Gua pilih Lu atau Lu pilih gua seh?

15 12 2011
Monkey’s mind:
“Saya tidak mau… orangnya hitam, pendek lagi”,”Saya tidak mau.. orangnya terlalu putih, saya gak suka ama orang putih.” “Gak mau ah, ketinggian”,”Gak mau ah, kurang perhatian”,”Gak mau ah, gua gak demen”, “gak mau pokoknya gak mau”, “Gua maunya ama yg tinggi kurus”, “Tipe gua yang bodynya bagus…”,”Gua suka ama yang kinclong-kinclong”, “Gua…gua… gua… gua… gua…. “

Kesimpulan:
Kalau gua aja milih-milih, dia milih gua gak ya??? *kedip-kedip sambil merenung*.

Nah lho…. banyak banget ya orang yang gak sadar kalau dirinya itu suka pilih-pilih. Pilih-pilih makanan aja udah susah ditorerir. Lha ini… pilih-pilih orang,
Yang cewek, milih cowok. Yang cowok, milih cewek. Yang cewek, pangen yang badannya atletis, yang tinggi, yang putih, yang tajir, yang perhatian, yang tanggung jawab, yang ganteng, yang cute, yang matanya bulet, yang bulu matanya lentik, yang hidungnya mancung, yang badannya kekar, yang dadanya bidang, yang jago olah raga, yang pintar masak, yang sabar, yang pinter cari uang, yang bijaksana, yang pendiam, yang seneng jalan, yang doyan makan, yang suka humor, yang periang, yang suka bercanda, yang sabar, yang rajin, yang seneng kerja, yang suka bantu-bantu di rumah, yang sayang orang tua, yang royal, yang banyak hartanya, yang… yang… yang…
Yang cowok request nya beda lagi. Ya iyalah beda… dia kan cowok. Hehehe. Cowok mintanya yang cantik putih tinggi langsung eh langsing, yang keibuan, yang pinter masak, yang sabar, yang pengertian, yang bijaksana, yang bisa ngatur uang belanja, yang bisa dandan supaya gak malu-maluin kalo ditenteng ke mana-mana, yang gemuk gak laku, yang terlalu kurus gak mau, minta yang mukanya bulet biar rejekinya banyak, mau yang betisnya kurus, mau yang pahanya seksi, mau yang bodinya aduhai, mau yang tangannya halus, mau yang bulu matanya lentik, mau yang bibirnya seksi, mau yang hidungnya mancung, mau yang suaranya mendesah basah, mau yang manja, mau yang jalannya berlenggok, maunya yang suka pake rok, mau yang rambutnya panjang hitam bergelombang, mau yang bisa enjoy dibawa kemana aja.
Nah lho…. kalau mau ditulis terus, request-request itu gak ada habisnya. Cewek milih cowok. Dikasih tingginya sama, gak mau. Dikasih yang perutnya buncit, gak suka. Dikasih yang pendiam, nolak. Dikasih yang pelit, amit-amit. Dikasih yang doyan jalan-jalan, mau tapi gak mau naik angkot. Dikasih anak orang kaya, mau tapi maminya neleponin terus jadi risih deh. Dikasih yang bodoh, seneng gampang diselingkuhin tapi nyebelin kalo ngobrol jadi gak nyambung. Dikasih yang royal… mantap tapi keroyalan jadi suka lupa kalo dia udah punya cewek. Hahaha…
Yang cowok juga sama. Dikasih cewek centil dikit, kecentilan katanya. Dikasih yang keibuan, katanya jadi seperti jalan ama emaknya. Dikasih yang cantik langsing, gak PD soalnya kitanya jelek.. jadi gak ngimbangin, rasanya semua mata yang memandang teriakannya sama… kasihan amat seh ini cewek, kok mau-maunya ama cowok jelek kaya gitu. Dikasih yang pintar, gak sreg takut ngelunjak ntar kepala rumah tangganya dia bukan lagi kita. Dikasih yang anak orang kaya, seneng… tapi kewalahan gara-gara manjanya gak ketulungan jadi gak bisa kerja.
Nah lho.. cari yang pas.. susah amat ya. Cari yang sreg… sulit banget ya. Cari yang sehati… luar biasa nyarinya… gak dapat-dapat. Kenapa gak dijalanin aja seh? Kenapa harus milih-milih sebelum dicoba? Gua milih-milih dia… apa lu gak tau ya.. atau gak sadar… kalau dia juga milih-milih orang ???
Kalau gua aja milih… lu milih gua gak ???
kekekekekekek….. Salam….. :D




Keinginan-keinginan

15 12 2011
Monkey’s mind:

Tidak melekat pada nafsu indriawi, tidak melekat pada kesenangan jasmani, tidak melekat pada keinginan-keinginan… tapi kalo makanan udah masuk mulut… lupa deh kalo tangan lagi gerak ke depan ngambil lagi… *garuk-garuk kepala, abis enak sih*… hehehehehehehe….

Well…. enam indria itu emang susah buat dijaga. Mata, mulut, telinga, lidah, jasmani, pikiran. Kalau bisa kita tutup 5 lubang dari 6 lubang tersebut, sudah pasti kemelekatan-kemelekatan akan berkurang sekali… penderitaan-penderitaan pun tidak akan terlalu terasa seperti sayatan pisau.
Mata ditutup… melihat tapi tidak melihat. Telinga disumbat…. mendengar tapi tidak mendengar. Mulut disumbat… makan tapi tidak menikmati, badan dijaga.. merasakan tapi tidak terlena… pikiran dijaga.. berkeliaran tapi tetapi terawasi.. wah.. luar biasa dah hidup kita. Full of happiness… full of joy.. full of blessings.
Sayangnya… kita kebanyakan teori. Seneng protes sana-sini. Tapi waktunya diri sendiri harus praktek… kita pake alasan segudang. Misalnya neh… maklum lah, kan kita orang biasa… Wajarlah, kan kita masih manusia. Maafin lah .. kan kita cuma orang biasa. Nah itu lah yang bikin kita gak akan pernah maju dalam Dharma, yang ada malah mondar-mondari di pinggir pantai tapi gak pernah nyampe ke pantai seberang.
Semoga kita jadi praktisi yang sejati ya… bukan jadi pembual bermulut besar.
Salam….. :D




Kecerdasan VS Kebijaksanaan

15 12 2011
Monkey’s mind:
Saya membaca tentang kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki seorang anak manusia. Cerdas dalam berhitung di sekolah, belum tentu bisa menghitung berapa banyak helai uban yang ada di atas kepala saya. :)

Kalau begitu, selain mengembangkan kecerasan… ada baiknya kita juga mengembangkan kebijaksanaan. “Berapa banyak helai rambut di atas kepala bapak?” bisa dijawab dengan “sebanyak jumlah pasir di pantai Pangandaran”.

Arti halusnya…. “Yuk, pak ! Kita sama-sama ngitung”… berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Hehehehe….

Itu yang status yang saya tulis hari ini di salah satu jaringan sosial. Sosial atau sok sial saya juga tidak paham. Kadang-kadang emang berbau sosial. Kadang-kadang komen-komen yang dilontarkan membuat kita jadi sok sial juga. Ya, bagaimanapun … jama sekarang ini jaringan sosial sudah mewabah. Kalau kita tidak ikut memanfaatkannya… kita disebut kuno, gak zaman, kampungan, norak.
Apa yang saya pelajari dari kecerdasan-kecerdasan tersebut?
Ternyata setiap individu memiliki dan dapat mengembangkan kecerdasan yang lain selain kecerdasan matematika logis. Singkat kata, seorang anak memiliki banyak kecerdasan alias memiliki kecerdasan ganda dan bukan hanya satu saja. Kalau begitu, kita tidak boleh memberi cap pada anak. Misalnya angka berhitung 20 lalu minggu depan 50 lalu bulan depan 40. Kita sebut dia si bodoh. Kita sebut dia si lemot. Kita sebut dia si bego. Itu gak diperbolehkan dan gak pernah boleh dibenarkan. Mengapa? Karena tiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing. Kecerdasan matematika logis itu khusus dikembangkan di sekolah, pake rapor terus pake laporan ke orang tua dan dapat ijazah pas lulus kemudian dapat kerja di perusahaan bonafid. Tapi kecerdasan tiap orang itu bukan melulu kecerdasan matematika logis.
Ada anak yang memiliki keistmewaan di bidang nyanyi, lukis, olah raga, bicara, pidato,  merenung, hiking, ngurus anjing, miara burung. Itu semua adalah bagian dari kecerdasan. Jadi jangan suka maksain keinginan orang tua sama anak karena anak memiliki kecerdasan berbeda dengan orang tuanya. Boleh aja papa nya dokter umum mamanya dokter gigi. Kalau anaknya hobinya ke musik, ya jangan paksa anaknya buat jadi dokter. Kecuali emang itu anak ada kecerdasan yang sama dengan orang tuanya.
Di sini yang saya pelajari ada 9 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner. Ada kecerdasan matematika logis, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan kinetetis/tubuh, kecerdasan musik, kecerdasan verbal/linguistik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial. Terus memiliki kecerdasan-kecerdasan ini bukan berarti kita harus jadi atlet Sea Games, atau penyanyi papan atas, atau mengimbangi Picasso, ata seperti Bill Clinton. Misalnya anda hobi badminton, hobi renang, hobi nyelam, bisa balet…. nah itu udh termasuk kecerdasan kinetis. Pokoknya yang berurusan ama olah tubuh. Nyetir mobil, naik sepeda, jalan kaki itu pun sudah termasuk memiliki kecerdasan. Atau hobi merenung, melihat ke dalam diri sendiri .. itupun sudah termasuk memiliki kecerdasan intrapersonal. Atau hobi melobbi orang, ahli marketing.. itu termasuk memiliki kecerdasan interpersonal. Gampang kan? 
Jadi sebetulnya kita gak boleh menghina orang lain, gak boleh menjelekkan orang lain, karena tiap orang punya bakat nya masing-masing. Tiap orang punya keterampilannya masing-masing. Kalau dikembangkan terus-menerus, ya jelaslah anda jadi profesional.
Sebagai orang tua yang punya anak, kita harus mengenali kecerdasan-kecerdasan anak kita.  Kalau anak cerdas di Matematika, boleh lah suruh sekolah tinggi-tinggi. Tapi kalau anak kecerdasan dominannya di musik.. gak minat banget di Matematika walaupun sudah dipanggilkan guru les, sebagai orang tua harus bijaksana menyikapi hal ini. Gak bisa maksa anak karena anak harus mandiri dan berkembang sesuai dengan kecerdasannya. Jadi mau gak mau dah orang tua mengalah, merelakan keinginannya sendiri dan membiarkan anak menjadi dirinya sendiri. Itulah bijaksana ! Itulah cinta kasih ! Itulah kebesaran hati !
Oleh karena itu… ahli matematika memang dikagumi banyak orang, semua orang. Tetapi belum tentu ahli matematika bisa menghitung jumlah uban di kepala saya. Jadi daripada ngitungin uban di kepala saya… lebih baik jawab saja, sebanyak pasir di pantai pangandaran. Artinya… jumlah banyak dan tidak lagi dapat terhitung. Kalaupun dapat terhitung, itu hanya menghabiskan waktu dan menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat yang lebih bermanfaat.
Saya suruh anak ngitung uban.. terus anak itu nyuruh saya ngitung pasir… gak mungkin dong kita lakuin. Malas pasti !! Jadi… simpulkan sendiri ya… :)
Selamat melatih kecerdasan, selamat menikmati kecerdasan, selamat memanfaatkan kecerdasan… :)  
 







Follow

Get every new post delivered to your Inbox.