Kecewa

31 10 2009

Sapa ya yang ngajarin kita, dari kecil bisa marah-marah… bisa kecewa.. bisa ketawa terbahak-bahak ?? Kalo dipikir-pikir.. aneh juga.. kok kita bisa melototin orang waktu kecil kalo lagi kesel digodain kawan.. atau berantem ama teman karena rebutan mainan atau makanan…

Kalo makan… kita emang diajarin orang tua. Jalan juga… pake baju juga.. sikat gigi juga.. sisiran rambut.. pake jam tangan, pake sepatu, lipat selimut, berhitung, membaca.. makan.. semuanya diajarin ama orang lain. Tapi kembali ke pertanyaan awal… sapa ya yang ngajarin kita kecewa ?? Kok bisa-bisanya kecewa itu muncul padahal kgak ada yang ngajarin ? :D

Beberapa tahun yang lalu.. pas libur lebaran.. ada 3 orang anak muda yang datang bertemu dengan saya. Mereka membutuhkan bantuan.. dan di mana-mana semua orang menolak mereka. Alasannya.. libur lebaran.. semua vihara tidak ada pengurusnya.. semua sie sosial di gereja kgak ada di tempat. Dan saat ke tiga anak muda itu ketemu saya.. sama seperti di tempat-tempat lain.. saya pun menolak kehadiran mereka.. bahkan yang lebih parah lagi.. saya menolak untuk membantu mereka !!

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata seperti ini…  “Sebetulnya apa seh sosial itu ? Kenapa di saat kami susah begini.. semua yayasan yang berpredikat sosial.. sama sekali tidak ada yang sosial ????”

Hati ini terasa tertusuk duri… hehehe.. kata lagu. Maksudnya, saya merasa tersindir.. tapi yang pasti saya merasa bersalah… dan rasa sesal timbul sehingga saya akhirnya menjawab, baik.. saya akan membantu kalian. Ternyata benar… mereka membutuhkan bantuan orang lain.. dan saya tidak dapat merasakan.. apa yang akan saya lakukan jika saat saya begitu membutuhkan orang lain… ternyata tak ada satupun yang mau membantu.

Demikianlah kecewa itu muncul.. dia muncul begitu saja.. seperti air hujan mengalir begitu saja ke dasar bumi.. seperti air mata mengalir begitu saja kalo kita lagi bersedih.. seperti air liur yang menetes begitu saja bila kita melihat makanan yang asam-asam.. seperti air di hidung yang meler jika kita makan yang pedas-pedas.

Iya… berapa persen orang-orang di bumi ini yang benar-benar sosial ? Benar-benar mau mengorbankan kepentingan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain ? Benar-benar mau mengorbankan hartanya sendiri untuk kebahagiaan orang lain ? Benar-benar mengorbankan miliknya yang paling berharga untuk menolong nyawa orang lain ? Benar-benar membantu orang lain tanpa menghiraukan nama baik, waktu, tempat dan kedudukan ? Ada berapa persen dari dari kita ??

Kecewa yang dialami ketiga anak muda itu.. juga setiap saat bisa kita alami. Sebetulnya kita tidak boleh menyalahkan orang lain. Bila kita sendiri tidak pernah membantu orang lain.. apakah mungkin orang lain akan membantu kita ? Kalo kita tidak pernah berkorban.. apakah mungkin orang lain akan berkorban untuk kita ? Kalo kita tidak pernah memberikan sesuatu yang terbaik untuk orang lain.. apakah mungkin orang lain memberikan sesuatu yang terbaik untuk kita ? Kalo kita tidak pernah membela orang lain.. apakah mungkin orang lain akan membela kita ?

Sesuatu berasal dari diri sendiri.. segala peristiwa bersumber dari diri sendiri. Segala kejadian berawal dari diri sendiri.

Bila menghadapi kejadian yang mengewakan seperti itu… kita harusnya balik lagi bertanya pada diri sendiri.. sudah cukupkah saya berbagi dengan orang lain ??? Kalo belum… lha… ngapain pake acara KECEWA segala… hehehehe..





Beruang, Singa dan Babi

29 10 2009

Beruang, Singa dan Babi bertemu di hutan…

Beruang kata: “sekalinya aku mengaum, seluruh hutan menggigil.” 

Singa kata: “eleh, sekalinya aku mengaum semua belantara ketakutan.”

Babi kata: “Wa La Weh…. sekalinya aku batuk, satu dunia panik!”

:D :D :D :D :D





Guru

29 10 2009

Menurut saya… tidak semua orang guru adalah “GURU”. Kalo kita baca buku Laskar Pelangi.. ada tertulis pengorbanan seorang kepala sekolah yang murid-muridnya makin lama makin sedikit tapi tetap bertahan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.. meskipun tahu ia bakal dilupakan oleh semua eks muridnya setelah lulus dari sekolah tersebut.

GURU. Saya pernah disapa seorang anak suatu sore saat akan menutup pintu pagar untuk pergi ke suatu tempat. Anak itu menyapa saya dengan kalimat, “Guruuuu… udah mau berangkat ya ?”

Sapaan yang halus dan penuh santun tetapi terasa asing di telinga dan terasa tersindir hati ini… GURU ?? Apakah saya mampu menyandang gelar GURU sementara saya sendiri hanya sekedar datang, mengajar kemudian pulang?? Oh, tidak !! Rasanya berat.. berat sekali dengan panggilan GURU itu. Saya ingin berlari dan menyembunyikan muka di mana saja.. malu dengan panggilan tersebut.

Saya membalas sapaan dengan anggukan kepala dan tersenyum meskipun hati ini menjadi galau dengan panggilan si anak tersebut. Memasang gaya sedikit jaim dan sok berwibawa.. supaya terkesan bahwa saya emang guru yang baik dan bijaksana. Hahaha… menipu diri sendiri sebetulnya karena saya tahu percis kalo saya bukanlah seorang guru yang baik.

Menurut saya.. seorang guru adalah seorang pahlawan. Seorang yang siap dilupakan dan siap ditertawakan. Seorang yang siap untuk dilecehkan dan dipermainkan serta digosipkan.. seorang yang siap miskin dan tidak punya apa-apa dan hanya melihat satu per satu murid-muridnya jadi orang terkenal dan berhasil.. tetapi tidak apa… suatu saat ia pasti dikenang oleh murid-muridnya.

Seorang guru tidak boleh marah-marah. Ia harus bijaksana, sabar, galak, disiplin, murah senyum, berwawasan luas, tutur bahasanya halus, tingkah lakunya tidak tercela, tatapan matanya memancarkan keteduhan, dan yang paling penting.. guru itu harus seperti air yang mengikuti wadahnya. Saat anak-anak harus dimarahi, ia harus marah. Saat anak-anak perlu perhatian, ia harus memberikan kasih sayang. Saat anak-anak penuh ketakutan, ia harus bisa menenangkan.

Seseorang menjadi guru… harusnya bukan karena tidak ada pilihan yang lain. Juga tidak boleh karena disuruh orang lain. Seorang yang menjadi guru haruslah karena keinginannya sendiri… ingin mendidik dan mengajar orang lain. Ia tidak boleh hanya mengajar tapi tidak mendidik. Ia juga tidak boleh hanya mendidik tapi tidak mengajar. Ia harus menjadi pendidik dan juga menjadi pengajar.

Guru adalah panutan. Guru kencing berdiri.. murid kencing berlari. Ada banyak hal yang harus dikorbankan untuk memajukan seorang murid. Termasuk mengorbankan waktunya dan mengorbankan kebebasan dirinya sendiri. Menjadi guru artinya tidak bebas lagi. Ia tidak bisa lagi pergi ke club-club dan berdisco seenak hati. Ia tidak boleh menampar orang walaupun mungkin tangan ingin menampar. Ia tidak boleh memarahi dengan bahasa yang kasar walaupun hatinya ingin sekali meneriakkan kata-kata kasar. Ia menjadi tauladan murid-muridnya. Ingin murid yang berhasil ? Itu semua tergantung dari gurunya.

Oleh karena itu.. Hai para guru… marilah kita menjadi seorang pengajar dan pendidik yang berdedikasi tinggi, mengabdi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara… karena… “GURU bagaikan pelita dalam kegelapan..”








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.