Daun-daun

18 03 2010

Tidak sengaja pagi ini gua berdiri di depan jendela kamar. Tidak ada maksud dan tujuan apa-apa, hanya untuk diam dan berdiri mematung di sana. Tapi mata gua jadi memandang ke atas pohon di pojok sana. Badan gua tegak tapi mata gua bergerak naik turun.. memandangi dan menghayati semua daun-daun yang jatuh dari atas ke bawah, lalu jatuh ke tanah.. ditiup angin terbang lagi entah ke mana dan akhirnya hilang karena gua kgak bisa lagi menemukan bayangannya.

Muncul satu kesedihan dalam hati gua, kesedihan yang tiba-tiba muncul dan semakin dirasakan semakin terasa sedihnya. Hidup setiap manusia, hidup kita, hidup gua sama seperti daun-daun itu. Ada yang masih hijau dan segar tapi sudah jatuh tertiup angin. Ada yang memang sudah kering dan menguning lalu jatuh terbang tertiup angin. Ada yang masih menempel di batang-batang kayu dan tidak terjatuh walaupun diterjang hujan dan angin. Ada yang sudah sampai tanah… lalu diam tidak kemana-mana.. ada juga yang tidak sampai ke tanah.. terus terbang.. jauh.. jauh… dan semakin jauh.

Hari ini berkumpul… sesaat kemudian terpencar. Ada yang ke kanan, ada yang ke kiri, ada juga terbawa arus lalu pergi ke mana… tidak tahu lagi. Daun-daun.. seperti hidup gua, hidup lu juga… hidup kita semua.

Waktu kecil… berkumpul dengan orang tua.. dengan adik, kakak.. dengan paman dan bibi, dengan semua sepupu dan keponakan. Sebentar bermusuhan, sebentar tertawa gembira, sebentar ada yang menangis, sebentar ada yang berlari kesana-kemari, sebentar ada yang bertepuk tangan.

Setelah remaja… masing-masing sibuk dengan kegiatan masing-masing, waktu untuk berkumpul semakin sedikit, waktu untuk bercanda semakin tidak ada, waktu untuk saling meledek semakin berkurang. Apalagi setelah dewasa.. kita lupa dengan kanan-kiri kita… kita kejar terus masa depan, kita kejar terus asa-asa kita..kejar terus kejar terus…

Sekarang setelah sangat-sangat dewasa.. baru tersadar… kita hidup seperti daun, menunggu angin menjatuhkan kita dari batangnya, menunggu angin menghentakkan kita dari sumbernya dan kemudian sama-sama terbang… terbang tak tentu arah, diterbangkan angin yang juga tidak ada kepastian, menuju ke kelahiran berikutnya dan berkumpul bersama siapa… kita tidak lagi tahu.

Daun-daun.. yang gua pandangi dari jendela kamar… membuat gua merindukan masa lalu, merindukan masa kanak-kanak, merindukan masa-masa berkumpul untuk tertawa dan bergembira bersama sanak keluarga. Tapi daun-daun itu juga sudah terbang tertiup angin, dan gua… gua harus segera pergi meninggalkan jendela kamar ini… untuk melakukan aktifitas harian yang sama seperti hari kemarin.





Ikan

14 10 2009

Di sebuah perjamuan makan malam, banyak tamu undangan yang hadir mengucapkan selamat kepada sepasang kakek & nenek yang pada hari itu merayakan Ulang Tahun Perkawinan yang ke-50 tahun. Semua tamu yang hadir ikut dalam suasana bahagia, menyaksikan betapa kakek & nenek tersebut masih saling mencintai meskipun keduanya sudah tidak muda lagi. Banyak pasangan tamu undangan yang berharap kelak akan mengalami hal yang sama. Pada saat jamuan makan mulai seperti biasa tamu-tamu duduk pada meja bundar untuk menikmati makanan yang disediakan.
Pada meja kakek & nenek tersebut telah terhidang masakan ikan kesukaan mereka berdua. Dengan penuh kasih sayang, seperti kebiasaanya sang kakek mengambil bagian kepala ikan tersebut & meletakkan ke piring istrinya.
Sang istri terdiam… Mata nenek tua tersebut mulai berkaca-kaca, dengan terbata-bata berucap: ” Lima puluh tahun lamanya aku menjadi istrimu, selama itu aku selalu mengabdikan seluruh hidupku untukmu, suamiku. Betapa lama kalau kita menghitung hari demi hari yang kita lalui. Betapa panjang perjalanan hidup yang kita jalani bersama. Selama lima puluh tahun kau selalu memberikan kasih sayang & semua yang kau miliki. Selama itu pula kau selalu memberikan bagian kepala apabila kita menyantap menu ikan, sungguh hal itu yang paling tidak aku sukai, tetapi aku memakannya karena aku menghormatimu & tidak ingin membuatmu kecewa”.
Sang kakek terpana… Dengan suara parau & mata berkaca kakek tersebut berkata: “Lima puluh tahun aku lalui segala rintangan & kebahagian bersamamu, istriku . Dulu aku adalah seorang pemuda miskin yang tak berharta, tetapi engkau bersedia menikah denganku. Sejak saat itu aku telah bersumpah akan selalu membahagiakan engkau, aku akan selalu memberikan yang terbaik yang aku mampu sebagai tanda betapa aku sangat mengasihimu dengan segenap hati. Bagian yang paling aku suka dari masakan ikan adalah bagian kepala, oleh karena itu selalu kuberikan kepadamu karena aku selalu ingin memberikan yang terbaik hanya untukmu. Selama bertahun-tahun kita menikah, selama ini kita hidup bahagia meskipun pada awal pernikahan kita hidup sederhana tetapi engkau tak mengeluh. Aku selalu bekerja keras hanya untuk membahagiakan & memberikan yang terbaik bagimu & anak anak kita. Istriku, selama ini kita saling mengasihi, mencintai tanpa henti, tetapi ternyata kita tidak saling memahami”. Betapa sang nenek harus menelan kekecewaan setiap mendapat kepala ikan hanya untuk membahagiakan sang suami. Betapa kakek harus merelakan bagian kepala ikan yang sangat disukai hanya untuk membahagiakan sang istri.
Si nenek selama 50 th sudah melakukan penundukan diri begitu juga si kakek dia sudah mengasihi si nenek, tapi ternyata ada kekecewaan disana.

Kesimpulan : Jangan abaikan komunikasi !!!








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.