Kecerdasan VS Kebijaksanaan

15 12 2011
Monkey’s mind:
Saya membaca tentang kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki seorang anak manusia. Cerdas dalam berhitung di sekolah, belum tentu bisa menghitung berapa banyak helai uban yang ada di atas kepala saya. :)

Kalau begitu, selain mengembangkan kecerasan… ada baiknya kita juga mengembangkan kebijaksanaan. “Berapa banyak helai rambut di atas kepala bapak?” bisa dijawab dengan “sebanyak jumlah pasir di pantai Pangandaran”.

Arti halusnya…. “Yuk, pak ! Kita sama-sama ngitung”… berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Hehehehe….

Itu yang status yang saya tulis hari ini di salah satu jaringan sosial. Sosial atau sok sial saya juga tidak paham. Kadang-kadang emang berbau sosial. Kadang-kadang komen-komen yang dilontarkan membuat kita jadi sok sial juga. Ya, bagaimanapun … jama sekarang ini jaringan sosial sudah mewabah. Kalau kita tidak ikut memanfaatkannya… kita disebut kuno, gak zaman, kampungan, norak.
Apa yang saya pelajari dari kecerdasan-kecerdasan tersebut?
Ternyata setiap individu memiliki dan dapat mengembangkan kecerdasan yang lain selain kecerdasan matematika logis. Singkat kata, seorang anak memiliki banyak kecerdasan alias memiliki kecerdasan ganda dan bukan hanya satu saja. Kalau begitu, kita tidak boleh memberi cap pada anak. Misalnya angka berhitung 20 lalu minggu depan 50 lalu bulan depan 40. Kita sebut dia si bodoh. Kita sebut dia si lemot. Kita sebut dia si bego. Itu gak diperbolehkan dan gak pernah boleh dibenarkan. Mengapa? Karena tiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing. Kecerdasan matematika logis itu khusus dikembangkan di sekolah, pake rapor terus pake laporan ke orang tua dan dapat ijazah pas lulus kemudian dapat kerja di perusahaan bonafid. Tapi kecerdasan tiap orang itu bukan melulu kecerdasan matematika logis.
Ada anak yang memiliki keistmewaan di bidang nyanyi, lukis, olah raga, bicara, pidato,  merenung, hiking, ngurus anjing, miara burung. Itu semua adalah bagian dari kecerdasan. Jadi jangan suka maksain keinginan orang tua sama anak karena anak memiliki kecerdasan berbeda dengan orang tuanya. Boleh aja papa nya dokter umum mamanya dokter gigi. Kalau anaknya hobinya ke musik, ya jangan paksa anaknya buat jadi dokter. Kecuali emang itu anak ada kecerdasan yang sama dengan orang tuanya.
Di sini yang saya pelajari ada 9 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner. Ada kecerdasan matematika logis, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan kinetetis/tubuh, kecerdasan musik, kecerdasan verbal/linguistik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial. Terus memiliki kecerdasan-kecerdasan ini bukan berarti kita harus jadi atlet Sea Games, atau penyanyi papan atas, atau mengimbangi Picasso, ata seperti Bill Clinton. Misalnya anda hobi badminton, hobi renang, hobi nyelam, bisa balet…. nah itu udh termasuk kecerdasan kinetis. Pokoknya yang berurusan ama olah tubuh. Nyetir mobil, naik sepeda, jalan kaki itu pun sudah termasuk memiliki kecerdasan. Atau hobi merenung, melihat ke dalam diri sendiri .. itupun sudah termasuk memiliki kecerdasan intrapersonal. Atau hobi melobbi orang, ahli marketing.. itu termasuk memiliki kecerdasan interpersonal. Gampang kan? 
Jadi sebetulnya kita gak boleh menghina orang lain, gak boleh menjelekkan orang lain, karena tiap orang punya bakat nya masing-masing. Tiap orang punya keterampilannya masing-masing. Kalau dikembangkan terus-menerus, ya jelaslah anda jadi profesional.
Sebagai orang tua yang punya anak, kita harus mengenali kecerdasan-kecerdasan anak kita.  Kalau anak cerdas di Matematika, boleh lah suruh sekolah tinggi-tinggi. Tapi kalau anak kecerdasan dominannya di musik.. gak minat banget di Matematika walaupun sudah dipanggilkan guru les, sebagai orang tua harus bijaksana menyikapi hal ini. Gak bisa maksa anak karena anak harus mandiri dan berkembang sesuai dengan kecerdasannya. Jadi mau gak mau dah orang tua mengalah, merelakan keinginannya sendiri dan membiarkan anak menjadi dirinya sendiri. Itulah bijaksana ! Itulah cinta kasih ! Itulah kebesaran hati !
Oleh karena itu… ahli matematika memang dikagumi banyak orang, semua orang. Tetapi belum tentu ahli matematika bisa menghitung jumlah uban di kepala saya. Jadi daripada ngitungin uban di kepala saya… lebih baik jawab saja, sebanyak pasir di pantai pangandaran. Artinya… jumlah banyak dan tidak lagi dapat terhitung. Kalaupun dapat terhitung, itu hanya menghabiskan waktu dan menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat yang lebih bermanfaat.
Saya suruh anak ngitung uban.. terus anak itu nyuruh saya ngitung pasir… gak mungkin dong kita lakuin. Malas pasti !! Jadi… simpulkan sendiri ya… :)
Selamat melatih kecerdasan, selamat menikmati kecerdasan, selamat memanfaatkan kecerdasan… :)  
 




A Chance never comes twice

5 12 2010

“A chance never comes twice”.

Saat dia bilang, gua suka ama lu. Lu ragu-ragu jawab OK nya. Alasannya karena usia lu masih 1 SMP jadi masih dengerin kata-kata orang tua buat rajin-rajin belajar. Kalo pacaran dulu, ntar pelajarannya ketinggalan terus gak naik kelas, terus besar mau jadi apa ????

Saat dia bilang, gua suka ama lu. Lu juga ragu-ragu bilang OK nya karena lu baru aja nginjekkin kaki di 1 SMA. Lagi asyik-asyiknya jalan sana jalan sini ama temen-temen baru. Suruh pacaran ???? Aduh… kayanya gimana ya.. kebebasan bakal hilang, kemana-mana mesti berdua. Main berdua, ke kantin berdua, pulang berdua, kemana-mana berdua. Padahal kata orang, masa remaja itu masa yang paling manis. Masa seh mesti abis waktu ama pacaran?

Waktu dia bilang, gua suka ama lu. Lu juga setengah hati jawab OK nya. Karena baru aja keterima di kampus favorit. Udah cape-cape belajar buat masuk kampus favorit dan jurusan favorit.. masa seh mesti terhambat gara-gara urusan pacaran ??? Aduh… kayanya gak deh.

Waktu dia bilang, gua suka ama lu. Lu baru aja lulus kuliah. Baru aja masuk kerja di perusahaan bonafit. Terus denger-denger perusahaan lagi cari anak-anak bea siswa buat belajar lagi ke luar negeri. Lu harus ikutan.. Lu harus lulus.. Lu harus bisa. Pacaran ??? Ntar lagi deh… kan masih ada waktu.

Waktu dia bilang, gua sama lu. Usia Lu udah 28 tahun… karir lu lagi bagus-bagusnya. Masa seh suruh kawin, terus diam di rumah, ngelahirin anak, ngurusin dapur, belanja ke pasar dan nongkrong depan TV tiap hari. Adddduuuuhhhhh kayanya sedih amat mati karir kalo kaya gini. Lu tunggu cowok lain aja … yang bisa dukung lu buat berkarir. Lu  bisa gaji baby sitter buat anak-anak dan pembantu-pembantu buat ngurusin rumah tangga.

Saat lu bilang suka ama dia…. dia bilang, “Maaf… usia kamu sudah 35 tahun. Gua mau cari gadis-gadis remaja yang usianya 25 tahunan.” Hiks….

Saat lu bilang suka ama dia… suka ama dia… suka ama dia…. gak ada orang yang mau menerimanya. Kesempatan lu terbang dibawa kupu-kupu belang. Lewat begitu aja dibawa semilir angin.

Bener kata orang, “A chance never comes twice”. Tapi tetep kita harus berprinsip …. I will never GIVE UP !!!!

Horas !!!! :)   :)   :)





Telinga Kanan Lebih Mudah Menerima Ucapan Maaf

15 03 2010

Pernahkah Anda kesulitan meminta maaf pada seseorang? Mungkin ada yang salah dengan cara Anda meminta maaf. Menurut peneliti, agar kata maaf lebih diterima oleh seseorang, ucapkanlah ke telinga kanannya.

Peneliti dari the University of Valencia, seperti dilansir Telegraph, Kamis (4/2/2010) mengatakan bahwa ketika sedang marah, telinga kanan akan lebih responsif terhadap suara atau bunyi-bunyian daripada telinga kiri.

Dengan mengatakan maaf ke telinga kanan maka kemungkinan pesan tersebut masuk ke otak akan lebih besar dan membuat kata maaf lebih mudah diterima. Peneliti menyimpulkan hal tersebut setelah melakukan tes pendengaran terhadap 30 partisipan pria yang sedang marah.

Untuk memancing emosi dan kemarahan partisipan, peneliti memberikan bacaan yang menimbulkan emosi dan permusuhan. Peneliti kemudian memonitor detak jantung, tekanan darah dan level hormon testosteron partisipan. Sebuah bunyi atau suara kemudian diperdengarkan pada telinga kanan dan kiri partisipan.

Berdasarkan hasil studi tersebut, ketika sedang marah ternyata partisipan lebih bisa menerima pesan atau bunyi-bunyian dari telinga kanan daripada telinga kiri. Hasil inilah yang kemudian membuat peneliti menyarankan pentingnya meminta maaf lewat telinga kanan.

Bunyi kata maaf yang dimasukkan ke telinga kanan akan memungkinkan pesan ‘maaf’ itu dicerna dan diproses lebih baik dalam otak, terutama otak kiri.

Seperti diketahui, otak kiri berfungsi mengontrol semua aktivitas dan merespons stimulasi anggota tubuh bagian kanan sementara otak kanan justru sebaliknya. Otak kiri juga berfungsi melakukan proses yang berhubungan dengan logika atau pemikiran sehingga bisa menerima pesan dengan lebih rasional.

Penemuan yang dipublikasikan dalam Journal Hormones and Behaviour ini menghasilkan teori baru, yaitu dengan mengarahkan pembicaraan ke telinga kanan, komunikasi akan berjalan lebih baik karena suara yang datang dari telinga kanan akan lebih didengar oleh otak daripada pesan dari telinga kiri.

Nurul Ulfah – detikHealth








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.