Tok.. Tok.. Tok.. ” Permisi, Pak… permisi.. Pak.. Pak… Bu.. Bu.. Permisi.. Permisi.. ” Anto celingukan mencari penghuni rumah tersebut. ” Pak… Bu.. bu.. Ada orang di dalam ?? Permisi.. Permisi..  Pak ?? ” ” Aduh.. gimana neh.. yang punya rumah kgak ada… ini paket mau dikemanain ya ?? Aduuhhh… bingung deh.. Pak… Bu… permisi… ada paket, Pak ! “

Anto akhirnya duduk di teras rumah. Iseng.. dibukanya kartu yang ada di atas plastik penutup buah tersebut. ” Selamat ulang tahun, Sahabat ! Aku minta maaf… Frans ” Membaca kalimat yang singkat dan padat itu… kepala Anto serasa terhantam beban yang berat. Teringat lagi peristiwa setahun yang lalu, saat ia pulang ke kampung halaman… Sahabatnya, Heru, datang kepadanya sambil mengucapkan selamat ulang tahun dan juga sambil meminta maaf kepadanya…

Heru !! Batinnya bergejolak.. jantungnya langsung berdegup kencang… tangannya mengepal… ingin dipukulnya muka orang itu.. ingin dihantamnya kepala orang itu ke tembok.. ingin dihajarnya orang itu sampai hancur.. Anto menggigit bibirnya.. kemudian menundukkan kepalanya.. menaruhnya di sela-sela lututnya.. Anto menangis.. Heru telah mengambil pujaan hatinya, Heru telah mengambil orang yang akan melahirkan anak-anaknya, Heru telah mengambil hati orang yang akan dinikahinya… Heru !!! Kembali Anto merana..

” Ehmm.. Ehmm… ” Buru-buru Anto berdiri dan menggosok-gosokkan matanya.. setengah malu.. katanya, ” Selamat siang, Pak ! mmm…Bapak yang tinggal di sini ? Maaf, Pak.. saya mengantarkan paket buah ini.. untuk Bapak.. dari teman Bapak. Tolong tanda tangan di sini , Pak ! Terima kasih, Pak ! “

Anto baru berjalan 10 langkah.. saat terdengar suara Bapak itu memanggilnya ” Nak.. kemarilah. Ambillah buah ini… bawalah pulang. Aku tidak ingin memakannya. ” Anto melihat bayangan air mata di pelupuk matanya. Terpancar kesedihan yang mendalam. Luka yang tidak terobati.. yang telah tertoreh begitu lama. Luka yang tidak dapat disembuhkan.. oleh siapapun.. selamanya..

” Pak… relakanlah ia pergi. Biarkan ia bebas memilih kehidupannya. Biarkan ia menjalani kebahagiaannya. Mencintai seseorang bukan berarti harus membiarkan ia ada di samping kita. Mencintai seseorang artinya membiarkan ia memilih jalan kebahagiaannya… Paaakkk… Maafkanlah mereka, Pak ! “

Menetes air mata Bapak tua itu… ia menangis.. menangis tanpa suara.. hati Anto larut.. Bapak tua itu sesengukan kemudian berlutut dan menjatuhkan badannya ke lantai.. sambil setengah mendesis ia bertanya , ” Katakan padaku… katakanlah.. mengapa ia tidak memilih aku ?? Katakan mengapa ia memilih sabahat baikku ?? Mengapa ??? Katakan…… tolong katakan… cepat katakan…”

Anto menjawab perlahan, ” Karena ia memberikan hatinya.. karena ia memberikan waktunya.. karena ia memberikan dirinya… ” Lanjutnya lagi dengan lirih, ” Sementara kita… kita hanya bisa memberinya janji-janji dan mimpi-mimpi… yang tidak pernah ada akhirnya… “

Comments on: "Sekeranjang Buah" (1)

  1. wah urusan cinta no comment deh syusahhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: